
Zhao Chen, yang berada di depan saat menyerang Zhang En, terpana oleh jejak tinju raksasa yang menutupi langit, sebuah pikiran melintas di benaknya...
"Ini…! Ini sepertinya Tinju Dewa Ilahi yang legendaris!"
Api biru yang dipancarkan dari tubuh Zhao Chen berubah menjadi bunga api biru dan mekar di udara. Dari jauh, itu adalah pemandangan yang memukau jika di lihat.
Jejak Tinju Dewa Ilahi Zhang En menabrak banyak bunga api biru.
yang ada di atas langit. Satu demi satu bunganya dihancurkan menjadi berkeping-keping, namun sekali lagi bunga api biru itu kembali mekar, memenuhi langit. Percikan dan nyala api terbang ke segala arah.
Zhao Chen terbang di udara dan berdiri disana menatap Zhang En dengan tatapan mematikan: "Teknik yang baru saja kau lakukan, apakah itu Tinju Dewa Ilahi?!"
Tinju Dewa Ilahi adalah skill pertempuran kelas tinggi. Sebagai Tuan Muda Kota Matahari, Zhao Chen tidak memiliki teknik kultivasi atau keterampilan bertempur kelas tinggi seperti itu, namun, dia tidak memiliki sesuatu yang setara dengan Tinju Dewa Ilahi yang misterius.
Zhang En tidak berharap Zhao Chen mengenali teknik itu, tapi dia tidak menyembunyikannya, "Benar." Tidak ada yang perlu disembunyikan pikir Zhang En.
“Serahkan teknik Tinju Dewa Ilahi, aku bisa membuat kelonggaran, membiarkanmu mati dengan lebih nyaman!” Mata Zhao Chen membara karena keinginan memiliki teknik itu
"Apakah bisa begitu?" Zhang En mencibir sinis. Dalam sepersekian detik, celah vertikal muncul di dahi Zhang En, Mata Langit terbuka ditengah keningnya lalu menembakkan dua sinar lampu merah. Zhao Chen tiba-tiba merasakan sesuatu yang memengaruhi pikirannya, menyebabkan pikirannya menjadi kosong.
Pedang panjang milik Zhang En muncul di tanganya dan dengan cepat terayun keluar dari sarunnya. Dua cahaya pedang besar melesat keluar, mirip dengan letusan gunung berapi yang membentuk badai yang menutupi Sembilan Surga, melesat ke arah Zhao Chen lebih cepat dari yang bisa dilihat oleh mata.
Langkah ketiga Seni Pedang Dewa Naga, Tebasan Mutlak!
__ADS_1
Kejernihan pikiran Zhao Chen pulih hampir seketika, namun, Tebasan pedang Zhang En sudah menembus api birunya, mengarah ke jantungnya. Tapi sebelum lampu pedang bisa menembus kulitnya, cahaya yang menyilaukan meledak dari tubuh Zhao Chen. Sebuah lubang hitam besar berwarna biru muncul, memblokir serangan itu, ketika bilah cahaya jatuh ke lubang hitam, itu tidak berbeda seperti tetesan air yang ditelan oleh lautan luas.
Mata Zhang En menyipit. Ruang Kehidupan!
Ketika seseorang tinggal selangkah ke ranah pendekar Pertapa Dewa, mereka dapat memanipulasi Hukum Ruang dan ruang individu akan terbuka di Lautan Qi milik mereka. Menghadapi musuh dalam pertempuran, seorang ahli Pendekar Dewa Bintang Lima puncak keatas akan bisa memanggil ruang itu dari Laut Qi ke dunia nyata, baik untuk serangan dan pertahanan.
Zhao Chen memandang Zhang En dengan ejekan di matanya, "Bicah, dengan tingkat serangan ini, kau jangan berharap untuk menembus pertahananku? Aku akan membuka matamu sekarang sampai sejauh mana jarak sebenarnya antara ranah setengah langkah Pertapa Dewa dan ranah pendekar Bintang Empat!" Qi pertempuran yang kental melonjak deras, cahaya biru di sekitar ruang kehidupan Zhao Chen mengguncang langit, melepaskan panas yang menakutkan yang menyelimuti Zhang En.
Sebelum gelombang panas mengenainya, Zhang En merasa tubuhnya seperti akan berubah menjadi abu kapan saja, bahkan dengan ketangguhan tubuh fisiknya, sulit baginya untuk benar-benar menahan panas yang menyengat. Jika dia benar-benar terkena gelombang panas ini, dia kemungkinan besar akan berubah menjadi abu.
Zhang En tidak membuang waktu atau ragu-ragu, dengan sekali lompatan, dia menghilang dari tempat itu. Pada saat yang sama, Qin Yang, Lifei, Jie Dong, dan Fen Heng juga menghilang di tempat mereka berdiri.
•••
Beberapa saat kemudian, suara raungan marah Zhao Chen bergema di seluruh Kota Suku Dewa.
Setengah jam kemudian, di sebuah bukit kecil seratus mil di luar Kota Suku Dewa, kelompok Zhang En muncul.
Meskipun dia telah menerobos ke ranah pendekar Dewa Bintang empat, Zhang En tahu bahwa dengan tingkat kekuatannya saat ini dia jauh dari kata mampu mengalahkan seorang ahli setengah langkah ranah Pertapa Dewa. Pertempuran sebelumnya dengan Zhao Chen hanyalah ujian untuk mengukur di mana dia bisa berdiri melawan Pendekar yang berada diatasnya.
Selain itu, Zhang En tidak menampilkan Seni Gunung Dewa - Tapak Budhha Kebenaran, transformasi jiwa dengan roh bela diri naga kembarnya atau mengeluarkan Gunung Dewa Emas, karena dia menyadari bahwa dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk mempertahankan diri jika rumor tentang dia memiliki harta karun itu menyebar.
"Tidak ada cara lain selain aku menerobos lagi sesegera mungkin." Zhang En berpikir sendiri. Begitu dia menerobos ke ranah yang lebih tinggu, mengalahkan Zhao Chen hanya masalah waktu saja.
__ADS_1
Sementara Zhang En sedang merenungkan semua hal ini dalam pikirannya, keempat bawahannya, Qin Yang dan yang lainnya berdiri diam di belakangnya, tetapi sebenarnya, gelombang kejut yang hebat menghantam hati mereka masing-masing melihat peningkatan kekuatan Zhang En.
Mengingat adegan pertarungan Zhang En melawan Zhao Chen, emosi mereka hampir tidak bisa tenang bahkan setelah waktu yang lama. hal Ini… telah jauh melampaui imajinasi mereka.
"Kemana kita setelah ini?" Zhang En tiba-tiba memandang mereka dan bertanya.
Qin Yang dengan cepat melangkah maju untuk menjawab, "Tuan Muda, menurut kami, sebaiknya kita menuju ke Kota Hantu."
"Kota Hantu?" Alis Zhang En berkerut. Zhang En sedikit bingung, dia pernah mendengar tentang Domain Hantu, tetapi bukan tentang Kota Hantu.
“Kota Hantu adalah kota lama yang telah ditinggalkan oleh salah satu dari enam raja kuno, kota itu dinamai menurut nama Raja Hantu itu sendiri, Kota Hantu muncul hanya sekali setiap seribu tahun. Di dalam Kota Hantu dikabarkan menyimpan banyak harta langka, mulai dari teknik budidaya, keterampilan bertarung terbaik, pelet roh dan ramuan, bahkan senjata magis, pelindung, dan sejenisnya yang dibuat oleh pengrajin tingkat dewa selama era kuno. Setiap kali Kota Hantu muncul, para pejuang dari seluruh Tanah Kematian akan bergegas datang kesana untuk memanfaatkan kesempatan ini." Qin Yang menjelaskan.
Mata Zhang En berkedip dengan cepat. Ini menjadi kejutan baginya, dia tidak menyangka bahwa sesuatu seperti Kota Hantu ditinggalkan oleh Raja Hantu. Selama era kuno, enam raja kuno memerintah bumi, masing-masing dari mereka adalah sosok tirani yang mencakup satu kekuatan besar.
Di antara enam raja kuno, Raja Hantu dianggap yang paling misterius dari semuanya dan yang paling tak tertembus jika diserang, dia memimpin pasukan hantu sebanyak miliaran, tubuhnya sendiri adalah sebagian manusia dan sebagian hantu.
"Menarik." Zhang En hanya mengucapkan satu kata. Awalnya, dia berencana untuk kembali ke Kota Kematian dan memulai langkahnya untuk menaklukkan Kota Terlarang serta kota-kota sekitarnya. Namun, karena dia secara kebetulan kebetulan melihat kemunculan Kota Hantu, dia harus datang kesana dan melihatnya.
“Kalian semua kembali ke Kota Terlarang terlebih dahulu, aku akan melakukan perjalanan ke Kota Hantu. Kita akan menyerang Kultus Lima Racun saat aku sudah kembali." Zhang En memerintahkan mereka dengan nada yang terdengar serius.
-
-
__ADS_1
-
Jangan lupa Like & Vote!?