Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 244. Menyelamatkan Putri Hong Xiao (4)


__ADS_3

Mata Hong Xiao berubah merah, dia merasa sesak nafas menahan amarah dan tangannya terangkat tinggi ingin menampar Xie Dan yang sedang berdiri di depannya.


Xie Dan mengulurkan tangan dan menggenggam pergelangan tangannya, lalu menarik tangan itu ke hidungnya, sambil tertawa saat dia berkata, "Aku tidak menyangka tanganmu sangat lembut dan harum."


Hong Xiao merasa terhina dan tidak bisa berkata-kata.


“Jangan khawatir, sayangku, aku tidak akan menyentuhmu untuk malam ini. Aku akan menyimpan momen indah itu untuk besok malam." Xie Dan berbalik dan pergi dengan suasana hati bahagia dan hanya meninggalkan suara tawa bergema di dalam kamar.


Butiran air mata mengalir di pipi Hong setelah punggung Xie Dan sudah tidak terlihat lagi.


"Besok, apakah Zhang En benar-benar akan datang menyelamatkanku?"


"Meskipun aku sangat berharap dia akan datang, apakah dia benar-benar akan muncul besok? Mungkin saat ini dia bahkan tidak tahu bahwa aku telah berada ditempat ini.. Hikss....Hikssss....Hiksss"


Hong Xiao menangis tersedu-sedu dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidur.


•••


Keesokan harinya, sinar matahari menyinari Kota Dewa Bintang yang hiruk pikuk, karena hari ini adalah hari pernikahan Tuan Muda Sekte Dewa Bintang, hari Ini adalah hari bahagia untuk orang banyak yang akan pergi menghadiri acara hari ini.


Lampion merah berwarna-warni berjejer di setiap jalan yang di lewati di dalam kota. Orang-orang dari sekte besar dan kecil, keluarga terkenal, dan seluruh jajaran para ahli Benua Awan Bintang berdatangan untuk menghadiri pesta dan memberikan hadiah yang telah mereka persiapkan.


Pintu masuk yang ada di gerbang timur, yang jalannya sangat lebar hari ini ramai sekali dan penuh sesak.


Area di sekitar Istana Kota Dewa Bintang bahkan lebih padat, berbagai bentuk kereta mewah dan tunggangan yang tampak mengesankan bergerak keluar - masuk membuat tempat itu terlihat sangat ramai.


“Pil roh tingkat dewa, sepuluh butir ...!”

__ADS_1


"Rumput Kristal Hati berusia lima belas ribu tahun, tiga batang...!"


"Kristal Cinta, dua bagian..!"


Tetua Sekte Dewa Bintang Dao Lin sedang menyebutkan hadiah serta membaca kartu ucapan selamat yang dikirim oleh setiap tamu yang datang pada pesta pernikahan. Salah satu dari hadiah itu sudah cukup untuk menimbulkan keributan, karena nilai hadiah itu sangat tinggi dan sangat mewah.


Setelah hadiah ini dibuka dan diberi tanda oleh, hadiah itu di angkut ke sebuah ruangan yang sudah dialokasikan untuk disimpan.


Semua hadiah itu mungkin sangat berharga di mata orang lain, tetapi bagi Tuan Muda Xie Dan, itu semua hanya diangap barang biasa olehnya.


Tata acara sebentar lagi sudah mendekati siang hari. Semua ahli dari Sekte yang berbeda-beda dan keluarga besar yang telah di undang berdatangan satu persatu, mengisi banyak kursi perjamuan yang telah diatur di aula dalam dan luar aula. Aula bagian dalam dikhususkan hanya tempat para ahli ranah Pertapa Dewa.


Hampir semua dari mereka yang hadir membicarakan tentang kejadian baru-baru ini yang telah terjadi di Kota Naga.


Sementara itu, di jalan utama yang mengarah ke luar kota, tepat di gerbang kota arah timur, sebuah lingkaran ruang beriak dan sosok Zhang En muncul dari ruang hampa.


Zhang En sedikit memiringkan kepalanya melihat ke atas langit. Saat ini hampir tengah hari, dengan sinar matahari yang menyinari kota itu sangat terik.


Dia menyadari bahwa hari ini adalah hari pernikahan Tuan Muda Xie Dan.


Tatapan mata Zhang En berkilau beberapa detik. Dia tidak menyangka akan sampai tepat waktu walaupun masih sedimit rerlambat di hari pernikahan Xie Dan.


Niat membunuh yang merembes keluar dari tubuh Zhang En menyapu area sekitarnya seperti tornado raksasa, para kultivator yang lewat di dekatnya merasa khawatir dan merasakan nyawa mereka sedang terancam.


Niat membunuh yang kuat dari Zhang En menarik perhatian para murid Sekte Dewa Bintang yang sedang menjaga gerbang.


“Hei kau... Daari sekte atau keluarga mana kau berasal? Apakah kaj memiliki kartu undangan?” Beberapa murid pemjaga itu mendekat, menanyai Zhang En.

__ADS_1


Hanya mereka yang memiliki kartu undangan yang dapat memasuki kota, oleh karena itu, hari ini, setiap orang yang ingin memasuki Kota Dewa Bintang harus menunjukkan kartu undangan terlebih dahulu sebelum masuk.


Namun, Zhang En seperti tidak mendengar apa yang dikatakan murid penjaga itu, dia malah berjalan ingin masuk ke dalam kota.


Melihat tindakan Zhang En yang mengabaikan mereka semua, wajah beberapa murid Sekte Dewa Bintang yang berada di pintu gerbang berubah suram.


"Kau.. Berhenti sekarang juga!" Salah satu murid mengulurkan tangan untuk menghentikan Zhang En sambil berteriak, "Bocah, jika kau menolak untuk tidak menunjukkan kartu undanganmu, jangan salahkan aku jika ...!"


Kalimat murid itu berhenti saat gelombang energi mematikan mengalir ke arahnya. Sebelum dia bisa bereaksi, dia tersapu di bawa oleh gelombang energi itu dan terlempar beberapa meter, menabrak tembok.


Semua orang yang sedang ramai itu terkejut.


Para Kultivator yang datang untuk pesta pernikahan Xie Dan melihat Zhang En dengan ekspresi heran. Mereka tidak menyangka akan ada seseorang yang berani menimbulkan masalah di wilayah kota Dewa Bintang pada hari pernikahan Tuan Muda Sekte Dewa Bintang.


Para murid penjaga yang sedang bertugas yang ada di sekitar gerbang tersadar dari keterkejutan mereka sesaat kemudian, mereka semua berteriak dengan marah kepada Zhang En saat mereka menyebar untuk mengelilinginya.


Zhang En terus berjalan ingin masuk ke dalam kota, seolah-olah dia tidak melihat orang-orang ini.


Para murid Sekte Dewa Bintang itu langsung bergerak untuk melancarkan serangan, namun, mereka semua terlempar dan di ubah menjadi kabut darah. Tak ada satupun di antara mereka yang bisa mendakati Zhang En.


Pada saat Zhang En melewati gerbang kota itu, empat hingga lima ratus murid Sekte Dewa Bintang yang ditugaskan untuk berjaga di sana tergeletak di atas tanah dan mati mengenaskan.


Orang-orang yang kebetulan berencana ingin memasuki kota merasa ketakutan, mereka berlari dan bersembunyi untuk menjauh sambil melihat punggung Zhang En dengan tatapan yang mengerikan.


Zhang En terus melangkah memasuki kota itu, dia mengabaikan ekspresi ketakutan yang di tunjukkan padanya dan langsung menuju Istana Kota, lokasi Sekte Dewa Bintang berada.


Pada awalnya, Zhang En berencana menyelinap ke Kota Dewa Bintang ini dan baru menyelamatkan Hong Xiao saat ada kesempatan, tetapi dia tidak menyangka kalau hari ini adalah pesta pernikahan. Apalagi hari sudah menjelang siang, Zhang En merasa sudah kehabisan waktu dan tidak sedikit amarah telah memenuhi hatinya. Maka Zhang En baru saja memutuskan untuk menerobos secara paksa, bermaksud ingin melakukan serangan langsung dan tidak akan memberi ampun kepada siapapun yang menghalangi jalannya.

__ADS_1


Sebelum kedatangan Zhang En, kota itu dipenuhi dengan suasana pesta pernikahan yang terlihat megah. Di gerbang kota dan di dalam jalan yang di lalui, banyak sekali orang yang bergegas menuju Istana Kota dan meramaikan kota itu, tetapi aura pembunuh yang dipancarkan oleh murid-murid Sekte Dewa Bintang saat mereka semua berlari menuju satu arah, telah mengejutkan semua orang dan merasa ketakutan. Hanya dalam beberapa menit saja, jalan kota itu menjadi sepi.


Merasakan energi kuat yang menargetkannya dari segala arah, Zhang En terus melangkah dan tetap tenang, kakinya tidak berhenti sama sekali saat dia terus berjalan ke arah Istana Kota Dewa Bintang.


__ADS_2