
Setelah pergi meninggalkan aula pertemuan sekte, Zhang En lalu menuju ruangan tempat untuk makan para murid yang telah di sediakan oleh sekte. Selama berada disana, banyak murid yang tidak berani mendekati Zhang En dan hanya melirik ke arahnya.
Zhang En tidak mengambil pusing tentang hal itu, malah dirinya terlihat memikirkan sesuatu di dalam benaknya
"Sepertinya aku harus mencari tau apa saja yang harus aku ketahui dan apa yang harus aku lakukan selama berada disini. Setelah ini aku akan menemui guru untuk menanyakan hal itu"
Setelah mengisi perutnya, Zhang En langsung menuju kediaman tempat tinggalnya dan menemui Ketua Xin Long.
"Maaf datang mengganggu kesibukan guru"
"Tidak apa-apa nak. Apa ada sesuatu hal yang ingin kau katakan?"
"Guru, kebetulan aku ingin mengetahui tentang Sekte. Selain berlatih, aku juga bingung apa yang harus aku lakukan setelah itu".
Ketua Xin Long tersenyum mendengar pertanyaan muridnya itu, lalu Ketua Sekte menyuruh nya untuk menemui Tetua Agung untuk menjelaskan semua mengenai segala sesuatu yang menyangkut tentang Sekte.
Zhang En lalu pamit untuk segera menemui Tetua Agung. Setelah berkeliling sambil melihat-lihat situasi, Zhang En tanpa sengaja melihat Putri Yhu Zhu yang sedang berlatih di salah satu halaman yang ada di koridor gedung sekte tidak jauh dari sudut gedung tempat dia sedang berjalan.
Pemuda itu sedikit terpana dengan jurus yang ditampilkan oleh Putri Yhu yang menurutnya sangat mematikan. Melihat Putri Yhu menyelesaikan latihannya, Zhang En lalu pergi menemui wanita saatitu lalu menyapa gadis itu, " Maaf tuan putri mengganggu latihannya"
Putri Yhu Menatap Zhang En dengan tatapan ketidak sukaan terlihat dari wajahnya sehingga membuat Zhang En sedikit enggan bertanya kepadanya.
"Mmm. Oh kau ternyata!" balas Putri Yhu Zhu datar. Dihatinya dia sngat senang bisa bertemu Zhang En. Tetapi setelah memikirkan kekecewaannya kepada pemuda itu, Putri Yhu Zhu menahan untuk tidak memberikan semyuman kepada Pria yang sedang ada di hadapannya.
Zhang En menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menanyakan di mana Ia bisa bertemu dengan Tetua Agung.
__ADS_1
"Lurus saja melewati gedung di sebelah sana dan kau akan melihat tulisan papan nama Tetua Agung didepan pintu masuk kediaman"
"Terimakasih Putri" ucap Zhang En tanpa melihat wanita itu dan langsung mencari kediaman Tetua Agung.
Putri Yhu Zhu sedikit kesal karena Zhang En pergi begitu saja karena pemuda itu terlihat dingin dan cuek kepadanya.
"Apakah aku kurang Cantik?" Desah Putri Yhu Zhu dengan mata berkaca-kaca karena pemuda itu seperti tidak menunjukkan ketertarikan kepada dirinya sambil melihat punggung Zhang En yang terus menjauh dan hilang dari pandangan matanya.
•••
Setelah bertemu Tetua Agung, Zhang En langsung mengutarakan maksud kedatangannya dan nenananyakan semua hal yang ingin ia ketahui.
Tetua Agung lalu menjelaskan semuanya dan memberi pemahaman kapada Zhang En.
Murid Sekte Naga Merah dibagi menjadi Tiga tingkatan yaitu murid inti, dalam dan luar. akan tetapi ada satu satu lagi tingkatan murid khusus yang menjadi pasukan Sekte dan itu adalah murid yang sangat berbakat dan terpilih. Mereka di sebut sebagai murid Elit.
Jika seorang murid tidak dapat berkembang dari saat masih menjadi murid luar, ia hanya dapat menghabiskan sisa hidupnya menjadi murid luar.
Selain itu, murid Sekte Naga Merah diharuskan untuk memberikan kontribusi kepada kepada sekte. Konstribusi yang di maksud di sini adalah setiap murid dapat pergi ke Balai misi untuk mengambil misi sesuai tingakatan dan kemampuan mereka dan akan menerima imbalan sesuai dengan harga misi yang mereka selesaikan. Jumlah yang kontribusi yang akan diberikan tergantung pada misinya dimulai dari misi paling rendah, sedang, dan tinggi.
Hasil yang akan di dapatkan setiap murid setelah menyelesaikan misi, dapat ditukar dengan koin emas, pil tingkat tinggi dari kelas rendah hingga tinggi untuk meningkatkan kultivasi, dan juga dapat menukarnya untuk mendaptkan jurus tingkat tingkat tinggi.
Setelah mendengar semua penjelasan informasi dari Tetua Agung , membuat Zhang En sangat senang. Apa lagi setelah mengetahui jika seandainya dia dapat menyelesaikan misi, maka ia bisa mendapatkan penghasilan berupa koin emas, pil, dan jurus tingkat tinggi membuat Zhang En merasa tertantang.
Walaupun saat ini ia memiliki bayak koin emas dan juga pil kelas tinggi hadiah dari turnament kekaisaran, menurut Zhang En itu masih belum cukup karena jalur kultivasinya membutuhkan banyak biaya serta pil untuk pelatihannya.
__ADS_1
Dia tidak takut akan bahaya di luar sana nantinya, yang ia takuti saat ini adaalah kalau dirinya tidak akan memiliki kesempatan untuk mencapai tujuannya dan menjadi lebih kuat. Zhang En percaya bahwa dengan usahanya, tidak mustahil bagi dirinya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Aku harus berlatih keras" ucap Zhang En mantap.
Setelah melihat sendiri kekuatan ketiga ketua sekte yang menyerangnya, ia sadar bahwa saat ini dia belum bisa membalaskan dendamnya. justru karena kejadian itu, Zhang en bertekad untuk berkultivasi dengan sungguh-sunguh karena di atas langit masih ada langit.
Saat hari mulai senja, Zhang En pulang ke kediamannya untuk pulang dan beristrahat karena hari sudah mulai gelap.
Sesampainya di rumah kecil tempat dia tinggal, Zhang En lalu membersihkan diri, kemudian menuju ruang makan untuk makan malam.
Setelah makan, Zhang En tidak langsung pulang, dia mencari tempat yang cocok untuk bersantai.
Zhang En ternyata menuju salah satu aula latihan yang sangat besar yang berada di tengah sekte. setelah masuk ke dalam aula itu, Zhang En berniat duduk di sana sambil berkultivasi.
Disitu Ada tikar hitam yang tampak bisa digunakan untuk dijadikan alas di lantai. di sudut aula Zhang En melihat ada beberapa pot tanaman hijau, dan hanya ada beberapa kalimat yang tertulis di dinding aula itu.
Salah satu kalimat menarik perhatian Zhang En yang ada di dinding itu memiliki tiga kata makna yang kuat tertulis disana: "Ketenangan dan Pengabdian".
Zhang En menyebut kalimat itu berkali-kali di dalam hati. Saat dia duduk bersila dan terus memahami kalimat itu. Dia merasa seperti menemukan sesuatu dari kalimat itu yang mengandung maksud dari sebuah pedang yang kuat dan makna tersembunyi.
Di kedua sisi aula ada dua pintu melengkung bundar yang diukir dari kayu merah. Kayu merah tidak memiliki pola yang rumit, itu sangat sederhana. Di belakang pintu ada banyak patung yang terbuat dari kayu tanpa dekorasi.
Seluruh ruangan sangat sederhana, tetapi Zhang En sangat puas dengan struktur yang sederhana, kuno, dan mengesankan ini.
Dia hanya duduk di sana sambil terus berkultivasi lalu mengeluarkan kitab pemberian Tetua Chao Pao untuk sepenuhnya memahami jurus pedang selanjutnya yang tertulis di dalam kitab.
__ADS_1
♡♡♡Jangan lupa like dan vote jika berkenan♡♡♡