
Setiap hari, Zhang En terus berlatih di halaman tempat tinggalnya. Terkadang, Ketua Xin Long juga memberi pelatihan kepada Zhang En serta mengawasinya.
Ia hanya keluar dari tempat itu jika hanya pergi makan atau jika saat ingin menanyakan sesuatu hal kepada Tetua Agung dan setelah itu kembali ke kamarnya dan duduk di tempat tidur untuk mulai kembali memahami seni naga pedang. Kemudian dia akan pergi berlatih pedangnya dan berkultivasi di malam hari.
Setiap hari berlalu sangat cepat saat Zhang En fokus untuk tetap berkultivasi. Bahkan sudah tidak terasa sudah 6 bulan terlewati lagi.
Setelah berlatih sebentar seperti biasa di halaman rumah sederhana dimana ia tinggal selama ini, seseorang yang tidak dia kenal terlihat sedang berjalan ke arahnya.
Zhang En menghentikan latihan sambil menunggu seorang murid pria seumuran dengannya memakai jubah khas murid sekte berwarna merah terang, pria itu juga menggendong seseorang di kedua tangannya.
Zhang En mengerutkan kening merasa penasaran dan juga sedikit terkejut saat melihat orang yang sedang di gendong pria itu berlumuran darah dan napasnya sangat tidak stabil.
Zhang En hendak menanyakan apa yang terjadi dan maksud kedatangannya, ketika Zhang En ingin bertanya, pria itu menurunkan orang yang dia gendong dengan nada cemas dan sedikit terputus-putus karena kelelahan langsung berbicara kepadanya.
“Saudara Zhang, aku adalah Shu Fai dan aku mengagumimu sejak kau menjadi pemenang turnament kekaisaran. Aku ingin bertemu denganmu sejak lama, tetapi aku tidak berani untuk menemuimu. Aku tidak pernah mengira kita akan bertemu dalam keadaan seperti hari ini" Shu Fai memandang Zhang En dengan wajah yang terlihat babak belur.
Zhang En menjawab dengan senyuman, “Apa yang kau katakan? Maaf jika aku selama ini tidak terlalu banyak berbicara kepada kalian semua karena aku sibuk dengan latihan serta berkultivasi. Apa yang terjadi? Siapa yang orang yang terluka ini?" tanya Zhang En mengakhiri perkataanya.
Mendengar perkataan Zhang En, ekspresi Shu Fai menjadi tenang melihat keramahan Zhang En, “Ini adalah adik ku Shu Ao, Shu Ao menjadi seperti ini di akibatkan oleh murid-murid dari keluarga bangsawan. Mereka selalu membully kami murid dari keluarga rakyat jelata karena kami adalah siswa dari keluarga miskin. Selalu ada gesekan diantara murid dari keluarga bangsawan dan murid dari keluarga rakyat jelata, mereka juga sering melakukan intimidasi kepada kami semua. Tadi adik Shu Ao diganggu oleh salah seorang murid dari keluarga bangsawan bernama Zin Ho lalu menyuruh teman-temannya untuk memukulinya hingga cedera seperti ini, saat itu salah seorang murid datang dan memberitahu hal itu kepadaku bahwa adik Shu Ao sedang dipukuli. Kemudian aku datang menolong Adik Shu Ao dan aku di keroyok oleh mereka. Oleh karena itu aku dikalahkan dan kemudian tanpa sengaja lewat dan melihatmu disini."
Setalah memahami seluk beluk permasalahan dan juga kedatangannya, Zhang En sedikit merasakan kemarahan. Biar bagaimanapun, Ia juga berasal dari desa dan juga daru keluarga rakyat jelata Selama ini ia tidak tau jika murid dari keluarga bangsawan selalu menindas murid dari rakyat jelata selama berada di dalam sekte dan baru mengetahui hal itu saat ini. “Sepertinya aku harus meregangkan sedikit otot-ototku, Siapa tau aku bisa bertarung dengan murid dari keluarga bangsawan".
__ADS_1
"Baiklah.. Pulihkan dirimu sejenak lalu bawa adikmu untuk segera di obati. Aku pasti akan pergi menemui kalian jika sudah ada waktu setelah aku menyelesaikan latihanku ".
Pertemuan pertamanya dengan Shu Fai dan Shu Ao hari ini telah memberikan kesan yang baik si hati Zhang En. Sejak dia diangkat menjadi calon penerus Ketua Xin Long, Zhang En tidak pernah berbicara dengan sesama murid sekte.
Zhang En memperhatikan Shu Fai yang pergi meninggalkan tempat tinggalnya lalu meneruskan latihan. Setelah seharian berlatih tanpa istirahat, Zhang En kemudian masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
"Aku sebaiknya menemui Shu Fai setelah selesai makan malam" ucap Zhang En sambil berjalan keluar dari dalam kamar.
Setengah jam kemudian, Zhang En bertanya kepada salah satu murid yang dia temui untuk menanyakan dimana dia bisa menemui Shu Fai. Setelah itu, Zhang En pergi untuk ke tempat Shu Fai.
Di salah satu ruangan, Shu Fai yang melihat kedatangan Zhang En langsung menemuinya dan mereka berdua duduk di salah satu kursi panjang dan meja yang sudah tersedia disana.
"Bagaimana keadaan adikmu?" tanya Zhang En memulai percakapan.
Mendengar jawaban Shu Fai, Zhang En hanya menganggukan kepalanya mendengar kondisi Shu Ao. "Kalau boleh tau, di mana aku bisa menemui kelompok Zin Mo berkumpul Sekte Naga Merah begitu sangat besar, bagaimana aku bisa bertemu dengan mereka? ” Zhang En bertanya kepada Shu Fai.
"Zin Mo dan kompoknya tinggal tidak jauh dari sini. Mereka saat ini mungkin masih berada disana tepatnya setelah melewati 4 gedung dari sini.” ucap Shu Fai menunjuk ke arah gedung sebelah kanannya.
Shu Fai bahkan belum selesai berbicara ketika Zhang En pergi. Zhang En melangkah pergi menuju arah yang di tunjuk barusan oleh Shu Fai.
Shu Fai menghela nafas panjang setelah dia melihat Zhang En pergi begitu saja dan hanya melihat langkah kaki Zhang En yang semakin jauh. Pikiran Shu Fai dipenuhi dengan pertanyaan dengan wajah sedikit bingung. Meskipun Zhang En baru mengenal mereka hari ini, tetapi Zhang En sudah memikirkan tindakan yang di lamukan karena dia berasal dari rakyat jelata seperti Shu Fai dan adiknya Shu Ao, Zhang En sangat sensitif mendengar perlakuan murid dari keluarga bangsawan terhadap mereka karena latar belakang mereka sama.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa menit Zhang En berhenti di salah satu gedung yang saat ini ada di hadapannya. Dari luar dia melihat gedung itu sangat besar dan disana terlihat ada sebuah danau. Suasana di tempat itu sangat hidup, ada banyak sekali murid di sekitarnya yang berbicara satu sama lain.
Zhang En melihat sekelilingnya, ada 30 puluh hingga 50 orang terlihat ramai membaur disana bersama kelompok mereka masing-masing dan mereka semua mengenakan jubah Merah cerah. Mereka semua memiliki aura yang mengesankan dan di tempat itu juga bukan hanya murid laki-laki, murid perempuan juga ada disana untuk berbaur bersama mereka, Baik itu dari keluarga bangsawan maupun dari keluarga rakyat biasa.
Beberapa dari murid laki-laki yang ada disana dan bersama kelompoknya terlihat dengan jubah mereka yang sedikit kusam, dengan jejak kaki berdebu terlihat ada di jubah mereka menandakan mereka adalah murid dari keluarga rakyat biasa atau jelata.
Bahkan ada dua hingga tiga di antaranya dengan wajah bengkak. Namun, tidak satupun dari mereka bisa menyembunyikan kegembiraan di mata mereka dan rasa superioritas yang melekat saat bersama dengan teman-teman mereka.
“Hmph, aku sudah lama muak dengan orang-orang kampung itu. Hari ini, aku harus mengatakan itu kepada kalian bahwa setiap aku memukul mereka, aku merasa sangat puas" ucap salah satu pria yang memakai jubah cerah dan terlihat sangat bagus menandakan mereka adalah murid dari keluarga bangsawan karena penampilan mereka yang serba bagus.
“Murid-murid miskin itu akan berani jika kita selalu memukuli mereka. Mereka begitu sedikit sombong dengan tingkat kultivasi mereka yang banyak jauh berada di bawah kita" sambung yang lain.
“Shu Fai memiliki kultivasi yang cukup bagus dari antara murid-murid miskin itu karena dia yang memimpin orang-orang miskin itu. Entah dari mana asal Shu Fai, tapi hari ini aku terkena pukulan darinya saat kami memukuli adiknya walaupun dia babak belur juga, dia juga hebat dan memberi perlawanan saat kami mengeroyoknya tetapi aku harus mencari kesempatan untuk membalasnya kembali."
“Hahaa.. Hanya Shu Fai saja tidak ada apan-apanya. Kita memiliki saudara senior Zin Mo dan juga Zin Bai. Meski budidaya Shu Fai cukup tinggi, kenapa harus takut?"
Para pemuda itu semua berteriak dan membual satu sama lain. Tidak ada yang tahu siapa yang berteriak terakhir, tapi semua orang merespon dengan keras. Mereka semua memuji dan membesarkan nama Zin Mo dan dan Zin Bai.
Disitu Zin Mo dan juga Zin Bai duduk diantara mereka. Setelah mendengar kata-kata sanjungan itu, Zin Mo tersenyum tipis dan mengelus dagunya dan hanya diam saja.
Di sisi lain, Zin Bai tersenyum penuh keangkuhan terlihat dari wajahnya sambil membusungkan dada kedepan. “Di masa depan, jika ada di antara kalian yang mendapat masalah, datang saja padaku. Aku, Zin Bai, akan memberikan mereka pelajaran.”
__ADS_1
♡♡♡Jangan lupa berikan like dan vote jika berkenan♡♡♡