Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch . 540 - Master Kun Yang Marah


__ADS_3

Ketika mereka memasuki Dunia Xin dan tiba di Kota Pil, Master Kun lalu menyeret Zhang En ke Restoran Anggur untuk minuman perayaan. Hingga akhirya, Zhang En tidak bisa berkata-kata dan mengikuti kemauan gurunya.


Seperti biasa, Master Kun menyerahkan tagihan kepada Zhang En untuk pembayaran.


Setelah minum, mengkhawatirkan keselamatan anggota Klannya, Zhang En meninggalkan Dunia Xin dan bergegas kembali ke Dunia asalnya bersama Lie Hue dan kedua Guru mereka.


...


Ketika dia memasuki Dunianya dan tiba di Istana Klan Zhang, sebut saja Tanah Suci yang ada di Dunia ini, dia melihat bahwa semua orang baik-baik saja, dan kekhawatirannya hilang seketika.


Setelah bertemu semua anggota Klannya, Zhang En memilih untuk memasuki pengasingan untuk menyerap Teratai Hitam.


Master Kun dan Master Yi ada untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengganggu pemurnian Teratai Hitam oleh Zhang En dalam pengasingan.


Setelah memasuki Kediamannya sendiri, Zhang En lalu memasuki Pagoda Gunung Dewa Emasnya. Duduk bersila di dalam Pagoda itu, energi hitam melayang di sekitar tubuhnya.


SWUSHHH!!!


Untaian cahaya hitam tipis bersinar dari permukaan kulitnya dan di bawahnya seperti ada danau energi Qi hitam. Dari kejauhan, Zhang En tampak seperti sedang duduk di atas teratai hitam itu sendiri.


...


Hari demi hari berlalu begitu saja. Dalam sekejap mata, satu tahun berlalu.


Bahkan setelah satu tahun, bahkan dengan kedua tubuh uniknya, Zhang En masih belum sepenuhnya menyerap manfaat dari Teratai Hitam itu.

__ADS_1


Pada saat ini, Zhang En masih benar-benar tenggelam di dalam lautan Qi hitam yang tampak seperti bagian neraka hitam dari Alam Iblis. Di dalam neraka hitam ini, cahaya Buddha dan Qi naga Dewanya terus-menerus berkilauan dan kekuatannya tumbuh setiap harinya.


Qi hitam yang menyelimuti Zhang En mulai bergolak dan melonjak hebat, mulai berkumpul, mengebor ke dalam tubuh Zhang En


Dua puluh tahun lagi berlalu dalam pengasingan.


SWOSHHH!!!


Semua Energi Qi hitam itu diserap sepenuhnya oleh Zhang En, menghilang dari udara.


Butuh waktu lama baginya untuk memyerab habis semua energi dan efek obat dari Teratai Hitam itu.


Tapi Zhang En tidak berhenti berkultivasi meskipun dia telah sepenuhnya menyempurnakan Teratai Hitam itu. Di dalam Pagoda, dia menyatu menjadi satu dengan Pagoda Dewa.


Pada awalnya, segala sesuatu di dalam ruang Pagoda Gunung Dewa, muncul dengan jelas di lautan jiwa Zhang En. Setiap helai rumput, setiap kelopak bunga, hingga partikel debu yang sangat kecil. Bahkan, dia bisa melacak lintasan setiap partikel debu, mengalami perubahan di setiap tahap kehidupan dimulai dari bagaimana tunas muncul dari tanah, bagaimana ia berusaha untuk tumbuh kuat dan kokoh menjadi pohon yang menjulang tinggi.


Pada awalnya, dia hanya bisa melihat gerakan dan perubahan dalam radius sepuluh ribu meter, tetapi ini secara bertahap tumbuh lebih besar, mencapai seratus ribu meter, seolah-olah semuanya ada di depannya.


Kekuatan Ancient God Flame dalam tubuhnya mengalir seperti air terjun ke dalam setiap sel di dalam tubuhnya, membuat kekuatan tubuhnya meningkat setiap saat.


...


Tahun berlalu bergitu saja.


Suatu hari, Zhang En membuka matanya, seolah terbangun dari mimpi.

__ADS_1


"Ini…?!" Dia terkejut setelah membuka matanya. Matanya sekarang tampaknya memiliki kemampuan untuk menembus materi padat, dia sebenarnya mampu melihat melewati penghalang Pagoda Gunung Dewa apa yang terjadi di dunia luar.


Dengan Menggunakan indra spiritualnya, Zhang En senang mengetahui bahwa kultivasinya sekarang telah berada di puncak Alam Dewa Leluhur Bintang Tiga.


Jiwanya tidak hanya mencapai kejernihan yang sempurna, tetapi juga mencapai tingkat kemurnian dan kejernihan seperti berlian, memantulkan cahaya putih yang bersinar. Zhang En ingat perkataan Long Xioba yang mengatakan bahwa ketika dia memadatkan Lautan Kesadaran Dewanya, jiwanya telah mencapai keadaan murni dan jernih seperti berlian.


Selain peningkatan jiwa dan kekuatannya, Zhang En sangat merasakan bahwa kekuatan Tubuhnya sekali lagi berevolusi setelah menyempurnakan Teratai Hitam dan ditempa oleh kekuatan Api Dewa Kuno miliknya yang menguat secara signifikan.


"Baiklah, sekarang mengakhiri pengasingan." Beberapa saat kemudian, Zhang En menjadi tenang dan keluar dari dalam Pagoda Dewa emasnya. Beberapa saat kemudian, dia memasuki aula utama.


“Astaga. Bocah sialan, kau akhirnya keluar juga! Tulang lamaku hampir berubah menjadi fosil kuno setelah satu dekade menunggumu keluar dalam pengasingan.” Tepat ketika Zhang En keluar, sebuah bayangan berkedip dari jauh dan Master Kun telah muncul di depannya.


Akan tetapi, di saat berikutnya, Master Kun menatap Zhang En seolah-olah dia sedang melihat monster yang menakutkan, dagu dan janggutnya tampak berkedut secara berlebihan. Pria tua itu menjerit melengking seperti biasanya dan ludahnya juga muncrat ke udara, "Ah.. Bajingan brengsek, kau sudah berada di puncak tahap akhir Alam Dewa Leluhur Bintang Tiga!"


Jeritan melengking Master Kun yang tidak di sengaja membawa semua anggota Klan Zhang mendekat dari asal suara.


“Orang tua, bukankah ini hanya puncak Alam Dewa Leluhur Bintang Tiga? Apakah kau perlu bertindak begitu terkejut sehingga kau menjerit histeris seperti itu?” Zhang En mengangkat alisnya saat berbicara.


Ketika Master Kun mendengar kata-kata Zhang En, orang tua itu melompat seperti kucing yang ekornya diinjak, menunjuk dengan jari gemetar ke arah Zhang En dan berteriak, “Bocah sialan, bencong tak tahu diri, tak pernah mandi, apa yang kau katakan barusan?! Apakah kau tahu berapa lama kau berada di pengasingan? Sudah lima puluh tahun yang singkat, kultivasimu dari tahap awal Alam Dewa Leluhur Bintang Tiga menerobos hingga ketahap puncak! Tetapi kau membenciku karena bertindak seperti orang histerias!”


“Dulu, apakah kau tahu berapa banyak waktu yang aku gunakan untuk melakukan terobosan dari tahap awal ke tahap puncak Alam Dewa Bintang Tiga? Lebih dari dua ratus tahun! Atau apakah kau mencoba mengatakan bahwa aku yang seorang master tampan ini telah hidup dengan sia-sia ?! ”


Suara Master Kun semakin keras saat dia marah, semakin dia berbicara, semakin banyak hujan yang muncrat dari dalam mulutnya.


Gendang telinga Zhang En berdengung kerasa karena suaranya.

__ADS_1


Melihat lelaki tua yang terlalu bersemangat ini, Zhang En berpikir dengan cemberut pada dirinya sendiri bahwa jika ada pohon yang menghasilkan buah di dekat mereka, buah-buahan itu akan jatuh ke tanah tanpa harus memetiknya. Semua buah itu akan jatuh ke tanah karena lompatan kuat lelaki tua itu.


Baru sekarang Zhang En menyadari bahwa dia telah menghabiskan lima puluh tahun dalam pengasingan. Itu juga pertama kalinya dia menghabiskan waktu yang lama di pengasingan sejak dia berkultivasi.


__ADS_2