Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 512 - Pembantaian Massal


__ADS_3

Zhang En lalu melirik Kurama yang tidak lain adalah binatang tunggangannya yang dia jinakkan dari Dunia Hitam dan dengan ringan mengetuk kepala kurama.


Sebagai tanggapan, Kurama mengangkat kaki depannya dan membanting ke bawah, menyebabkan tanah bergetar hebat. Di bawah tanah, ada lubang baru berbentuk cakar kurama.


Prajurit yang baru bicara tadi berakhir seperti rekannya yang mati pertama, tubuhnya terbanting ke tanah. Tapi, seenggok dagingnya yang rata menempel ke tanah, tetapi tubuh prajurit itu menjadi tumpukan daging yang menyebar ke segala arah tanpa bentuk, para tahanan yang ada disekitarnya bahkan tidak bisa membedakan kepala atau kakinya.


Wajah para prajurit Klan Mo yang tersisa berubah pucat pasi sekarang.


Melihat ini, semua tahanan yang melihat kejadian ini, bersorak lebih keras.


"Jangan biarkan ada di antara mereka yang hidup." Zhang En berkata sambil melihat dari balik bahunya ke arah kelompok di belakangnya. Suaranya dipenuhi dengan ketidakpedulian, seolah-olah dia sedang membicarakan masalah kecil.


"Baik, Tuan Muda!" Tetua Su dan Tetua Fu dengan hormat mengakui perintah Zhang En.


Sudah beberapa dekade berlalu, tetapi keduanya menjadi orang kepercayaan Zhang En dan kekuatan mereka tidak seperti dulu lagi.


SWOSHHH!!! SWOSSHHHH!!


Setelah menerima perintah Zhang En, mereka berdua terbang ke bawah dan mendarat di permukaan tanah, melaksanakan tugas mereka. Satu tangan terulur ke arah prajurit yang tersisa. Dalam sekejap, jejak telapak tangan membayangi langit.


Dengan kekuatan ranah Alam Dewa Kaisar Dewa Bintang Dua mereka, mereka berdua lebih dari cukup untuk menyelesaikan para prajurit Klan Mo yang kultivasi mereka berada di ranah Alam Kaisar Dewa Bintang Satu.


Teknik serangan mereka berdua adalah teknik pertempuran warisan yang diperoleh Master Kun dan diteruskan kepada Zhang En. Setelah Zhang En mencoba melatih gerakan teknik itu, dia lalu memberikannya kepada Tetua Su dan Tetua Fu dan mengajari mereka sebelumnya.


Kelompok ptajurit Klan Mo sekarang ketakutan saat mereka melihat telapak tangan besar yang muncul di atas langit, tepat di atas mereka, wajah mereka menjadi seputih kertas kosong. Ketakutan dan kemarahan terlihat di mata mereka, tetapi ketika mereka hampir tidak memiliki keinginan untuk bertarung, suara Xiao Hue terdengar keras, "Mereka semua ini milikku!"


WUSHHH!!!

__ADS_1


Xiao Hue lalu melesat ke bawah dan menyerang, tidak menahan diri lagi. 


Sebuah bayangan tinju melesat seperti meteor dari atas langit, memdahului serangan tapak raksasa Tetua Su dan Tetua Fu untuk memusnahkan kelompok prjurit Klan Mo di bawah.


Akan tetapi, ada orang lain yang bergerak lebih cepat dari mereka bertiga.. Xiao Tian yang tidak lain adalah dari Klan Binatang Kuno Pemakan Surga telah melesat dan membuka mulutnya lebar-lebar dan menarik kelompok prajurit yang ada di bawah. 


"ARGGHHHH!" Kelompok prajurit itu berteriak saat kekuatan hisap yang kuat menarik mereka ke arah Xiao Tian, ​​ditelan sekaligus masuk ke perutnya, mereka semua menjadi makanan Xiao Tian.


Melihat teman mereka bergabung, pemuda lainnya juga tidak bisa diam lebih lama lagi.


GROARHHHH!!


Salah satu dari mereka membuka mulutnya dan mengeluarkan raungan yang menghancurkan bumi. Pemuda ini adalah keturunan dari Shu Ao, salah satu dari Klan Binatang iblis, Klan Naga dari Gerbang Sembilan Naga.


Raungannya berubah menjadi badai gelombang suara yang menyerang kehancuran di sekelilingnya. Setiap pasukan Klan Mo yang berada setatus meter jauhnya dan betada di jalur gelombang suaranya digiling menjadi hujan darah tanpa ampun.


Semua anggota Klan Zhang melakukan pembantaian bersih di area barat gerbang kota kekaisaran.


Dalam waktu beberapa detik saja, beberapa puluh ribu pasukan Klan Mo yang berada di tempat terpisah yang ditempatkan di gerbang kota barat semuanya dibantai tanpa ampun.


Semuanya terjadi begitu cepat sehingga semua tahanan di area itu terperangah ketika mereka melihat semua tentara pasukan Klan Mo yang mati mengerikan.


Zhang En lalu menyebarkan roh spritualnya, dia menutupi seluruh Kota Kekaisaran Ming.


"Satu orang Master di ranah Alam Dewa Leluhur Bintang Dua tahap menengah, satu orang di ranah Alam Dewa Sejati Bintang Tiga tahap akhir, tiga orang di ranah Alam Dewa Sejati Bintang Satu, delapan orang di ranah Alam Dewa Kaisar Dewa Bintang Tiga." Zhang En segera menemukan setiap ahli Alam Dewa Klan Mo yang ada di dalam kota.


Memikirkan informasi yang baru dia dapat barusan, Zhang En menebak bahwa Master Alam Dewa Leluhur Bintang Dua tahap menengah yang memasuki indera rohnya adalah Tetua Klan Mo, Mo Chan yang disebutkan prajurit sebelumnya. Tidak heran kelompok pasukan tadi begitu arogan, mereka mrmiliki dukungan seorang ahli Alam Dewa Leluhur Bintang Dua.

__ADS_1


Setelah menyebarkan semua indera rohnya, Zhang En melihat bahwa ada belasan Tetua Klan Mo lainnya yang berada di luar kota, Zhang En menyimpulkan bahwa mereka mungkin juga ahli Alam Dewa Leluhur Bintang Dua.


Zhang En meminta beberapa kelompoknya tetap tinggal di area gerbang barat untuk menangani hal lainnya dan beberapa pemuda ditugaskan untuk membunuh para ahli Alam Dewa Bintang Tiga yang betada di dalam kota.


Setelah itu, Zhang En lalu menunggangi Kurama dan terbang ke arah dimana Mo Chan berada saat ini.


..


Berdiri di atas tembok kota sebelah tenggara, Mo Chan mengerutkan kening. Ada perasaan tidak nyaman yang kuat menyelimuti hatinya saat ini.


"Tetua, ada masalah besar yang terjadi di gerbang kota bagian baray!" Seorang prajurit berlari ke arah Mo Chan dengan panik, kata-kata itu keluar dari mulutnya bahkan sebelum dia memberi hormat.


Mendengar hal ini, Hati Mo Chan seakan tenggelam. Dia lalu membentak bawahan yang baru datang kepadanya dengan suara tegang, “Bicaralah, apa yang terjadi?!


Prajurit itu dengan cepat menjawab, “Pemimpin pasukan dan rekan kami yang pergi kesana serta semua pasukan yang kita tempatkan di gerbang barat semuanya terbunuh. Menurut informasi, bahwa pelaku tidak lain adalah orang yang ingin kita tangkap, Zhang En!”


“Zhang En? Ha Ha Haa...!” Mo Chan malah merasa senang dan bukannya merasa khawatir, dia tertawa terbahak-bahak. “Aku telah menunggu selama puluhan tahun, kau akhirnya muncul! Aku akhirnya bisa kembali untuk melaporkan kabar baik kepada Patriark kami. Aku tidak akan membiarkan kau melarikan diri.! ”


"Benarkah?" 


Saat Mo Chan sedang berbicara sambil tertawa, sebuah suara memasuki telinganya.


Mo Chan lalu memutar kepalanya melihat asal suara. Dia melihat seorang pemuda berdiri diatas binatang iblis, Musang berekor sembilan yang terbang dari jauh memasuki pandangannya.


"Zhang En..!" Seru Mo Chan.


Meskipun dia belum pernah melihat Zhang En secara langsung sebelumnya, dia telah melihat potret pemuda ini. Tetapi sebagian besar perhatiannya bukan pada Zhang En, tetapi binatang iblis musang raksasa yang di tungganggi Zhang En.

__ADS_1


__ADS_2