Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 570 - Menahan Serangan Nuyan Tian


__ADS_3

Melihat perubahan pada Nuyan Tian, ekspresi Zhang En berubah sedikit serius. Dia tidak akan meremehkan lawan seperti ini, namun, dia memutuskan untuk tidak menggunakan Ancient God Flame miliknya. Dia lalu menggunakan teknik tranformasi Naganya dan selanjutnya mendorong Qi Naga Iblis yang dingin ke dalam tubuhnya hingga batasnya.


SWOSHHH!!! SWOSHHH!! SWOSHHHH!!


Saat Qi Naga Iblis yang dingin melonjak keluar dari tubuh Zhang En, cahaya merah juga bersinar di antara untaian energi hitam Qi Naga Iblosnya, berkelok-kelok di sekelilingnya, membentuk penghalang Bentuk Naga Iblis Hitam kemerahan.


Penghalang Naga Iblis Zhang En dan lautan api Nuyan Tian membuat gambar kontras yang jelas dalam bentuk masing-masing.


Setengah dari belahan bumi berwarna hitam, setengah lainnya berwarna merah.


Satu sisi energi kegelapan, satu sisi energi api menyala.


Para Tetua Klan Burung Phoenix menyaksikan dengan takjub pemandangan ini, mereka merasa sulit untuk percaya bahwa lautan api phoenix milik Patriark mereka tidak dapat melahap Penghalang Naga Iblis milik Zhang En.


Kedua belah pihak terus menarik energi masing-masing, bentrok dan bertabrakan saling bergemuruh di langit.


BOOOMMMM!!! BOOMMMMM!!!


Ledakan keras akhirnya bergema di udara.


"Ini-I-ini tidak mungkin!" Tetua yang ingin menyerang Zhang En sebelumnya bergumam pada dirinya sendiri, menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa menerima apa yang terjadi di depannya.


Butuh bagi mereka semua bekerja sama untuk membentuk Penghalang Api yang hampir tidak bisa melawan laitan Api Patriark mereka. Tapi bocah manusia ini berhasil melakukan itu sendirian.


Tepat pada saat ini, Nuyan Tian akhirnya bergerak.


“Serangan Tapak Phoenix Langit!” Suara megah Nuyan Tian bergema di seluruh wilayah puncak Gunung Berapi itu saat dua telapak tangan raksasa membelah ruang hampa.


Setiap telapak tangan raksasa itu dibungkus dengan api dalam bentuk bayangan raksasa burung phoenix.

__ADS_1


Satu serangan telapak tangan ini setara dengan serangan dari sembilan ahli.


WUUSSHHHH!!!


Di mana pun bayangan telapak tangan raksasa itu lewat, seluruh ruang hampa hancur, dan kehidupan disekitar area itu menguap menjadi kabut putih. Bahkan pohon-pohon di bawah, rumput, dan bunga-bunga semuanya terbakar menjadi abu karena panas api dari serangan telapak tangan itu.


Dalam sekejap mata, serangan telapak tangan itu telah tiba dalam jarak seratus meter dari tempat Zhang En berada.


Kilatan tajam muncul di mata Zhang En. Di hadapan para Tetua Klan Nuyan Tian dan wajah-wajah terperangah dari sekelompok binatang iblis dari jauh, seribu bayangan telapak tangan juga terbentang dari punggungnya.


WUSHHHH!!!


Seribu bayangan telapak tangan Buddha bergabung dengan serangan Naga Iblis saat muncul di belakang Zhang En dan bergetar pada saat yang sama, meluncur sekaligus ke arah serangan telapak tangan Nuyan Tian yang melesat kearahnya.


RUMBLAAA!!


Serangan Zhang En membuat lingkungan semakin tegang. Bahkan langit dan bumi seakan bergetar, seolah-olah serangan ini dapat menghancurkan seluruh dunia.


Dalam beberapa helaan napas, serangan telapak tangan Zhang En akhirnya bertabrakan dengan telapak tangan api Nuyan Tian.


BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!! BOOMMM!! BOOOMMMM!!! BOOOMMMM!!! BOOOMMM!!!


Ledakan gemuruh bergema dari langit. Semakin banyak retakan ruang spasial juga muncul saat detik-detik berlalu, beberapa pusaran energi yang bertabrakan menyebar. Api berserakan seperti hujan panah, dan bayangan Naga Iblis yang tak terhitung jumlahnya melolong marah.


GROAAAARRHHHHHH!!!!


Dipengaruhi oleh gelombang kejut dari tabrakan serangan telapak tangan mereka, Semua Tetua dari Klan Burung Phoenix dan kelompok binatang iblis yang dijinakkan Zhang En mundur lebih jauh.


Ledakan dan ledakan yang menggema di langit berlanjut untuk waktu yang lama.

__ADS_1


KRAKKKK!!!


Akhirnya, retakan spasial di sekitar berangsur-angsur tertutup, gelombang kejut dan angin yang keras mereda, api phoenix Nuyan Tian juga menyebar, dan Energi hitam Naga Iblis juga tersebar kemana-mana.


Semua tetua dari pihak Nuyan Tian dan kelompok binatang iblis yang telah menjauh dengan cepat melihat ke arah lokasi pertempuran, kedua belah pihak yang saling berhadapan di atas langit masih berdiri di udara. Namun, jubah Zhang En telah hilang, memperlihatkan kulitnya yang berotot dan memar. Cetakan dari kepala naga iblis hitam seperti tato di punggungnya, memancarkan kekuatan Raja Naga Iblis yang agung. Rambut panjangnya juga berkibar di udara yang tak berangin.


"B-bocah manusia itu, dia menahan serangan patriark kita?!" Salah satu tetua itu menatap Zhang En dengan tak percaya dari kejauhan.


Sedangkan Nuyan Tian, dia sekarang sedikit linglung menatap Zhang En. Bahkan, Dalam serangannya barusan, dia telah menggunakan pemahaman kekuatan Hukum Dewanya. Tetapi, bocah manusia ini masih bisa menahan serangannya.


Berbagai ekspresi berkedip melewati wajah Nuyan Tian, sepanjang waktu tatapannya tertuju pada Zhang En. Akhirnya, dia perlahan berbicara, "Sesuai perjanjian, kau boleh memasuki Gunung Berapi kami, tapi hanya kau seorang, tidak dengan binatang iblis kotor itu.!"


Zhang En mengangguk dan kembali mengenakan jubah baru yang dia keluarkan dari cincin spasialnya sebelum menginstruksikan Singa Api dan binatang iblis lainnya untuk menunggu di tempat itu sementara dia masuk sendirian ke dalam gunung.


Sebelum tatapan rumit Nuyan Tian dan bawahanya, Zhang En telah terbang melesat menuju Gunung Berapi milik Klan Nuyan Tian.


"Patriark, apakah kita akan membiarkan dia memasuki Gunung Berapi kita begitu saja?" Salah satu Tetua sedikit ragu sebelum angkat bicara.


Gunung Berapi mereka adalah tanah suci klan mereka. Nenek moyang klan mereka telah menetapkan aturan ketat bahwa hanya anggota langsung dari Klan Burung Phoenix yang diizinkan masuk kesana.


Nuyan Tian mengerutkan kening dengan pertanyaan tetua itu. Dia tahu tentang aturan itu. Tetapi karena dia telah memberikan kata-katanya bahwa jika Zhang En dapat menahan satu serangannya, dia akan membiarkan Zhang En memasuki Gunung Berapi mereka..


“Benar, kita tidak bisa membiarkan bocah manusia itu masuk ke Gunung Klan kita! Patriark, ayo kita bunuh bocah itu sekarang juga!” Salah satu tetua lainnya menyuarakan pendapatnya.


Ketika Nuyan Tian mendengar itu, dia melihat ke arah tetua itu dengan tatapan dingin, “Pergi habisi bocah manusia itu kalau kau mampu dengan kekuatanmu sendiri?”


Tetua itu lalu mengempis, tampak malu dan tidak bisa membalas perkataan Nuyan Tian. Hanya pada saat ini dia ingat, meskipun bocah manusia itu hanyalah Alam Dewa Surgawi tahap menengah, dia baru saja bertahan dari Teknik Serangan Telapak Tangan terkuat Patriark mereka. Menghabisi Zhang En dengan tingkat kekuatannya saat ino, dia sendiri mungkin tidak akan bertahan cukup lama bahkan untuk melayani Zhang En dalam duel.


Tetua lainnya juga hanya bisa menelan kata-kata mereka dengan wajah sedih setelah memikirkan kekuatan Zhang En yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri saat berhadapan dengan Patriak mereka, ahli nomor satu selain leluhur klan mereka.

__ADS_1


__ADS_2