
“Tidak, jangannn......!” Persis saat dia ingin memohon belas kasihan, dia tenggelam di bawah kerumunan Kumbang hitam. Setelah itu, hanya gema jeritan tragis yang bisa didengar.
Di bawah mata empat orang lainnya, Kumbang Mayat Beracun memakan tubuh Tetua He dengan kecepatan yang menakutkan. Bahkan saat mereka sedang melawan Zhao Shu, Zhang Fu, dan dua boneka raksasa, empat orang itu tidak dapat menyembunyikan ketakutan di mata mereka saat mereka menyaksikan salah satu rekan mereka direduksi menjadi tulang putih, jeritan tragisnya masih bergema di telinga mereka.
Zhang En kembali mendarat du atas tanah dan matanya sambil mengamati Kumbang Mayat Beracun. Dia memperhatikan bahwa kulit terluar mereka tampak semakin gelap, memantulkan cahaya sedingin es dan setiap ekor Kumbang Hitam itu tampak lebih kuat.
"Apa ini?" Zhang En merasa bingung. "Jangan bilang bahwa Kumbang Mayat Beracun ini mampu berevolusi." Perubahan ini terjadi setelah mereka memakan tujuh Tetua Sekte Gagak Hitam di Kota Xinyu.
Sejak saat itu, Zhang En meninggalkan mereka di dalam Pagoda Harta Karun Gunung Dewa dan tidak memeriksanya. Baru sekarang, setelah memanggil mereka, dia baru mendeteksi perbedaannya.
'Apa yang bisa dilakukan Kumbang Mayat Beracun ini setelah berevolusi?' Zhang En bertanya-tanya pada diri sendiri.
Pada saat itu, jiwa Tetua He tercabik-cabik ditelan oleh segerombolan Kumbang Mayat Beracun dan Zhang En memberi perintah agar mereka menyerang salah satu pria dari White Phoenix House yang sedang mengejar anak kecil sebelumnya.
Pria dari White Phoenix House itu hendak mendapatkan anak itu ketika dia melihat sekilas Kumbang Mayat Beracun mendatanginya. Wajahnya langsung memucat dan tidak bisa mendekati anak kecil itu lagi.
"Tetua Feng, mari kita pergi tinggalkan tempat ini!" Dia menjauh dengan panik, mendesak rekannya.
"Pergi!" Pria lain yang melawan Zhang Fu mengertakkan gigi dan berteriak.
Hampir pada saat yang bersamaan, pria satunya lagi dari Distinct Void Door yang sedang melawan Zhao Shu membuat perintah untuk segera mundur.
Pria dari Distinct Void Door yang memblokir kedua boneka raksasa itu diam-diam merasa lega mendengarnya. Dia kemudian melompat mundur, bersiap untuk melarikan diri bersama tiga orang lainnya.
Tapi Zhang En mencibir dengan dingin ketika dia melihat mereka dan muncul di depan pria dari Distinct Void Door itu dalam sekejap untuk menghalangi jalannya. Pedang Great Dragon Sabre terayun dari tangannya mengirimkan gelombang energi pedang dan pembantaian Qi yang mendistorsi ruang. Pria dari Distinct Void Door melakukan serangan balik, tetapi dipaksa kembali ke tempatnya semula.
Zhang En mengangkat telapak tangan kanannya dan menyerang, cincin yang memantulkan cahaya meluas di udara lapis demi lapis. Ruang di sekitarnya menghalangi tubuhnya dan gerakannya terbatas di udara.
Saat tubuhnya tertahan di udara, Kumbang Mayat beracun yang mengejar berhasil menyusul. Dalam sekejap mata, Kumbang Hitam itu menutupi seluruh punggung pria itu. Beberapa saat kemudian, yang tersisa dari tubuhnya hanyalah kerangka putih yang jatuh ke tanah.
Kerangka itu hancur berkeping-keping saat menyentuh tanah.
Pria lainnya yang dipaksa kembali oleh Zhang En dengan serangan Pedang Naga raksasa, wajahnya langsung memucat dan kehilangan warna saat dia menyaksikan teman mereka dikerok bersih oleh Kumbang Mayat Beracun.
__ADS_1
Dia lalu melihat sekelilingnya, satu Tetua White Phoenix House lainnya telah melarikan diri dan juga satunya lagi dari Distinct Void Door lainnya juga telah melarikan diri. Dengan mengabaikan dua orang teman mereka yang sudah mati, tinggal dia seorang yang masih tersisa saat ini.
Beberapa detik kemudian, dia sudah dikelilingi oleh Kumbang Mayat Beracun dari segala arah. Karena sudah merasa takut bercampur marah, dia berteriak sambil melakukan serangan demi serangan dengan kedua tangan dan tinjunya menyerang dengan panik.
"Enyahlah! Jangan mendekatiku! ” Ketakutan dalam suaranya terdengar jelas.
Kumbang Mayat Beracun itu terbang kembali setelah diserang, dan tanpa henti kembali menyerangnya. Semua serangan telapak tangan dan tinjunya sia-sia terhadap Kumbang Mayat Beracun, menyebabkan dirinya jatuh lebih putus asa, dan masih ada Zhang En yang menjaga di samping.
Setiap kali dia mencoba untuk kabur, dia akan dipaksa kembali ke posisi yang sama dengan satu ayunan dari pedang besar di tangan Zhang En.
Kematian sudah semakin dekat. Tidak butuh waktu lama baginya untuk berakhir seperti dua temannya sebelumnya yang hanya tinggal kerangka putih bersih tanpa daging. Baru saat itulah Zhang En menyingkirkan makhluk hitam kecil itu.
Zhang En memperhatikan bahwa setelah terakhir kali di mengeluarkan mereka, tubuh mereka menjadi lebih gelap dan lebih berkilau, kecepatan dan pertahanan mereka juga meningkat secara signifikan.
Penemuan ini meningkatkan mood Zhang En.
Sebelumnya, meskipun pertahanan mereka sudah luar biasa, beberapa senjata dewa masih bisa menembus pertahanan dan memenggal kepala mereka, serta dapat membunuh mereka. Namun, jika Kumbang Mayat Beracun ini dapat berevolusi tanpa batas, dengan kecepatan dan pertahanan keduanya ditingkatkan secara bersamaan, bahkan senjata tingkat dewa pun tidak dapat membahayakan mereka. Pada saat itu, mereka akan benar-benar menakutkan.
Zhang eEn mengumpulkan cincin spasial ke dua korban Kumbang Mayat Beracun. Apa yang ada di dalamnya, dia akan memeriksanya nanti.
Zhang En mengangguk.
Saat ini, kecepatan Kumbang Hitam ini masih sedikit terlalu lambat, setelah kecepatan mereka berevolusi ke level puncaknga, tidak ada satupun ranah Pertapa Dewa tingkat tinggi yang bisa melarikan diri pada saat itu.
Zhang En lalu berbalik untuk melihat anak kecil yang sedang tidak jauh darinya mendekat.
“Kakak, terima kasih telah menyelamatkanku, kau sangat hebat dan luar biasa!” Dia datang ke sisi Zhang En, matanya bersinar karena merasa kagum.
Zhang En tersenyum dan menepuk kepala anak itu, berkata, "Kami akan pergi, bagaimana denganmu?"
"Kakak, aku tidak punya tempat untuk tinggal, bisakah kau membiarkan aku pergi denganmu?" Dia menatap dengan tatapan yang terlihat menyedihkan ke arah Zhang En, jari-jari kecilnya memutar tepi celana Zhang En.
"Ikut denganku?" Zhang En terkejut. Tetapi melihat mata hitam anak itu dan sedikit memohon dia berpikir sejenak, mengangguk, "Baiklah... Kau bisa ikut bersama kami."
__ADS_1
Meskipun ada seorang anak yang bepergian dengan mereka akan sedikit tidak nyaman, tetapi kekuatan anak itu tidak lemah, dia adalah ranah Pertapa Dewa awal dan tidak bisa dianggap sebagai beban. Nanti, setelah dia menyelesaikan permasalahan Gerbang Naga, dia akan memikirkan bagaimana langkah delanjutnya untuk merawat anak kecil itu.
Anak kecil itu bersorak gembira, melompat ketika Zhang En mengatakan persetujuan membuat Zhang En tertawa melihat reaksinya.
“Ayo tinggalkan tempat ini.” Zhang En berkata kepada Zhao Shu dan Zhang Fu.
Keduanya menurut dengan hormat.
Mereka kemudian meninggalkan tempat itu dan membawa anak kecil itu bersama mereka. Terbang selama lebih dari dua jam lamanya, mereka memilih untuk berhenti di sebuah lembah yang sangat tenang.
Memasuki jalan setapak yang agak sempit, tempat itu benar-benar mengarah mereka ke tempat yang indah. Zhang En menyukainya dan memutuskan untuk beristirahat di sana sampai fajar sebelum melanjutkan perjalanan mereka lagi.
Mereka membuat api unggun untuk kedua kalinya malam itu, dan Zhang En menginstruksikan kedua boneka raksasa itu untuk berburu beberapa Tyrant Boars.
Mereka berempat duduk di sekitar api unggun.
Zhang En menanyakan nama anak itu, dan anak itu berkata bahwa dia dipanggil Xiao Tian. Begitulah ayah dan ibunya memanggilnya.
“Xiao Tian, apa wujud aslimu?” Zhang En memutuskan untuk mengajukan pertanyaan setelah berpikir sejenak. Dia bertanya-tanya dari mana sebenarnya asal Xiao Tian ini, yang dapat menyebabkan White Phoenix House dan Distinct Void Door mengirim lima ahli ranah Oertapa Dewa untuk menangkapnya.
Jelas bahwa Xiao Tian bukanlah binatang iblis biasa. Baik Zhao Shu dan Zhang Fu juga beralih menatap lekat kearah Xiao Tian.
Xiao Tian menggelengkan kepalanya, "Aku sendiri tidak tahu."
"Tidak tahu?" Ketiga orang itu merasa terkejut mendengar jawabannya.
“Benar, ah, Kakak. Ayah dan ibuku tidak pernah memberitahuku, dan mereka juga selalu berkata untuk tidak sembarangan kembali ke wujud asliku dan menunjukkannya di depan orang lain."
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ! 🙏🙏🙏