Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 168. Keterkejutan


__ADS_3

Pada akhirnya, Zhang En memindai jiwanya. Di masa lalu, lautan jiwanya hanyalah lautan luas tak berujung, tetapi sekarang, lima daratan eleman logam, kayu, air, api, dan bumi muncul di atas daratan lima elemen laut jiwanya.


Dari lima elemen daratan itu, lima elemen aura beresonasi satu sama lain, berputar-putar, membentuk penghalang seperti pelindung.


Keyakinan yang berani bangkit dari hati Zhang En bahwa jika dia harus melawan Zhao Chen sekali lagi, hanya dengan kekuatan mentah dari kedua tangannya, dia mampu merobek Zhao Chen menjadi dua. Perasaan ini lahir dari kepercayaan pada kekuatannya sendiri.


Zhang En sangat puas melihat otot-ototnya sepertinya dipahat indah yang mendekati kesempurnaan. Zhang En mengangguk dengan puas, setelah menerobos Ranah Pertapa Dewa , 'Senapan' di bawahnya sepertinya juga telah bertambah besar.


*_^


Beberapa saat kemudian, Zhang En mengeluarkan jubah biru muda dari cincin spasialnya dan memakainya. Tidak lama setelah itu, Zhang En keluar dari Kuil Gunung Dewa.


Ketika dia masuk ke aula besar, Ketua Xin Long dan Tetua Chao, Shu Fai, serta Tetua Agung Zhang Fu dan Tetua Sekte ada di sana.


"Guru. Apa yang kalian bicarakan yang begitu terlihat bersemangat?" Zhang En bertanya sambil tersenyum.


“Tidak ada apa-apa. Kau baru keluar dari kultivasi tertutup!” Melihat Zhang En muncul, kegembiraan memenuhi wajah Tetua Chao saat dia berdiri, begitu pula orang lain.


"Tuan Muda!" Semua Tetua melangkah maju untuk memberi hormat.


Zhang En mengangguk kemudian duduk di antara kursi-kursi mereka.


“Apakah kamu benar-benar membunuh Tetua Sekte Gagak Hitam Ao Baixue itu?” Semua orang duduk, Ketua Xin Long tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi, langsung bertanya pada Zhang En. Masalah ini telah menyebar jauh dan luas, tidak hanya di Kekaisaran Ming, tetapi hampir semua kekeisaran yang ada di Benua Angin Salju sedang mendiskusikan masalah ini.


Mendengar Ketua Xin Long mengajukan pertanyaan penting, semua mata di aula beralih menatap Zhang En. Mereka semua tahu bahwa ketika Zhang En pertama kali kembali, ada hantu raksasa Feng Yang di sisinya, mungkinkah Zhang En dan Feng Yang membunuh Ao Baixue bersama? Pikir mereka semua.


Melihat ekspresi di sekitarnya, Zhang En tersenyum, "Aku membunuhnya." Kata-kata Zhang En dengan jelas mengkonfirmasi rumor yang sedang beredar di luar.

__ADS_1


Shu Fai menyela dengan kegembiraan yang antusias, “Kakak Senior, sekarang semua kerajaan di Benua Angin Salju sedang membicarakan hal ini, kau telah menjadi sosok paling legendaris yang terkenal dari Benua Angin Salju! Bahkan melampaui Kaisar Ming kita!"


"Sosok paling legendaris?" Zhang En tertawa kecil mendengar istilah ini.


“Lebih lama lagi, rumor di luar mengatakan kau sudah mencapai Pendekar Dewa Bintang lima?” Tetua Xhao bertanya. Meskipun dia adalah Guru Zhang En, seperti orang lain, dia merasa sulit untuk percaya bahwa Zhang En telah mencapai ketinggian seperti itu dalam kultivasi dengan umur yang masih sangat muda.


Karena keunikan teknik kultivasi Zhang En, jejak auranya menyembunyikan tingkat kultivasinya, bahkan semua Tetua Sekte tidak dapat menentukan kekuatan sebenarnya dari Zhang En.


Zhang En menggelengkan kepalanya, "Aku baru saja menerobos hari ini."


"Menerobos!"


Mereka semua terkesiap karena terkejut, dan kemudian kegembiraan muncul di wajah semua orang.


"Nak, apa kau sekarang setengah langkah maju ranah Pertapa Dewa?" Ketua Xin Long mencoba menentukan dengan harapan dalam suaranya.


Zhang En hanya bisa tersenyum pahit di dalam hatinya, di depan mata semua orang, Zhang En berhenti menyembunyikan auranya. Kekuatan yang dilepaskan melonjak seperti tsunami dan mengguncang langit.


Aura Zhang En menyebar seperti gelombang laut yang tak berujung, berguling dan memercik, menenggelamkan segalanya.


Semua orang di aula besar tersedak oleh tekanan yang menderu itu. Ketua Xin Long dan Tetua Chao sama-sama terkejut, mereka dengan cepat memproyeksikan Qi pertempuran mereka sendiri untuk melemparkan penghalang pelindung ke arah semua orang yang ada di dalam aula itu agar mereka tidak terlalu terpengaruh.


"Pertapa Dewa!" Pada saat yang sama, Ketua Xin Long dan Tetua Chao berseru serempak.


Seruan Ketua Xin Long dan Tetua Chao bergema di telinga semua Tetua dan yang lainnya, membuat punggung mereka menggigil. Mata melebar sedetik kemudian menatap Zhang En saat pikiran mereka mencatat arti dari dua kata itu.


"Perta-, Pertapa Dewa?!!!"

__ADS_1


Tekanan Qi yang menderu-deru hanya berlangsung satu detik sebelum surut lebih cepat, kembali berkumpul ke dalam tubuh Zhang En. Suasana di dalam aula itu kembali tenang seprti sebelumnya, menyebabkan semua orang merasa seperti tekanan sepersekian detik yang mereka alami barusan hanyalah ilusi.


Saat Zhang En menarik auranya, di ruang rahasia Yao Manor, Yao Chen tiba-tiba membuka matanya. Dalam sekejap dia muncul jauh di atas Yao Manor, matanya yang terlihat waspada memindai ke segala arah.


“Aneh, aku benar-benar merasakan aura Pertapa Dewa sekarang, bagaimana itu bisa menghilang tanpa jejak?” Yao Chen bergumam pada dirinya sendiri. “Aura itu sama sekali bukan milik Para Ketua Sekte Kekaisaran ini atau beberapa orang tua itu. Mungkinkah beberapa ahli Pertapa Dewa tak dikenal lainnya telah datang di Kota Kekaisaran ini?"


Pada saat Yao Chen sedang melihat situasi di atas Yao Manor, di saat yang bersamaan di Istana Kekaisaran Ming, Kaisar Zhu terbang ke atas Istana melakukan tindakan yang persis sama dengan dilakukan oleh Yao Chen yang memindai area di sekitarnya dengan indra spiritualnya, tetapi seperti Yao Chen, itu tidak membuahkan hasil. Pada akhirnya, Kaisar Zhu terbang kembali ke istana dengan perasaan bingung.


•••


Pada saat ini, Ketua Xin Long dan Tetua Chao, dan semua Tetua Sekte yang hadir akhirnya pulih dari keterkejutan mereka, masing-masing merasa senang dan bersemangat. Ketua Xin Long menyatakan untuk mengadakan pesta perayaan selama tiga hari tiga malam.


Zhang En tersenyum, menyetujui antusiasme Gurunya Ketua Xin Long.


Namun, Zhang En memperingatkan mereka semua untuk tidak mengungkapkan fakta bahwa dia telah menerobos ranah Pertapa Dewa awal. Zhang En memilih untuk tidak mengungkapkan kekuatannya diluar.


Dalam beberapa hari berikutnya, Zhang En terus melakukan latihan jurus-jurusnya. Teknik tombak Emas berisi total sembilan gerakan, dan bahkan Zhang En merasa tegang untuk menampilkan tiga gerakan terakhir sebelumnya. Sekarang, setelah memasuki ranah Pertapa Dewa, gerakannya jauh auh lebih halus dan bobot serangannya semakin kuat.


Zhang En berdiri di tengah halaman kediamannya memegang sebuah tongkat di tangannya sambil mengotak-atiknya bolak-balik. Tongkat kerajaan ini adalah salah satu barang yang dia ambil dari bawah danau gua tersembunyi di Lembah Harimau.


Kadang-kadang, dia akan mengeluarkan tongkat itu untuk belajar, berharap menemukan petunjuk darinya. Perasaannya memgatakan bahwa tongkat ini menyimpan sebuah rahasia, hanya saja dia belum menemukan hasil apa pun.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like & Vote!


__ADS_2