Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 78. Memperlihatkan Diri


__ADS_3

“Kau, kau benar-benar membunuhnya!” Dua Tetua Sekte Penyihir Langit lainnha yang tersisa tergagap, menyaksikan darah Tetua merembes keluar dari lubang di tengah dahinya.


Meskipun itu terjadi di depan mata mereka, dua Tetua Sekte Penyihir Langit masih merasa sulit untuk percaya bahwa seorang Tetua Sekte Penyihir Langit dibunuh oleh Zhang En


Sebelumnya, ketika mereka bertiga diundang oleh Du Xin dan Deng Guangliang, mereka semua berbicara dengan gembira dan tertawa dalam perjalanan ke sini, tetapi sekarang salah satu dari mereka terbunuh. Bahkan jika kematian bukanlah hal baru bagi mereka, tetapi ini di luar dari yang mereka pikirkan.


“Apa kalian masih belum percaya?" Zhang En menatap mereka berdua.


Detik berlalu dan kebenaran akhirnya jelas terlihat dari mata mereka berdua. Keduanya tetap diam dan berdiri di sana.


Sambil menunggu jawaban dari keputusan mereka, kekuatan spiritual Zhang En mengunci Geng Ken yang sedang bersembunyi. Selama ada tanda-tanda bahwa Geng Ken akan pergi, Zhang En akan bergerak tanpa ragu-ragu menghentikan orang tua itu.


"Baik, kami bersedia untuk tunduk!" Tidak butuh waktu lama sebelum kedua Penatua Sekte Penyihir Langit berbicara, bersedia tunduk kepada Zhang En seperti semua Tetua lainnya sebelum mereka. 


Dengan demikian, keputusan mereka tidak mengejutkan Zhang En lagi. Namun, kali ini, Zhang En tidak langsung mencap tanda jiwa pada mereka, sebaliknya, dia melihat ke arah sudut kiri aula, “Bagaimana dengan itu, pak tua Geng Ken? Masih belum mau menunjukkan diri? Berapa lama lagi Anda akan menonton disitu?”


Semua orang yang hadir di aula utama tercengang dengan ucapan Zhang En.


Dari Du Xin, Deng Guangliang, dan dua Tetua lainnya, dan Geng Ken yang bersembunyi di pojok, karena dia tidak menyangka Zhang En tiba-tiba akan mengatakan sesuatu seperti itu. Terutama Geng Ken, yang tidak percaya ada orang yang memiliki kemampuan untuk mendeteksinya dengan semua auranya yang sudah benar-benar dia sembunyikan.


Geng Ken terlihat ragu-ragu sejenak, lalu dalam sekejap cahaya, dia muncul dari sudut gelap dan melayang ke aula besar muncul di hadapan semua orang.


Du Xin dan Deng Guangliang panik atas kemunculan Geng Ken yang tiba-tiba. Bingung dan panik, keduanya buru-buru mengaku bersalah di depan Zhang En, "Tuan Muda, tolong hukum kami!" Pada saat ini jelas bagi mereka bahwa Geng Ken membuntuti mereka.


“Berdiri, ini bukan salah kalian berdua.” balas Zhang En


“Kami berterima kasih atas pengertian Tuan Muda.” Du Xin dan Deng Guangliang bangkit dan mundur ke sisi Zhang En.


“Tetua Agung, selamatkan kami, selamatkan kami!” Dua Penatua Sekte Penyihir Langit yang baru saja 'dengan sukarela' tunduk kepada Zhang En berteriak dengan gembira dan berlari ke arah Geng Ken begitu mereka melihatnya berada di depan mereka, seolah-olah mereka menemukan sinar harapan terakhir dari hidup mereka.

__ADS_1


Geng Keng mengarahkan tatapan dingin pada dua orang Tetua sektenya saat dia mendengus dingin, "Ketika kalian berdua kembali, terima hukuman sesuai dengan aturan Sekte!"


Mendengar itu, ekspresi kedua Tetua itu berubah. Mereka tau bahwa Sekte mereka akan menjatuhkan hukuman berat atas tindakan pengkhianatan yang ingin mereka lakukan.


Melihat perubahan dalam ekspresi wajah mereka, Geng Ken menambahkan, "Tapi, melihat kontribusi berjasa kalian selama bertahun-tahun untuk Sekte Penyihir Langit, aku akan berbicara dengan Pemimpin Sekte atas nama kalian berdua untuk meringankan hukuman."


'Janji' ini tampaknya menenangkan mereka berdua, saat mereka menangkupkan tinju mereka berkat perkataan Geng Ken, “Kami berterima kasih kepada Penatua Agung, terima kasih banyak. Kami pasti akan tetap setia kepada Sekte Penyihir Langit dan Penatua Agung di masa depan!" Geng Ken mengangguk puas atas ucapan mereka.


Zhang En yang sedang berdiri di samping, memperhatikan mereka bertiga lagi berdiskusi dan dengan tenang tidak menyela percakapan mereka.


"Tunggu hukuman Sekte saat kalian kembali?" Geng Ken ini begitu yakin mereka bisa pergi dari sini dengan selamat, ucap Zhang En mencibir di dalam hatinya. Dilihat dari cara bicara Geng Ken, sepertinya dia sangat percaya diri dengan kekuatannya.


Pada saat ini, Geng Ken akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah Zhang En dengan mata tajam dan melihat Zhang En dari atas ke bawah, "Kau, aku harus memanggilmu apa?"


"Zhang En" Zhang En dengan tenang menjawab dan menyebutkan namanya karena menurutnya, itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk disembunyikan.


Baru saja mengacu pada saat Zhang En mengungkapkan bahwa hampir semua Tetua Sekte Penyihir Langit berada di bawah kendalinya, Geng Ken mungkin secara tidak sengaja memperlihatkan jejak samar auranya karena terkejut. Dalam pandangan Geng Ken, pasti pada saat itu Zhang En mendeteksinya.


“Apakah itu sangat penting?” Zhang En malah bertanya dan tidak menjawab.


Geng Ken kaget dan kemudian tertawa, “Hehe, aku hanya bertanya. Kekuatan adik Zhang tidak buruk, bagaimana kalau kita membahas kerjasama di antara kita? "


"Kerja sama?" Tanya Zhang En sambil menunggu Geng Ken melanjutkan perkataanya.


"Benar, kerjasama." Wajah Geng Ken menjadi cerah “Kita berdua akan bekerja sama untuk membunuh Chen Xiaotian. Kemudian, kita bisa menundukkan Sekte Penjilat Darah, dan juga memusnahkan Sekte Sembilan Iblis dan kita akan mengendalikan seluruh Kota Kematian!"


Sekte Penyihir Langit, Sekte Penjilat Darah, dan Sekte Sembilan Iblis adalah tiga kekuatan utama Kota Kematian.


Di antara tiga kekuatan, kekuatan Sekte Penyihir Langit dan Sekte Penjilat Darah sama, tetapi Sekte Sembilan Iblis jauh lebih kuat dari keduanya. 

__ADS_1


Saat ini, posisi Penjaga Kota Kematian dipegang oleh Pemimpin Sekte dari Sembilan Iblis Sekte. Dengan kata lain, Sekte Sembilan Iblis adalah penguasa sejati Kota Kematian, sedangkan Sekte Penyihir Langit dan Sekolah Penjilat Darah hanya menguasai beberapa Wilayah area di dalam Kota Kematian.


Tentu saja, pasukan Sekte Penyihir Langit dan Sekte Penjilat Darah tidak sekuat kelihatannya, tidak akan mudah jika Sekte Sembilan Iblis memutuskan untuk memusnahkan kedua kekuatan ini. Selain itu, mereka akan membutuhkan bantuan mereka ketika pasukan luar datang untuk menyerang. Oleh karena itu, selama ini, Sekte Sembilan Iblis tidak pernah ada rencana melawan Sekte Penyihir Langit atau Sekte Penjilat Darah.


Zhang En hanya memandang Geng Ken dengan tatapan datar. Anehnya, ambisi lelaki tua kecil ini lebih besar dari tubuhnya. Tidak hanya dia ingin mengendalikan Sekte Penjilat Darah, dia ingin memusnahkan Sekte Sembilan Iblis dan memerintah seluruh Kota Kematian.


Geng Ken menganggap Zhang En yang terlihat diam saat memikirkan perkataannya diam-diam senang. Sambil tersenyum ramah, dia melanjutkan, memberi umpan, "Setelah kita menaklukkan Kota Kematian, Adik Zhang dan aku akan mengambil posisi yang sama, memimpin atas Kota Kematian."


“Oh, berarti kita berdua juga menjadi Penjaga kota ini?” Ekspresi Zhang En terlihat hambar, membuat siapa pun sulit menebak apa yang dia pikirkan.


Geng Ken tersenyum dan melanjutkan, "Itu benar, kita berdua akan berbagi tanggung jawab untuk menjaga Kota Kematian."


Du Xin, Deng Guangliang, dan dua Tetua Sekte Penyihir Langit berdiri di samping, tidak ada yang mengucapkan suara. Kedua Tetua yang baru datang tadi awalnya berasal dari faksi Geng Ken, jadi tidak ada yang menunjukkan ekspresi terkejut mendengar bahwa Geng Ken berencana membunuh Chen Xiaotian.


Zhang En menatap langsung ke arah Geng Ken dan menggelengkan kepalanya. Orang tua Geng Ken ini cukup pandai dan licik, ingin meminjam kekuatannya dengan menggunakan posisi Penjaga Kota Kematian untuk memikatnya.


Pria tua ini benar-benar menganggap Zhang En bodoh. Zhang En lalu membalas untuk berbicara, "Sekte Penyihir Langit dan Kota Kematian akan ditaklukkan, tapi bukan oleh dua orang, Tetapi aku seorang."


Geng Ken tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Zhang En, tetapi tiba-tiba, wajahnya berubah suram. Mencibir dengan dingin, Geng Ken berkata, “Karena Adik Zhang begitu percaya diri, maka aku akan menunggu hari diaman ketika Adik Zhang berhasil menjadi Pemimpin Kota Kematian.” Selesai mengatakan itu, Geng Ken berbalik berencana untuk pergi dengan dua Tetua Sekte Penyihir Lamgit lainnya.


“Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?” pada saat yang sama, suara sedingin es Zhang En terdengar.


Geng Ken berhenti dan berbalik menghadap Zhang En. Sebuah cahaya menakutkan berkedip dari kedalaman matanya, “Bocah kecil, di dalam Kota Kematian, aku datang dan pergi sesukaku. 


Dia tidak menyadari bahwa Zhang En telah mengaburkan tingkat Kultivasi nya saat ini merasa Zhang En hanya seorang Pemuda yang di pandang oleh sebelah matanya.


Apa menurutmu Ranah Pendekar Suci Awal sepertimu bisa membuatku tinggal? ” Saat kalimatnya berakhir, api pertempuran merah menyala keluar dari tubuhnya dan ruang sekitarnya langsung diselimuti oleh tekanan yang sangat luar biasa yang berada pada tahap Pendekar Dewa Bintang dua.


Jangan Lupa Like & Vote. See you next chapter!

__ADS_1


__ADS_2