
Tan Hu tiba-tiba menatap ke arah Zhang En, suaranya sedikit gemetar, "Kau, sudah menerobos Alam Dewa Leluhur Bintang Satu ?!"
Sudah berapa lama sejak Zhang En dipromosikan ke jajaran murid elit?
An Ji juga berdiri dari lantai, juga menatap Zhang En dengan ekspresi terkejut.
Zhang En malah melihat ke arah An Ji dan berkata, “Ingin menghukumku? Sangat jelas bahwa kau tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Tetua An Ji, mungkinkah kau tidak mau memberikan ibumu kepada murid-murid sekte kita untuk berkultivasi? Sebagai tetua sekte, ini adalah sesuatu yang harus kau lakukan! ”
DadaAn Ji naik turun karena marah, cairan panas menyembur ke tenggorokannya. Gagal menekan lukanya, dia kembali meludahkan seteguk darah.
Sekarang, meskipun marah sampai dia muntah darah, An Ji tidak berani menyerang lagi, dia tahu itu hanya akan membawa penghinaan lebih lanjut pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, Tan Hu memelototi Zhang En dengan tatapan dingin, “Zhang En, kau telah menjadi terlalu tidak terkendali, menentang para tetua sekte, dan melukai tetua. Kami akan melaporkan hal ini, Para Tetua lainnya pasti akan menghukummu! Jangan mengira bahwa hanya karena kau adalah murid Master Sekte, kau dapat melakukan semua hal sesukamu!”
"Menentang tetua?" Zhang En terkekeh mendengar tuduhan Tan Hu, tetapi kilatan tajam melintas di matanya, “Karena seperti itu, aku akan dihukum terlepas dari apakah aku melukai satu atau dua orang tetua. Kalau begitu, aku tidak akan menahan diri.” Sebelum kata terakhirnya terdengar, Zhang En sudah menghilang dalam sekejap.
Ketika dia muncul lagi, dia sudah berdiri beberapa meter dari tempat Tan Hu berada.
Tan Hu meras terkejut dan panik.
WUSHHHH..!!!
Dia meninju Zhang En dengan kedua tinjunya. Lengan jubahnya meledak berkeping-keping, memperlihatkan dua lengan tebal yang memancarkan kilau logam, seolah-olah terbungkus lapisan besi.
Tatapan mata Zhang En terlihat dingin dan, dia melpasakan serangan tinjunya juga, bertabrakan langsung dengan tinju Tan Hu.
BAAMMMM! Seperti tabrakan antara logam, suara tumpul tapi keras terdengar di aula itu.
__ADS_1
Di depan mata An Ji, tubuh Tan Hu terlempar membentuk lengkungan di udara seperti layang-layang yang putus, jauh keluar dari aula, sebelum jatuh dengan keras ke tanah. Daging di lengannya pecah, garis merah mencolok menutupi daging yang tersisa saat darah mengalir keluar dalam aliran yang tidak pernah berakhir.
Jantung An Ji terasa seperti melompat keluar saat tatapannya berpindah dari lengan Tan Hu ke lengan Zhang En.
Tan Hu telah mengolah Lengan Besinya selama lebih dari sepuluh ribu tahun dan mampu menghancurkan hampir semua hal yang di tinju. Bahkan sepotong besi Dunia Ilahi yang sangat keras akan penyok dengan pukulan dari Lengan Besinya. Tapi sekarang, lengan besi Tan Hu dihancurkan oleh Zhang En.
Zhang En lalu berjalan mendekat, perlahan mendekati An Ji.
Baru saat itulah An Ji tersentak, khawatir, "Zhang En, apa yang kau inginkan ?!"
Zhang En tidak menjawab lalu berhenti di depan An Ji. sambil menjulurkan kakinya dan mengirim An Ji terbang keluar dari aula dengan satu tendangan, jatuh tepat di samping tubuh Tan Hu.
Zhang En berjalan keluar dari aula depan, berdiri di depan kedua tetua itu dengan ekspresi dingin, “Kembalilah dan beri tahu Wang Nio itu bahwa jika dia menginginkan formula Pil Langit milikku, aku bisa memberikannya padanya dengan satu syarat. Dia harus menyumbangkan bagian bawahnya untuk semua murid sekte..!”
Tetua Tan Hu dan Tetua An Ji terkejut, heran, dan marah karena tahu betul apa yang dimaksud dengan bagian bawah yang di maksud Zhang En.
“Kalian enyahlah dari hadapanku sekarang!” Mata Zhang En tajam seperti pisau menyapu mereka.
Setelah melarikan diri dari Puncak Dewa, Tan Hu dan An Ji tidak kembali ke kediaman mereka masing-masing, melainkan pergi ke Puncak kediaman Wang Nio berada. Setelah bertemu Wang Nio, keduanya mengeluh.
“Bajingan Zhang En itu terlalu berani dan melanggar hukum! Dia bahkan berani menyerang kami sebagai tetua sekte. Tetua Wang, kau harus mengumpulkan para Tetua dan menghukum Zhang En itu! ”Tan Hu berkata dengan marah.
"Itu benar, Zhang En itu menantang kami para tetua!" An Ji menimpali dengan marah, "Dia tidak boleh dibiarkan seperti itu hanya karena dia adalah murid Lin Ming, membiarkan dia melanjutkan pelanggaran yang dia lakukan.!"
Mereka berdua juga tidak lupa memberitahukan kekuatan Zhang En.
Menyaksikan kedua tetua basahnnya kembali dalam keadaan yang menyedihkan, Wang Nio sangat terkejut karena Zhang En telag menerobos ke Alam Dewa Leluhur Bintang Satu.
__ADS_1
Terlebih lagi, baik Tan Hu maupun An Ji bukanlah lawan Zhang En sama sekali!
"Kalian berdua kembali dulu, aku tahu bagaimana menangani masalah ini." Wang Nio merenung dengan ekspresi serius.
Tan Hu dan An Ji tidak berani melawan. Setelah memberi hormat, keduanya lalu pergi. Adapun kata-kata yang dikatakan Zhang En, memberi tahu Wang Nio untuk menyumbangkan bagian bawahnya kepada semua murid sekte, tak satu pun dari mereka berani mengatakannya.
Setelah keduanya meninggalkan aula, Tetua Wu Hui, yang telah berdiri di samping, dengan dingin berkata, “Pertumbuhan anak itu terlalu menakutkan, kita benar-benar tidak boleh membiarkan dia terus tumbuh lebih kuat, kalau tidak dia akan menjadi terus bertambah kuat dan mengancam rencana kita di masa depan!”
Tetua lain bernama Bou Kin menambahkan, “Dengan Lin Ming melindunginya, kita tidak dapat membunuh anak itu menggunakan alasan yang kuat, lebih jauh lagi, aku benar-benar tidak tahu keberuntungan seperti apa yang dimiliki anak itu, untuk benar-benar menarik perhatian Sang Pengemis tua Kun.” Sambung Bou Kin merasa pusing memikirkan hal ini.
Wang Nio lalu memerintahkan mereka dengan tegas, “Berikan perintah! Panggil semua Tetua sekte untuk rapat membahas hukuman Zhang En!”
"Menghukum Zhang En?" Semua tetua lainnya yang hadir saling bertukar pandang, masing-masing dari mereka merasa ragu.
Mereka jelas tau ada Lin Ming yang melindungi Zhang En, bahkan jika mereka ingin mengumpulkan semua Tetua untuk rapat, peluang untuk bisa menghukum Zhang En terlalu tipis.
Tidak mungkin bagi Wang Nio untuk tidak menyadari hal ini. Tapi, dia masih ingin mengadakan pertemuan, bahkan dia sangat mengetahui hal ini juga.
Namun, mereka semua ini tidak menyuarakan keraguan mereka. Mereka masing-masing berdiri, mengakui perintah Wang Nio.
....
Dua hari berlalu.
Zhang En saat ini sedang berlatih keterampilan pemurnian alkimia ketika Gurunya Lin Ming datang ke Puncak Dewa.
Ketika Lin Ming tiba dan melihat bahwa Zhang En dengan santai mempraktikkan keterampilan alkimianya, dia menunjuk ke arah Zhang En, tertawa santai, "Kau masih suka untuk selalu melakukan hal-hal konyol."
__ADS_1
Mendengar ini, Zhang En segera tahu bahwa kunjungan Gurunya hari ini terkait dengan masalah dua hari yang lalu, ketika dia melukai dua tetua sekte, Tan Hu dan An Ji.
"Apakah Wang Nio itu masih memperkeruh insiden itu, tidak mau melepaskan masalah itu begitu saja?" Zhang En bertanya.