Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 245. Menyelamatkan Putri Hong Xiao (5)


__ADS_3

Di dalam Istana Kota Sekte Dewa Bintang.


"Apa? Seseorang menerobos masuk ke dalam kota dan membunuh lebih dari empat ratus murid kita yang berjaga di sana ?!” Tetua Feng Chen menatap murid yang datang melapor itu dengan tidak percaya.


Ini adalah pertama kalinya hal seperti ini terjadi sejak Sekte Dewa Bintang berdiri beberapa ribu tahun yang lalu.


Feng Chen, sebagai salah satu Tetua Aula Kehakiman Sekte Dewa Bintang, bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban di Kota Dewa Bintang, itulah sebabnya murid penjaga datang untuk melapor kepadanya secara langsung ketika insiden ini terjadi.


“Tetua, haruskah kita memberi tahu Tuan Muda tentang kejadian inj?” Murid penjaga itu bertanya dengan hati-hati.


Feng Chen melambaikan tangannya dengan acuh sambil berkata, "ini adalah masalah kecil, tidak perlu melapor kepada Tuan Muda, itu hanya akan mengganggu suasana hatinya." Kemudian, kilatan dingin berkedip di matanya, “Seseorang benar-benar berani berbuat onar di Kota ini dan membunuh murid-murid Sekte kita! Tangkap dia hidup-hidup dan cari tau latar belakangnya !"


"Baik, Tetua" Murid penjaga itu memberi hormat lalu pergi melaksanakan perintah.


"Ada orang yang dengan berani membunuh di wilayah kami, dia pasti seorang Kultivator yang memiliki kekuatan hebat.." Feng Chen berpikir sejenak dan memerintahkan dua bawahannya yang sudah berada di ranah Pertapa Dewa untuk pergi memeriksa situasi.


"Ingat, tangkap orang itu hidup-hidup!" Feng Chen menginstruksikan dua bawahannya itu, "Kalian tahu apa konsekuensi dari jika kalian berdua membiarkan orang itu melarikan diri!"


“Perintah Tetua akan kami laksanakan dengan baik!” Kedua ahli Pertapa Dewa itu meyakinkan Feng Chen.


Kedua pria itu memberi hormat pada Feng Chen dan menghilang dalam sekejap dari tempat itu.


•••


Pada saat ini, murid-murid Sekte Dewa Bintang telah mengepung Zhang En dari segala arah.

__ADS_1


Sebagai sekte terkenal dan memiliki basis yang sangat kuat, Sekte Dewa Bintang memiliki murid sebanyak satu atau dua juta lebih setiap tahunnya. Belum lagi, para murid yang hanya diizinkan tinggal di dalam kota Dewa Bintang ini semuanya adalah ahli Pendekar Suci dan Pendekar Dewa.


Seseorang dapat dengan mudah menilai sejauh mana kekuatan Sekte Dewa Bintang ini.


Zhang En menatap dingin lautan manusia yang tidak lain adalah murid Sekte Dewa Bintang yang berusaha menghalangi jalannya.


Tiba-tiba, seorang murid Sekte Dewa Bintang mengayunkan pedang besarnya kearah Zhang En. Dengan menjadi orang pertama yang menyerang , semakin banyak murid itu mengikutinya dan masing-masing dari mereka menggunakan serangan terkuat mereka untuk menyerang Zhang En.


Melihat mereka, Zhang En mendorong Auranya. Qi miliknya mengalir keluar dari Dantiannya saat Qi Naga menyelimuti bagian luar tubuhnya. 


Ketika murid-murid itu mendekatinya, Qi Naga di sekitar tubuh Zhang En berputar seperti banjir bandang, seperti kekuatan yang tak tertahankan, semua murid yang mendekat dikirim terbang ke udara dan di ubah menjadi kabut darah.


Zhang En terus melangkah, melewati jalan yang telah diwarnai dengan genangan darah murid-murid Sekte Dewa Bintang yang sudah tak bernyawa.


Zhang En terus melanjutkan langkah kakinya menuju Istana Sekte Dewa Bintang. Namun, gelombang murid Sekte Dewa Bintang yang kembali berdatangan membuatnya dikelilingi sekali lagi.


Badai hujan darah sekali lagi membasahi tanah.


Setelah beberapa saat, Zhang En tidak dapat dapat menghitung berapa banyak murid Sekte Dewa Bintang yang telah dia musnahkan.


Selangkah demi selangkah, Zhang En semakin dekat dengan Istana Kota Dewa Bintang. Qi Naga yang menyelimuti tubuhnya juga semakin padat, matanya berwarna merah serta aura pembantaian yang melingkari Zhang En mulai membentuk kepingan salju berwarna hitam.


Di bawah sinar matahari yang cerah, kepingan salju hitam berjatuhan dari langit; tidak peduli apa, pemandangan ini menakutkan dan aneh.


Pada saat Zhang En hampir mencapai Istana Kota Sekte Dewa Bintang, hujan bayangan tombak melesat tepat ke arahnya, menembus ruang udara, diikuti oleh bayangan tombak yang tak terhitung jumlahnya yang membentuk angin kencang. Serangan tersebut bertujuan untuk melukai Zhang En.

__ADS_1


Dari kejauhan, dua sosok terlihat terbang dengan kecepatan sangat tinggi. Mereka adalah bawahan Feng Chen yang diirim untuk melihat situasi.


Melihat kedua sosok itu, Zhang En memukul ke depan dengan menggunakan kedua telapak tangannya, mengirimkan jejak telapak tangan yang menghancurkan bayangan hujan yang menuju ke arahnya. Detik berikutnya, siluet Zhang En menghilang dari tanah, dan ketika dia muncul lagi, dia sudah berada di depan dua ahli Pertapa Dewa bawahan Feng Chen.


Zhang En lalu mengeluarkan Tombak Emas Raja Tombak di tangannya. Dengan satu dorongan,tombak emas itu menembus langsung ke salah satu jantung ahli Pertapa Dewa yang ada di hadapannya, lalu menariknya kembali, dan dengan gerakan cepat, dia kembali mendorong Tombak Emas yang ada di genggaman tangannya dan langsung menembus dada ahli Pertapa Dewa yang satunya lagi.


Semuanya terjadi begitu cepat sehingga tak satu pun dari kedua ahli Pertapa Dewa Sekte Dewa Bintang memiliki kesempatan untuk bisa bereaksi.


Zhang En menarik tombaknya dan membiarkan kedua tubuh itu jatuh ke tanah.


“Kau, siapa kau sebenarnua?!” Salah satu dari mereka bertanya, ketakutan terlihat jelas di matanya.


Zhang En tidak menjawab, dia lalu mengeluarkan bilah pedang yang terbentuk dari elemen api di salah satu tanganya dan menembus kedua pelipis pria itu, dan kepala mereka pecah dengan hanya tubuh yang masih utuh.


Zhang En lalu memasukkan tubuh mereka kedalam Pagoda miliknya untuk di jadikan sebagai makanan Kumbang Mayat Beraxun dan melanjutkan perjalanannya.


Pada saat ini, keributan terdengar dari dalam dan luar Istana.


Sebelumnya, ketika Zhang En menerobos gerbang kota, dia telah membunuh lebih dari empat ratus murid penjaga Sekte Dewa Bintang, tetapi karena semakin banyak murid Sekte Dewa Bintang terbunuh, fluktuasi energi kematian yang kuat terasa semakin dekat. di dalam Istana, semua ahli itu akhirnya menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi.


Dalam waktu singkat, mereka mendapatkan berita mengejutkan bahwa seseorang masuk ke Kota Dewa Bintang dan membunuh murid Sekte Dewa Bintang di sepanjang jalan.


"Apa?! Dua ahli Pertapa Dewa, bawahan yang aku kirim sudah mati ?!" Feng Chen marah dan terkejut mendengarkan laporan terbaru dari murid Sektenya. Dia tidak menyangka bahwa keduanya akan terbunuh hanya beberapa menit setelah meninggalkan Istana Kota Sekte Dewa Bintang.


Feng Chen lalu bergegas pergi ke arah halaman kediaman Xie Dan untuk melapor. Masalah ini harus diberitahu kepada Tuan Muda Sekte Mereka saat ini juga.

__ADS_1


__ADS_2