Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 268. Manusia Buas?


__ADS_3

Ini adalah suara kaki pasukan beastmen yang mengelilingi seluruh kediaman itu.


Wajah Huo Wing dan Shi Mei kehilangan warna dan berseru, "Ping Bo..!"


Ping Bo adalah Kapten kepala pengawal kota Ratusan Harimau.


Bahkan Patriark suku Hou Wing perlu memberi hormat kepada Ping Bo ketika dia melihatnya, menunjukkan sikap yang lebih rendah seperti bawahan, sedangkan di dunia seperti suku Hou Wing, Ping Bo adalah keberadaan yang sangat jauh dari jangkauannya.


Banyak pengawal kota Suku Harimau menyerbu ke halaman kediaman Ping Bo, saat itu seorang pria paruh baya dengan memakai rompi yang terbuat dari kulit tanpa lengan melangkah masuk. Dia memiliki mata besar, alis tebal yang kasar, dan tingginya hampir dua koma tujuh meter. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, pria paruh baya itu memancarkan aura yang menakutkan, terutama saat melihat matanya.


"Ayah selamatkan aku!" Melihat pria paruh baya Suku Harimau yang memiliki badan kekar dan baru saja datang, Ping An meronta-rinta dari lantai dan berlari ke samping pria itu. Matanya bersinar dengan cahaya yang ganas saat dia menunjuk ke arah Zhang En, “Hama sialan ini, dia telah menghancurkan tulang lenganku! Ayah, jangan biarkan hama ini lolos ....!"


Namun, kata-kata Ping An nyaris tidak keluar dari mulutnya ketika telapak tangan ayahnya menampar wajahnya. Kekuatan itu membuatnya berputar beberapa putaran di tempat.


Ping An terkejut dan tercengang.


"Dasar sampah!" Ping Bo mengutuk dengan gigi terkatup.


Takut dengan kemarahan ayahnya, Ping An menundukkan kepalanya dan mundur ke belakang, dimana salah satu pasukan pengawal Suku Harimau merawat lukanya.


Mata tajam Ping Bo menyapu Huo Wing dan Shi Mei untuk sesaat dan keduanya segera merasa seolah-olah mereka telah kehilangan semua kekuatan, kaki mereka melunak, hampir berlutut ke lantai.


"Anak muda, apakah kau tahu konsekuensi dari tindakanmu..?" Tatapan mata Ping Bo akhirnya berhenti ketika melihat Zhang En, suaranya terdengar sangat dingin, "Ini adalah pertama kalinya seorang manusia berani masuk ke kediamanku dan bertindak begitu berani membuat masalah..!"


"Konsekuensi? Aku benar-benar tidak tahu .” Zhang En tampak tenang seolah dia tidak peduli, "Bahkan jika aku tahu, lalu apa yang akan kau lakukan.. ?"


Ping Bo menyeringai dan menatap Zhang En lekat-lekat, “Kau bisa tetap tenang bahkan setelah melihatku, menurutku, kau cukup berani. Namun, sayang sekali, kau tidak akan bisa melihat matahari terbit besok. "

__ADS_1


Seorang ahli ranah Pertapa Dewa ke atas dari ras manusia dapat dihitung dengan satu tangan di seluruh Benua Mata Angin dan dia telah berjumpa dengan mereka semuanya. Ping Bo tidak percaya bahwa pemuda ini lebih kuat darinya.


Dengan suara pelan, sosok Ping Bo melesat dengan mengarahkan tinjunya serta mengaum ke arah Zhang En. Bayangan kepala harimau muncul dan menyelimuti tangan Ping Bi.


Tinju Harimau ~!


Kekuatannya yang berada di ranah Alam Dewa Surgawi menengah dilepaskan tanpa hambatan.


Di bawah kepalan tangan Ping Bo, aliran udara dan ruang disekitarnya tampak terdistorsi.


Menyaksikan tinju Ping An hendak menyerang Zhang En, wajah Huo Wing menjadi gelap. Dia tidak tahan melihat pemandangan Zhang En akan dihancurkan menjadi pasta daging dan langsung menutup matanya.


Sudah menjadi rahasia umum bagi semua orang yang tinggal di Kota Seratus Macan bahwa Ping An, kapten kepala penjaga kota Seratus Harimau adalah setengah Alam Dewa Surgawi puncak. Sekuat apapun Zhang En, di mata Huo Wing, itu masih tidak bisa menyaingi kekuatan Ping Bo.


Haus darah dan kegembiraan terpancar di mata merah Ping An saat melihat ayahnya menyerang Zhang En, hanya ada sedikit penyesalan bahwa dia tidak bisa mengakhiri manusia itu dengan tangannya sendiri.


Ruang yang terdistorsi sebelumnya juga kembali normal.


Yang paling mengejutkan dari semuanya adalah kenyataan bahwa tinju Ping Bo dijepit di udara oleh dua jari Zhang En, seperti yang terjadi pada Ping An sebelumnya.


Ping Bo menatap dengan bodoh tinjunya yang dijepit oleh dua jari Zhang En,dia berpikir apakah ini benar-benar tinjunya yang bisa membunuh seribu beastmen kuat hanya dalam satu pukulan ?!


“Tinju Harimau?” Cengkraman tangan Zhang En membawa penghinaan yang jelas, "Aku rasa, seranganmu lebih mirip seperti tinju Kucing." Zhang En menambahkan tekanan di kedua jarinya.


Kretakkkk! 


Suara patah tulang bergema di halaman itu.

__ADS_1


Saat tulangnya hancur, rasa sakit menyebar di seluruh tubuh Ping Bo. Bahkan teriakan kesakitan keluar dari tenggorokannya.


Pergelangan tangan Zhang En kemudian berputar, meremas lengan Ping Bo seperti kain lap, menghancurkan tulang di lengannya. Ping Bo kembali berteriak lebih keras lagi, bahkan lebih keras dari jeritan putranya Ping An.


Ping An tercengang melihat pemandangan ini. Huo Wing yang melihat adegan ini menjadi linglung dan tercengang, semua penjaga kota Suku Harimau di kompleks itu semuanya ikut tercengang.


Reaksi Ping Bo sama dengan putranya Ping An. Didorong oleh rasa sakit yang tak tertahankan, Ping Bo melancarkan serangan kepada Zhang En dengan tangan kirinya. Namun, tinju kirinya juga dihentikan di udara oleh Zhang En. Inci demi inci, tulang lengan kiri Ping Bo dipatahkan oleh Zhang En.


Reaksi Ping Bo karena rasa sakit yang di alaminya saat ini terlihat sangat dramatis. Mulutnya terbuka dalam bentuk oval panjang, mata setengah menonjol keluar dari tempatnya dan hidungnya bengkok ke samping.


Sayangnya, baik Ping An maupun pasukan kota Suku Harimau tidak ada yang berani tertawa.


“Kalian, kalian, ambillah nyawa manusia buas ini, cepat bunuh dia..!” Ping An berteriak kepada sekelompok pasukan kota yang ada sekitarnya beberapa saat kemudian.


Teriakan Ping An mendorong para pasukan pengawal kota yang sedang kebingungan itu untuk segera bertindak, tetapi sebelum mereka bisa menyerang, Zhang En melambaikan telapak tangannya dan udara disekitarnya menjadi membeku. Para penjaga kota dengan heran saat menyadari bahwa mereka tidak bisa bergerak.


Ini adalah jurus Hukum ruang yang di manipulasi Zhang En.


Hanya dengan menjentikan jarinya, Ping Bo di kirim terbang seperti selembar daun layu. Kekuatan isap kemudian datang dari telapak tangan Zhang En menyeret Ping An di depannya.


"Manusia buas?" Cibiran Zhang En sangat dingin, jari-jarinya berbentuk cakar langsung menembus dada Ping An serta menghancurkan tulang rusuk di dalam tubuhnya.


Tangisan Ping An yang membekukan darah terdengar seperti hewan yang disembelih. Rasa sakit ini melebihi apa yang dia rasakan saat tulang lengannya remuk.


Zhang En melanjutkan gerakan cakarnya, tulang rusuk Ping An lainnya juga hancur.


Semua tulang rusuk Ping An dihancurkan oleh Zhang En satu per satu, pada akhirnya, Ping An pingsan karena rasa sakit yang menyiksa dirinya.

__ADS_1


__ADS_2