Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 429 - Kakak Senior Zhang


__ADS_3

Tidak lama setelah kelompok Sekte Naga Langit menghilang dari pandangan semua orang. Lin Ming hanya melihat kepergian mereka dan tidak berniat menghentikan mereka sejak awal. Banyak ahli dari berbagai klan besar yang ada diluar arena hanya bisa menghela nafas dalam hati.


Pada akhirnya, dalam turnament murid dalam Sekte Roh Api kali ini, Zhang En tidak diragukan lagi juara pertama, bertentangan dengan harapan semua orang sebelumnya. Penampilan bakat dan kekuatan Zhang En tidak hanya mengejutkan mereka para tetua tingkat tinggi Sekte Roh Api, tetapi juga mengejutkan seluruh jajaran para kultivator yang ada di Galaksi Bintang.


Semua orang yang datang melihat turnament saat ini percaya bahwa tidak akan lama lagi sebelum seluruh Klan Besar di Galaksi Bintang akan mendengar berita dengan apa yang terjadi hari ini.


Tidak diragukan lagi, Sekte Naga Langit, Sekte Harimau Putih, dan juga Sekte Burung Phoenix yang ada di tiga galaksi akan memperhatikan keberadaan seorang murid bernama Zhang En milik Sekte Roh Api.


Ketika Zhang En pergi untuk menerima hadiahnya, Lin Ming secara pribadi membagikan hadiah itu kepadanya, tanpa henti menepuk pundaknya dan berkata, "Bagus bocah...!"


Penghargaan dan kebahagiaan di mata Lin Ming semuanya menjadi satu saat dia mengatakan hal itu dalam satu kalimat singkat. Murid kecilnya inj sekali lagi memberinya kejutan besar. Pada awalnya, harapan tertingginya terhadap Zhang En adalah hanya bisa menang melawan Fu Jiang, dia hampir tidak berani membayangkan bahwa bahkan Zhang En bisa mengalahkan Ming Zhi hanya dengan tendangan tunggal tepat dibawah.


Pada akhirnya, sebelum semua orang pulang, Lin Ming tertawa saat dia menyemangati Zhang En, mengatakan bahwa Zhang En tidak perlu bersikap sopan saat dia bertemu dengan orang yang mengusiknya dari Sekte Roh Api dan mengijinkan Zhang En untuk meledakkan semua burung kecil mereka juga.


Zhang En sendiri, serta para tetua sekte, berkeringat dingin mendengar perkataan Lin Ming.


Setelah hadiah kepada seluruh pemenang diberikan, para tetua dari setiap Klan dari berbagai Klan Besar dan kecil mengucapkan selamat tinggal, meninggalkan Puncak Arena Pertempuran dengan membawa keheranan yang masih menyelimuti hati mereka.


Sedangkan Lin Ming dalam suasana hati yang sangat baik dan dia memutuskan untuk mengadakan jamuan perayaan di istana kediamannya untuk merayakan kemenangan muridnya, Zhang En. Selama perjamuan, Tetua Agung Xin Bao dan Yu Chen berkali-kali mengangkat cangkir mereka, bersulang untuk Lin Ming dan Zhang En.  Perjamuan mereka berlangsung sampai larut malam sebelum pulang ke kediaman mereka masing-masing.


Zhang En berjalan kembali ke tempat tinggalnya di Puncak Gunung Berkabut. Setelah sampai di kediamannya, Zhang En mengeluarkan Bendera Ilahi Penarik Energi, Kayasa Buddha dan harta kuno lainnya yang dia dapatkan dari Ming Zhi. 

__ADS_1


Energi spiritual yang padat langsung memenuhi setiap sudut halaman tempat tinggalnya bersamaan cahaya Buddha menerangi sekeliling ruangannya. Setiap pori-pori di tubuh Zhang En terbuka seolah-olah dia sedang mandi di dalam kolam spiritual. Perasaan nyaman yang tak terlukiskan menyebar melalui seluruh tubuhnya.


Melihat semua harta milik Ming Zhi yang terbentang di hadapannya, tawa yang tak tertahankan keluar dari tenggorokan Zhang En. Dia tidak menyangka untuk menuai panen yang begitu besar dari kompetisi murid-murid dalam kali ini.


Di masa depan, setelah menggunakan Bendera Ilahi ini, Anggota keluarga Zhang akan dapat meningkatkan kultivasi mereka pada tingkat yang lebih cepat. Zhang En percaya bahwa orang mereka semua akan dapat menerobos segera. Apa lagi dengan bantuan pil roh tingkat dewa yang akan dia berikan kepada mereka, itu akan sangat meningkatkan peluang mereka untuk melangkah ke alam yang lebih tinggi. Mungkin, dalam waktu kurang dari sepuluh 15 tahun, keinginannya bisa terwujud.


"Kali ini, Ming Zhi itu pasti akan muntah darah setelah sadar." Ucap Zhang En tersenyum. 


Sayang sekali meskipun dia tidak bisa membunuh Ming Zhi di tempat. Zhang En sadar bahwa membunuh Ming Zhi di depan umum hampir tidak mungkin. Bagaimanapun, Ming Zhi adalah murid Masrer Sekte Naga Langit dan itu akan memicu perang besar antar kedua sekte karena dia.


Zhang En lalu menyimpan kembali barang-barang di depannya ke dalam cincin spasialnya. Dia memilih untuk tidak berkultivasi saat ini, sebaliknya, dia duduk dalam posisi meditasi di atas tempat tidur sambil menelan Pil Ilahi yang dia ambil dari Peti Harta Dunia Es, dan mengatur pernapasannya.


Kali ini, menjadi pemenang turnament antar murid dalam, ditambah dengan terobosan kultivasinya ke Alam Dewa Sejati Bintang Dua, dia memenuhi syarat untuk dipromosikan menjadi murid elit. Pergi ke Aula Seni Beladiri hanyalah untuk menyelesaikan prosedur formal serta mengumpulkan jubah baru dan token identitas barunya sebagai murid elit.


Memiliki status murid elit Sekte Roh Api, itu akan membawa banyak kemudahan baginya, seperti membeli tempat tinggal pribadi di Kota Roh, maupun memiliki satu puncak gunung kultivasi untuk tempat tinggal di dalam yang ada di area sekte yang akan disediakan.


Pada saat Zhang En tiba di Aula Seni Beladiri, sudah ada banyak murid di sekitarnya, baik murid luar maupun murid dalam.


Melihat sosok Zhang En berjalan masuk, para murid di aula besar menjadi heboh.


"Itu Kakak Senior Zhang En!"

__ADS_1


"Salam Kakak Senior Zhang En!"


Banyak murid luar dan dalam menyambut Zhang En dengan wajah bersemangat. Penghormatan dan pemujaan bisa terlihat bersinar di mata mereka yang cerah..


Zhang En mengangguk saat dia disambut, mengenakan senyum tipis di wajahnya saat dia terus bergerak ke meja aula samping untuk mengambil jubah murid elitnya dan token identitas. Secara kebetulan, ketika dia memasuki aula bagian samping, dia bertemu dengan Fu Jiang, Yuan Feng, dan pengikut mereka.


Ini adalah pertemuan yang tidak disengaja. Sepertinya Fu Jiang juga datang untuk tujuan yang sama, untuk mengambil jubah murid elit dan token identitasnya.


Ketika Fu Jiang, Yuan Feng, dan kelompoknya melihat Zhang En, ekspresi mereka menegang, semua kesombongan yang mereka tunjukkan di masa lalu tidak lagi terlihat. Masing-masing dari mereka secara sukarela menundukkan kepala dan mundur ke samping, memberi jalan kepada Zhang En untuk masuk lebih dulu. Mereka hanya bisa mengutuk keras didalam hati masing-masing, kenapa mereka bisa bertemu disaat seperti ini


Ketika Zhang En melewati sisi Fu Jiang, dia lalu berhenti, menatap Fu Jiang saat dia bertanya, "Apakah lukamu sudah sembuh?"


Otot-otot wajah Fu Jiang berkedut pada pertanyaan Zhang En, bahwa serangan yang Zhang En berikan kemarin sama sekali tidak ringan. Melihat mata Zhang En menatap tepat di wajahnya, rasanya seperti otaknya tersentak dan bola matanya bergeser dari kiri ke kanan, sama sekali tidak bisa membedakan mana utara, selatan, timur, atau barat.


Namun, mengingat adegan kemarin, Fu Jiang tidak marah sama sekali, bahkan tersenyum menyanjung pada Zhang En, "Lukaku sudah sembuh, terima kasih banyak kepada Kakak Senior Zhang karena telah menunjukkan belas kasihannya." Badannya menekuk kebawah dengan sangat rendah sehingga sepertinya ada gunung besar yang diletakkan di punggungnya, dahinya hampir menyentuh lantai.


Zhang En mengangguk, "Baguslah kalau begitu." Perhatiannya kemudian beralih kepada Yuan Feng.


Saat Zhang En melihat Yuan Feng, kakinya sudah gemetar dengan kedua lututnya saling berbenturan. Karena merasa bingung, Yuan Feng lamu berlutut, “Kakak Senior Zhang, tolong lepaskan aku, aku mohon! Amu salah. Aku tidak akan berani lagi, tolong jangan tendang senjata kecilku, tidak, tidak, maksudku, jangan bunuh aku!” Kalimat-kalimat yang tidak jelas membuat bibir pucatnya serta wajahnya yang juga pucat karena ketakutan.


Yuan Feng ini telah sebelumnya mengandalkan Fu Jiang dan sangat arogan. Beberapa saat yang lalu, Zhang En memang ingin membuatnya sedikit menderita, namun, melihatnya seperti ini, Zhang En kehilangan minat untuk melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2