
Ketika menatap Zhang En, Karyawan itu berpikir sejenak, "Bagaimana bisa Ketua Assosiasi Paviliun Bunga Anggrek mereka menjadi seseorang yang dapat dengan mudah diminta untuk ditemui oleh siapa pun? Bahkan Tetua dari Sekte Besar Benua Awan Bintang ini yang ingin bertemu dengan Ketua Assosiasi mereka tidak sembarangan dan itu bergantung pada apakah Ketua Assosiasi mereka bersedia atau tidak untuk di temui!"
Zhang En menangkap penghinaan di mata karyawan itu, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa tentang itu.
Kemudian, Zhang En mengeluarkan sebuah botol giok dari cincin spasial miliknya dan mengeluarkan satu butir pil. Pil itu adalah pil yang da dapat saat di reruntuhan Klan Naga Kuno. Seketika itu, aroma pil tercium di udara memenuhi ruangan sekitarnya dengan aromanya, aroma pil itu seakan memurnikan jiwa dan menjernihkan pikiran yang menghirupnya, sekaligus mengejutkan orang-orang yang ada di tempat.
Semua orang di dalam ruangan terkejut, mengalihkan perhatian mereka ke arah Zhang En.
"Ini adalah pil roh dewa kelas atas, Pil Naga Emas." Zhang En meletakkan satu butir pil bulat di atas meja, lalu bertanya, "Sekarang, bisakah aku bertemu dengan Ketua Assosiasi kalian?"
Lutut karyawan itu menjadi lemas dalam sekejap dan berseru, "I-ni Pil roh dewa kelas atas!"
"Bagaimaana menurutmu?"
Mendengar pertanyaan Zhang En, karyawan itu baru sadar dari keterkejutannya. Ketika dia kembali menatap Zhang En, penghinaan di matanya telah lenyap.
"Tuan Muda, mohon tunggu sebentar, aku akan pergi melapor ke Meneger kami segera!" Kata karyawan itu dengan hormat.
Zhang En mengangguk.
Melihat Zhang En mengangguk, karyawan itu dengan cepat berbalik dan berlari masuk melewati koridor ruangan itu.
Setelah karyawan itu pergi, tatapan penuh semangat dari orang-orang yang ada di ruangan itu tertuju pada pil kecil yang diletakkan Zhang En di atas meja, wajah mereka mirip seperti sekawanan serigala lapar yang menatap sepotong daging yang lezat.
“Pil roh dewa kelas atas? Aku tidak percaya, mungkin pil itu palsu ?!” Murid keluarga besar yang ada disekitar Zhang En mengejek dengan suara nyaring.
“Siapa yang tahu pasti, hal ini adalah seperti yang pernah terjadi sebelumnya! Ada pernah seseorang datang kesini dan mengklaim bawaannya adalah Pil Emas kelas. Pada akhirnya, penipu itu dipukuli setengah mati oleh Meneger yang tidak lain adalah Tetua Paviliun Bunga Anggrek." Orang lain juga menimpali.
"Meskipun orang itu bisa mempertahankan nyawanya, kedua tangannya telah dipotong oleh Tetua itu sebagai hukuman!"
Suara diskusi orang-orang di dalam ruangan terdengar satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya berperut buncit, berpakaian mewah berjalan ke arah Zhang En dan berhenti di depannya, “Adik kecil, aku memiliki beberapa pengetahuan tentang pil, dengan satu pandangan saja, Aku akan tahu apakah itu asli atau palsu, bolehkah aku melihat Pil Naga Emas ini sebentar saja?”
__ADS_1
Selesai mengatakan hal itu, pria paruh baya itu dengan cepat langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil pil bulat yang ada di atas meja tanpa menunggu jawaban dari Zhang En.
Akan tetapi, bahkan sebelum tangan pria berperut buncit itu menyentuh pil diatas meja, tangannya tiba-tiba di tangkap oleh tangan lain.
Wajah pria paruh baya itu menegang, dia adalah puncak dari Pendekar Tahap Dewa Bintang lima, namun tangannya dengan mudah ditangkap oleh pemuda yang tidak lain adalah Zhang En.
"Kapan aku mengizinkanmu untuk menyentuh pil milikku." Zhang En menjawab dengan suara dingin.
Kemudian dia memberikan sedikit tekanan ditangannya, 'Kachaa" suara patah tulang terdengar dari tangan pria paruh baya itu.
Dengan melambaikan telapak tangannya, pria paruh baya itu terlempar ke belakang, hampir menabrak pilar batu yang ada di sudut ruangan.
Wajah pria paruh baya itu memerah karena marah, "Kau.. Apa yang kau lakukan padaku!"
Meski dia merasa marah, dia tidak berani untuk kembali mendekati Zhang En untuk kedua kalinya.
Orang-orang yang ada di ruangan diam-diam terkejut. Banyak dari mereka yang mengenal pria paruh baya berperut buncit itu, dia adalah salah satu Tetua dari Klan Chu yang ada di Kota Moli ini dan mereka juga tahu kekuatannya. Namun pemuda itu benar-benar menghancurkan tulang lengannya dengan mudah.
Pada awalnya, banyak orang diruangan itu ingin mendapatkan Pil Naga Emas yang ada di atas meja, tetapi menyaksikan Zhang En menampakkan sebagian kecil kekuatannya, orang-orang itu menahan keserakahan yang muncul di hati mereka.
Tiba-tiba, suara seseorang menggelegar dari kejauhan, menarik perhatian semua orang, mereka semua memalingkan kepala mereka untuk melihat sumber suara.
Karyawan yang lari sebelumnya untuk melapor terlihat sedang berjalan keluar dari aula dalam dengan dua pria di depannya.
Orang yang ada didepan karyawan itu adalah seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah putih dengan alis tebal, wajah besar dan matanya tajam seperti burung elang.
Pria berperut buncit yang tangannya diremukkan oleh Zhang En, Tetua dari Klan Chu, Chu Yi, bergegas menuju pria paruh baya berjubah putih yang barusan datang dengan ekspresi hormat dan sanjungan, "Tetua Wei."
Orang yang baru tiba ini adalah Tetua penanggung jawab Paviliun Bunga Anggrek, Wei Jing.
Ketika karyawan itu berlari untuk melapor kepada Meneger, Meneger mereka merasa masalah ini berada di atas otoritasnya, dan sebagai gantinya menyerahkan masalah tersebut kepada Tetua Wei Jing.
Orang-orang di sekitar ruangan juga menyambut kedatangan Tetua Wei dengan sikap hormat.
__ADS_1
Sebagai Tetua yang bertugas bertanggung jawab di Paviliun Bunga Anggrek, Wei Jing ini yamg mengawasi setiap transaksi yang dilakukan di kantor pusat Paviliun yang ada di Kantor Pusat di Kota Moli, dan dengan demikian dia memegang status terhormat dalam jajaran Tetua Paviliun Bunga Anggrek. Bahkan Pemimpin Kota Moli harus bersikap sopan terhadap Tetua Wei Jing.
Wei Jing mengangguk dan membalas salam dari orang-orang yang menyapa dirinya.
Tetua dari Keluarga Chu, Chu Yi mengambil celah kecil ini sambil berkata, “Tetua Wei, berandal ini mengeluarkan sebuah pil tingkat rendah yang tidak jelas dan mengklaim itu adalah Pil Naga Emas dewa kelas atas. Aku tahu sedikit tentang berbagai macam pil, karena kebaikan hatiku, aku ingin membantunya membedakan pil yang benar. Akan tetapi aku tidak menyangka bahwa bajingan ini tiba-tiba menyerang aku dan menghancurkan tulang lengan tanganku !"
Dia mengatakan hal itu seakan dirinya sebagai korban yang tidak bersalah dan Zhang En menjadi penjahat yang menyerang tanpa pandang bulu.
"Oh ..." Tetua Wei menjawab sambil memandang Zhang En.
“Sangat jelas kalau dia merasa bersalah dan hanya penipu, itu sebabnya dia tidak berani membiarkanku melihat pil miliknya. Pil itu pasti palsu !" Chu Yi menekankan kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah Zhang En yang sudah dipenuhi dengan kebencian yang mendendam.
Wei Jiang mengangguk ringan, tidak ada perubahan yang terlihat di ekspresinya saat dia mendekati Zhang En dan Hong Xiao.
Wei Jing sampai di depan kelompok Zhang En. Setelah sekilas melihat Pil Naga Emas yang diletakkan di atas meja, cahaya keemasan melintas di matanya.
Meskipun dia masih belum memeriksanya dengan teliti, mengandalkan pengalaman dan penglihatannya selama bertahun-tahun, pil roh ini tidak diragukan lagi adalah pil roh kelas Dewa berkualitas tinggi.
Namun, Wei Jing melirik kelompok Zhang En. Keempatnya masih duduk di kursi mereka masing-masing dan dari sikap mereka terlihat jelas bahwa tidak ada dari mereka yang berniat untuk berdiri dan memberi hormat padanya.
Wei Jing merasa sedikit kesal. Bagaimanapun, karena statusnya yang memiliki otoritas tertinggi di Paviliun Bunga Anggrek ini mengharuskan setiap orang untuk menghormati keberadaannya, bahkan Penguasa Kota Moli jika bertemu dengannya berdiri dan menyambutnya.
“Pelanggan ini ingin menunjukkan kalau ini adalah Pil Naga Emas yang legendaris?” Wei Jiang membuka suara dan bertanya, tentu saja dia tidak menunjukkan keramahan pada wajahnya.
"Benar!." Zhang En menjawab dan seakan tidak peduli dengan sikap Wei Jing.
“Bolehkah aku memeriksanya?” Wei Jiang bertanya.
"Baiklah." Zhang En mengangguk.
"Sombong sekali kau anak muda, kau pikir karena hanya dengan memiliki satu butir pil ini saja kau sudah merasa sombong? Cihhh" Ucap Wei Jing dalam hati.
Seandainya dia mengetahui identitas Zhang En, Sang Penguasa Sekte Gerbang Naga dan seorang pemuda yang menjadi topik panas beberapa hari ini di seluruh Benua, yang kabarnya memporak-memporak-porandakan Kota Dewa Bintang serta membunuh ribuan murid Sekte Dewa Bintang seorang diri di Pusat Domain wilayah Sekte Dewa Bintang, kemungkinan besar dia akan bersujud dan kencing celana.
__ADS_1
Wei Jing mengambil pil itu dan dengan lembut jatuh ke telapak tangannya. Saat Pil Naga Emas sudah berada di telapak tangannya, tangannya sedikit bergetar merasakan sensasi yang sangat luar biasa.