
Setelah seharian berbelanja, menjelang senja, semua kelompok Zhang En tidak langsung kembali ke Dunia Harimau Suci, mereka pergi ke kediaman milik Zhang En yang pernah meteka tinggali di Kota Wudang . Sejak mereka semua pindah ke Puncak Dewa, kediaman Dewa itu selalu kosong dan tidak ada yang menempati.
Zhang En memesan makanan dari restoran terdekat ke Kediaman mereka. Kumpul bersama di aula utama, mereka semua menikmati makanan yang enak dan tidak bubar sampai malam dan menghabiskan waktu untuk bercerita.
...
Keesokan harinya.
Pada saat Zhang En muncul di aula utama, Fang Yao sudah berada di sana dengan jubah yang rapi. Cangkir di atas meja sudah kosong, jelas bahwa dia telah meminum isinya karena gugup.
Melihat Fang Yao, Zhang En merasa ingin tertawa. Temannya ini tidak pernah takut pada apa pun yang dia hadapi, namun dia sangat gugup sekarang.
Melihat Zhang En masuk ke dalam aula, Fang Yao benar-benar melompat dari tempat duduknya.
"Apa kau baik baik saja?" Zhang En bertanya.
Fang Yao tersenyum canggung, "Aku baik-baik saja."
"Ayo kita pergi kalau begitu." kata Zhang En.
Mereka berdua lalu meninggalkan kediaman itu, tetapi sebelum pergi, Zhang En memberi tahu orang-orangnya dan Master Kun bahwa mereka berdua akan pergi keluar sebentar
__ADS_1
Dari Kediaman Dewa, mereka langsung menuju ke tempat pertemuan yang disepakati Fang Yao dengan wanita yang dia temui.
....
“Di sini tempatnya?” Kira-kira satu jam kemudian, Zhang En bertanya ketika keduanya berdiri di pintu masuk sebuah restoran besar.
Fang Yao mengangguk, membenarkan lokasinya. Ini adalah tempat dia dan pihak lain pertama kali bertemu.
Tanpa penundaan lebih lanjut, mereka melangkah masuk, menuju ke lantai pertama di mana sebuah kamar pribadi telah dipesan. Setelah mengetuk pintu, sebuah suara yang jelas terdengar dari dalam ruangan, "Silakan masuk."
Pintu terbuka dan mereka berdua melangkah masuk.
Namun, ketika Zhang En dan Fang Yao melihat dua wanita yang duduk di dalam ruangan, keduanya terkejut, karena salah satu dari wanita ini adalah wanita yang berkonflik dengan mereka kemarin saat mereka mengunjungi toko, Wen Tingting.
Wanita muda cantik di sampingnya memperhatikan reaksi aneh Wen Tinting, bertanya dengan rasa ingin tahu, "Kakak, apakah kau baik-baik saja?"
Fang Yao merasa seperti otaknya meledak di tempat, Wen Tingting ini sebenarnya adalah saudara perempuan dari wanita yang di sukai.
Alis Zhang En sedikit terangkat ketika dia mendengar wanita lainnya memanggil Wen Tinging kakak. Dilihat dari reaksi Fang Yao, jelas bahwa wanita yang satunya lagi yang cantik adalah yang dia sukai dan di ajak bertemu, tetapi siapa yang mengira bahwa wanita yang mereka temui di toko kemarin adalah kakak perempuannya dan mereka adalah saudara kandung.
Wen Tingting tidak menjawab adik perempuannya, Wen Shui, matanya memerah saat dia menatap tajam ke arah Zhang En, "Bocah, aku tidak menyangka mata adikku begitu buta untuk benar-benar menyukai orang sepertimu!" Pada akhirnya, wajahnya yang muram berubah menjadi kegembiraan, “Tapi, alasan kami meminta untuk bertemu denganmu di sini adalah untuk memberitahumu bahwa Keluarga Wen kami telah mengatur agar adikku dijodohkan dengan Tuan Muda Keluarga Li, Li Zhu! Mulai hari ini dan seterusnya, jangan pernah mencoba medekati adikku lagi!”
__ADS_1
"Sekarang, kau bisa mengubur perasaanmu dari adikku!"
Seolah-olah dia telah menemukan jalan keluar untuk membalas dendam atas penghinaan kemarin, Wen Tingting tertawa terbahak-bahak dengan kegembiraan dan kepuasan, sedikit berlebihan, menyebabkan gunung kembarnya bergoyang-goyang. Dia mengira bahwa orang yang disukai saudara perempuannya adalah Zhang En.
Alis Zhang En berkerut, menoleh ke samping menatap Fang Yao yang wajahnya telah memucat mendengar kata-kata Wen Tingting. Dia menarik napas dalam-dalam saat dia menatap Wen Shui, "Wen Shui, apakah yang dia katakan itu benar?"
Wen Shui, di sisi lain, jauh lebih tenang daripada Fang Yao, “Itu benar. Ayahku telah setuju aku menikah dengan Tuan Muda Keluarga Li, Li Zhu. Pernikahan kami akan di adalan lima hari lagi!"
Wajah Fang Yao langsung memutih seperti kehabisan darah, tubuhnya terhuyung-huyung mundur kebelakang saat dia menggelengkan kepalanya dalam penyangkalan, bergumam, “Tidak, T-tidak, TIDAK! Tidak mungkin!" Pada akhirnya dia mengambil langkah ke depan, menggenggam lengan Wen Shui, “Kenapa?! Mengapa kau.....?!"
Ekspresi Wen Shui berubah dingin, melepaskan tangan Fang Yao, “Kenapa? Karena dia adalah Tuan Muda Keluarga Li, sedangkan kau hanyalah seorang kultivator Alam Dewa Bintang Lima… eh? Kau telah menerobos ke Alam Pertapa Dewa? Bagaimanapun, bahkan pelayan Keluarga Li yang paling rendah adalah seratus kali lebih kuat darimu!”
Fang Yao sangat keras kepala menolak untuk percaya, tidak mau percaya, "Tidak, aku tidak percaya, aku tidak percaya bahwa kau tidak mencintaiku!"
Wen Shui mengungkapkan senyum dingin, “Aku memang menyukaimu di masa lalu, tapi itu karena aku bodoh, tertipu oleh ucapanmu yang berbunga-bunga dan kata-kata manismu! Fang Yao, aku akan memberitahumu dengan jujur, Ayahku adalah Wen Qun, keturunan dari cabang utama Keluarga Wen. Keluarga Wen kami adalah salah satu keluarga terkemuka peringkat pertama di Galaksi Bintang ini, apakah kau benar-benar berpikir bahwa dengan ranah kultivasiku yang tidak ada apa-apanya itu kau akan memenuhi syarat untuk dicocokkan denganku..?
Setiap kata yang melewati bibir Wen Shui seperti pisau yang menancap di hati Fang Yao Napasnya bertambah berat, merasa kesulitan untuk menarik napas berikutnya.
Pada saat yang tepat ini, Fang Yao akhirnya menyadari betapa naif, bodoh, dan menggelikannya dia! Bertahun-tahun dia telah bekerja keras untuk meningkatkan kultivasinya, berharap untuk menerobos bahkan satu hari sebelumnya, semuanya hanya untuk gadis ini! Namun, gadis sekarang berdiri di depannya, mengatakan bahwa dia bodoh di masa lalu dan tertipu oleh kata-katanya yang manis.
Kesedihan Fang Yao mendorongnya berubah dari kemarahan menjadi tawa histeris pada saat berikutnya, "Kata-kata berbunga-bunga dan kata-kata manis, mau mengatakan kalau kau tertipu oleh kata-kata manisku!" Meskipun dia tertawa, tetesan air mata mengalir di wajahnya.
__ADS_1
Zhang En berdiri di samping, tidak yakin apakah dia harus mengatakan sesuatu. Pada akhirnya, dia tetap diam. Dia tahu bahwa yang dibutuhkan Fang Yao sekarang bukanlah ketenanangan, tetapi pelepasan semua isi hatinya, untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.
Tatapan Zhang En dipenuhi dengan kebencian dan kedinginan menatap Wen Shui ini, meskipun dia sering memahami bahwa dalam berbagai hal seseorang hampir tidak bisa lari dari kenyataan, termasuk dalam berhubungan cinta. Namun, tidak peduli siapa pihak lain itu, mereka tidak diizinkan untuk menyakiti anggota klan Zhangnya, bagi Zhang En, semua orang yang telah bergabung mrnjadi anggota klannya sudah dia anggap saudara-saudaranya sendiri dan bukan bawahannya.