
Namun, beda dengan tampilan wakahnya yang marah dan depresi yang sedang dia rasakan, Fu Jiang sebenarnya masih terlihat sangat tenang.
Dia tidak percaya bahwa Zhang En bisa mempertahankan serangannya. Dia sedang menunggu, menunggu Zhang En menghabiskan energinya semdiri, karena saat itulah Zhang En akan berhenti menyerang.
Serangan hebat Zhang En berlangsung selama lebih dari ratusan gerakan ketika tiba-tiba berhenti. Semua bayangannya menghilang, memperlihatkan tubuh aslinya, berdiri diam hanya sepuluh meter dari Fu Jiang.
Kegembiraan membanjiri wajah Fu Jiang dan sinar tajam bersinar di pupil matanya. Seperti yang dia duga, Zhang En akhirnya kelelahan karena terus menerus menyerangnya.
Ketika dia hendak menyerang, sebuah pantulan cahaya melintas di tangan Zhang En, memperlihatkan pedang kayu. Pedang kayu yang terlihat biasa saja.
Namun, getaran kecil dari pedang kayu mengirimkan hujan cahaya pedang, menusuk ke arahnya. Bahkan sebelum cahaya pedang tiba, Fu Jiang sudah merasakan bahaya dan firasat yang kuat, membuatnya cukup takut lalu melompat mundur untuk menghindar.
Lampu pedang yang tak terhitung jumlahnya jatuh di tempat yang baru saja dia tinggalkan, permukaan lantai yang keras dihancurkan menjadi debu oleh serangan cahaya pedang Zhang En.
Keringat dingin membasahi tubuh Fu Jiang. Meskipun dia berhasil melarikan diri dari cahaya pedang tepat pada waktunya, ketika energi pedang yang tersisa yang menyebar ke sekitarnya mengenai dadanya, dia benar-benar merasa seolah-olah kulitnya disayat.
Pertahanan Tubuh Buddhanya, jika diserang artefak ilahi hampir tidak bisa meninggalkan goresan di kulitnya. Tapi kali ini berbeda.
Dalam keadaan ini, semua pikiran ini melintas di benaknya, kilatan cahaya menyilaukan lainnya menarik perhatiannya. Dia berbalik untuk melihat, dia melihat pedang kayu yang sama datang ke arahnya, bersiul menembus angin dengan cahaya pedang yang berkilauan.
Swooosshhh!
Fu Jiang memutar tubuhnya lagi untuk menghindar.
Zhang En menyaksikan Fu Jiang dengan tatapan dingin, berdiri di tempat yang sama, mengendalikan pedang kayunya untuk menyerang dari kejauhan.
__ADS_1
Pedang kayu ini diberikan kepadanya oleh Lin Ming ketika dia mengangkat Zhang En sebagai muridnya, Pedang Kayu, yang ditempa dari pohon suci kuno.
Zhang En sebelumnya telah bereksperimen menggunakan Pedang Kayu ini, dan dia dapat dengan mudah mengiris besi halus yang terbuat dari artefak ilahi..
Setelah menembus keranah Kaisar Dewa, Qi sejati dalam dantian Zhang En telah berevolusi menjadi Qi Dewa, yang mampu mengendalikan pedang untuk menyerang dari jarak seribu meter. Selain itu, kekuatan serangannya lebih besar dari Tubuh Naga Dewa miliknya.
Selain itu, mengendalikan pedang melalui Qi-nya memungkinkan dia untuk mengubah arah serangan pedang kapan saja, sehingga menyulitkan musuh untuk bertahan.
Ini adalah salah satu kartu truf terbesar Zhang En, dan juga alasan mengapa dia memiliki kepercayaan diri untuk melawan Fu Jiang.
Murid-murid di sekitar aula benar-benar tercengang pada pemandangan di depan mata mereka melihat Zhang En mengendalikan pedang kayu, memaksa Fu Jiang menghindar dengan wajah canggung.
Bahkan tetua yang bertugas memberikan misi di Aula Seni Beladiri terperangah, metode mengendalikan pedang dengan Qi oleh Zhang En adalah sesuatu yang belum pernah mereka lihat atau dengar sebelumnya.
Setelah lebih dari selusin tusukan dan tebasan, cahaya pedang kayu Zhang En menghilang. Pedang kayu itu lalu terbang kembali ke arah Zhang En, melayang di atas kepalanya.
Zhang En melontarkan tatapan mengejek menatap Fu Jiang saat dia berkata, “Mematahkan kedua tanganku? Tampaknya saat ini kau tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. ”
Waja Fu Jiang memasang ekspresi dingin yang sangat cocok dengan sorot matanya, "Zhang En, kau pikir kau sudah menang?" Meskipun dia dipaksa menjadi orang yang malu karena serangan pedang Zhang En, dari awal hingga akhir, dia tidak terluka sama sekali.
Selain itu, hanya Zhang En yang menyerang sepanjang waktu. Dia bahkan tidak menunjukkan sebagian kecil dari kekuatannya. Para Tetua di aula bisa melihatnya, dan Zhang En juga bisa merasakannya. Jika Fu Jiang ingin mengalahkannya, itu tidak akan mudah.
Wajah Fu Jiang berubah jelek. Pada awalnya, dia penuh percaya diri bahwa dia dapat dengan mudah menekan lawannya, tetapi kekuatan Zhang En melebihi imajinasinya dan secara tak terduga sangat kuat.
Ketika semua orang berpikir bahwa Fu Jiang akan melepaskan kemarahannya pada Zhang En, membalas dengan ganas, dia malah berbicara dengan tenang, “Zhang En, aku akui kalau aku meremehkanmu sebelumnya. Lima tahun kemudian akan menjadi kompetisi murid-murid dalam, pada saat itu, akan akan melawanmu dan akan mengalahkanmu di depan Master Sekte Lin Ming dan semua Tetua Sekte.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi!" Fu Jiang menepis sisi jubahnya, berbalik dan pergi.
Semua orang tercengang di tempat saat mereka melihat siluet Fu Jiang meninggalkan halaman aula. Yuan Feng dan beberapa murid bersamanya kembali sadar dari pikiran mereka beberapa saat kemudian, berlari mengejar Fu Jiang saat mereka mengikutinya tanpa berani menoleh ke arah Zhang En.
Zhang En tidak menyangka Fu Jiang akan pergi begitu saja. Sepertinya Fu Jiang ini berpikir bahwa dia dapat dengan mudah mengalahkannya lima tahun kemudian.
"Dalam waktu beberapa tahun ini, aku mungkin bisa menerobos ranah Dewa Sejati." Zhang En memperkirakan dalam hati. Dalam kompetisi yang akan datang, murid dari Sekte Naga Langit, Ming Zhi, adalah lawan nyata bagi Zhang En.
Mengabaikan tatapan orang lain di sekitarnya, Zhang En berjalan menuju aula samping untuk mengambil pil dan batu roh. Setelah itu, dia meninggalkan Aula Seni Beladiri, dia langsung menuju Portal untuk pergi ke Kota Sekte Roh. Dari sana, dia terbang menuju kediaman Klan Zhang di Kota Wudang
Dilain hal, berita bahwa Rumah Lelang Roh Api akan memberi sepotong batu roh kelas suci untuk dilelang telah menyebar, oleh karena itu, banyak kultivator kuat sudah bergegas ke Benua Awan Laut dari setiap planet diseluruh galaksi.
Kota Roh Api, Kota Wudang, dan kota-kota terdekat lainnya menjadi lebih hidup.
Setelah sampai di Kediaman Klan Zheng, dia memberikan ribuan pil kepada mereka semua untuk disempurnakan. Namun, mengingat efek obat yang sangat kuat, dia menyuruh mereka untuk menggiling pil roh itu menjadi bubuk, baru menyerap sedikit demi sedikit.
...
Saat malam hari, Zhang En berdiri sendirian di halaman di luar kamarnya di kediaman klan dalam perenungan.
"Bagimana tentang turnament murid-murid dalam?" Long Xiaoba berbicara didalam pikirannya, memecah kesunyian.
Zhang En mengangguk, "Fu Jiang itu bukan ancaman bagiku, tapi Ming Zhi dari dari Sekte Naga Langit mungkin bukan lawan yang mudah."
Meski belum pernah melihat orang tersebut, Zhang En merasa bahwa pemuda yang bernama Ming Zhi ini bisa menjadi lawan terberat yang pernah dihadapinya.
__ADS_1