Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 522 - Kehancuran Klan Ye


__ADS_3

"Tuan Muda, tindakan Zhang En ini tidak bisa ditoleransi!" Salah satu tetua di belakang Li Zhu tidak bisa lagi menahan diri, berbicara dengan marah, "Biarkan aku memberinya pelajaran dan melumpuhkan lengan, kaki, meridian, dan Dantiannya!"


Li Zhu menatap Zhang Endengan aura pembunuh saat dia berbicara, "Zhang En, kau meminta ini jadi jangan salahkan aku!" Dia kemudian mengangguk pada tetua itu.


Setelah menerima perintah Li Zhu, tetua itu mendekati Zhang En dengan sikap arogan, kekejaman bersinar di matanya saat dia menyerang Zhang En dengan kedua tinjunya.


SWOSSSSHHH!!!


Aliran udara dan hukum ruang di sekitar aula menjadi tidak stabil saat tinju tetua itu melesat ke arah Zhang En.


Ye Nong dan semua Tetua Klan Ye lainnya buru-buru mundur ketakutan untuk menjauh.


Tatapan Zhang En menjadi tajam saat serangan tinju tetua tu semakin dekat dan akan mendarat di tubuhnya. 


Pada saat yang bersamaan, Telapak tangan Buddha yang tak terhitung jumlahnya serta bayangan naga muncul dari punggung Zhang En, menghancuran tinju tetua itu dan menyerang balik tanpa ampun.


Sekilas, ilusi telapak tangan Buddha dan naga terbang ke depan sekali lagi, menghancurkan membanting tubuh tetua itu.


DUARRRR


Mirip dengan daun kering yang tersapu angin, tetua iu dikirim terbang keluar dari aula. Tapi serangan Zhang En masih belum berakhir. Empat tetua yang tersisa dan berdiri di belakang Lu Zhu juga dipukul dan dikirim terbang oleh serangan Zhang En.


Ye Nong serta tetua klan Ye terkejut melihat kelima tetua Alam Dewa Leluhur Bintang Tiga dikirim terbang keluar aula.


Li Zhu saat ini merasa benar-benar ketakutan, dia menggelengkan kepalanya dengan keras, “Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin!!”


Zhang En memasang wajah tenang seperti biasa sambil melayangkan beberapa pukulan. Dia bahkan tidak melirik Li Zhu, yang sedang menggelengkan kepala sambil bergumam tidak jelas seperti orang gila, saat tinjunya sudah mendarat langsung di Dantian Li Zhu. Kemudian, pukulan lain menghancurkan semua lengan, kaki, serta meridian Li Zhu.


DUARR!!!


KRAKKK!! KRAKKK!!!


BAMMM!!!

__ADS_1


Tubuh lemas Li Zhu lalu terlempar ke udara, jatuh ke lantai seperti anjing mati, dengan tubuh berkedut dan tersentak-sentak seperti terkena aliran listrik.


Zhang En tidak peduli apakah masih hidup atau tidak, dia lalu berbalik, tatapan dinginnya tertuju pada Ye Nong semua Tetua Klan Ye di dalam aula itu.


Kaki Ye Nong tertekuk, lalu berlutut di depan Zhang En. Dia tidak tahu harus berkata apa, seolah lidahnya mati rasa.


"Zhang, Zhang....!" Untuk pertama kalinya, dia tidak tahu bagaimana memanggil nama Zhang En dengan benar.


WUSHHHH!!!


SRETTTT!


Kilatan logam tajam melintas di tangan Zhang En. Pada saat berikutnya, kepala Ye Nong berguling di lantai dengan mata terbelalak. Ye Mai dan semua tetua lainnya akhirnya bereaksi, melarikan diri ke segala arah.


"Tidak ada di antara kalian yang bisa melarikan diri dari hadaoanku.!" Zhang En mencibir melihat mereka semua yang berusaha melarikan diri. Sebuah Pedang muncul di tangannya dan terangkat ke udara. 


WOSHHHHH!!!


Dalam sekejap mata, mereka semua di bantai tanpa ampun oleh Zhang En.


Zhang En memanggil api sejatinya, perlahan-lahan memadamkan jiwa mereka satu per satu sebelum melemparkan mayat mereka ke dalam cincin spasialnya.


Ketika Zhang En berjalan keluar dari aula itu, para murid Klan Ye yang tak terhitung banyaknya tiba seperti gelombang pasang.


Menghadapi murid-murid Klan Ye ini, Zhang En sekali lagi mengeksekusi teknik badai naganya, membentuk badai topan raksasa. Semua murid Klan Ye di jalur angin topan itu ditarik ke dalam topan yang bergejolak dan berputar mengerikan.


Murid Klan Ye dari jauh yang bergegas menuju aula utama mulai lari ketakutan, namun, mereka masih tersedot ke dalam topan itu.


Pada akhirnya, mereka semua ditelan oleh angin topan raksasa itu dan tidak ada yang berhasil melarikan diri satu orangpun. Mayat mereka semua dikumpulkan dan dimasukkan Zhang En ke dalam cincin spasialnya.


Sekarang, Zhang En telah menghancurkan Klan Ye dan dipastikan tinggal menunggu akhir kehancuran dari tiga kekuatan lainnya yang akan memperebutkan wilayah mereka.


Setelah itu, Zhang En lalu menghilang dari atas kediaman Klan Ye dan tebang ke arah Laut Dewa selatan.

__ADS_1


...


Beberapa jam kemudian, Zhang En mencapai area selatan Dunia Wuyan dan saat ini berdiri di atas lautan es yang memiliki suhu ddingin yang ekstrim.


Saat dia mengamati hamparan lautan es putih yang tampaknya tak berujung, kerutan kecil di alisnya berkerut.


Di atas Laut Dewa, hujan es tipis melayang ke bawah.


Zhang En lalu mengulurkan satu tangan untuk menangkap satu hujan es yang jatuh dan merasakan hujan es itu sangat dingin sehingga seluruh lengannya terasa mati rasa. Dia lalu terbang ke area yang lebih dalam dari wilayah itu.


Dua jam kemudian, Zhang En lalu sampai di salah satu pulau kecil.


Setelah berpikir sejenak, Zhang En lalu mengeluarkan bahan untuk membuat artefak seperti kapal.


Di bawah bimbingan Long Xioba, tangan Zhang En mulai bergerak; menggabungkan berbagai besi lainnya, memasuki Tungku Butian pemberian Master Kun.


Setelah itu, Zhang En perlahan-lahan melelehkan besi dan bijih di dalam Tungku satu per satu sebelum secara bertahap menyatukannya menjadi satu.


Beberapa jam kemudian, tungku butian memancarkan cahaya saat sesuatu menyala terbang keluar dari dalam tungku.


Secara ajaib, benda itu yang tadinya kecil lalu melayang dan tumbuh lebih besar yang memikiki panjang sekitar puluhan meter tampak seperti kapal speedboat di dunia nyata.


"Benda apa ini?" Tanya Long Xuoba melihat benda yang melayang di udara karena terkejut.


Zhang En berpikir sejenak, menjawab, "Hmm. sebut saja artefak kapal cepat"


"Kapal cepat?"


Zhang En mengangguk, artefak ini adalah sesuatu yang dia buat menyalin seperti Pagoda Dewa Emas miliknya. Kemudian, Zhang En meminta Long Xioaba membantunya menuliskan beberapa susunan formasi api di tubuh kapal itu, formasi pelindung dan serangan, serta susunan angin.


Tujuh hari kemudian, pekerjaan mereka selesai dan Zhang En sekarang menatap kapal besar di depannya dan merasa sangat puas.


"Baiklah. karena artefak ini adalah yang pertama aku buat, aku akan berikan nama Kapal Dewa. Heheee..!"

__ADS_1


__ADS_2