Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 199. Adik Junior


__ADS_3

“Raja Agung kita ada di sini! Keluarga Luo adalah bagian dari Kerajaan Bintang Selatan kita, setiap generasi Keluarga kerajaan selalu setia kepada Kerajaan Bintang Selatan kita, Raja Agung pasti datang ke sini untuk membantu Keluarga Luo!"


“Ada pertunjukan bagus untuk dilihat sebentar lagi! Kecuali Naga Muda Zhang En mengeluarkan Kumbang Mayat Beracun dalam pertarunagan, dia pasti bukan lawan Raja kita! ”


Murid keluarga kerajaan berdiskusi dengan keras seolah-olah mereka menemukan dukungan mereka.


Wajah Luo Chen dan dua Tetua Agung Keluarga Luo menjadi cerah melihat kedatangan Hong Bei dan penjaga kerajaan sekaligus Penjaga Kuil Buddha dan ranah Pertapas Dewa dari Kerajaan tiba di tempat kejadian. Sebuah cahaya yang menyilaukan mata menyala, ketika menghilang, enam penjaga ahli Kerajaan, Hong Bei dan Biksu Tao berdiri di alun-alun.


"Salam, Raja Agung!" Pangeran Tai Gan, penjaga istana pangeran dan banyak murid keluarga yang berada di sekitar alun-alun, semuanya berlutut untuk memberi hormat.


"Kalian semua berdiri." Hong Bei berbicara. 


Dengan izin Hong Bei, semua orang kemudian berdiri.


"Ayah Kerajaan." Hong Xiaofei mendekat, membungkuk memberi hormat.


Hong Bei mengangguk pada putrinya sambil tersenyum tipis sebelum melangkah menuju ke arah Zhang En.


Keempat sudut alun-alun menjadi sangat sunyi, menyaksikan Hong Bei yang berjalan menuju ke arah Zhang En


Hong Xiaofei menjadi gugup melihat ayahnya yang berjalan ke arah Zhang En, tidak tahu mengapa, dia mengkhawatirkan Zhang En.


Namun, Luo Chen dan kedua Tetua Agung berdiri dengan canggung dari tanah, dan mereka berjalan dengan badan yang masih terhuyung-huyung sampai mereka tiba di depan Hong Bei.


"Yang Mulia Raja, Anda harus memberi keadilan bagi kami." Luo Chen memohon tanpa menghilangkan rasa hormatnya kepada Hong Bei.


Hong Bei mengangguk saja, sedangkan senyum pahit muncul di dalam hatinya. Di depan semua orang penonton, Hong Bei berhenti tiga meter dari posisi tempat Zhang En. Hong Bei dan Zhang En saling berhadapan dan sama-sama diam.


Sementara semua orang yang menonton semakin gugup dari menit ke menit, mereka berpikir bahwa pertempuran akan pecah sebentar lagi antara Hong Bei dan Zhang En, tiba-tiba mereka mendengar tawa kecil Hong Bei, berbicara “Saudara Muda, ini hanya beberapa tahun sejak terakhir kali kita bertmlemu satu sama lain, aku tidak membayangkan, ah, bahwa kekuatanmu saat ini hampir menyamaiku. "


Ketika Zhang En berada di Kerajaan Bintang Selatan beberapa tahun sebelumnya, ketika dia dipilih oleh Altar Buddha untuk menerima baptisan energi Buddhisme dan diberi satu kesempatan untuk bertemu dengan Hong Bei, dia hanyalah ranah Pendekar Dewa.


Tapi sekarang, bahkan tidak satu dekade kemudian, bahkan tiga orang ranah Pertapa Dewa Keluarga Luo yang bergabung melawan Zhang En masih gagal untuk mengalahkannya!


Hong Bei berkata di dalam hatinya.


Zhang En memandang Hong Bei, senyuman juga muncul di wajahnya, "Kakak Senior, sudah beberapa tahun sejak kita terakhir bertemu, aku harap kau baik-baik saja."


Keduanya tersenyum lebar satu sama lain, mereka terlihat seperti teman lama yang sudah lama berpisah dan baru bertemu kembali.

__ADS_1


"Saudara Muda? Kakak Senior?" Orang-orang di sekitar yang awalnya mengantisipasi akan danya pertempuran akan pecah tiba-tiba berdiri kaku di tempat mereka dan tertegun.


Termasuk Hong Xiaofei, dia tampak linglung dan merasa bingung. Meskipun dia adalah putri Hong Bei, dia tidak pernah tahu bahwa ayahnya pernah bertemu dengan Zhang En bertahun-tahun yang lalu dan juga Zhang En sebenarnya adalah saudara muda atau saudara laki-laki Hong Bei.


Hong Bei l melirik kelompok Luo Chen yang terdiri dari tiga orang, berkata kepada Zhang En, "Adik Junior, beri aku wajah, biarkan masalah ini berakhir sampai di sini saja, bagaimana?" Dalam perjalanannya ke sini, dia telah diberitahu tentang konflik antara Zhang En dan Keluarga Luo.


Zhang En hanya melirik ke arah Luo Chen, tindakan sederhana itu membuat hati Luo Chen dan kedua Tetua Agung menegang karena merasa tidak nyaman.


Zhang En mengangguk. Karena Hong Bei yang berbicara atas nama mereka, tidak akan baik jika dia melakukan tindakan yang berlebihan. Bagaimanapun, itu bukan seolah-olah karena dia dan Keluarga Luo memiliki perseteruan darah hidup dan mati. Konflik kecilnya dengan Keluarga kerajaan Luo sebenarnya hanyalah masalah sepele.


Melihat ini, ketiga pria Keluarga Luo diam-diam menarik napas lega.


"Patriark Luo, akankah kita membiarkan masalah ini sampai di sini?" Perasaan Hong Bei sedikit rileks melihat Zhang En mengangguk setuju dan dia memandang Luo Chen.


"Kami akan mematuhi perintah Yang Mulia." Luo Chen menjawab dengan hormat. 


Dari saat dia mengetahui pemuda berambut hitam ini adalah Zhang En, penyesalan muncul di dalam hatinya. Namun, mereka sudah terlanjur menyerang pemuda itu dari awal. Akhirnya mereka mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain pertempuruan. 


Sekarang, dengan Hong Bei menengahi masalah diantara mereka, ini adalah hasil terbaik yang bisa diharapkan Luo Chen.


Hong Bei mengangguk puas dengan jawaban Luo Chen. Dia menoleh kembali melihat Zhang En dengan senyum di wajahnya, "Adik, kali ini, tidak peduli hal apapun itu, kau harus tinggal beberapa hari di sini sehingga aku dapat melakukan tugasku sebagai tuan rumah."


Hong Bei terdiam sesaat dan kemudian tertawa riang, "Aku bisa jamin rasanya lebih enak daripada anggur yang di sediakan di House Buddha!"


Zhang En terkekeh, "Karena Kakak Senior berkata demikian, maka aku akan tinggal selama beberapa hari disini."


Kedua pria itu tertawa.


Ada kegembiraan di mata Hong Xiaofei saat mengamati Zhang En berbicara dengan ramah dengan ayahnya. Saat ini, suara air liur yang tertelan terdengar dari sekeliling Zhang En. 


Karena penasaran, Zhang En melihat ke sekeliling kerumunan dan melihat semua pria muda yang sedang menatap bingung wajah Hong Xiaofei dari kejauhan yang terlihat sedikit tersenyum.


Zhang En memandang wajah Hong Xiaofei, senyumnya memang indah, mata riang yang menyerupai bulan yang bercahaya, mampu memikat semua makhluk hidup.


Hong Bei yang masih tersenyum memberi isyarat untuk memperkenalkan Zhang En, “Adik, perkenalkan, ini adalah putriku, Xiaofei.”


Zhang En mengangguk pada Hong Xiaofei, berkata, "Aku sudah tahu."


Hong Xiaofei mendekati Zhang En dan Hong Bei dengan kepala menunduk ke bawah, menyapa: “Tuan Muda Zhang.” Suaranya terdengar merdu, jernih dan mengharukan, seakan ada sesuatu yang membangkitkan gairah di hati setiap orang yang mendengarnya.

__ADS_1


Logikanya, sebagai Saudara Muda Hong Bei, Hong Xiaofei seharusnya menyebut Zhang En sebagai Paman Muda, namun dia tidak melakukannya. Sebaliknya, dia memilih untuk memanggilnya 'Tuan Muda Zhang'. Orang lain mungkin tidak memperhatikan perbedaan kecil ini, tetapi Hong Bei memperhatikan.


Hong Bei melirik putrinya dengan penuh arti. Dia hanya punya satu anak perempuan, dan anak perempuannya ini memiliki standar yang sangat tinggi. Selama bertahun-tahun, dia hanya mengabaikan semua pemuda kerajaan yang disebut jenius berbakat dari keluarga besar. Seorang pemuda seperti Zhang En ini akhirnya dia 'akui' sebagai Jenius berbakat.


Tapi, hal ini hanyalah pandangan ideal dalam panglihatan Hong Bei, hanya seorang jenius yang mengerikan seperti Zhang En yang layak untuk putrinya. Meskipun adalah hal yang sudah umum di Dunia Roh Bela Diri bagi pria untuk memiliki tiga istri dan empat selir bahkan lebih adalah hal yang wajar, terutama pria sekaliber Zhang En, itu tidak masalah baginya.


Zhang En memperkenalkan Zhao Shu dan Zhang Fu kepada Hong Bei.


Zhao Shu dan Zhang Fu sama-sama memheri hotmat kepada Hong Bei. Tidak satupun dari mereka menunjukkan karakter yang sok atau sombong.


Selanjutnya, Hong Bei mengundang Zhang En, Zhao Shu, dan Zhang Fu ke Istana kerajaannya. Zhang En masuk ke dalam Kuil Buddha untuk menyembah patung Buddha sebelum mereka berangkat ke istana.


Beberapa saat kemudian, Zhang En, Hong Bei, dan yang lainnya menghilang dari pandangan orang banyak.


Di sekitar alun-alun, para murid keluarga terbangun dari keterkejutan mereka setelah Zhang En, Hong Bei, Hong Xiaofei, dan yang lainnya meninggalkan alun-alun.


“Naga Muda Zhang En sebenarnya adalah Saudara Junior Raja Agung kita?! Apa maksudnya ini?!"


“Benar, apakah ada yang ingat saat Altar Buddha Suci memilih seseorang?”


“Maksudmu, orang yang dipilih oleh Altar Buddha yanng terakhir kali adalah Naga Muda Zhang En?”


Kerumunan itu pecah dengan berbagai diskusi dengan gempar seperti badai, berita tentang Naga Muda Zhang En berada di Kerajaan Bintang Selatan menyebar dan seluruh kota mendidih mendengar berita itu.


Di Dunia Beladiri, yang kuat dihormati dan yang lemah ditindas, seorang jenius berbakat yang kuat seperti Zhang En adalah eksistensi yang di idolakan oleh banyak orang serta murid keluarga yang tak terhitung jumlahnya pada saat ini.


Hong Bei memimpin kelompok rombongan ke Istana Kerajaan Bintang Selatan. Tepat ketika mereka tiba di pintu masuk, seorang wanita cantik dan memikat dengan jubah phoenix, dengan rambutnya di hiasi dengan ikat rambut phoenix, terlihat menunggu di depan pintu Istana. Di belakangnya sudah ada sekelompok selir, pelayan istana, dan penjaga istana.


Tidak diragukan lagi, wanita yang memikat ini adalah ibu Hong Xiaofei, Permaisuri Kerajaan Bintang Selatan, Lin Mengle.


Melihat dari kejauhan, senyum kecil terbentuk di wajah Hong Bei saat dia berkata kepada Zhang En, "Sepertinya kau lebih populer dari aku, ketika aku kembali dari perjalanan berburu, saku tidak memiliki begitu banyak orang yang menunggu untuk menyambut kepulanganku."


Jelas bahwa, ketika Hong Bei dan Zhang En sedang dalam perjalanan ke istana, Permaisuri Kerajaan menerima berita tentang kunjungannya, sehingga mengumpulkan selir, pelayan, dan penjaga di sini sejak awal untuk menunggu kedatangan mereka. Tentu saja, orang yang ditunggu oleh semua orang adalah Zhang En, jenius legendaris Dunia Roh Bela Diri saat ini yang sudah semakin terkenal di Tiga Benua.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like & Vote!


__ADS_2