Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 131. Sebuah Pertunjukkan


__ADS_3

Roh-roh jahat dan iblis mundur dengan tergesa-gesa keluar dari jalur jalan yang dilewati Zhang En.


Murid sekte lain dan semua orang yang melihat jatuh ke tanah menyaksikan hal itu. Mereka berhasil memulihkan akal sehat mereka ketika siluet Zhang En menghilang dari pandangan di belakang gerbang kota.


“Ini, siapa anak itu? Bagaimana dia bisa memiliki energi Buddhisme yang murni?! ”


“Apakah itu murid rahasia jenius Kaisar Buddha dari Kerajaan Bintang Selatan?!”


“Serangan telapak tangan barusan, teknik pertempuran macam apa itu? Apakah Kerajaan Bintang Selatan memiliki keterampilan pertempuran hebat seperti itu?!”


Terkait dengan keterkejutan semua orang adalah penyesalan yang dalam, jika mereka tahu sebelumnya, mereka akan mengikuti tepat di belakang Zhang En untuk memasuki Kota Hantu.


Zhang En melihat ke belakang setelah memasuki kota. Roh-roh jahat dan iblis itu ditahan di luar gerbang kota, tiga ratus meter jauhnya dari mereka, bahkan mereka tidak bisa mendekat setengah inci pun. Pasti ada beberapa susunan unik di sekitar gerbang kota yang mencegah makhluk-makhluk itu keluar dari kota


Zhang En terus masuk ke dalam Kota Hantu, saat berdiri di salah satu sudut jalan, angin dingin yang menggigit bertiup. Suara melolong yang dikeluarkan cukup untuk menakuti kebanyakan orang. Zhang En melihat sekelilingnya dan yang bisa dia lihat hanyalah kesendirian mutlak dan kesunyian. 


Di kiri dan kanannya ada bangunan yang sudah roboh, reruntuhan puing bangunan, dan tubuh tanpa kepala yang berserakan di mana-mana. Potongan bagian tubuh yang sudah tidak lengkap dan noda darah menghiasi pemandangan.


Di dalam Kota Hantu, aroma darah yang sangat kental tertinggal di udara. Tanda-tanda kematian dan pembantaian muncul di setiap saat.


Aura hantu dan kejahatan bergemuruh di luar perimeter Kota Hantu, sedangkan di dalam kota itu sendiri, tidak sedikit pun dari keduanya yang dapat dideteksi. Tetapi Zhang En tahu bahwa ini tidak berarti bahwa tidak ada roh jahat atau iblis di sini, lebih seperti mereka ditahan, disegel di tempat tertentu.


Pertempuran Qi Zhang En mengalir dengan lembut di nadinya saat dia berjalan di jalanan Kota Hantu, dia berhati-hati dan siap untuk mengantisipasi bahaya yang bisa datang menghampirinya kapan saja.

__ADS_1


Zhang En terus melangkah selama lebih dari setengah jam, jalanan tetap terlihat kosong dan sepi. Selain aura kematian di udara, satu-satunya hal yang menerpa Zhang En adalah angin yang menderu ke arahnya.


Anggota tubuh yang terputus, mayat tanpa kepala, dan tubuh yang dimutilasi yang dia temui disetiap jalan Kota Hantu kemungkinan besar adalah hasil dari pertempuran di antara para murid dari sekte berbeda yang memasuki Kota Hantu tujuh hingga delapan hari yang lalu, tubuh mereka sampai saat ini masih belum membusuk sepenuhnya.


Zhang En menyebarkan kesadaran spiritualnya di sekelilingnya dan terus bergerak maju dengan hati-hati. Pada saat inilah teriakan samar terdengar dari arah depan, meski suara itu terdengar kecil, Zhang En masih bisa mendengarnya.


'Itu suara manusia!"


Zhang En membuat keputusan sepersekian detik dan terbang menuju ke arah suara itu. Dia tidak melihat satu orang pun yang hidup sejak dia melangkah memasuki kota, ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk bertanya kepada seseorang di mana para murid sekte yang memasuki Kota Hantu beberapa hari sebelumnya.


Dengan mengikuti arah suara itu, Zhang En mencapai salah satu reruntuhan yang mempunyai halaman yang terlihat sepi. Di tengah halaman, dia melihat seorang wanita muda yang bisa dibilang cantik sedang memohon ketakutan pada dua pria kekar yang memegang pisau tajam di tangan mereka.


"Aku mohon, biarkan aku pergi, selama kalian membiarkanku pergi, aku berjanji untuk melakukan apa saja." Wanita itu tanpa henti memohon.


Rekannya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mesumnya.


Wanita itu dengan keras kepala menggelengkan kepalanya, mencoba menahan isak tangisnya seminimal mungkin.


Pria berjubah hijau itu berjalan ke arah wanita itu, tangannya dengan brutal meraih pakaian di dadanya dan merobeknya, memperlihatkan payudaranya yang besar seputih giok. Menggigil saat tertiup angin, itu adalah pemandangan yang akan membangkitkan keinginan dan nafsu.


Menyaksikan pemandangan di depannya, pria berjubah hijau kekar itu menelan lantang dengan nafsu. Dia mengambil satu langkah besar ke depan, ingin meraih paha wanita itu, tetapi cahaya tajam bersinar di depan matanya. Kedua tangannya berhenti di udara, matanya melebar karena shock bahkan saat dia jatuh ke tanah sedetik kemudian.


Zhang En muncul di halaman bangunan yang sudah hancur tepat depan tiga orang itu. Pria lain tersentak melihat mayat rekannya, matanya yang ketakutan melihat ke arah wajah Zhang En.

__ADS_1


Wanita itu terbangun, dengan cepat merapikan pakaiannya sebelum mendekati Zhang En dengan ekspresi malu "Terima kasih banyak atas uluran tangan Tuan Muda."


Namun, saat kalimatnya berakhir, pisau tajam muncul di tangannya menusuk punggung Zhang En. Jika tulang belakang Zhang En terputus, sekuat apapun Zhang En dia akan terluka parah, bahkan lumpuh di tempat.


Penampilan lemah dan menyedihkan benar-benar lenyap dari wajah wanita itu, diganti dengan wajah kekejaman dan haus darah. Tawa sadisnya terdengar di telinga Zhang En, "Bocah, kau hanya menyalahkan dirimu sendiri, tapi jangan khawatir, aku akan meninggalkan mayatmu dalam keadaan utuh."


Pisau tajam itu mengenai tepat ke tulang pungung belakang Zhang En.


Pada saat ini, pria lain itu tertawa terbahak-bahak saat dia menusuk pedangnya ke dada Zhang En, kata-kata kejam keluar dari mulutnya, “Bocah, tidak terlintas dalam pikiranmu bahwa kami sebenarnya adalah sebuah kelompok! Tujuh belas murid dari sekte yang berbeda meninggal di tangan kami sebelum ini, dan kau adalah yang kedelapan belas!"


Ketiga orang ini sebenarnya adalah satu kelompok. Mereka bertiga telah bersekongkol melakukan sebuah pertunjukan, semuanya untuk memikat murid sekte seperti Zhang En, kemuadian membunuh mereka ketika mereka lengah dan mencuri harta mereka.


Zhang En melirik kedua wajah itu, seringai muncul di wajahnya, "Benarkah?"


Keduanya memperhatikan bahwa Zhang En masih terlihat tenang bukannya meratap kesakitan dan merasa khawatir. Dua pasang mata secara terpisah melihat ke arah luka tulang belakang dan dada Zhang En hanya untuk menyadari bahwa apa yang disebut bilah tajam dan pedang berhenti tepat di permukaan kulit pemuda itu, bahkan tidak memotong kulit Zhang En.


"Ini!" Pria dan wanita itu terkejut bersamaan.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like & Vote!


__ADS_2