Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 85. Rumor Yang Memicu Perkelahian


__ADS_3

Wajah Zhang En kemudian berubah masam. Dia lalu menggelengkan kepalanya, dia menyadari akan selalu ada beberapa orang yang tidak menyadari setiap ucapannya, lalu…! Sedikit kedinginan terpancar bersinar di pupil Zhang En, sebuah jari menunjuk saat dia mengangkat tangannya. Kabut abu-abu gelap menggulung seperti awan badai yang bergemuruh, makhluk gelap aneh mengeluarkan suara teriakan yang dapat menembus jiwa. Kekuatan yang menakutkan meledak dari kabut abu-abu gelap tebal, menyelimuti Li Yunhua dan Liu Liyang.


Keterampilan Teknik Naga Dewa Iblis, Mutiara Jiwa Mutlak, Jari Jiwa Mutlak!


Munculnya kabut abu-abu dan teriakan aneh membuat Li Yunhua berdiri seperti patung. Tepat saat dia hendak memohon belas kasihan kepada Zhang En, jejak jari Jiwa Mutlak sudah menembus tengah alisnya meledakkan kepalanya. Liu Liyang melihat semuanya dengan sangat jelas dari samping, jejak jari menembus alis rekannya dan meledakkan kepalanya dan darah menyembur di udara bersama dengan otak yang berceceran jatuh ketanah.


Tubuh Li Yunhua menegang seketika dan jatuh tanpa kepala.


Hati Liu Liyang menggigil menatap tubuh Li Yunhua dan kemudian melihat Zhang En. Dia tidak menyangka Zhang En menjadi begitu tegas dan kejam, tidak memberikan kesempatan kedua.


Saat pikiran ini terlintas di benak Liu Liyang, Zgang En perlahan menoleh kepadanya dengan mata tajam seperti sepasang pedang. Pada saat melihat tatapan tajam Zhang En, bayangan kematian membayangi hati, tubuh, dan jiwa Liu Liyang.


“Aku bisa memberi kau kesempatan untuk mempertimbangkan keputusanmu kembali. Pikirkan baik-baik sebelum memutuskan, jangan belajar darinya yang membuka mulutnya sembarangan." Zhang En kemudian menambahkan: "Tapi hanya ada satu kesempatan atau kau akan mati seperti dia."


Ekspresi Liu Liyang berubah menjadi jelek dengan ancaman Zhang En.


Zhang En kemudian menginstruksikan Chen Xiaotian unttuk mengurus mayatnya Li Yunhua. Tentu saja, jenazah Li Yunhua tidak bisa dibiarkan begitu saja, semua jejak bukti harus dihapus.


"Baik Tuan Muda!" Chen Xiaotian menjawab. Kekuatan hisap yang besar datang dari telapak tangannya dan tubuh Li Yunhua terbang ke udara. Kemudian, Qi yang terbentuk dari elemen api Qi Chen Xiaotian terbakar terang saat dia membakar mayat Li Yunhua, membakarnya hingga menjadi abu dan tersebar di tanah dalam sekejap, waktu berlalu dengan sangat cepat membuat debu dan pasir yang tertiup angin menutupi semua jejak kematiannya.


Ekspresi Liu Liyang berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Chen Xiaotian menghancurkan bukti dan sisa-sisa kematian Li Yunhua.

__ADS_1


“Aku-aku bersedia… tunduk!” Saat jejak terakhir dari mayat Li Yunhua menghilang, Liu Liyang langsung membuat keputusan.


Zhang En lalu mengangguk kemudian memerintahkan Liu Liyang untuk melepaskan lautan jiwanya agar bisa mencap lautan jiwanya dengan tanda jiwa.


Mendengar Zhang En berbicara tentang mencap lautan jiwanya, gelombang pasang lainnya menghantam hati Liu Liyang, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Pada akhirnya, dia dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan, melepaskan lautan jiwanya, memberikan Zhang En untuk menempatkan tanda jiwanya.


Ketika semua selesai, Zhang En diam-diam menarik napas lega, dengan adanya Liu Liyang di bawah kendalinya akan menjadi langkah pertama untuk Menaklukkan Sekte Penjilat Darah.


Karena Li Yunhua dan Liu Liyang meninggalkan Kota Kematian untuk menjalankan misi mencari Manik Roh di Domain Kematian, maka kematian Li Yunhua masih tidak akan di ketahui untuk beberapa waktu. Patriak Sekte Penjilat Darah, Jiang Tianhua, tidak akan curiga setidaknya selama tiga sampai empat bulan.


Liu Liyang adalah Tetua Sekte Penjilat Darah, sehingga Zhang En tidak bersusah payah untuk mencari imformasi rahasia terkait Sekte Penjilat Darah. Meskipun Chen Xiaotian telah menyelidiki dan memata-matai sekte itu, masih ada informasi yang tidak dapat diketahui oleh Chen Xiaotian.


Seperti informasi saat mengolah Teknik Fisik Iblis Mayat Hidup, Jiang Tianhua dari Sekte penjilat Darah telah melakukan kesalahan, menyebabkan energi iblis merusakkan tubuhnya. Setiap tahun, akan ada hari dimana kekuatannya akan semakin melemah. Atau, fakta bahwa Penatua agung mereka yang menjadi wakil pimpinan Sekte Penjilat Darah, Cui Ming mempunyai seorang selingkuhan, seorang selir atau istri muda dari Patriak Sekte Sembilan Iblis dan sering melakukan pertemuan gelap di bawah sinar bulan melakukan aktivitas antara pria dan wanita.


"Benar, Tuan Muda." Liu Liyang mengulangi, "Namun, Bawahan ini tidak tahu tepatnya hari apa."


Zhang En hanya mengangguk saja. Sesaat kemudian dia berkata kepada Chen Xiaotian, “Sebarkan rumor tentang perselingkuhan antara Wakil Pimpinan Cui Ming dari Sekte Penjilat Darah dengan istri dari Patriak Sekte Sembilan Iblis. Ingat, bertindaklah dengan bijaksana.”


Chen Xiaotian merasa bingung mendengar ucapan Zhang En tetapi dengan cepat menerima perintah Zhang En tanpa bertanya, karena pemuda itu menginstruksikannya untuk memperhatikan reaksi dan tindakan dari Sekte Penjilat Darah dan Sekte Sembilan Iblis setelah rumor itu disebarkan


Sedangkan Liu Liyang, Zhang En menginstruksikan dia untuk tetap tinggal didalam Sekte Penyihir Langit untuk menyembunyikan keberadaannya. Dia tidak diizinkan untuk menunjukkan dirinya sampai Zhang En berhasil menjalankan rencananya untuk menaklukkan Sekte Penjilat Darah

__ADS_1


•••


Keesokan harinya, rumor tentang perselingkuhan antara Wakil Pimpinan Sekte Penjilat Darah, Cui Ming dengan Istri muda Patriak sekte Sembilan Iblis menyebar. Sama seperti apa yang diprediksi Zhang En, Penguasa atau Patriak Sekte Sembilan Iblis , Hu Han, meledak dalam kemarahan. Di depan seluruh Penatua dan Murid Sekte Sembilan Iblis, dia memenggal kepala istri mudanya.


Cui Ming adalah tangan kiri dan kanan Jiang Tianhua, hampir tidak ada kemungkinan Jiang Tianhua untuk memberi hukuman mati kepada Cui Ming. Oleh karena itu, hubungan antara Sekte Penjilat Darah dan Sekte Sembilan Iblis menjadi sangat tegang, seolah-olah pertempuran hebat akan bisa pecah kapan saja.


Menerima laporan berita hari ini, Zhang En mengangguk dengan puas dan merasa senang, yang harus dia lakukan sekarang adalah duduk dan menonton saat kedua harimau itu bertarung. Sementara saat kedua belah pihak itu bertarung, dia dapat bersantai untuk sementara waktu dan mengambil keuntungan atas mereka karena saat kedua Sekte itu bertarung, sudah dipastikan akan banyak korban dan kekuatan mereka akan melemah.


Di tengah suasana pertempuran yang intens, perhatian Hu Han dan Jiang Tianhua pada Sekte Penyihir Langit akan mengendur, yang menguntungkan rencana Zhang En untuk menyebarkan kendalinya atas kedua sisi.


Dua hari kemudian, Chen Xiaotian melaporkan bahwa pertempuran terjadi antara murid Sekte penjilat Darah dan murid Sekte Sembilan Iblis, lebih dari selusin telah tewas dan terluka. Seiring berjalannya waktu, perkelahian antara murid kedua belah pihak Sekte itu menjadi sering terjadi. Konflik antara kedua Sekte itu semakin hari semakin meningkat, sementara Zhang En membenamkan dirinya untuk berkultivasi dan berlatih di Kuil Gunung Dewa didalam sepuluh formasi patung Buddha.


Kekuatan Zhang En semakin bertambah kuat setiap harinya. Setiap hari di dalam Kuil Gunung Dewa, dia berlatih Seni Tapak Buddha Kebenaran, Teknik Dewa Naga Iblis, serta menempa kekyatan fisik tubuhnya, dan dia bersikeras untuk melatih Seni Pengendalian Boneka Kuno, Amanat Jiwa, serta Gerakan Ketujuh Seni Pedang Naga Dewa Iblis: Rantai Dewa Kematian.


Awalnya, untuk menguasai jurus Seni Pengendalian Boneka Kuno Zhang En memperkirakan dia akan membutuhkan setidaknya satu tahun untuk bisa menguasai Teknik itu ke level kedua, namun sekarang, ada tanda-tanda bahwa dia akan bisa ke level dua setelah menguasai Teknik Pengendalian Level Satu dalam kurun waktu dua bulan lagi.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like & Vote. See you next chapter!


__ADS_2