Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 80. Peningkatan Kultivasi Zhang En


__ADS_3

Melihat sorot mata Zhang En, keringat dingin dan perasaan yang tak bisa dijelaskan terlihat dari wajah Geng Ken


"Tunduk padaku, atau mati!" Zhang En menekankan setiap kalimatnya secara perlahan.


Perasaan emosi melintas di wajah Geng Ken. Dari cara Zhang En berurusan dengan dua Tetua Sekte Penyihir Langit sebelumnya, Geng Ken tahu, begitu dia menggelengkan kepalanya, Zhang En akan membunuhnya tanpa ragu sedikit pun.


Dia telah hidup begitu lama, jumlah orang yang mati di tangannya tidak kurang dari beberapa ratus ribu atau bahkan lebih.


Kadang-kadang, menyaksikan musuh berjuang di saat-saat terakhir kematian mereka, dalam ketakutan, rasa sakit dan memelas untuk minta ampun, hatinya merasakan kegembiraan dan kepuasan saat melihat hal seperti itu. Tapi sekarang, ketika dia sendiri berhadapan dengan kematian di depan matanya, dia merasa tidak punya pilihan karena ketakutan.


Zhang En melihat wajah Geng Ken dan masih diam, menunggu orang tersebut dengan acuh tak acuh untuk mengatakan keputusannya.


Persis seperti yang diperkirakan, Geng Ken tidak butuh waktu lama untuk menyerah. “Baik, aku menyerah … Aku bersedia bersumpah setia kepadamu."


Mendengarkan keputusan Geng Ken, Du Xin dan Deng Guangliang sangat merasa lega.


Pengaruh Geng Ken di dalam Sekte Penyihir Langit sangat besar, dan dengan dia memilih untuk berpihak pada Zhang En, dia akan menjadi bantuan besar bagi Zhang En dalam mengambil kendali atas Sekte Penyihir Langit.


"Baik. sekarang, lepaskan lautan jiwamu, aku akan menandai tanda jiwa di dalam lautan jiwamu. " Zhang En memberi perintah.


"Apa, tanda jiwa?" Geng Ken menjadi pucat pasi mendengar ucapan Zhang En.


Reaksi Geng Ken tidak berbeda dari Du Xin, Deng Guangliang, dan Teetua Sekte lainnya ketika mereka mendengar teknik menandai jiwa Zhang En.


Namun, pada akhirnya, dia dengan patuh melepaskan lautan jiwanya didepan Zhang En untuk mencap tanda jiwanya. Pada saat ini, dia hanya bisa mengalah dan menyerah.


Zhang En kemudian menginstruksikan Geng Ken untuk kembali ke Sekte dan mengawasi Chen Xiaotian dan segera melaporkan kepadanya jika ada sesuatu yang mencurigakan.


Setelah Menerima perintah dari Zhang En untuknya, Geng Ken dengan hormat dan meninggalkan mansion tersebut.


Hari-hari terus berlalu.


Sementara Zhang En mengasingkan diri untuk latihan di dalam Kiul Gunung Dewa, sedangkan di dalam aula besar Sekte Penyihir Langit, Chen Xiaotian yang berbadan tinggi dan tegap sedang mengamati Gao Qing dan Wu Honggang.

__ADS_1


Keheningan memenuhi aula itu. Baik Gao Qing dan Wu Honggang berdiri di depan Chen Xiaotian, bahkan tidak berani bernapas.


"Bicaralah, ke mana Kakak Ketiga kalian pergi?!" Tanya Chen Xiaotian , "Jangan berani-berani mengatakan bahwa Kakak Ketiga kalian pergi keluar Sekte untuk memjalankan sebuah misi!"


Gao Qing dan Qu Honggang menundukkan kepala dan berlutut, ketakutan dan gelisah menyelimuti mereka berdua.


"Cepat kalian katakan!" Chen Xiaotian sudah merasa marah dengan wajah yang memerah dan Keduanya tampak gemetar.


"Guru, sebenarnya, Kakak Senior Ketiga tidak pergi untuk tugas misi." Pada saat itu juga, Gao Qing memjawab, "Kakak Ketiga, dia, dia sudah mati!"


"Apa katamu?!" Chen Xiaotian melompat dan berdiri, Tekanan yang mencekam keluar dari tubuhnya.


"Aku, Aku tidak berbohong Guru, Kakak Ketiga sudah mati! Tetua agung , Cui Ming dari Sekte Penjilat Darah yang membunuh Kakak Ketiga!" Wu Honggang menyela.


“Cui Ming dari Sekte Penjilat Darah?!” Sebuah cahaya ganas berkilauan di mata Chen Xiaotian: “Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi!”


Sebenarnya, hal ini adalah sesuatu yang sudah di rencanakan oleh Zhang En. Dia sejak awal menginstruksikan Gao Qing dan Wu Honggang bahwa jika suatu hari Chen Xiaotian curiga atas kematian Lin Yu, maka mereka akan harus mengatakan bahwa pelakunya adalah Tetua dari Sekte Penjilat Darah, Cui Ming.


Oleh karena itu, Gao Qing dan Wu Honggang bertindak sesuai instruksi Zhang En, menjelaskan kebenaran situasi secara rinci kepada Chen Xiaotian.


Gao Qing dan Wu Honggang dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak berani berbohong.


"Tapi, karena kalian sudah tahu sejak awal bahwa Kakak Ketiga kalian dibunuh oleh Tetua dari Sekte Penjilat Darah Cui Ming, mengapa tidak melaporkan kejadiannya lebih awal?" Kemarahan Chen Xiaotian tiba-tiba meletus, mengirim Gao Qing dan Wu Honggang terbang dengan sekali pukulan. "Kalian pergi dari sini n terima hukuman kalian di balai hukuman Sekte!"


Keduanya melarikan diri dari ruangan itu dengan panik setelah memberi hormat kepada Chen Xiaotian.


Setelah itu, Zhang En menerima berita tentang masalah ini.


"Chen Xiaotian, orang tua itu, mulai curiga?" ekspresi dengan wajah santai terlihat di wajah Zhang En    


“Tuan Muda, apakah kita…?” Du Xin memberanikan diri bertanya dengan hati-hati


Zhang En mengerti apa yang ingin dikatakan Du Xin, tapi dia menggelengkan kepalanya sambil berkata "Tidak perlu." Waktunya belum tepat baginya untuk bertindak.

__ADS_1


Du Xin dan Deng Guangliang terkejut dan bingung di dalam hati, tapi tidak lagi melanjutkan pertanyaan mereka.


"Tuan Muda, Chen Xiaotian sudah mulai curiga, jika kita tidak bertindak cepat sekarang, ketika dia menemukan kebenaran dari masalah ini, aku takut ..." Deng Guangliang mendekat dan memperingatkan Zhang En.


Masih ada waktu sebelum dia bisa menentukan tindakan apapun. Zhang En melambaikan tangannya, dengan acuh berkata, “Tidak perlu khawatir, kalian harus fokus untuk memperhatikan setiap gerakan Chen Xiaotian dan menunggu perintahku. Nah, kalian berdua kembali ke Sekte kalian sekarang. "


"Baik, Tuan Muda!" Keduanya menjawab, memberi hormat, dan mundur dengan perasaan yang bercampur aduk.


Setelah keduanya pergi, Zhang En melanjutkan latihannya.


lima belas hari kemudian,


Zhang En, yang sedang berkultivasi di tengah Formasi Sepuluh Buddha, tiba-tiba bergetar. Tiga cahaya terang terbang keluar dari tubuhnya seperti tornado yang kejam dan angin kencang menyebr di dalam aula kuil.


Di dalam meridian dan Lautan Qi Zhang En, Qi pertempuran Naga sejati, dan Qi pertempuran buddha kuno mengalir melalui setiap bagian tubuhnya melonjak tanpa henti.


BOOMMM!


Zhang En akhirnya menerobos ke ranah Pendekar tahap Dewa Bintang tiga.


Zhang En kemudian berdiri di tengah formasi, seratus tangan ilusi menyebar dari tubuhnya saat kekuatan Buddha membentuk kekuatan pelindung Qi, mengeluarkan cahaya keemasan seolah-olah dia adalah reinkarnasi dari Seribu Tangan Patung Buddha Kuno.


Dengan pemahaman Zhang En saat ini tentang Seni Tapak Buddha Kebenaran, dia bisa memproyeksikan seratus enam puluh lengan ilusi, dan dia juga bisa membagi tubuhnya menjadi selusin avatar Buddha.


Hanya beberapa waktu kemudian, Qi pertempuran yang melonjak di dalam tubuhnya menjadi tenang secara bertahap saat dia menghembuskan nafas dari mulutnya.


Akhirnya, dia kembali menerobos dan waktunya telah tiba untuk menaklukkan atau menundukkan Chen Xiaotian. Waktunya telah tiba untuk memiliki kendali penuh atas Sekte Penyihir Langit.


Tubuh Zhang En berkedip-kedip di udara dan keluar dari dalam Kuil Gunung Dewa.


-


-

__ADS_1


-


Jangan lupa Like & Vote. See you next chapter!


__ADS_2