
Orang tua itu mengangkat kepalanya, memperlihatkan janggut putih panjang yang berkibar tertiup angin sepoi-sepoi saat dia tersenyum pada Zhang En, "Sudah enam puluh ribu tahun ... Akhirnya, seseorang memasuki ruang Laut Penderitaan ini setelah enam puluh ribu tahun yang panjang."
"Enam puluh ribu tahun!" Zhang En kaget. Orang tua ini bermaksud mengatakan bahwa dia tinggal di ruang Lautan Penderitaan ini selama lebih dari enam puluh ribu tahun? Bukankah itu berarti lelaki tua ini telah hidup lebih dari enam puluh ribu tahun!
“Anak muda, Anda memasuki Gua Buddha untuk menemukan Gunung Dewa?" Orang tua itu melanjutkan dengan langkahnya sendiri.
Zhang En terkejut dan waspada pada saat bersamaan.
"iya" Beberapa detik kemudian, Zhang En menenangkan diri. Kemungkinan besar Gurunya menyuruhnya untuk datang kesini untuk menemukan tempat itu.
Orang tua itu terkekeh, “Tidak buruk, setidaknya kamu jujur. Kalau begitu, aku akan memberitahumu. Ya, Gunung Dewa memang berada di dalam Gua Kehidupan."
Orang tua itu menyeringai melihat reaksi Zhang En, "Aku akan menanyakan tiga pertanyaan, selama jawaban mu memuaskan, Aku akan memberi tahu mu letak gunung Dewa."
"Tiga pertanyaan?" Zhang En terperangah.
"Benar." Orang tua itu mengungkapkan senyum yang terlihat ramah.
"Silakan, tanyakan."Zhang En merenung sejenak sebelum menyetujuinya.
“Pertanyaan pertama, mengapa Anda mencari Gunung Dewa? " Orang tua itu bertanya.
Zhang En sejenak ragu-ragu dan kemudian menjawab dengan alasan yang masuk akal, “Aku ingin berlatih meningkatkan kultivasi, bahkan mungkin ke ranah Pertapa Dewa atau ranah Surgawi dan kemudian aku ingin membalaskan dendamku"
Orang tua itu terkejut, “Pertapa Surgawi? Tidak ada ambisi kecil untuk bisa mencapai tingkat itu." Orang tua itu berhenti sebelum menanyakan pertanyaan pertanyaan kedua.
Pertanyaan kedua adalah, apa semangat bela diri mu?
__ADS_1
"Semangat bela diri?" Tanpa berpikir dan tidak senjaga, sebuah cahaya menyelimuti Zhang En dan saat dia mencoba memanggil roh bela dirinya, tiba-tiba Seekor Naga kembar hitam dan biru melayang ke atasnya.
"Naga Biru dan Hitam?" Melihat naga biru dan Hitam yang melayang di belakang Zhang En lelaki tua itu tercengang. Zhang En sebaliknya merasa lebih terkejut, dia tidak mengetahui selama ini kalaudia memiliki semangat roh beladiri. Untuk saat ini, Zhang En hanya diam saja tanpa banyak bicara.
Beberapa saat kemudian, pria tua itu pulih dari kejanggalannya, menanyakan pertanyaan ketiga, “Pertanyaan ketiga, jika, di masa depan, jika suatu hari kau sudah mencapai tingakat kultivasi tertinggi di alam ini dan juga menjadi penguasa alam ini, ketika kalian orang yang berasal dari Kekaisaran luar kerajaan Bintang Selatan dan Kerajaan Bintang Selatan yang berpegang Teguh pada Taoisme dan ajaran Buddha sedang berkonflik, apa yang akan kau lakukan? "
Penguasa Alam ini? Zhang En mengerutkan kening. Jika suatu hari dia bisa mencapai ketinggian. Mendalami pertanyaan tersebut, Zhang En Menjawab, “Jika suatu hari aku benar-benar menjadi Penguasa Alam ini, jika ada konflik antara Kekaisaran dan juga orang luar dari Kerajaan Bintang Selatan, aku tidak akan menerima inisiatif untuk menyatakan perang di Pada Kerajaan ini kecuali jika Kerajaan Bintang Selatan adalah yang pertama melancarkan serangan kepadaku!"
Orang tua itu mengangguk, "Bagus, kuharap jika ada hari seperti itu, kamu masih ingat kata-kata yang kau ucapkan hari ini." Ketika kata-kata itu berakhir, siluet lelaki tua itu meredup, menghilang ke udara tipis.
Menyaksikan tempat orang tua itu menghilang, Zhang En berkedip sejenak. Hal yang paling penting terlintas di benaknya kemudian, “Kau belum memberitahuku di mana Gunung Dewa! Juga nama Senior?! ”
“Gunung Dewa tepat di depanmu. Mengenai diriku, itu tidak penting, kita akan bertemu lagi.” Sebuah suara melayang dari kehampaan, halus seolah-olah dipisahkan oleh lapisan dimensi.
Pria Tua itu juga menyampaikan beberap informasi mengenai Gunung Dewa.
Tapi, ketika kakinya mendekati perahu kecil itu, kapal itu bersinar dengan cahaya yang sangat terang dan mengeluarkan tanda misterius dari tubuhnya. Kekuatan spiritual yang melimpah membumbung ke langit.
"Ini adalah…?!" Zhang En khawatir.
Sebelumnya, ketika orang tua itu sedang duduk di perahu, perahu itu terlihat hambar dan biasa saja, seperti perahu kecil pada umumnya. Oleh karena itu, dia tidak memperhatikannya, tetapi tampaknya, perahu kecil ini adalah harta karun.
Seolah merasakan pikiran Pemuda itu, cahaya perahu kecil itu berkilauan sebagai jawaban. Dalam sekejap mata, ukurannya menyusut sampai seukuran telapak tangan orang dewasa dan melayang di depan Zhang En.
Melihat perahu kecil itu memiliki kesadaran spiritual seperti itu, Zhang En tertawa, “Anak kecil, kamu telah tinggal di sini di Laut Penderitaan selama beberapa ribu tahun bukan? Apakah kamu ingin pergi dari sini bersamaku?”
Perahu kecil itu melayang naik turun bergerak tidak karuan.
__ADS_1
Zhang En terkekeh, mengulurkan telapak tangannya. Perahu kecil itu terbang ke depan, mendarat di telapak tangannya. Dia sangat tertarik pada perahu kecil itu. Dengan jentikan salah satu jarinya, setetes darah melayang keluar dari jarinya dan jatuh ke atas perahu kecil itu. Seketika, ikatan darah terbentuk di antara mereka.
Meskipun dia yakin bahwa perahu kecil ini adalah harta karun yang luar biasa, tugasnya yang paling mendesak saat ini adalah sampai ke Gunung Dewa. Dia hanya bisa menunggu waktu untuk mempelajari perahu kecil itu.
Setelah berurusan dengan perahu kecil itu, dia melompat ke udara, dan dengan kepakan sayapnya, dia terbang langsung ke gunung emas yang terletak di tengah laut emas.
Menurut informasi yang diberikan oleh Pria Tua itu, ada formasi kuno suci pada intinya. Hanya dengan menempatkan formasi kuno yang suci ini di intinya, dia dapat memperbaiki serta mengendalikan Harta Karun Surgawi yang ada di Gunung Dewa
Gunung Dewa tidak tampak besar, namun Zhang En membutuhkan setengah jam terbang untuk mengelilingi seluruh daerah itu. Gunung Dewa terlihat tidak berbeda dari gunung kecil biasa lainnya. Selain itu, lebih terlihat seperti bukit yang tandus, tidak ada pohon, tidak ada sungai atau danau, hanya ada bebatuan dan bebatuan dimana-mana.
Setelah membuat lingkaran penuh di sekitarnya, Zhang En memilih untuk berhenti di puncak tertinggi. Dia melepaskan Aura spiritualnya untuk mencoba memahami situasi di bawah Gunung Dewa ketika gelombang kekuatan isap tiba-tiba datang dari bawah tanah. Kemudian Pemandangan Zhang En menjadi kabur, dan dia muncul di sebuah kuil yang memiliki aula yang besar.
Sebuah formasi kuno yang besar diukir di tengah aula itu, dengan lukisan Buddha terlihat disana sebagai pusatnya. Lukisan itu menggambarkan sepuluh Buddha yang memancarkan Energi kuno dan terlihat rusak.
Zhang En lalu melompat ke arah kursi tahta di depan aula kuil dan duduk disana. Dia mengedarkan Qi dari dalam tubuhnya dan mulai memperbaiki formasi itu.
Saat dia mulai memperbaikinya, formasi itu berkilauan tanpa henti.
Satu hari pun berlalu.
Cahaya yang berkilauan menjadi semakin kuat, membumbung ke langit seperti sinar dan diameternya mengembang, menutupi seluruh Gunung Dewa dari luar. Pada saat itu, para Buddha yang ada di lukisan itu melesat, memenuhi atmosfer dengan energi Buddhisme.
Saat dia menyempurnakan formasi inti itu, tubuhnya dipenuhi energi pemurnian pengudusan Cahaya Buddha membuat Zhang En merasa sangat nyaman.
Tidak lama setelah itu, Cahaya yang berasal dari formasi itu perlahan meredup dan semakin mengecil.
Jangan lupa like, vote dan koment. See you next chapter!
__ADS_1