Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 423 - Turnament II


__ADS_3

Pada saat itu, mata semua orang tertuju pada Zhang En. Dari jauh, mata Ming Zhi melotot dengan niat membunuh saat dia melihat sosok Zhang En dia atas arena.


"Jangan khawatir, kau akan memiliki kesempatan untuk membunuhnya nanti selesai turnament ini." Wakil Master Sekte Naga Langit tampaknya telah merasakan niat membunuh Ming Zhi dan berbicara.


"Baiklah, Wakil Master Sekte Tetua Jia." Ming Zhi mengangguk dengan hormat.


Di atas arena, tidak ada yang mengambil inisiatif untuk menyerang lebih dulu setelah suara Tetua Bao terdengar.


Fu Jiang memandang Zhang En dan delapan orang lainnya, berkata, “Tidak perlu basa-basi, aku akan memberi kalian semua kesempatan untuk mengalahkanku, kalian semua bisa menyerang bersama. ”


Kerumunan tercengang, lalu menjadi gempar setelah Fu Jiang menyelesaikan perkataannya.


“Fu Jiang ini sebenarnya ingin sembilan orang lainnya menyerangnya bersama? Bukankah ini sedikit terlalu mengerikan... ?!”


"Tapi ini bukan kesombongan, Fu Jiang ini sudah berada di ranah Alam Dewa Sejati, dia memiliki kekuatan untuk menghadapi sembilan orang lainnya bersama-sama!"


Fu Jiang sepenuhnya melepaskan auranya dan cahaya keemasan menembus langit saat bola emas muncul di belakangnya, dengan Ilusi Buddha keemasan duduk dalam pose meditasi di dalam sebuah bola di yang muncul dibelakangnya. Pada saat yang sama, aliran energi hantu mengelilingi tubuhnya, membentuk lautan energi hantu. Auranya yang meningkat mengguncang bumi.


“Tekanan aura yang sangat kuat! Tidak diragukan lagi dia sudah berada di ranah Alam Dewa Sejati Bintang Satu tahap menengah! Selain itu, dia adalah seorang kultivator yang mempelajari dua teknik kultivasi, dari teknik Buddha dan Hantu! Kekuatannya sebanding dengan puncak Alam Dewa Bintang Satu tahap akhir! ” 


Suara keterkejutan terdengar dari kerumunan.


Menyaksikan Fu Jiang melepaskan kekuatan penuhnya di atas arena, Lin Ming di tempat kursi utama sedikit berkerut karena khawatir. Kekuatan Fu Jiang telah meningkat lebih tinggi dari yang dia perkirakan setelah mengolah dua teknik Buddha dan teknik Hantu.


'Sebelumnya, dalam perjalanan ke sini, Zhang En mengatakan bahwa dia memiliki peluang enam puluh persen untuk mengalahkan Fu Jiang, tetapi apakah itu benar-benar enam puluh persen?' Keyakinan Lin Ming mulai goyah.

__ADS_1


"Aku telah mendengar bahwa Zhang En mengklaim dia memiliki peluang enam puluh persen untuk mengalahkan Fu Jiang..!" Pada saat ini, tawa penuh ejekan Wang Nio terdengar, “Benar-benar kebohongan! Lin Ming, muridmu benar-benar tahu bagaimana melebih-lebihkan kemampuannya! Orang-orang dengan karakter seperti itu tidak berguna dan tidak peduli seberapa tinggi bakatnya, sombong dan bodoh tanpa tahu diri, benar-benar membuang reputasi dan wajah Sekte Roh Api kita!”


Lin Ming tidak kehilangan ketenangannya dan menjawab, “Kau adalah Wakil Master Sekte Roh Api, namun kau bahkan tidak bisa mengendalikan bagian bawahmu untuk merayu pria lain. Kau tidak hanya menampar wajah sekte kita, kau bahkan telah mempermalukan seluruh Galaksi Bintang kita di hadapan 3 Galaksi lainnya.!!”


Wang Nio tampak seperti akan meledak dalam amarah, "Kau ...!" Tapi tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya, berusaha untuk tidak benar-benar marah dengan susah payah.


Sedangkan di atas arena, Liao Shi dan delapan murid lainnya marah dalam hati mereka masing-masing pada kata-kata meremehkan Fu Jiang, tapi melihat kekauatan penuh yang diperlihatkannya, ketakutan memenuhi diri mereka, oleh karena itu, tidak ada yang berani maju untuk menyerang.


Pada saat inilah Zhang En terlihat berjalan santai menuju Fu Jiang. Tindakan Zhang En mengejutkan semua orang yang menonton di luar arena.


"Apakah bajingan ini mencoba menantang Fu Jiang sendirian?" Melihat ini, Wang Nio tidak bisa menahan ejekan dengan nada kasar, "Bocah bodoh, mau mencari kematiannya sendiri!"


Setiap ahli dan kultivator yang tergabung dalam kelompok mereka masing-masing di tempat kursi penonton juga ikut berbisik di antara mereka sendiri dengan ekspresi aneh saat mereka melihat Zhang En..


Pada saat ini, Fu Jiang sekali lagi meningkatkan aura tubuhnya, mendorong kekuatannya mendekati puncak Alam Dewa Sejati Bintang Empat.


Sebelum tatapan bingung dari kerumunan besar selesai, Zhang En tiba-tiba mengangkat tangannya, dan mengarahkannya ke arah Fu Jiang begitu saja.


"Apakah bocah ini sudah gila?" Ini adalah pikiran pertama yang terlintas di benak semua orang ketika melihat Zhang En mengangkat tangannya.


Tindakan Zhang En membuat Fu Jiang melengkungkan bibirnya dengan seringai liar, tapi saat dia hendak menyerang, ekspresinya berubah. Pupil matanya melebar ketakutan seolah-olah dia telah mengalami sesuatu yang luar biasa menakutkan. Detik berikutnya, dia berbalik untuk mundur.


"Tidak!" Fu Jiang tiba-tiba mengeluarkan suara keras, meninju kedepan pada saat yang bersamaan.


"Tinju Raja Buddha, Tinju Raja Hantu!"

__ADS_1


Lautan hantu yang meratap langsung menyebar keudara saat menelan tubuh Zhang En sementara banyak patung Buddha emas duduk di atas bayangan lautan hantu..


Udara disekitar arena bergetar, dan pada saat ini, tamparan keras tiba-tiba bergema di udara.


"Pohhh...! 


Semua lautan hantu langsung menghilang, cahaya keemasan patung Buddha juga meredup. Banyak bola emas yang berisi ilusi patung buddha emas di belakang Fu Jiang retak dan hancur berkeping-keping, aura hantu di sekelilingnya meledak seperti gelembung.


Fu Jiang menjerit dengan tragis saat dia dikirim terbang ke udara, lalu dia jatuh dengan keras di sudut arena. Seluruh tubuhnya meringkuk seperti udang.


Senyum ejekan di wajah Wang Nio barusan langsung membeku saat dia melihat dari apa yang baru terjadi. Lin Ming juga tercengang ditempatnya.


Kakak senior pertama Zhang En, Dong Fang juga ikutan ternganga.


Mata Ming Zhi juga hampir keluar dari badannya, sedangkan Du Leng dan Wang Biao gemetar di tempat mereka berdiri saat ini.


Semua orang menatap kosong pemandangan di depan mereka, otak mereka serasa kosong dari dalam kepala mereka, tanpa sadar menahan napas masing-masing. Semua kerumunan diluar arena tercengang melihat pemandangan di depan mereka dan benar-benar terpana.


Rasanya seperti dunia telah menjadi sunyi, tetapi segera disadrkan oleh seorang murid Keluarga Fu yang mengeluarkan suara yang gagap, "Fu Jiang sedang tidak sedang berakting, kan?"


Tidak ada yang menjawabnya. Jelas bagi semua orang apakah itu tindakan disengaja atau bukan. Fu Jiang telah kalah dari Zhang En hanya dengan satu serangan. Perhatian semua orang akhirnya kembali menatap Zhang En, sambil menghirup udara secara pelan-pelan.


Zhang En tidak memperhatikan semua tatapan yang diarahkan padanya, dia malah berjalan santai saat dia mendekati Fu Jiang, yang sedang merintih lemah, berjuang dengan sia-sia mencoba untuk bangkit kembali. 


Namun, bagi orang banyak, sepertinya Fu Jiang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berdiri, jatuh lagi dan lagi setelah beberapa kali mencoba berdiri.

__ADS_1


__ADS_2