
Saat itulah Tang Wu bari melirik ke arah Zhang En. Selama ini, dia selalu percaya diri dengan penampilannya, tetapi ketika dia melihat Zhang En, dia tidak bisa menahan diri untuk membandingkan dirinya dengan Zhang En. Lebih buruknya lagi, dia benar-benar menemukan dirinya tampak kalah dari ketampanan Zhang En.
Tang Wu mengambil langkah mendekati Zhang En bermaksud mengintimidasinya, tetapi saat dia akan mengatakan sesuatu banyak hal, Zhang En mengangkat satu jari dan menunjuk ke arah patung batu tidak jauh dari jalan. Seketika patung batu itu diledakkan menjadi debu demgan bongkahan patung yang berhamburan di jalan.
Patung batu besar itu setinggi tiga orang dewasa, terbuat dari batu granit yang sangat tahan lama.
Tang Wu menatap kosong ke tirai debu batu yang tergeletak di tanah, satu-satunya hal yang telihat di wajahnya adapah wajah yang sudah memutih dan memucat.
Patung yang terbuat dari batu granit, bahkan jika Penatua Agung Keluarga Tang nya mengerahkan kekuatan penuh dalam serangan telapak tangan, dia masih tidak akan bisa menghancurkan patung itu menjadi debu.
Belum lagi, dia melihat pemuda itu hanya menggunakan satu jari.
Para murid keluarga lain yang berkumpul di sekitar jalan hampir kencing di celana ketakutan.
"Mari kita pergi...!" Zhang En berkata kepada ketiga wanita di belakangnya.
Untuk menjauhi dirinya dari murid-murid keluarga yang merepotkan ini, Zhang En memutuskan untuk menunjukkan sedikit kekuatannya sebagai bukti bahwa dia bukanlah orang yang mudah di provokasi.
Setelah keempat orang itu telah pergi, Tang Wu masih berdiri terdiam di tempat yang sama.
"Tuan Muda." Salah satu pengawal yang bersamanya mendekat, memanggilnya.
Tang Wu baru kembali sadar dan segera merasakan keringat dingin di punggungnya.
Satu jam kemudian.
Zhang En, Putri Hong Xiao dan kedua pelayannya tiba di Istana Kerajaan Bintang Selatan.
__ADS_1
Kedatangan Zhang En menyebabkan suasana di dalam istana menjadi riuh. Belum lama sejak terakhir kali Zhang En singgah di Kerajaan Bintang Selatan, namun, reputasi Zhang En saat ini telah melampaui imaginasi mereka.
Dari berita tentang dia menghadapi sekelompok Tetua Sekte Gagak Hitam, Pertempuran di Gerbang Sekte Gagak Hitam telah menjadi moment cerita yang sudah tersebar di seluruh penjuru tiga Benua. Berita yang paling heboh adalah saat pertempuran Zhang En di Kota Dewa Bintang di mana Zhang En seorang diri masuk menerebos kota itu dan bertarung satu melawan banyak ahli Sekte Dewa Bintang dan membantai ribuan murid Sekte Dewa Bintang. Berita itu bahkan telah menyebar seluruh kerajaan yang ada di Benua Angin Salju.
Menjelang kedatangan Adik Juniornya, Raja Hong Bei benar-benar merasa sangat gembira. Saat dia melihat Zhang En, Raja Hong Bei berjalan dan menepuk bahu Zhang En dengan keras "Nak, kau melakukan banyak hal dengan sangat baik!"
Di seluruh panggung Bela Diri di seluruh Dunia Kultivator Benua Angin Salju, orang yang bisa menerima pujian setinggi itu dari Raja Kerajaan Bintang Selatabln, mungkin hanya Zhang En satu-satunya.
“Hemm... Maaf kalau anak perempuanku ini benar-benar merepotkan diri mu selama beberapa bulan ini!” Raja Hong Bei menyatakan kalimatnya.
"Ayah!" Mendengar kata-kata ayahnya, Putri Hong Xiao segera memonyongkan bibirnya dan merajuk.
Raja Hong Bei tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya, “Lihatlah dirimu, aku belum mengatakan apa-apa, tapi kau sudah merajuk. Sepertinya aku harus menyerahkanmu pada Saudara Junior Zhang."
Kata-kata Raja Hong Bei dicampur dengan sindiran ganda, wajah Hong Xiao berubah menjadi merah saat dia menyelinap ke belakang sambil melirik Zhang En.
Raja Hong Bei memerintahkan kepada pelayan istana agar jamuan makan disiapkan untuk menjamu kedatangan Zhang En. Selama perjamuan, kedua orang ini berbicara dan tertawa gembira.
Setelah tiga putaran meminum anggur, Zhang En meletakkan cangkirnya, berkata, "Kakak Senior, kali ini, selain mengantar Xiao kembali, aku punya permintaan, berharap bisa mendapatkan sesuatu dari Kakak Senior."
Raja Hong Bei juga meletakkan cangkir anggurnya, sambil tersenyum, "Mengapa kau bertingkah seperti orang asing, apa yang kau butuhkan, katakan saja padaku."
Aku mendengar dari adik Xiao bahwa kakak senior memiliki beberapa Rumput Dewa Naga di dalam ruang harta kerajaan." Zhang En berkata dengan lugas.
“Kau ingin meminta Rumput Dewa Naga?” Raja Hong Bei terkejut.
Raja Hong Bei melanjutkan, “Aku tidak tahu kalau Adik Junior membutuhkan Rumput Dewa Naga, memang ada beberapa di dalam ruang harta kerajaanku, tetapi tidak banyak yang tersisa, hanya tujuh belas batang yang tersisa. Dalam beberapa tahun ini, aku telah menggunakan beberapa untuk menghaluskan beberapa pil obat. Jika aku tahu sebelumnya adik membutuhkannya, aku tidak akan menggunakannya."
__ADS_1
Dia lalu menunjuk dan meyuruh orang untuk pergi ke ruang harta untuk mengambil semua tujuh belas batang Rumput Dewa Naga untuk Zhang En saat dia mengatakan itu.
"Tujuh belas batang!"
Hati Zhang En hampir melonjak karena kegembiraan, dia berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Raja Hong Bei.
Wajah Raja Hong Bei berseri-seri, "Bukankah sudah kubilang, kau dan aku bersaudara." Dengan nada bercanda, dia menambahkan, "Jika kau benar-benar ingin berterima kasih kepadaku, dengan memberikan kepadaku beberapa Pil Naga , aku akan merasa senang."
Mendengar bahwa Kakak Seniornya Raja Hong Bei menginginkan beberapa Pil Naga, Zhang En langsung mengeluarkan dua puluh Pil Naga yang tersisa di dalam cincin spasianya tanpa mengatakan sepatah kata pun dan memberikannya kepada Kakak Seniornya meskipun mengetahui kalau kakak seniornya hanya bercanda.
Jika Kakak Seniornya bisa mengeluarkan semua Rumput Dewa Naga dari ruang harta karena permintaannya, dia juga tidak ingin menunjukkan kepelitan.
Raja Hong Bei dan para ahli Kerajaan Bintang Selatan yang ada di dalam ruangan itu menatap dengan bodoh ke dua puluh butir pil roh tingkat dewa di depan Zhang En dengan mulut ternganga.
“Adik junior, I-ini ...!” Raja Hong Bei merasa malu padahal dia hanya bercanda.
Zhang En melambaikan tangannya, tersenyum ketika dia berkata, "Bukankah Kakak Senior mengatakan bahwa di antara kita saudara ?"
Raja Hong Bei menjadi santai menjawab, "Baiklah, Kakak Seniormu ini akan menerimanya."
Dia tiak lagi menolak lalu menyimpan dua puluh butir pil roh yang di berikan Zhang En kepadanya.
Beberapa saat kemudian, orang yang diperintahkan Raja Hong Bei untuk membawa tujuh belas batang Rumput Dewa Naga dari ruang harta kerajaannya kembali dan berbaris di depan Zhang En. Zhang En hampir lupa diri ketika menatap tujuh belas batang Rumput Dewa Naga. Beberapa saat kemudian, dia menyimpan semuanya di dalam cincin spasialnya.
Dengan adanya tujuh belas batang Rumput Dewa Naga itu, sudah cukup baginya untuk memurnikan dua Naga dewa primordial. Zhang En menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Perjamuan makan itu berlangsung sampai larut malam sebelum semua orang bubar untuk beristirahat.
__ADS_1