Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 546 - Aula Informasi


__ADS_3

“Apa yang aku ingin lakukan?” Zhang En mencibir, dan satu pisau kecil yang sangat tajam muncul di tangannya, "Apakah kau tidak mendengar dengan jelas apa yang aku katakan tadi?" Sambil menatap bagian bawah Gu Shan.


Wajah Gu Shan menjadi pucat, merasakan hawa dingin di antara bagian bawah kedua kakinya.


"Xen Hu, jangan melewati batas !!" Gu Shan berteriak, tetapi tepat ketika kata-katanya selesau, siluet Zhang En menjadi kabur. Kemudian, rasa sakit yang tajam datang dari bagian bawah tubuhnya dan terhempas ke belakang.


Gu Shan mencengkeram antar kedua kakinya dengan kedua tangannya, berteriak kesakitan.


Semua orang melihat sesuatu yang berlumuran darah di tempat Gu Shan berdiri barusan.


Zhang En mencibir, "Aku pikir belutmu akan sangat besar, tetapi siapa yang tahu ternyata hanya sedikit lebih besar dari cacing."


Kelompok Yi Long gagal mengendalikan diri saat mendengar pernyataan Xen Hu yang mereka kenal, tertawa terbahak-bahak serta air liur mereka beterbangan ke mana-mana karena tidak bisa menahan tawa lagi.


Di tempat lain, Shinshin memalingkan wajahnya dengan jijik.


"Xen Hu, aku bersumpah akan mengguliti sebelum membunuhmu!" Gu Sha berteriak pada Zhang En sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Aku akan menunggu saat itu terjadi." Zhang En menjawab saat dia mendekat. Dengan ayunan pedang tajam lainnya di tangannya, lengan Gu Shan jatuh ke tanah.


"AARRGGGHHHHHH!" Jeritan sedih lainnya datang dari mulut Gu Shan.


“Kalian semua, bawa pemimpin kalian dan pergi dari sini! Jika tidak, aku akan memotong belut yang ada di celana kalian masing-masing!” Ucap Zhang En sambil melihat semua sekelompok murid elit yang datang bersama Gu Shan.


Seolah terbangun dari mimpi buruk, semua murid elit itu dengan cepat membawa tubuh Gu Shan dan melarikan diri dengan tergesa-gesa. Potongan cacing kecil Gu Shan dibiarkan terlantar di tanah.

__ADS_1


Zhang En lalu menoleh melihat Shinshin.


Melihat tatapan ini, Shinshin merasakan tubuhnya langsung tegang, tidak yakin apa yang akan dilakukan Xen Hu ini padanya. Terakhir kali, Xen Hu telah melecehkannya di depan umum, kali ini dia tidak mau hal itu terulang lagi.


"Kenapa kau masih berada di sini?" Zhang En bertanya dengan tajam.


Mendengar pertanyaan Zhang En, Shinshin tercengang, dia sedikit ragu bahwa Xen Hu yang dia kenal sangat mesum dan ganas terhadap wanita akan membiarkannya pergi begitu saja.


Melihat kelompok Shinshin masih berdiri di sana dengan bingung dan tidak bergegas pergi, alis Zhang En terangkat dengan curiga, memasang senyum jahat, "Baiklah, jika kalian semua tidak pergi, aku akan menanggalkan celana kalian semua dan mengelus pantat kalian!"


Shinshin dan para murid elit perempuan yang datang bersamanya memucat, melarikan diri dengan panik dan secepat mungkin. Dalam sekejap, tidak ada satu orang pun yang tinggal di sana.


Sedangkan Yi Long dan lima rekanya, yang selema ini menjadi pengikut Xen Hu, bergegas ke sisi Zhang En, mereka tertawa terbahak-bahak melihat sekelompok murid perempuan itu melarikan diri untuk hidup mereka, “Kakak, kau akan membiarkan Shinshin pergi begitu saja? Jika itu aku, aku akan memperkosanya, lalu membunuhnya.”


“Memerkosa dulu lalu membunuh itu tidak ada artinya. Jika itu aku, aku akan membunuh lalu memperkosa!” Sambung salah satu orang lainnya dan sambil tertawa terbahak-bahak.


Plakkk!!!


Telapak tangan Zhang En mengenai tepat dibagian belakang kepala Yi Long, membentak, "Kalian pergi dari hadapanku!"


Yi Long mengusap kepalanya yang berdenyut-denyut, tersenyum canggung, “Kakak, aku tidak berbohong, mengapa kita tidak mengejar dan menangkap mereka? Shinshin adalah bagianmu, dan beberapa murid perempuan yang tersisa untuk kami berenam. ”


Zhang En memelototi Yi Long, "Jika kalian semua tidak pergi sekarang, aku akan memotong belut kalian!"


Mendengar ini, Yi Long dan lima lainnya tanpa sadar mengencangkan kaki mereka, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun, membungkuk berulang kali pada Zhang En, "Kakak, kami pergi, akan pergi sekarang."

__ADS_1


Zhang En lalu mengabaikan mereka. Setelah kelompok Yi Long sudah pergi, tempat itu kembali tenang seperti biasanya.


Melirik sepotong cacing kecil Gu Shan yang masih ada di tanah, Zhang En menjentikkan sedikit percikan apinya, membakarnya menjadi abu lalu tertiup angin.


Kemudian dia menghilang dari tempat itu, menuju area dalam Sekte Phoenix yang terdapat ruangan penyimpan buku dan informasi.


Area dalam Sekte Phoenix sangat luas dan banyak tempat dan agak jauh. Aula Informasi terletak di salah satu puncak dan bangunannya dibangun di tengah gunung.


Ketika Zhang En turun di alun-alun di depan Aula Informasi, dia bisa melihat banyak murid masuk dan keluar dari pintu masuk aula. Baik itu murid dalam, murid elit, dan kadang-kadang terlihat ada satu atau dua Tetua.


Murid luar tidak diizinkan masuk ke Aula Informasi, hanya mereka yang dipromosikan menjadi murid dalam ke atas yang diizinkan untuk membaca dengan teliti semua pengetahuan yang dijaga di dalam aula.


Ketika Zhang En berjalan menuju ke dalam aula, murid-murid dalam dan murid elit di jalannya bergegas ke samping untuk memberi jalan. Ketakutan serta kebencian bisa terlihat di wajah mereka.


Zhang En tersenyum kecut di dalam hati, memperhatikan ekspresi yang diarahkan padanya. 


Terbukti, kepribadian Xen Hu selema ini benar-benar yang terburuk, membangkitkan permusuhan dari banyak murid dalam dan elit.


Mengabaikan hal-hal ini dari pikirannya, Zhang En melangkah masuk ke dalam aula.


Pintu masuk aula sebenarnya terlihat normal dari luar, tetapi setelah melewati ambang pintu masuk, pemandangan di depan mata Zhang En berubah. Deretan rak berjajar di bagian atas dengan banyak gulungan buku-buku kuno, lebih jauh dari yang bisa dilihat oleh pemandangan mata.


Setiap tempat memiliki dua rak besar yang ditempatkan di kiri dan kanan.


Menurut ingatan Xen Hu, sekte mereka memiliki sepuluh lantai di atas tanah dan sepuluh lantai bawah tanah. Saat ini Zhang En berada lantai pertama di atas yang dibangun di atas tanah. Namun, hanya gulungan buku informasi yang di lantai ini, lupakan membaca semuanya, hanya menghitung gulungan satu per satu yang berada di setiap rak itu mungkin akan memakan waktu puluhan tahun, bahkan dua dekade.

__ADS_1


Untungnya, indera Zhang En mampu menutupi area yang luas, oleh karena itu dia tidak perlu membaca seperti manusia, kata demi kata, membalik halaman demi halaman.


Zhang En berdiri di depan rak buku acak dan menyebarkan indera dewanya, langsung menyelimuti seluruh rak besar. Setiap kata di rak gulungan buku itu membanjiri pikiran Zhang En.


__ADS_2