
Kedua ketua sekte lainnya yang sedang bertarung dengan ketua Xin Long menghentikan pertarungan mereka karena melihat Ketua Sekte Lembah Tengkorak terlempar saat menyerang Zhang En.
Mereka sangat terkejut saat melihat seorang pria tua yang sudah berdiri di depan Zhang En menatap ke arah mereka.
Ketua Sekte Lembah Tengkorak yang gagal menyerang Zhang En menatap pria tua itu dengan sedikit kemarahan terlihat di wajahnya. Ia penasaran dengan identitas dan merasa kekuatan pria tua yang memblokir serangannya barusan jauh di atasnya sehingga ia mengurungkan niatnya sebentar sambil memulihkan diri.
Ketua Xin Long melihat Pria tua yang datang tiba-tiba melindungi Zhang En dari serangan Ketua Sekte Lembah Tengkorak, perasaannya sedikit tenang melihat pemuda itu baik-baik saja. Ia juga penasaran siapa orang itu dan merasa sedikit mengenalinya.
Tetua Chao Pao kemudian melihat muridnya, "Nak, kau baik-baik saja?" ucapnya sambil tersenyum.
Zhang En melihat pria tua di hadapannya sekaligus terkejut karena mengenali pria tua yang telah menyelamatkannya.
"Guru" Sambil memeluk Tetua Chao Pao dengan erat karena bahagia bisa bertemu krmbali dengan gurunya.
Mendapat pelukan Dari sang murid, Tetua Chao Pao langsung memukul kepala Zhang En.
"Aa-duhhh! Guru, kenapa kau memukul kepalaku?" Gerutu Zhang En sambil mengelus kepalanya yang sedikit sakit.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengingatkanmu bahwa kau itu sudah besar dan bukan anak-anak lagi"
Zhang En akhirnya sadar dengan tingkahnya, kemudian iapun bertanya, "Guru, terimakasih sudah menyelamatkan aku. Kalau boleh tau, kenapa guru bisa berada di sini?" Tanya Zhang En.
"Soal itu nanti aku jelaskan, biar aku menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu" kata Tetua Chao Pao. Karena sudah terlebih dahulu mengetahui pokok masalah, Tetua Chao tidak menanyakan sebab penyerangan Ketua Lembah Tengkorak kepada Zhang En.
Setelah memahami situasi yang mereka lihat, Kedua Ketua Sekte yang bertarung menghadapi Ketua Xin Long langsung terbang meninggalkannya melesat menghampiri Ketua Sekte Lembah Tengkorak.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya salah satu di antara mereka setelah sampai disebelah Ketua Sekte Lembah Tengkorak.
Ia hanya menganggukan kepalanya "Hanya saja saat ini rencana kita tidak berjalan sesuai rencana" ucap Ketua Sekte Lembah Tengkorak.
"Kalau begitu, kita harus bertarung melawannya".
"Tunggu dulu, kalau tidak salah dengar pemuda itu memanggilnya guru. berarti dia guru dari pemuda itu.
"Ia benar. Kalau begitu, kita serang saja".
"Jangan gegabah, aku tidak dapat melihat tingkat kultivasinya. Aku merasa dia bukan orang sembarangan!" ucap Ketua Sekte Lembah Tengkorak.
"Aku juga bahkan tidak bisa merasakan aura darinya".
Mereka bertiga sangat penasaran dengan identitas Tetua Chao Pao. Tetapi mereka tidak mendapatkan sedikitpun petunjuk. Setelah berbicara sebentar, akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk menyerang Tetua Chao secara bersamaan.
Ketua Xin Long yang dari tadi berdiri di tempatnya menghampiri Tetua Chao sambil memberi hormat.
"Salam senior, Terimakasih sudah datang".
"Hehehe.. Sudah kewajibanku untuk melindungi murid sendiri."
Ketua Xin Long sepertinya merasa mengenali pria itu dan masih menebak-nebak. Saat ia hendak menanyakan hal itu, Tetua Chao Pao langsung meminta untuk berada didekat Zhang En supaya melindunginya.
"Simpan pertanyaanmu, sebentar lagi kau akan tau siapa aku. Tetaplah di sini bersama Zhang En, biar aku saja yang menghadapi mereka".
__ADS_1
Ketua Xin Long mengerutkan keningnya mendengar perkataan Tetua Chao, tetapi ia mengurungkan niat untuk bertanya karena saat ini ketiga Ketua Sekte golongan aliran hitam sudah bersiap menyerang kearah Tetua Chao Pao.
•••
Di tempat lain, Kaisar Zhu beserta Ketua Sekte Aliran Putih, bertanya-tanya identitas Tetua Chao Pao, Bahkan orang-orang yang masih berada diluar formasi pertahanan juga penasaran dengan identitas Tetua Chao Pao.
•••
Tetua Chao Pao yang Masih berdiri tegap menatap ketiga orang itu. Terlihat senyuman diwajah Tetua Chao pao.
Tatapan mata Tetua Chao pao memancarkan sinar cahaya sedingin es, saat mereka bertiga hendak menyerang, mereka merasakan perasaan sedikit ketakutan sehingga mereka tidak ada yang berani untuk maju duluan.
"Ingin membunuh muridku? Kalau begitu kalian harus kuberi pelajaran" ucap Tetua Chao Pao.
Mendengar perkataan Tetua Chao Pao, mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHAAA, Pak Tua. Sebaiknya kau pergi dari sini. Kalau tidak, kau akan tau akibatnya"
"Kau tidak tau siapa kami? kami bertiga adalah Ketua Sekte besar Golongan aliran Hitam yang ada dikekaisaran ini. Melawan semut sepertimu tidak ada apa-apanya di hadapan kami" ucap salah satu diantara mereka bertiga.
"Oh ya..? Aku tidak perlu tau siapa kalian" Balas Tetua Chao pao datar.
"Pria Tua, Sepertinya kau sama seperti muridmu itu. Serang dia!".
Mereka bertiga mengeluarkan seluruh aura yang sangat menindas keluar dari tubuh mereka masing-masing, Kemudian melesat kearah Tetua Chao Pao.
Tetua Chao Pao menyambut serangan mereka dan terbang ke atas menghindari semua serangan mereka bertiga dari segala arah.
" Kalau begini terus, serang dia sekaligus".
"Jurus Iblis Pelahap Jiwa"
"Jurus Gagak Hitam pembunuh"
"Jurus Tengkorak Bayangan"
Mereka bertiga mengeluarkan jurus tingkat tinggi mereka sekaligus, seketika suasana di seluruh tempat itu semakin mencekam membuat tanah berguncang hebat seperti gempa.
Dengan Tenang, Tetua Chao Tidak terlihat khawatir sedikitpun dengan serangan mereka yang saat ini mengarah kepadanya.
BOOMMM!!!!
Salah satu gedung roboh terkena serangan mereka yang melesat tidak mengenai Tetua Chao Pao.
Saat mereka hendak kembali menyerang Tetua Chao, tiba-tiba Tetua Chao membuat gerakan mengarahkan tangannya ke atas sambil menutup matanya.
WUUSHHHH
Pedang yang masih di pegang oleh Zhang En tiba-tiba bergetar lalu keluar dari sendiri dari sarung pedang kemudian melesat terbang ke arah Tetua Chao Pao.
Tetua Chao Pao membuka matanya lalu meraih pedang itu. Tetua Chao Pao mengaliri Qi kedalam pedangnya kemudian menebas kearah ketiga lawannya.
__ADS_1
DUARRRR!!!
Mereka bertiga terlempar ke belakang, Seteguk darah keluar dari mulut mereka masing-masing. Untungnya, mereka berhasil menahan jurus pedang Tetua Chao dengan menggabungkan Qi mereka.
"Bagaimana ini, kita bukan lawannya!" ucap salah satu pria itu. Mereka akhirnya sadar bahwa hanya dengan satu serangan saja mereka bertiga masih belum bisa menahan serangan pedang Tetua Chao Pao.
Tetua Chao Pao terbang ke atas mengambil kembali pedangnya, Tetua Chao Pao memberi serangan lanjutan kepada mereka bertiga.
"Kalian menyerang muridku, sekarang kalian akan tau akibatnya".
"Jurus Pedang Kilat Pencabut Nyawa"
WUSSHHH!
Pedang itu mengeluarkan gemuruh serta gelombang dahsyat yang sangat mengerikan melesat mengarah lawan-lawannya.
Wajah Ketiga Ketua Sekte itu merasakan ketakutan dan juga kepanikan. Bahkan Kaisar Zhu Xuan dan juga Ketua Xin Long menyaksikan jurus pedang Tetua Chao Pao membelalakan matanya terkejut, "SENIORRR" ucap kedua orang itu bersamaan.
Beda halnya dengan ketiga Ketua Sekte yang bertarung melawan Tetua Chao Pao, kaki mereka bergetar dan juga merasakan bahaya saat pedang itu berputar ke arah mereka.
"Cepat menghindar!!" ucap salah satunya.
Akan tetapi, pedang itu seperti mempunyai mata lalu kembali berputar mengarah kembali ke arah mereka.
**SSTRETTT!!!!
SSREETTT**!!!!
Pedang itu berhasil melukai dua orang diantara mereka lalu memotong salah satu lengan Ketua Sekte Lembah Tengkorak.
"**-tidakkk. Akhhh!!" Ketua Sekte Lembah Tengkorak menjerit kesakitan sambil histeris melihat salah satu lengannya mengeluarkan darah karena sudah terpotong.
Melihat lengan teman mereka telah tergeletak dibawah lantai, wajah kedua orang itu terlihat sangat pucat.
Tetua Chao Pao kembali mengambil pedangnya lalu menghampiri mereka bertiga.
"Kalian bertiga dengarkan, kalian segera pergi dari sini dan jangan membuat masalah lagi. Kali ini aku akan mengampuni kalian bertiga. Tetapi kalau aku kembali bertemu dengan kalian seperti kejadian hari ini, aku bukan hanya membunuh kalian bertiga. Tetapi aku akan membantai seluruh anggota Sekte kalian tanpa terkecuali. Ingat itu baik-baik" kata Tetua Chao Pao.
Mereka bertiga hanya menganggukan kepala mengiyakan perkataan Tetua Chao.
"Terimakasih atas belas kasihan dari senior. Kalau boleh tau, siapakah nama senior?" tanya salah satu diantara mereka saat Tetua Chao Pao melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.
Tetua Chao Pao berhenti lalu menjawab tanpa melihat ke belakang "Aku pernah di juluki sang Pendekar Kilat Pencabut Nyawa".
"Apaa??" Mereka bertiga sangat terkejut mendengar jawaban Tetua Chao pao. Siapa yang tidak pernah mendengar nama seorang pendekar pengembara tanpa Sekte yang sudah sangat melegenda dikekaisaran Ming.
**Jangan lupa berikan like serta votenya ya. Kalau ada komentar jangan lupa isi dikolom komentar.
Maaf karena tidak sering up dikarenakan saya sedang menyusun skripsi bab 4 dan 5 untuk menamatkan kuliah saya dan akan segera meja hijau.
Sampai bertemu pada bab selanjutnya. See you next chapter**!
__ADS_1