
Han Jiu, Ye Chen, dan para tetua klan Han lainnya tercengang, mata mereka melebar karena tidak percaya melihat tetua klan mereka yang terlempar ke belakang dengan satu pukulan dari Zhang En, terutama Han Jii dan Ye Chen, jantung mereka berdua seakan meledak karena terkejut.
Mereka ingat dengan jelas bahwa terakhir kali mereka melihat Zhang En, dia hanyalah pembudidaya ranah Alam Dewa Leluhur Bintang Dua.
Dengan menepuk menngunakan tangannya, Zhang En menghancurkan belenggu ruang yang ditempatkan oleh tetua tadi di sekitar Lie Hue.
Pada saat ini, kelompok Han Jiu akhirnya pulih dari keterkejutan mereka. Han Jiu tidak peduli tentang hal lain sekarang karena dia adalah orang pertama yang berbalik, ingin melarikan diri.
Sama seperti para tetua klan Han lainnya dan Ye Chen, mereka melompat ke udara untuk melarikan diri juga.
Akan tetapi, jari-jari Zhang En melengkung menjadi cakar, merobek langit.
WUSHHH!!!
Cakar Naga Iblis membuat bayangan di atas bumi saat ribuan ilusi naga melolong ganas terbang keudara.
DUARRRR!!!
Han Jiu termasuk semua orang-orangnya dipukul oleh serangan Cakar Naga Iblis, menampar mereka ke tanah dari udara.
Setelah itu, Zhang En berbalik menghadap Lie Hue, suaranya jernih dan tegas, "Sekarang akan baik-baik saja, aku..."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Lie Hue berlari ke pelukan Zhang En, memeluknya erat dengan air mata mengalir di wajahnya.
Merangkul Lie Hue, Zhang En dipenuhi dengan rasa bersalah, meminta maaf saat dia menatapnya, "Maaf."
Lie Hue menggelengkan kepalanya dengan keras, lalu dia mencium Zhang En.
"Ah!" Zhang En berteriak di dalam hati dan membeku kaget untuk waktu yang singkat sebelum membalas ciuman Lie Hue.
Ssssss ! Lidah mereka terkunci saat ciuman mereka semakin intens, mereka tidak dapat dipisahkan untuk waktu yang lama!
Beberapa waktu kemudian, sebuah suara datang dari samping, mengingatkan keduanya tentang situasi saat ini.
Zhang En melihat dari balik bahu Lie Hue, memelototi Han Jiu yang mencoba berdiri dari tanah, seperti yang dilakukan Ye Chen, dan yang lainnya. Niat membunuh yang kuat melonjak di mata Zhang En, tetapi niat membunuh yang mengerikan di mata Lie Hue jauh lebih tajam.
__ADS_1
"Sudah sangat-sangat lama sekali sejak aku terakhir kali melakukan pembantaian..!" Ucap Zhang En santai, lalu melepaskan pelukan Lie Hue dan mendekati Han Jiu.
"Kau, apa yang ingin kau lakukan ?!" Melihat Zhang En yang berjalan ke arahnya, pupil matanya melebar ketakutan saat dia tersandung ke belakang. Meski begitu, dia mencoba mengancam Zhang En, “Ayahku adalah Patriark Klan Han, dan ini adalah Dunia Musim Dingin. Bajingan, kau berani—!!!”
Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataanya, Zhang En langsing mendaratkan pukulan di dadanya, menjatuhkannya ke belakang, menabrak dinding batu di kejauhan.
DUARRRR!!!!
"Tuan Muda!" Ye Chen dan semua tetua Klan Han terkejut, dengan cepat bergegas ke sisi Han Jiu.
Kekuatan tinju Zhang En menembus dada Han Jiu, menyebabkan darah menyembur keluar tak terkendali.
Ye Chen dan para tetua klan Han hampir kehilangan akal melihat kondisi Tuan Muda mereka.
Han Jiu adalah seorang kultivator ranah Alam Dewa Sejati Bintang Satu, tetapi yang paling penting, selama dia mulai berkultivasi, fisiknya dikondisikan dan ditingkatkan menggunakan ramuan obat yang berharga. Belum lagi tubuh fisik seorang pembudidaya Alam Dewa sangat tangguh, artefak ilahi kelas biasa hampir tidak bisa menembus dada Han Jiu. Namun, hal yang mustahil ini baru saja terjadi di depan mata mereka.
Memancarkan niat membunuh yang luar biasa, Zhang En merasa belum selesai dengan Han Jiu ini.
Para tetua Klan Han menjadi pucat ketika mereka menyaksikan Zhang En yang kembali mendekat.
"Ughhh..!"
Matanya yang ketakutan tertuju pada Zhang En, dia bisa merasakan niat membunuh Zhang En s eakan menusuk kulitnya, dia yakin Zhang En akan benar-benar akan membunuhnya sekarang.
"Jika kau membunuhku, kau juga akan mati!" Wajah Han Jiu menjadi gelap karena ketakutan dan kemarahan, berteriak dengan suara yang serak.
"Kau tidak perlu takut padaku." Zhang En mencibir.
Dalam sekejap, pedang kayu sudah muncul di genggaman telapak tangannya.
“Bunuh, BUNUH DIA!!” Han Jiu memberi perintah kepada para tetua yang ada di sekitarnya.
SWOSHHHH!!!
Siluet Zhang En menghilang dalam sekejap, menampilkan teknik bawaan dari Bayangan Naga Dewa Iblis.
__ADS_1
Bayangannya berkelok-kelok di antara para tetua Klan Han saat Pedang Kayu Zhang En menggambar pola di udara. Dengan setiap tebasan dan tusukan, tubuh semua tetua itu akan meledak terkena sinar pedang yang tak terhitung jumlahnya menembus keluar dari tubuh mereka.
DUARR!!! DUARRR!!!! DUARRRR!!!
Selain tetua yang terkena pukulan pertama Zhang En di awal, hampir dua puluh tetua klan Han yang dibawa Han Jiu kali ini sebagian besar berada di ranah Alam Dewa Kaisar Dewa Bintang Tiga, Alam Dewa Sejati Bintang Satu, dan Bintang Dua. Dengan tingkat kekuatan mereka ini, mereka tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk bisa memberi perlawanan di hadapan Zhang En.
Mereka semua mati tanpa mayat yang utuh.
Sekarang, hanya Han Jiu dan Ye Chen Yun yang masih hidup.
Melihat mayat yang berserakan di tanah di sekitar mereka, Han Jiu dan Ye Chen merasa kaki mereka lumpuh kerena ketakutan.
SWOSHHH.!!!
Pedang kayu di tangan Zhang En sekali lagi menebas, mengirimkan sinar cahaya pedang ke dahi Ye Chen, yang nyaris tidak bisa menjerit karena rasa sakit yang menyiksa.
DUAAARRR!!!
Di dalam tubuh Ye Chen, satu untaian cahaya Pedang terbelah menjadi banyak, merobek setiap bagian tubuhnya sebelum pecah lagi. Sama seperti semua tetua klan mereka yang baru saja mati, tubuh Ye Chen pada akhirnya meledak berkeping-keping.
“Sekarang giliranmu!” Tatapan dingin Zhang En jatuh pada Han Jiu.
"Tidak, jangan bunuh aku, jangan bunuh aku!" Han Jiu menangis, tangannya melambai dengan panik.
"Aku sudah memberimu kesempatan saat kita bertemu waktu itu!" Ucap Zhang En.
Pedang kayu di tangannya mendorong ke depan, menembus dada Han Jiu tepat ke jantung.
Detik berikutnya, api sejati yang mengerikan mulai menyebar dari atas Pedang kayu Zhang En. Dan meninggalkan api abadi untuk membakar bagian dalam tubuh Han Jiu, mulai dari jantung, sedikit demi sedikit menyebar ke bagian organ dalam tubuh lainnya.
Aroma daging yang terbakar memenuhi udara.
Jeritan Han Jiu bergema tanpa henti saat dia melompat-lompat sambil mencoba menekan api abadi Zhang En dengan qi dewanya. Namun, semua usahanya sia-sia. Tidak peduli apa yang dia lakukan, api esensi abadi itu terus menyebar di dalam tubuhnya.
"Selamatkan aku, selamatkan aku!" Dalam ketakutan yang ekstrem, Han Jiu benar-benar berlari ke arah Zhang En.
__ADS_1