Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 144. Kembali Bertarung (2)


__ADS_3

“Kau, sebenarnya…!” Wajah Zhao Chen diliputi amarah ketika dia berhasil menenangkan diri. Bercampur dalam amarahnya adalah kejutan yang tak terbantahkan saat dia menatap Zhang En. Dalam pertukaran serangan sebelumnya, ia merasakan bahwa kekuatan Zhang En saat ini telah meningkat pesat dibandingkan pertarungan mereka waktu di Kota Suku Dewa.


Zhang En tidak peduli dengan Li Qiuping dan ekspresi orang lain yang ditujukan padanya. Dia menatap dingin ke arah Zhao Chen, "Zhao Chen, di Kota Suku Dewa kau mengklaim bahwa kau akan membunuhku? Apakah ini cara yang kau maksud untuk membunuhku?"


Li Qiuping dan yang lainnya sekali lagi dikejutkan oleh perkataan yang diungkapkan Zhang En. Dari kata-kata Zhang En, itu menunjukkan bahwa dia dan Zhao Chen pernah bertempur sebelumnya di Kota Suku Dewa.


Mereka bertanya-tanya bagaimana hasil akhir dari pertempuran mereka waktu itu.


Kemudian, mereka mengingat desas-desus yang telah beredar dalam beberapa hari terakhir, banyak orang mengatakan bahwa ada seseorang yang sembrono menyinggung Zhao Chen di dalam Kota Suku Dewa beberapa hari yang lalu, kemudian Zhao Chen dan orang itu bertarung, dan orang itu dikalahkan oleh Zhao Chen dan melarikan diri. Mungkinkah pemuda ini yang dimaksud? Mereka bertanya-tanya dalam benak mereka sendiri.


Zhao Chen merasakan adanya ejekan dalam kata-kata Zhang En yang ditujukan langsung padanya, rona berwarna merah merayap dari leher ke wajahnya. Zhao Chen berteriak marah, siluetnya berkedip dan melesat meninju Zhang En.


Tinju Ledakan Bintang!


Api biru meledak seperti meteor yang meledak di depan Zhang En.


Zhang En mencibir saat dia melihat serangan Zhao Chen, telapak tangannya dengan mulus menyerang ke depan, mengirimkan lingkaran cincin emas yang mengembang.


Tapak Buddha Kebenaran, Telapak Suci Pengikat!


Sebelum tatapan kaget Li Qiuping dan orang-orang lain di sekitarnya terlihat membeku, lintasan api biru yang meledak membeku di udara beberapa meter jauhnya dari Zhang En.


Zhang En memanfaatkan celah sewaktu dia melompat di udara dan dua Naga Agung Ilahi muncul dan mengaum, membuat langit dan bumi bergetar hebat saat kemunculan mereka, ketika satu naga ilahi berwarna hitam dan biru muncul, berputar-putar mengelilingi tubuh Zhang En.


Zhang En memiliki aura naga dewa primordial kuno dengan kekuatan naga melonjak dari tubuhnya, menembus keatas langit.


Li Qiuping dan yang lainnya menyaksikan dua naga dengan rahang menganga di depan wajah mereka, terutama naga hitam dan biru yang berputar-putar di sekitar Zhang En.


"Roh bela diri naga kembar?!"


Semua orang tertegun dan shock saat melihat Jiwa Beladiri Naga Kembar Zhang En, cahaya hitam dan biru yang berkilauan berkedip-kedip, jiwa Zhang En bersatu dengan roh bela diri naga kembarnya. Sisik naga hitam dan biru berkilauan menutupi tubuh Zhang En, dan sisik yang terlihat tajam berjejer di sepanjang lengannya.

__ADS_1


Zhang En menghilang dari tempatnya, kedua tangannya membentuk kepalan tangan, memukul ke arah Zhao Chen. Jejak tinju tak berwujud memenuhi udara dan menghalangi langit yang ada di atas mereka.


Tinju Suci Ilahi!


Wajah Zhao Chen menegang, membalas serangan tinju Zhang En dengan menggunakan kedua tinjunya. Ketika tinju Zhao Chen meluncur kedepan, beberapa jejak kepalan tangan besar yang di selimuti api biru berputar ke depan dengan kecepatan kilat seperti bola, menembus ruang. Li Qiuping, Wang Lin, dan yang lainnya menatap tanpa berkedip pada serangan Zhang En.


Dalam sepersekian detik, Tinju Suci Ilahi Zhang En dan tinju api biru Zhao Chen yang melesat saling bertabrakan di udara, menyebabkan rangkaian ledakan yang menggelegar, menghujani atas alun-alun dengan percikan api seperti kembang api.


Kekuatan ledakan tinju yang kuat mendorong Zhao Chen terhuyung mundur lebih dari dua puluh meter. Zhang En kemudian menghilang dan muncul kembali dengan Tombak Emas di tangannya. Dengan sekali ayunan, Tombak emas itu menghasilkan ****** beliung yang ganas yang mengembang seperti ombak.


Tombak Penghancur!


Saat itu juga, Zhao Chen tiba-tiba merasa gelisah, dia kembali menyerang dengan Tinju Peledak Bintang, dan pada saat yang sama, dia menggunakan ruang waktu untuk memblokir serangan itu.


Bumi berguncang seolah-olah akan berpindah tempat. Zhang En jungkir balik di udara, dan tombak panjang di tangannya terus berputar seperti naga yang melompat keluar dari laut, melesat lurus ke arah Zhao Chen.


Tombak Emas Zhang En melesat dengan melancarkan serangan demi serangan dengan kecepatan kilat, serangan tombak Zhang En sangat cepat bahkan Li Qiuping dan yang lainnya hampir tidak bisa mengikuti kecepatannya. Zhao Chen terus menerus dipaksa mundur dan didorong kembali ke belakang.


Zhao Chen juga menyadari betapa tidak beruntungnya posisinya saat ini, itu terlihat pada ekspresi wajah yang terlihat jelek tergantung di wajahnya.


Seorang ahli ranah Pertapa Dewa Awal benar-benar menerima pukulan dari Pendekar Dewa Bintang Empat puncak bahkan tanpa memiliki kekuatan untuk melawan sedikit pun. Selain itu, jika bukan karena keberadaan ruang waktu-nya yang menghalangi serangan Zhang En, dia pasti sudah dikalahkan.


Bertahan lebih dari selusin serangan cepat dari Zhang En, Zhao Chen sudah mulai jengkel.


Kontrol Ruang Penghancur Mutlak!


Zhao Chen berteriak saat dia mundur, Qi pertempuran melonjak melilit telapak tangannya, mengarah ke arah Zhang En. Zhang En merasa seolah-olah setiap jejak energi di sekitarnya menghilang, seolah-olah semuanya diselimuti oleh ruang hampa. Pegunungan di sekelilingnya memancarkan tekanan berat yang menguncinya di udara, membuatnya tidak bisa bergerak.


Ini adalah kendali mutlak pendekar pertapa dewa.


Melangkah ke ranah pertapa dewa, berarti memiliki pemahaman tertentu terhadap hukum ruang, memungkinkan mereka untuk memanipulasi dan mengontrol ruang dalam area terbatas. Satu-satunya kelemahan dari penggunaan ruang ini adalah bahwa itu menghabiskan sejumlah besar kekuatan spiritual dan energi Qi, jadi kecuali itu benar-benar diperlukan, sebagian besar ahli ranah pendekar Pertapa Dewa memilih tidak akan menggunakan metode ini.

__ADS_1


Wajah Zhao Chen tampak sangat muram melihat Zhang En. Zhao Chen lalu terbang di udara saat sebuah pedang panjang muncul di genggamannya. Bilah besi pedang panjang itu berwarna merah merah tua, di bilahnya tertulis diagram naga api.


"Matilah!" Zhao Chen meraung marah. Pedang Panjang Naga Api menembus ruang, langsung ke arah Zhang En. Tepat saat ujung pedang panjang hendak menembus dada Zhang En, sebuah cahaya dengan warna merah mencolok keluar dari tubuh Zhang En disertai dengan energi yang menakutkan. Dengan guncangan yang sangat kecil, hukum ruang angkasa yang membelenggu Zhang En mengendur.


Dengan cepat, Zhang En menghilang dari tempatnya, tetapi pedang panjang Naga Api Zhao Chen berhasil meninggalkan garis darah merah di tulang rusuknya.


Zhao Chen sangat terkejut! Saat Zhang En dapat membebaskan diri dari manipulasi Kontrol Mutlak hukum ruang miliknya.


Sementara dia masih larut dalam keterkejutan, dua cahaya yang terlihat tajam terbang menuju Zhao Chen dan dengan cepat, dia mengelak pada saat-saat terakhir dengan panik. 


Sreeetttt!!


Hembusan angin terdengar saat pedang menyerempet tepi jubahnya, rasa sakit menyebar dari pinggang Zhao Chen mengalir pada setiap bagian tubuhnya.


Zhao Chen melompat mundur jauh ke belakang sebelum akhirnya dia berdiri disana. Tangan kirinya menyentuh luka di pinggangnya, darah segar mewarnai telapak tangannya, tenyata dia mendapat luka dalam. Melihat lukanya cukup lebar, Zhao Chen terkejut, dia bahkan melupakan rasa sakitnya sejenak.


"Tuan Muda!"


Pelayan Feng dan bawahan Zhao Chen lainnya akhirnya bereaksi, mereka semua bergegas ke arah Zhao Chen dengan cepat, wajah mereka terlihat bingung dan berwajah pucat.


Pelayan Feng dan beberapa pengawal itu mengeluarkan beberapa butir emas seukuran ibu jari dari cincin spasial mereka, lalu memberikannya kepada Zhao Chen untuk ditelan, dan dari botol gioknya, Pelayan Feng menuangkan cairan kristal zamrud dan mengoleskannya di atas luka Zhao Chen.


Zhao Chen melambaikan tangannya kepada mereka, berkata, "Aku baik-baik saja."


-


-


-


Jangan lupa Like & Vote!

__ADS_1


__ADS_2