
Zhang En melihat kembali naga biru dan hitam yang ada di belakang, energi kuat yang melonjak di sekitarnya perlahan-lahan berkumpul.
Setelah itu, Zhang En melihat pohon di depannya. Sebuah pikiran terlintas di benaknya dan dia tiba-tiba memukul batangnya dengan telapak tangan, tetapi pohon itu bahkan tidak bergetar. Dengan kekuatan Zhang En saat ini, memukul pohon api di depannya bahkan tidak membuat satu pun kulit pohon itu terlepas dari batangnya. Belum lagi, cabang dan daunnya tetap diam dan tidak terpengaruh.
Zhang En merasa kagum melihat hal itu. Dia kemudian mengeluarkan Qi pertempuran untuk meningkatkan kekuatannya, kali ini dia menggunakan kedua telapak tangan untuk menyerang batang pohon.
'Bang!'
Sebuah ledakan keras menghembuskan udara sekitarnya, namun pohon merah itu bahkan tidak bergetar sedikitpun.
Pada akhirnya, Zhang En bertransformasi menggunakan jiwa bela diri naga hitam dan biru, menyerang dengan kekuatan penuh mengarah batang pohon. Namun, pohon itu hanya bergetar sesaat. Tidak ada daun dari cabang yang jatuh. Selanjutnya, dengan kekuatan penuh, telapak tangan Zhang En bahkan tidak berhasil meninggalkan jejak pada batangnya. Lupakan cetakan telapak tangan, bahkan tidak ada goresan sama sekali.
Zhang En sangat tercengang. Kekokohan pohon ini agak terlalu menakutkan. Pada levelnya saat ini, kekuatan dari salah satu telapak tangannya sudah cukup untuk meledakkan seorang Pendekar Dewa Bintang tiga menjadi beberapa bagian.
Namun, mendaratkan serangan kekuatan penuh pada batang pohon setelah transformasi jiwa, bahkan gagal merusak pohon api tanpa nama ini sedikitpun.
Dengan lompatan cepat, Zhang En mendarat di salah satu cabang di atas pohon api. Duduk dalam posisi meditasi, dia menjalankan Taknik Seni Naga Dewa dan menemukan bahwa berkultivasi di pohon api ini jauh lebih cepat daripada duduk di bawahnya.
Sementara Zhang En menyerap energi spiritual yang ada di sekitarnya, cabang, daun, dan batang pohon api juga ikut menyerap energi elemen api dari udara. Saat energi elemen api menyelimuti pohon, energi api itu juga menyelimuti Zhang En sepenuhnya, memberinya kenyamanan yang tak bisa dijelaskan.
Sutu hari berlalu dan Zhang En merasa seolah-olah dia terlahir kembali. Zhang En memandangi pohon api ini dan matanya berbinar.
Tidak diragukan lagi, pohon api tanpa nama ini adalah harta karun surgawi yang sama seperti Gunung Dewa Emas yang dapat terbang serta mengecil dan dia pakai untuk perjalanannya dengan masuk ke dalam Kuil Gunung Dewa dan menerbangkan Gunung Dewa Emas itu dengan mengalirkan sebagian besar energi Qi nya di dalam formasi Sepuluh Patung Buddha.
__ADS_1
Zhang En harus memikirkan cara untuk bisa membawa pohon ini dan memilikinya. Namun, pohon api seperti ini tidak dapat ditempatkan ke dalam cincin spasial. Termasuk Cincin miliknya.
Tetap saja, Zhang En ingin mencoba, Cincin spasial miliknya muncul di jarinya dan dia mengalirkan Qi saat dia mencoba memindahkan pohon api ke dalam cincin spasial miliknya. Warna merah membara di pohon itu tampak hidup, memancarkan kekuatan yang memukul mundur Zhang En serta dikirim mundur terhuyung-huyung beberapa tombak kebelakang. Darahnya bergejolak dari dalam pembuluh darahnya sebelum menjadi tenang beberapa waktu kemudian.
Melihat hasil ini, Zhang En menggelengkan kepalanya. Alisnya berkerut saat menatap pohon api di hadapannya. Kemudian, dia mendapat ide, Dengan cepat memanggil Gunung Dewa Emas yang sudah mengecil seukuran telapak tangannya.
Di bawah kendali Zhang En, Gunung Dewa Emas kembali membesar terbang dan melayang tepat di atas pohon api. Zhang En melambaikan tangannya, mengirimkan banyak aliran Qi pertempuran ke Formasi Sepuluh Buddha yang ada di Kuil Gunung Dewa yang ada ditengah Gunung Dewa Emas dengan menggunakan formasi susunan. Seketika, cahaya yang menyilaukan meledak dari Gunung Dewa Emas mencapai langit dasar lembah harimau, saat energi Buddhisme menyebar seperti sinar matahari pagi. Cahaya keemasan memyebar di atas pohon, menyelimuti seluruh pohon.
Ketika energi Buddhisme menyelimuti pohon api, Zhang En sangat senang mengetahui bahwa pohon api tidak melakukan perlawanan seperti sebelumnya, hanya memancarkan cahaya api yang terasa lembut.
Aliran api yang bercampur dengan energi Buddhisme, bersinar lebih terang, menerangi seluruh celah lembah.
Sesaat kemudian, pohon api itu bergetar saat akarnya perlahan-lahan meninggalkan tanah, terbang dan tersedot ke dalam Gunung Dewa Emas, lalu menghilang dalam sekejap.
Dalam sekejap mata, Zhang En muncul di dalam Kuil Gunung Dewa dan melihat bahwa pohon api berakar telah ada di sebelah pagoda Formasi Sepuluh Buddha dan seluruh Kuil itu terasa hangat dan nyaman saat energi spiritual dari elemen api mengalir ke setiap sudut Gunung Dewa Emas.
Melihat pohon api, Zhang En sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Dengan pohon api dalam Formasi Sepuluh Buddha, ia memiliki keyakinan pasti akan bisa menerobos ke ranah yang lebih tinggi suatu saat nanti.
Beberapa saat kemudian Zhang En secara bertahap berusaha untuk tetap tenang dan keluar dari Kuil Gunung Dewa. Zhang En kemudian kembali ke mata air dingin, dan tak lama kemudian, dia berdiri atas tepi danau kecil mata air dingin.
Mengamati dua ikan energi spiritual yang berenang dengan riang didalam air, Zhang En mengeluarkan salah satu Pagoda harta Karun dari dalam Gunung Dewa Emas. Kekuatan hisap yang kuat kemudian menelan kedua ikan itu masuk ke dalam Pagoda.
Begitu kedua ikan itu memasuki Pagoda, sebuah lapisan es terbentuk di permukaan Pagoda itu. Zhang En dengan cepat memasukkan Qi pertempurannya ke dalam Pagoda untuk memurnikan dua ikan tersebut yang juga mengeluarkan elemen dingin di dalamnya. Pada saat yang sama, sebagian kecil dari Qi Zhang En ditransfer ke Formasi Sepuluh Buddha, dengan menggunakan energi Buddhisme untuk mencairkan lapisan es biru yang menutupi kulit ke dua ikan itu.
__ADS_1
Satu jam berlalu.
Akhirnya, lapisan es biru yang menutupi permukaan Pagoda Harta Karun Gunung Dewa perlahan mencair dan menipis, dan tiga jam kemudian, lapisan es biru tidak terbentuk lagi dan sudah mencair sepenuhnya.
Lima hari dan lima malam kemudian, Pagoda itu bergetar dan bersinar terang, potongan terakhir dari elemen dingin dikeluarkan dari dua ikan itu. Saat tutupnya dibuka, kedua ikan yang memiliki energi spiritual terbang keluar dari pagoda.
Zhang En membuka mulutnya dan kekuatan isap menarik kedua ikan itu ke dalam tubuhnya. Saat itu, energi spiritual yang mirip dengan energi kuno yang tak terbatas meraung ke setiap inci tubuh Zhang En. Dengan cepat, Zhang En bergegas menjalankan Teknik Seni Dewa Naga untuk menyerap dan menekan energi spiritual yang mulai liar dan tidak membiarkannya mengamuk.
Sementara Zhang En sedang memurnikan kedua ikan spritual, dua sosok di gunung Lembah Harimau bergegas mendekati lembah dan berhenti tepat bagian atas tepi lembah.
Pendatang yang baru saja datang terdiri dari seorang pria yang terlihat tua dan seorang pemuda. Kedua pria itu memakai jubah brokat bwrwarna ungu tua, di bagian dada jubah mereka tersulam pola kalajengking bertanduk enam.
“Apa kau yakin raungan naga datang dari dasar celah lembah ini?” Orang tua yang bernama Feng Gong bertanya.
Pemuda yang bernama Dai Li buru-buru menjawab, “Iya, Guru. Saat itu aku berada di dekat daerah ini, aku mendengarnya dengan jelas.”
Feng Gong mengangguk sambil menatap ke bawah celah tak berdasar Lembah Harimau.
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa Like & Vote!