Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 528 - Adik Kecil Yang Kuat


__ADS_3

Pada saat ini, beberapa tetua itu memperhatikan kehadiran Zhang En dan terbang ke arahnya.


Zhang En merenung sejenak, memutuskan untuk tidak menggunakan kekuatan api barunya. Sebagai gantinya, dia mengeluarkan pedang kayu yang diberikan Lin Ming padanya.


'Kalau aku menggunakan kekuatan Ancient God Flame kepada mereka, itu akan terlalu menakutkan dan membunuh mereka tanap mayat yang utuh, tubuh mereka masih berguna untuk Duniaku.!' Zhang En memutuskan.


Pedang kayu di tangan Zhang En bergetar dan terayun, bahkan sebelum para tetua yang terbang menuju ke arahnya mengucapkan satu kata. Beberapa cahaya pedang melesat, menembus setiap dada mereka.


FWOOOSHHHH!!!


Kelompok tetua itu menegang di udara. Mata mereka sedikit terkejut ketika mereka melihat tubuh mereka sendiri, lalu jatuh dari udara tinggi.


Situasi itu segera menarik perhatian tetua lainnya. Raungan amarah bergema saat melihat rekan mereka di bawah datang dari beberapa arah yang berbeda saat mereka melemparkan serangan ke arah Zhang En.


SWOSHHHH!!! SWOSHHHH!!! SWOSHHH!!


Zhang En lalu bergerak, siluetnya berkedip-kedip di udara dan menjadi kabur saat dia bergerak.


Dengan setiap gerakannya, pedang kayu di tangannya akan membawa hujan darah, disertai dengan ratapan tragis yang naik dan turun seperti ombak.


Beberapa saat kemudian, laut di bawahnya diwarnai darah. Jeritan para tetua itu lalu berhenti, meninggalkan keheningan yang menakutkan di udara dingin. Meninggalkan satu tetua yang masih hidup.


Zhang En lalu memindahkan mayat mereka semua ke dalam cincin soasialnya. tidak setiap orang dari Istana Api. Dengan satu orang tetua yang masih dalam keadaan hidup itu, Zhang En menjelajahi jiwanya untuk mendapatkan informasi.


Tujuan Zhang En selanjutnya lokasi dimana Istana Api berada dan memusnahkan mereka semua seperti Klan Ye untuk menghindari masalah di masa depan.


Tidak lama setelah Zhang En selesai menjelajahi jiwa tetua itu, dia berkata, "Kau bisa mati sekarang!"


Srettt!!!!

__ADS_1


Kepala tetua itu terlepas dari tubuhnya dan mati seketika. Kemudian Zhang En menyimpan tubuh tanpa kepalanya ke dalam cincin spasialnya.


Zhang En kemudian terbang ke arah lokasi dimana Istana Api berada, yang terletak tidak jauh dari wilayah luar selatan laut es.


....


Ketika Zhang En tiba di Istana Api, Pemimpin Istana Api sedang sibuk menangani empat pelayan wanitanya.


Dia sedang dalam mode bertarung di atas ranjang disalah satu kamar, satu lawan empat.


Erangan dan ******* semakin keras terdengar dari kamar itu.


"Sepertinya adik kecil penguasa Istana Api ini sangat kuat sehingga membutuhkan empat wanita yang melayaninya, hemmphhh!!!" Ucap Zhang En.


"Ha ha haa.! Tawa Long Xioba terdengar di dalam benak Zhang En.


Zhang En tidak berminat untuk menunggu sampai Penguasa Istana Api ini selesai bertempur di atas ranjang. Dia lalu muncul didalam kamar itu.


SWOSHHH!!!


"SIAPA...?!" 


Begitu Pedang Zhang En melesat, Pemimpin Istana Api segera merasakan bahaya. Teriakannya bergemuruh seperti guntur yang marah Itu adalah teknik serangan suara.


Pada saat yang sama, pria itu terbang dari atas ranjang.


Tetapi, teknik itu itu mungkin berdampak pada orang lain, tetapi itu sama sekali tidak efektif pada Zhang En. Saat pria itu hendak mengambil pakaiannya, tebasan pedang Zhang En telah menembus Dantian pria itu dan tembus sampai ke bagian belakang punggungnya.


Zhang En lalu menarik pedang kayunya kembali saat teriakan menyedihkan pria itu terdengar dan jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Arghhh!"


Keempat wanita menjerit panik. Terlepas dari tubuh telanjang mereka, mereka berlari secepat mungkin menuju pintu.


Tanpa melihat ke belakang, Zhang En membuat tebasan lainnya dan keempat wanita itu roboh dan tubuh mereka jatuh ke lantai dan langsung meregang nyawa.


"Kau siapa?" Dengan wajah pucat maut, pria paruh baya yang tidak lain adalah Penguasa Istana Api bertanya dengan gigi terkatup, namun seluruh tubuh dan tatapan matanya mencerminkan ketakutan, "Bolehkah aku bertanya, bagaimana Istana Api milikku menyinggungmu?"


Zhang En lalu menjawab, "Bukankah kau telah memerintahkan orang-orangmu untuk menangkapku?"


Wajah pria itu menegang dan menjawab, "Ternyata pelaku pembunuh putraku serta pengawalnya adalah kau?!"


Zhang En tidak melanjutkan pembicaraan. Dia mengangkat kembali pedang kayunya dan menikam bagian tengah alis pria itu , dan energi api mengalir di pada pedang kayunyam


Pria paruh baya itu berada di ranah Alam Dewa Leluhur Bintang Tiga tahap awal, mati seketika tanpa perlawanan di ujung pedang kayu Zhang En.


Zhang En lalu melemparkan mayat pria itu serta tubuh keempat wanita ke dalam cincin spasialnya dan berjalan keluar dalam kamar itu menuju aula.


Ketika Zhang En melangkah di aula itu, sekelompok besar tetua Istana Api bergegas ke arahnya dari setiap sudut aula, dan mengelilinginya.


Dari para kelompok tetua ini, seorang wanita berdada montok yang mengenakan jubah warna-warni melangkah maju. Bahkan tanpa bertanya, Zhang En tahu bahwa wanita ini adalah Istri pria pemguasa Istana Api.


Zhang En mengakui bahwa belahan dada wanita ini sangat mencengangkan, yang bergoyang dan melenting saat melangkah. Zhang En tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat sekilas ke gundukan kedua gunung besarnya.


"Ada masalah apa sehingga kau memasuki istana kami? Dimana suamiku?” Wanita itu lalu mengarahkan beberapa pertanyaan kepada Zhang En. Wanita ini tidak tahu bahwa suaminya baru saja meninggal di tangan Zhang En saat sedang bertempur di atas ranjang salah satu kamar.


Zhang En tidak menjawab sambil melihat sekilas orang-orang yang mengelilinginya.


"Humph!"

__ADS_1


Zhang En lalu terbang, lalu tubuhya berputar menjadi badai topan raksasa.


SWOSHHHHH!!! Dalam sekejap mata, topan itu menutupi seluruh Istana Api mereka.


__ADS_2