
Setengah jam kemudian, Zhang En pergi, berjalan menuju rak lainnya. Bagaimanapun, Zhang En datang ke Aula Informasi untuk mencari informasi dan bukan mempelajari teknik pertempuran yang membutuhkan waktu untuk memahaminya.
Beberapa murid yang melewati sisi Zhang En memperhatikan perilakunya yang aneh, yang terlihat tidak bergerak saat dia berdiri di samping rak. Itu meningkatkan rasa ingin tahu mereka dan beberapa pandangan lagi.
Kemudian lagi, sebagian besar murid ini mengenali Xen Hu. Jadi, meskipun merasa aneh, tidak ada yang berani mempertanyakan atau mengganggu Zhang En.
Hari berlalu dengan cepat dan malam pun tiba.
Cahaya lembut dari batu cahaya yang diletakkan di dalam aula menerangi setiap sudut ruangan.
Untuk menemukan informasi yang dia butuhkan, Zhang En tidak meninggalkan tempat itu walupun sudah malam, dia terus menelusuri gulungan yang ada di rak buku satu per satu dengan indera roynya sambil menghafal semua informasi yang dia lihat.
Selama empat hari berturut-turut, Zhang En tinggal di dalam Aula Informasi, tidak melangkah keluar dan mengulangi tindakan yang sama, pindah ke rak gulungan buku berikutnya setiap jam.
Perilaku aneh Zhang En ini membangkitkan minat beberapa murid dan pengawas aula. Meskipun ada banyak murid yang tinggal selama lebih dari empat hari di dalam aula, perilaku aneh Zhang En yang berdiri di depan rak setipa satu jam sebelum pindah ke rak gulungan kuno berikutnya, terlihat sangat menonjol dari murid yang lain.
Salah satu murid yang mengawasi aula melaporkan masalah ini kepada Tetua yang bertanggung jawab di lantai pertama.
Tetua itu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Selama bocah itu tidak merusak semua gulungan kuno atau melanggar peraturan aula, biarkan dia melakukan apa yang dia mau."
Meskipun Tetua mengatakan kalimat ini, dia sendiri juga sangat penasaran. Dia tahu kepribadian Xen Hu yang selama ini sangatsombong, angkuh, bernafsu, selalu membuat onar kemanapun dia berada.
Karena merasa kesal, tetua itu mulai diam-diam memantau Zhang En dari jarak jauh.
__ADS_1
Namun, setelah beberapa hari memantau secara rahasia, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, jadi dia menyerah dan meninggalkan Zhang En begitu saja.
Lima hari kemudian.
Pada hari ini, tepat ketika Zhang En akan pindah ke rak gulungan berikutnya, seseorang yang mengenakan jubah tetua mendekati Zhang En dengan wajah tersenyum, "Adik Junior, ternyata kau berada disini!"
Guru Xen Hu, Tetua Lu telah menerima tiga murid, dan Xen Hu adalah yang termuda. Pria paruh baya yang mengenakan jubah tetua ini adalah kakak senior kedua Xen Hu, Jin Wu.
"Kakak kedua, ada apa kau mencariku?" Zhang En bertanya dengan sopan.
Meskipun Jin Wu ini adalah kakak senior Xen Hu, kepribadiannya benar-benar berbeda dari Xen Hu. Terlihat jujur dan sedikit bodoh, itulah sebabnya Zhang En merespons dengan sopan.
Jin Wu melambaikan tangannya, tersenyum, “Bukan aku yang mencarimu. Hanya saja Guru yang ingin bertemu denganmu. Aku sudah datang ke Puncak Guntur Api, tetapi aku tidak dapat menemukan keberadaanmu di sana dan mendengar dari tetua lain bahwa kau ada di sini.”
..
Jin Wu lalu memimpin membawa Zhang En di Aula Penegak Hukum sekte.
Tetua Lu adalah ahli yang memiliki aura pembantaian yang berat, bahkan kediamannya memancarkan haus darah yang kuat.
Zhang En berjalan di belakang Jin Wu saat mereka memasuki aula istana dan melihat Tetua Lu ada di sana menunggu mereka.
Tetua Lu memiliki badan yang kurus dan kecil, tetapi matanya tampak dengan sedikit warna merah darah dan dia terlihat tua dengan lengan berotot tebal dan rambut Putih.
__ADS_1
Ketika Tetua Lu melihatnya masuk, matanya langsung tertuju pada Zhang En.
Tiba-tiba, wajah tegas Tetua Lu melunak menjadi senyuman, “Nak, kau melakukannya dengan baik, aku mendengar bahwa kau telah memotong cacing Gu Shan, dan bahkan mematahkan kedua lengannya. Kerja yang sangat bagus!"
Zhang En merasa lega di dalam hati alasan kenapa Tetua Lu ini ingin bertemu dengannya.
Tetua Lu lalu berbicara lagi, “Tapi kau masih terlalu lunak padanya, lain kali, kau langsung saja hancurkan Dantianya secara total, jangan hanya membuat Dantiannya terluka. Jika terjadi sesuatu, Gurumu ini akan mengurusnya!”
Zhang En tidak bisa berkata-kata atas pernyataan Tetua Lu ini. Dia tidak merasa ragu lagi, kalau Guru Xen Hu ini adalah seseorang yang memikiki karakter yang brutal dan kejam.
Setelah itu, Tetua Lu bertanya tentang muridnya yang menerobos ke Alam Dewa Leluhur Bintang Satu, dan Zhang En mengulangi alasan yang sama yang dia katakan kepada Shinshin dan yang lainnya.
Zhang En kemudian mengeluarkan beberapa botol pil dewa dan beberapa batu roh kelas atas untuk menunjukkan kebaktian Xen Hu kepada Gurunya Tetua Lu, mengklaim bahwa dia mendapatkannya dari gua budidaya Ahli Alam Dewa Kuno yang dia temukan setelah mempelajari warisannya.
"Hahahahaaaa! Murid yang baik" Tetua Lu tertawa bahagia, matanya berbinar saat menerima botol pil dan batu roh itu dari Zhang En. Dia lau menepuk bahu Zhang En, meyakinkan bahwa Zhang En bisa datang mencarinya kapan saja jika ada masalah yang terjadi.
Ketika Zhang En pergi, Tetua Lu menyatakan bahwa Zhang En tidak perlu khawatir tentang kondisi Gu Shan, dan jika Gu Shan masih berani datang untuk membalas dendam, Zhang En dia izinkan untuk langsung melumpuhkannya selagi masih hidup.
Memiliki jaminan dari Tetua Lu ini, Zhang En merasa tenang, setidaknya mengenai masalah yang dia buat kepada Gu Shan.
Keluar dari Kediaman Istana Tetua Lu, Zhang En kembali ke Puncak Guntur Api, lalu memasuki Pagoda Dewanya untuk berkultivasi.
Berkultivasi adalah paling penting dimanapun dia berada. Zhang En bertujuan untuk dapat menerobos ke Alam Dewa Surgawi dalam waktu beberapa dekade lagi sebelum Turnament Pertempuran Surgawi diadakan.
__ADS_1