Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 94 . Bagian Bawah Yang Terlihat Kecil Seperti Cacing


__ADS_3

Zhang En mendarat dengan pelan di jalan, lalu mengarahkan pandangannya sekilas ke arah tumpukan tubuh yang hangus sambil terus berjalan mendekati Hu Sheng.


Hu Sheng hampir lumpuh karena merasa ketakutan melihat tubuh hangus murid Sekte Sembilan Iblis nya yang berserakan di jalan, merasakan bau daging yang seperti dimasak yang meresap menguap di udara. Melihat Zhang En mendekatinya, ketakutan yang luar biasa memenuhi dirinya sepertinya dia tidak pernah mengalami ketakutan akan kematian.


"Kau!" Hu Sheng menguatkan keberaniannya bahkan saat dia mundur, mencoba menakuti Zhang En, “Kau sebenarnya siapa? Ini adalah Kota Kematian, jika kau membunuhku, kau juga tidak akan bisa melarikan diri!”


"Melarikan diri?" Zhang En menggelengkan kepalanya. Dengan satu lompatan saja, Zhang En sudah mendekati Hu Sheng dengan sebuah pukulan yang ditujukan kepadanya. Merasa khawatir, Hu Sheng terpaksa mengangkat tangannya untuk memblokir tinju Zhang En, tetapi pukulan Zhang En mendarat telak mengenai dadanya sebelum dia bisa mengambil tindakan apa pun, pukulan Zhang En mendarat di dadanya, tetapi efek dari pukulan Zhang En tembus di punggungnya sehingga mengguncang struktur bangunan yang ada di ujung jalan.


Pakaian Hu Sheng robek akibat terkena pukulan Zhang En dan sobekan bajunya tersebar tertiup angin saat tubuhnya terlempar beberapa tombak dan jatuh berguling-guling di jalan sejauh lebih dari dua puluh meter. Zhang En dengan santai mendekati Hu Sheng.


Pada saat ini, tidak ada seutas benang pun yang menutupi seluruh tubuh Hu Sheng, tubuhnya sudah telanjang dan dapat dilihat oleh semua orang yang ada memenuhi area sekitar jalan. Berdiri di depan Hu Sheng yang sudah telanjang, Zhang En melirik sekilas ke bagian bawahnya. Hu Sheng ini ternyata tumbuh menjadi seorang pemuda bertubuh kekar, tetapi bagian bawahnya yang terlihat kecil seperti cacing. Zhang En mengangkat kakinya dan menginjak bagian bawahnya tanpa ampun.


Hu Sheng berteriak sekeras mungkin sambil mencengkeram bagian bawahnya, dia merasakan tuyul kesayangannya telah remuk dan merasa sangat kesakitan.


Murid dari sekte lain dan rakyat jelata diam-diam bertepuk tangan dalam kegembiraan menyaksikan Hu Sheng menderita kesakitan, perasaan puas dan bahagia memenuhi hati mereka. Namun, berbeda dengan kedua murid Sekte Penyihir Langit yang terlihat kehilangan semua warna dari wajah mereka. Jika Zhang En membunuh Hu Sheng, Sekte Penyihir Langit akan terlibat dan mendapat masalah besar.


Saat mereka hendak melangkah maju untuk menghentikan tindakan Zhang En, sebuah suara menggelegar dari jauh, "Siapa yang berani menyakiti Tuan Muda Sekte Sembilan Iblis!"


Kerumunan orang banyak terkejut, mereka semua menoleh melihat ke arah sumber suara. Dari jauh, empat siluet bergegas ke arah mereka, dipimpin oleh seorang pria berjubah ungu dengan alis lebat.


"Itu adalah Penatua sekte Sembilan Iblis, Lin Shuang!"


"Dalam Sekte Sembilan Iblis, kekuatan Penatua Lin Shuang hanya di bawah Hu Han dan Su Meimei, dia adalah ahli yang berada di ranah pendekar Dewa Bintang Dua!"

__ADS_1


"Ada juga Xu Gao, Chen Nianhua, dan Lu Yi, tiga tetua besar Sekte Sembilan Iblis juga ada di sini!"


Semua orang yang ada di sekitarnya berseru dengan perasaan kaget.


Zhang En menghentikan gerakannya dan berbalik menyaksikan saat empat siluet terbang dengan kecepatan tinggi melewati kerumunan orang banyak.


"Lin Shuang?" Zhang En fokus kepada orang paling depan. Lin Shuang ini, Chen Xiaotian telah menceritakannya kepada Zhang En sebelumnya, orang nomor tiga yang memiliki pengaruh besar dan juga dalam hal kekuatan di dalam Sekte Sembilan Iblis. Meskipun Lin Shuang dan Chen Xiaotian kekuatan mereka setara, Lin Shuang lebih tangguh daripada Chen Xiaotian.


Dalam sekejap mata, ke empat orang itu termasuk Lin Shuang tiba dan mendarat di jalan. Hal pertama yang dilakukan Lin Shuang adalah memindai sekeliling tempat itu dan ketika dia melihat Hu Sheng yang sudah telanjang sedang meringkuk karena menderita rasa sakit, otot-otot di wajahnya seketika menjadi menegang.


"Tuan Muda!" Lin Shuang bergegas ke sisi Hu Sheng.


Melihat dada Hu Sheng yang sudah terluka parah dan terkoyak karena pukulan Zhang En, wajahnya terlihat sangat jelek, dan itu hanya berubah menjadi lebih buruk ketika dia melihat bercak darah di tubuh bagian bawah Hu Sheng ... Tiga Penatua lainnya, Cu Gao, Chen Nianhua, dan Lu Yi juga sama marahnya melihat hal itu.


“Bagaimana, apakah, kau ingin mati?” Lin Shuang menekankan setiap kata, terdengar seolah-olah dia muncul dari jurang Neraka. Saat itu juga pertempuran Qi meledak dengan cahaya yang menyilaukan.


Tetapi sebelum Qi pertempuran Lin Shuang yang melonjak merembes keluar dari dalam tubuhnya mencapai puncaknya, sebelum dia bergerak, sosok bayangan terlihat melesat ke arahnya. Pada saat berikutnya, sebuah tinju yang kuat menyerang dirinya. Lin Shuang merasa terkejut, tangannya bergerak untuk memblokir, namun rasa sakit yang berdenyut menjalar dari dadanya. Dia menatap tak percaya melihat sepasang tinju yang menempel di dadanya. Cairan hangat menggulung di tenggorokan Lin Shuang, dan dia menyemburkan darah saat tubuhnya terhuyung-huyung mundur sampai dia mencapai tepi jalan di mana dia jatuh.


Zhang En menarik tangannya, matanya dengan dingin mengamati Lin Shuang yang jatuh. Semua orang menatap dengan bingung sosok Lin Shuang yang tergelatak terpuruk di jalan. Penatua nomor tiga Sekte Sembilan Iblis yang sangat disegani dan terkenal, Lin Shuang, terluka hanya dalam satu gerakan tinju Zhang En.


Termasuk Xu Gai, Chen Nianhua, dan Lu Yi, yang ikut datang bersama Lin Shuang, mereka berdiri membeku di tempat, sedangkan dua murid Sekte Penyihir Langit yang mengawal Zhang En terperangah.


Beberapa saat kemudian, Xu Gao, Chen Nianhua, dan Lu Yi pulih dari keterkejutan mereka.

__ADS_1


"Penatua Lin!" mereka berseru karena kaget, ketiganya dengan cepat bergegas ke sisi Lin Shuang, membantu Lin Shuang berdiri.


Namun, ketika mereka sibuk membantu Lin Shuang, sebuah siluet berkedip di udara menghampiri mereka bertiga. Ketiganya, Xu Gao, Chen Nianhua, dan Lu Yi tidak mengendurkan kewaspadaan mereka sambil mengedarkan pandangan mereka, ketiganya terkejut saat melihat muculnya Telapak tangan Buddha raksasa. Seolah-olah dilanda badai, Xu Gao, Chen Nianhua, dan Lu Yi dikirim terbang termasuk Lin Shuang yang baru saja mereka bantu dikirim terbang juga.


Dengan menggunakan jurus Telapak Buddha Kebenaran dan menyerang mereka dengan satu serangan telapak tangan Buddha, Zhang En mengirim mereka berempat terbang. Dengan perlahan Zhang En berjalan mendekat ke arah mereka setelah tubuh mereka mendarat di atas tanah. 


Faktanya, dengan kekuatan Lin Shuang, jika bukan karena kecerobohannya, dia bisa menahan beberapa gerakan dari Zhang En, tetapi sudah terlambat sekarang, dia sudah terluka dan hampir tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


Menatap keempat orang itu, cahaya dingin melintas di mata Zhang En saat dia memanggil Pedang miliknya dan melakukan Teknik Seni Pedang, Amarah Dewa Naga Iblis.


Melihat bilah hitam yang menakutkan di tangan Zhang En, keempatnya menjadi pucat dengan ketakutan yang jelas terlihat di wajah mereka.


"Kau!" Lin Shuang dan tiga lainnya berjuang untuk berdiri berusaha mencari kesempatan untuk melarikan diri, Zhang En melambaikan pedangnya, Cahaya bergelombang bersinar di udara melesat menuju targetnya. Saat itu juga, secara bersamaan, empat suara teriakan yang berbeda terdengar sekaligus.


-


-


-


Buat para pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca Novel saya, Author berharap setidaknya berikan Like nya dan Vote untuk selalu mendukung Author dalam berkarya.


Terimakasih juga untuk kalian yang selalu setia memberikan like dan vote selama ini. Author berterimakasih banyak kepada kalian semua.

__ADS_1


See you Next chapter!


__ADS_2