
Saat itu juga, terdengar suara keras bergema dan tekanan kuat menekan mereka semua sehingga membuat mereka sulit untuk bernapas.
Tiga sosok mendekat dari kejauhan. Awalnya ada tiga titik hitam, setelah mereka sampai tiga sosok itu adalah tetua agung dan 2 tetua sekte datang bersamanya.
Tetua agung awalnya berkultivasi ditempatnya dan meskipun dia telah memperhatikan kejadian ini sebelumnya, dia membiarkannya. Perkelahian fisik antar murid itu normal, tetapi pada akhirnya, situasinya menjadi terlalu intens. Bukan hanya dia, dua tetua lainnya juga kaget.
Semua murid yang ada di tempat itu merasa sulit bernapas karena tekanan dan tidak bisa lagi bergerak. Energi pedang Zhang En juga menghilang. Hanya Zin Bai yang masih tenang. Dia memandang ketiga Tetua dan kemudian pada Zhang En dengan senyum sombong. Dia senang tidak melanjutkan pertarungan menghadapi Zhang En.
Dua orang tetua yang ada di belakang Tetua agung tidak banyak berbicara. Mereka melambaikan lengan baju mereka dan membawa murid-murid yang terluka parah itu untuk pulih. Mereka meninggalkan Tetua Agung sekte untuk tinggal.
Tetua agung melihat situasi saat ini dan janggutnya bergetar. Setelah sekian lama mengamati mereka semua, dia perlahan berkata, “Kalian semua menjadi begitu susah diatur. Apakah menurut kalian ini adalah rumah kalian sendiri dan dapat melakukan sesuka hati kalian? Jika aku tidak memberi kalian semua pelajaran sekarang, kalain tidak akan pernah belajar. Orang yang memimpin kelompok kejadian ini akan diberi hukuman di daerah terlarang sekte selama satu tahun kurungan."
Setelah mendengar kata-kata tetua agung, kerumunan itu memandang ke arahnya dengan kaget. Setelah mendengar bahwa para pemimpin dari setial kelompok akan dikurung, ekspresi semua orang berubah.
Meskipun mereka tidak tahu seperti apa kurungan itu, mereka merasa hal itu tidak bisa menjadi hal yang baik. Saat ini, semua murid-murid tiba-tiba terdiam.
Semua murid tidak bisa tidak melihat ke arah Zhang En, Shu Fai, Zin Mo dan Zin Bai. Kemudian mereka melihat ke arah tetua agung yang marah. Mereka bernapas dengan pelan karena takut menarik perhatian tetua agung.
Zhang En tidak mengungkapkan emosi di wajahnya dan suaranya rendah hati. Dia memandang Tetua agung dan perlahan berkata, “Tetua Agung, masalah hari ini dimulai karena aku dan tidak ada hubungannya dengan mereka. Biarkan aku mendapat hukuman."
Ketika Zhang En berbicara, tidak hanya semua murid melihat ke arahnya, bahkan Tetua agung yang marah pun terkejut. Ekspresinya kembali menjadi serius dan dia dengan tegas berkata, "Baiklah, kamu akan dikurung dan dikirim ke tempat terlarang sekte selama setahun. Adapun yang lain, saya tidak ingin mengatakan lebih banyak. Di masa depan, kamu lebih baik mempelajari seni pedangmu dengan benar. Jika kau membuat masalah kedepannya. Kemungkinan kau akan diberi hukuman yang lebih berat, tidak akan ada belas kasihan. Zhang En akan ditahan selama satu tahun."
__ADS_1
Tetua agung melambaikan lengan bajunya dan meraih baju Zhang En. Keduanya lalu berdiri di atas pedang terbang dan pedang itu terbang ke awan. Setelah itu mereka menghilang dari pandangan semua orang.
Melihat Zhang En dan Tetua agung menghilang ke langit, semua orang dapat bernapas lega karena tekanannya telah hilang dan suasana sekitarnya menjadi normal kembali.
Hari ini, Zhang En telah menggunakan kepribadian yang patuh dicontoh dan kekuatannya untuk memenangkan rasa hormat dari semua orang di sini. Bahkan murid yang bangga dengan ketenaran dan kesombongan dari keluarga bangsawan pun merasakan hal yang sama.
•••
Selama diperjalanan, ekspresi Zhang En terus berubah, bagaimana mungkin Tetua agung, yang sangat bijaksana dan berpengalaman, tidak dapat memahami apa yang dia pikirkan? Dia mengungkapkan senyum lembut dan mengelus jenggotnya.
“Zhang En, jangan khawatir. Sekte kita ini bukan untuk menghukummu, jangan anggap itu hukumanmu tempat yang buruk. Manfaatkan tahun ini dan kembangkan dengan baik. Kemudian aku akan mengatur agar kau pergi ke gedung permintaan misi untuk menyelesaikan misi guna mendapatkan pengalaman tempur yang sebenarnya. Di tahun ini, kau harus mengembangkan seni pedangmu terlebih dahulu."
Mereka terbang sedikit lama dan sesaat setelah itu, mereka berputar 180 derajat. Kemudian perlahan-lahan turun dan kemudian berputar di sekitar tebing sebelum berhenti di tengah jalan menuruni tebing.
Tidak heran tempat ini digunakan untuk mengurung murid-murid yang sedang dihukum. Tetua agung terkekeh dan tersenyum. "Kau bisa tenang dan berkultivasi di sini selama setahun. Makanan akan dikirimkan kepadamu. Jangan meremehkan tempat ini, banyak orang yang sekarang sudah terkenal pernah dikirim ke sini. Mereka menenangkan diri mereka sendiri dan membuang semua gangguan, memungkinkan kultivasi mereka berkembang pesat. Ini adalah kesempatanmu. ”
Setelah Tetua agung selesai berbicara, pedang terbang miliknya perlahan terbang menjauh dan menghilang dari tebing meninggalkan Zhang En di sana sendirian.
Zhang En diam-diam mengamati tempat ini dan tersenyum sendiri. Disitu sudah ada tempat tidur yang terbuat dari batu sederhana dan meja batu ada disana.
Kemudian dia melihat pemandangan di luar dan suasana hatinya entah kenapa menjadi lebih baik. Suara air terjun mengalir ke telinganya. Dia bisa melihat pemandangan di luar sekilas dan dia melihat pegunungan hijau yang indah dari atas. Zhang En merasa pikirannya sekarang menjadi lebih jernih.
__ADS_1
•••
Waktu perlahan berlalu dan selama itu juga Zhang En terus berkultivasi dan berlatih ditempat itu.
Waktu mengalir seperti air, hari berganti hari bulan berganti bulan.
Gemercik aliran air terjun bergema, pemuda berjubah merah sedang mengayunkan pedang kayu yang tampak biasa di tangannya.
Cahaya pedang terbang di udara. Terkadang seperti mimpi atau ilusi, gerakannya terkadang keras dan kadang lembut. Pergerakan pedangnya sangat halus.
Suara air terjun semakin lama semakin jernih di telinganya. Mata pemuda itu menjadi jelas, dan dia benar-benar tenggelam dalam niat pedangnya sendiri dan bermeditasi.
Tiba-tiba mata yang tertutup terbuka dan auranya berubah. Energi pedang yang terlihat biasa saja seperti aliran kecil yang tiba-tiba menjadi ganas.
Tangannya terangkat dan pedang itu jatuh. Kemudian sinar energi pedang yang menyilaukan terbang dari tebing dengan sendirinya mengarah pohon yang ada diluar tebing.
Blarrr!
Mata Zhang En dipenuhi dengan semangat saat energi pedang itu terbang ke depan.
gemuruh menggelegar bergema dan celah selebar beberapa meter muncul melubangi pohon yang ada di luar tebing.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote jika berkenan. Terimakasih!