
...
Pada malam hari.
Zhang En berdiri di tempat tinggal yang di tinggali, memikirkan pertempuran yang telah usai.
Sebenarnya dia membunuh Yu Cang dengan satu serangan, tidak diragukan lagi, akan menyebar dengan cepat ke seluruh keempat galaksi dari mulut ke mulut dari para tamu yang pergi hari ini.
Dia bahkan bisa membayangkan gelombang kejut yang akan ditimbulkannya di berbagai dunia.
Pada saat itu, dia akan memiliki lebih banyak ujung pedang yang diarahkan padanya, tetapi Zhang En tidak menyesali keputusannya untuk mengekspos kekuatannya.
Pada kekuatannya saat ini, bahkan Long Qin itu sebenarnya akan mengalami kesulitan untuk mencoba membunuhnya, hanya saja, saat Long Qin menyerangnya di atas panggung pertempuran setelah kematian tragis Yu Cang, dia hanya masih tidak mengekspos kekuatan sejatinya, tau kalau Dewi Hao Shie akan turun tangan.
Lagi pula, apa yang dia tunjukkan di panggung pertempuran hari ini hanyalah dua puluh persen dari kekuatannya.
Tetapi, saat kembali memikirkan upacara yang akan datang tiga hari kemudian, Zhang En merasakan sakit kepala.
Pada saat itu, semua Leluhur dan Patriark itu akan memberi selamat dan mencoba menumbuhkan niat baik dinantara merrka, dan dia harus menghibur mereka dalam perjamuan.
...
Tiga hari berlalu dalam sekejap, dan hari upacara tiba. Upacara itu juga diadakan di puncak Gunung yang sama.
Setelah tiga hari, dekorasi di sekitar kolam diubah lagi, tetapi tetap meriah dan semarak.
Ketika Zhang En, mengikuti Dewi Hao Shie, dan Lin Ming tiba di tempat itu, semua tamu yang hadir sudah menunggu di lokasi.
Melihat Dewi Hao Shie dan Lin Ming tiba, para tamu dengan cepat menyambut mereka dengan senyum berseri-seri. Drwi Hao Shie dan Lin Ming menanggapi dengan senyuman dan anggukan.
Upacara dimulai tepat waktu.
Setelah melakukan serangkaian prosedur yang rumit dan membingungkan, Zhang En mencapai tahap terakhir, berlutut tiga kali dan melakukan sembilan kowtow di hadapan Dewi Hao Shie, setelah itu upacara berakhir.
__ADS_1
Dewi Hao Shie penuh dengan senyum indah menyaksikan Zhang En menyelesaikan upacara pengangkatan murid, dia secara pribadi memegang lengan Zhang En saat dia berdiri.
Tapi, ketika Dewi Hao Shie membungkuk sedikit untuk memegang lengan Zhang En, dadanya yang telihat belahan kulit halus dan bersalju mendominasi pandangan Zhang En.
Meskipun itu adalah pemandangan yang tidak disengaja, Zhang En masih merasakan darahnya mengalir deras ke bawah untuk sesaat.
Ketika dia menyelesaikan tahap terakhir, Leluhur dan Patriark yang menonton maju untuk memberi selamat kepada Dewi Hao Shie dan Zhang En.
Dewi Hao Shie tersenyum pada setiap orang yang datang untuk memberi selamat, lalu dia menarik Zhang En untuk duduk ke kursi di sebelahnya. Tangan mungilnya teasa kenyal dan halus.
Zhang En berbalik ke arah Lin Ming dengan mata memohon, tapi Lin Ming balas tersenyum padanya, mengangguk memberi semangat.
Melihat ini, Zhang En lalu duduk di samping Dewi Hao Shie Suci Yao Chi, sedikit tidak berdaya.
Dalam perjamuan setelah upacara, semua orang dalam suasana hati yang gembira, tawa terdengar di dalam perjamuan itu.
Namun, duduk di samping Dewi Hao Shie, aroma tubuhnya yang menggoda terus mengalir ke lubang hidung Zhang En, membuatnya tidak nyaman meskipun dia dan Dewi Hao Shie sekarang telah menjadi guru dan murid.
Tapi Dewi Hao Shie benar-benar terlalu cantik menawan.
Zhang En, Lin Ming, dan tiga lainnya kembali ke tempat tinggal mereka yang telah ditentukan.
Kembali ke tempat tinggalnya, Zhang En tidak dapat menahan diri untuk tidak mengingat wajah menawan Dewi Hao Shire, tangan yang mungil, aroma yang menggoda, setiap gerakan, dan setiap senyuman, terutama kulit putih bersaljunya.
Tiba-tiba, Zhang En terbangun dari fantasinya, menggelengkan kepalanya. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya. Meskipun Dewi Hao Shir adalah wanita yang memiliki kecantikan yang memikat, dia bukanlah orang yang bernafsu dan menginginkan setiap wanita.
Jadi Zhang En tidak memikirkan untuk mencari wanita lainnya selain Lie Hue untuk saat ini, karena meningkatkan kekuatan dan terus berkultivasi adalah fokus utamanya.
Kemudian, saat dia kembali memikirkan wajah Lie Hue, perasaan hangat memenuhi hatinya..
Beberapa saat kemudian, Zhang En perlahan-lahan menjadi tenang, di lalu memasuki pengasingan dan duduk bersila di dalam ruangan kamarnya.
Keesokan paginya, berbagai Leluhur dan Patriark yang telah tinggal untuk menonton upacara pengangkatan murid juga mengucapkan selamat tinggal kepada Dewi Hao Shie dan pergi ke dunia mereka masing-masing.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Lin Ming, Dong Fang, Bai Yunfei, dan Huan Rong juga meninggalkan Dunia Air.
Hanya Zhang En yang tetap tinggal.
Sebagai pewaris pilihan Dewi Hao Shie, Zhang En secara alami harus tinggal dan mempelajari teknik kultivasinya, belajar alkimia, serta hal-hal lain yang terkait dengan Sekte Hao Shie.
Zhang En mengantar Lin Ming dan yang lainnya keluar dari Gunung Hao Shie, lalu menuju ke kediaman Dewi Hao Shie.
"Salam Tuan Muda!" Para pelayan yang tinggal di Gunung Hao Shie membungkukkan pinggang mereka untuk memberi hormat melihat Zhang En.
Zhang En mengangguk dan terus melangkah masuk ke dalam kediaman.
“Zhang En, kau telah di sini. Ayo, masuk.” Mendengar pelayannya menyapa Zhang En dari luar, Dewi Hao Shie melangkah keluar dengan gembira.
Dewi Hao Shie berjalan maju dan menarik Zhang En dengan lengannya, menyuruhnya duduk di sampingnya.
Merasakan tangan Dewi Hao Shie padanya, detak jantung Zhang En semakin cepat, tetapi dia menganggapnya itu adalah hal biasa.
Duduk di samping Dewi Hao Shie dalam jarak yang begitu dekat, Zhang En merasa seperti dia bisa merasakan panas tubuhnya melalui pakaiannya tetapi, dengan cepat menjadi tenang.
Dewi Hao Shie tertawa pelan melihat ekspresi Zhang En, “Ada apa? Apakah kau merasa malu di depan Gurumu sendiri?”
Para pelayan yang berdiri di sekitarnya terkikik kecil mendengar tuan mereka menggoda Zhang En.
Tapi Dewi Hao Shie dengan cepat memasang ekspresi serius saat dia menjelaskan kepada Zhang En tentang sejarah dan teknik kultivasi Sekte Hao Shie mereka..
Sekte Hao Shie ini memiliki kesamaan dengan Sekte Dunia Butian Kuno, asal Master Kun, hanya ada satu penerus setiap generasinya.
Namun, penerus setiap generasi Sekte Hao Shie umumnya adalah perempuan.
Ketika Dewi Hao Shie menjelaskan teknik kultivasi Sekte kuno mereka, dalam hati Zhang En merasa bingung. Untuk mengembangkan teknik rahasia Sekte Hao Shie, seseorang pewaris harus memiliki tubuh yang murni dan masih perawan.
'Hanya seorang perawan yang bisa mengolahnya? Apakah ini berarti Dewi Hao Shie masih perawan? Seorang perawan yang berusia beberapa puluh ribu tahun?' Pikiran ini terlintas di benak Zhang En.
__ADS_1
Dewi Hao Shie yang memperhatikan Zhang En menatapnya dengan bingung ketika dia menjelaskan tentang persyaratan berkultivasi Sekte Hao Shie mereka, terlebih lagi, dan langsung menebak apa yang dipikirkan Zhang En.
Dia lalu menegur, "Wah, omong kosong apa yang kau pikirkan di kepalamu itu?"