
Zhang En berpikir sejenak dan mengambil sebatang Ganoderma Putih dari cincin spasialnya. Aromanya segera tercium di udara, menerangi langit kelabu gelap yang suram seolah-olah hari telah siang.
"Itu, itu Jamur Ganoderma Putih!" Baik Wu Zhang dan Sun Haoran berseru dengan perasaan takjub, mata mereka menatap lekat-lekat pada jamur putih di tangan Zhang En, kristal yang hampir tembus pandang dengan emulsi berwarna putih bergerak di dalam jamur.
Ini adalah salah satu dari banyak ramuan yang ditemukan Zhang En di bagian bawah Lembah Harimau selain buah pohon api. Ganoderma ini telah berumur seratus tahun, tetapi jamur berumur seribu tahun ke atas jarang ditemukan, batang dari Ganoderma berumur sepuluh ribu tahun telah dianggap punah, belum lagi raja Ganoderma, Ganoderma Putih.
Raja Ganoderma ini, selain meningkatkan kultivasi, itu adalah ramuan suci untuk menyembuhkan luka.
Di depan dua pasang mata pemuda yang ada di sekitarnya, Zhang En melemparkan Ganoderma Putih ke Sun Haoran, "Ini untukmu, telanlah."
Sun Haoran menatap Zhang En dengan bingung. Meragukan apa yang baru saja dia dengar, dia bertanya, "Apakah kau yakin ingin membiarkan akh menelan Ganoderma Putih ini?"
Zhang En mengangguk, "Aku berhutang budi kepada Senior He."
Saat itu di Kota Suku Dewa, He Yunxiong membantu Zhang En, sekarang dia hanya membalas budi dengan menyelamatkan muridnya. Ganoderma Putih mungkin obat mujarab langka di mata orang lain, tetapi itu tidak terlalu penting bagi Zhang En. Di tumpukan obat mujarab di dalam cincin spasial-nya, Ganoderma Putih ini berada di peringkat paling bawah diantara sekian banyak pil-pil yang dia miliki.
"Jadi, Saudara mengenal Guru." Sun Haoran merasa lega setelah mengklarifikasi hal ini, tapi tetap, dia menolak, “Tapi ini terlalu berlebihan, tolong simpan sendiri. Lukaku tidak terlalu berat." Dia melempar kembali jamur Ganoderma Putih kepada Zhang En. Menurutnya, balas budi Zhang En sedikit berlebihan, dia malu menerima hadiah yang menurutnya begitu sangat berharga
Pada saat itu juga, sebuah bayangan melesat dari kejauhan. Itu adalah Wu Shang yang mengulurkan tangan untuk meraih Ganoderma Putih yang di lemparkan ke arah Zhang En.
Namun, sebelum dia bisa menyentuh Ganoderma Putih, semburan bayangan tombak muncul di udara, membawa badai angin kencang yang tumpang tindih seperti lapisan gelombang. Karena merasa khawatir, Wu Zhang dengan sigap mundur untuk menghindar.
Jurus Pembelah Langit!
Dia menarik tangannga kembali dan kemudian menebas secara vertikal.
Beberapa bayangan telapak tangan seperti pisau menebas angin kencang yang diciptakan oleh tombak yang menerjangnya.
Ledakan!
Ledakan bergemuruh mengguncang tempat itu.
__ADS_1
Banyak bayangan tombak menghilang saat Wu Zhang berhasil menghalangi lapisan angin kencang yang menerpanya, tetapi meskipun begitu, punggungnya basah dengan keringat dingin. Dia memandang Zhang En dengan gentar karena hanya dia yang benar-benar mengerti betapa mengerikan serangan tombak Zhang En itu.
"Apa latar belakang pemuda berambut hitam ini, dia memiliki kekuatan yang begitu menakutkan?" Tenggorokan Wu Zhang terasa kering, "Teman, ini masalah antara Kota Kota Dewa dan Kota Milenium, aku menyarankan lebih baik kau tidak mengganggu jika tidak ada hubungannya denganmu."
Zhang En bertanya tanpa ekspresi, "Jadi bagaimana jika aku ikut campur?"
Ketika dia berada di Kota Suku Dewa saat itu, bawahan Zhao Chen secara terang-terangan menyerang Zhang En tanpa takut akan dampaknya dan penjaga kota Suku Dewa tanpa malu-malu memihak bawahan Zhao Chen. Ini tidak membantu membangun kesan yang baik saat dia berada di Kota Suku Dewa ucap Zhang En dalam pikirannya.
Mendengar itu, Wu Zhang menggelengkan kepalanya, "Kekuatanmu tidak buruk, tapi tetap saja, lebih baik tidak bertindak sembarangan, kalau tidak kau akan membawa malapetaka bagi keluargamu atau pada dirimu sendiri." Kata-kata Wu Zhang bukanlah ancaman kosong. Sangat sedikit orang di seluruh Domain wilayah Tanah Kematian yang berani ikut campur dalam urusan Kota Suku Dewa.
Saat itu juga, Sun Haoren membujuk Zhang En, berkata "Saudaraku, pergilah." Dia merasa Zhang En tidak perlu menyinggung Kota Suku Dewa demi membelanya dannKota Milenium, terlepas dari apakah Zhang En berhutang budi kepada Gurunya atau tidak.
Ketika Wu Zhang melihat Zhang En diam setelah Sun Haoren membujuknya, dia segera berasumsi bahwa Zhang En takut akan kekuatan Kota Suku Dewa dan bersiap untuk tidak mencampuri urusan mereka dan dia tidak bisa menahan senyum, “Kau bisa melihat kebenaran dan membuat keputusan yang paling bijaksana, untuk kebaikan diri sendiri adalah jalan yang paling baik… ”Kata-katanya terhenti saat matanya yang serakah beralih melihat Jamur Ganoderma Putih dengan tangan terulur.
Tetapi ketika tangannya hampir menangkap ramuan ditangan Zhang En, bayangan tombak menghujani sekali lagi ke arahnya. Kali ini, Kekuatan dari serangan tombak Zhang En melampaui serangan sebwlumnya, menakut-nakuti Wu Zhang dan menyebabkan dia melompat mundur karena merasa terkejut sambil menyerang secara terus menerus dalam upaya untuk memblokir serangan tombak yang mengarah padanya.
Wu Zhang mundur lagi dan lagi sampai dia beberapa ratus meter kembali sebelum berhenti, selaput keringat menetes di dahinya.
Zhang En lalu mencemooh, berkata “Demi kebaikan diriku? Kapan aku mengatakan padamu bahwa aku tidak akan ikut campur?"
Cahaya gelap berkedip-kedip di mata Wu Zhang, "Apa kau benar-benar tidak takut jika kau akan binasa dalam bencana karena kebodohanmu?"
"Itu tergantung jika Kota Suku Dewa milikmu memiliki kemampuan melakukannya." Melontarkan kalimat itu, Zhang En tidak lagi repot-repot bertukar kata-kata lagi, Tombak Emas Raja Kuno berdengung, melesat ke udara di selimuti cahaya tombak berwarna hitam keemasan. Gelombang kejut yang luar biasa membuat tanah bergetar saat tombak panjang menembus udara, dan tiba seketika di depan Wu Zhang.
Melihat serangan Zhang En membuat kepercayaan diri Wu Zhang goyah.
Langkah Harimau!
Tanpa pikir panjang, Wu Zhang melompat tinggi dari tanah seolah-olah dia adalah seekor harimau, dia nyaris tidak lolos dari serangan tombak emas Zhang En.
BOOOMMMM!
__ADS_1
Suara ledakan mencapai telinganya. Berbalik dan melihat ke belakang, dia melihat bahwa struktur bangunan istana di belakangnya terbelah menjadi dua bagian tepat di tengahnya dan bagunan itu runtuh ke samping membuat debu dan pasir menutupi pemandangan.
Wajah Wu Zhang pucat pasi melihat hasil serangan tombak Zhang En, untungnya, dia berhasil menghindari serangan itu dengan cukup cepat, jika tidak, tubuhnya akan terbelah dua.
Sementara Wu Zhang masih tenggelam dalam pikirnannya, tiba-tiba cahaya keemasan yang terang kembali menerpa dirinya. Berpaling untuk melihat, dia melihat Zhang En melesat ke arahnya seperti Dewa Naga. Dalam satu gerakan, dia melompat dan terbang ke atas udara, tombak itu lalu mengubah haluan dan melakukan manuver melesat mengejar Wu Zhang. Cahaya tombak yang bersinar terang membutakan penglihatan matanya dan melesat ke arahnya.
Telapak Tangan Ganda!
Karena merasa ketakutan, Wu Zhang berteriak. Telapak tangannya menjadi membesar dan berlipat ganda yang berwarna merah darah menabrak ke arah Zhang En.
Dua jejak telapak tangan berwarna merah darah menabrak bayangan tombak yang tak terhitung jumlahnya, gelombang kejut dan ledakan bergema di udara.
BOOOMMMM!
BOOOMMMM!
BOOOMMMM!
Dampak ledakan yang kuat membuat Wu Zhang terhuyung-huyung diudara ketika sebuah cahaya tombak melesat terbang ke arahnya. Wu Zhang hanya melihat sekilas kilatan cahaya, dan hal berikutnya yang dia tahu, semburan darah dan rasa sakit datang dari area dadanya.
Dia menatap linglung dan melihat tubuhnya sendiri di mana tombak berwarna keemasan menempel di dadanya, menembusnya dengan ujung tombak yang tembus keluar dari punggungnya.
Ekspresi Zhang En dingin saat dia menarik kembali tombak miliknya dari tubuh Wu Zhang sebelum mendarat di tanah.
Darah jatuh seperti hujan ke tanah dari ketinggian, saat Wu Zhang meluncur ke tanah.
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa Like & Vote!