Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 83. Transformasi Jiwa Naga


__ADS_3

"Semangat bela diri Naga Kembar, Spirit Naga Ilahi!" Melihat dua naga biru dan hitam muncul di belakang Zhang En, Chen Xiaotian tercengang.


Setelah memanggil roh bela diri kembarnya, kekuatan Zhang En naik dan melonjak terus menerus. Dalam kilatan cahaya yang menyilaukan, jiwanya berubah dengan naga hitam dan biru.


Lapisan sisik naga hitam dan biru yang kokoh tumbuh di permukaan kulit Zhang En, menutupi dia seperti baju besi, ketika dua kepala naga seperti tato muncul di punggungnya.


Setelah transformasi jiwa Zhang En, Tekanan aura Zhang En sangat melampaui Tekanan aura Chen Xiaotian.


Tubuh Zhang En memancarkan kekuatan naga yang luar biasa, membuat Chen Xiaotian, Geng Ken, dan semua Tetua Sekte Penyihir Langit sulit untuk bernapas. Jauh di dalam jiwa mereka melahirkan keinginan untuk berlutut, bersujud, untuk tunduk di depan Zhang En. Hanya Chen Xiaotian yang mampu menahan diri untuk berlutut, meskipun nyaris tidak mampu untuk menahannya.


Zhang En bergerak dan menghilang dan muncul kembali tepat di depan Chen Xiaotian. Telapak tangannya dengan cepat menghantam Chen Xiaotian.


Chen Xiaotian menjadi sangat pucat karena mendapat serangan yang datang tiba-tiba itu, dia kemudian mengangkat telapak tangannya dengan panik, telapak tangannya bertemu langsung dengan serangan Zhang En berusaha memblokir.


BOOOMMMM!


Sebuah ledakan teredam bergema di menyelimuti seluruh aula, diikuti oleh gelombang dahsyat yang membuat guncangan seperti gempa susulan yang mengerikan berputar ke luar. Chen Xiaotian merasa seperti telapak tangannya membentur baja. Rasanya seolah-olah tulang tangannya hancur akibat benturan saat dia terhuyung mundur sampai tepi aula besar.


Ketakutan sangat jelas terlihat di wajah Chen Xiaotian saat dia menatap Zhang En.


Dirinya benar-benar ingin menyerah melawan Transformasi jiwa Naga Zhang En.


Siluet Zhang En berkedip-kedip sambil menggenggam Pedangnya. Cahaya pedang berputar membentuk pusaran hitam bergelombang tepat di depan Chen Xiaotian.


Seni Pedang Dewa Naga, Gelombang Penghancur!


Tiba-tiba, Chen Xiaotian berteriak bersamaan dengan tubuhnya terlempar ke belakang seolah-olah ada sesuatu yang memukulnya, darah merah mengalir dari mulutnya meningalkan jejak bulatan berwarna hitam yang mencolok bisa dilihat di dadanya saat darah mengalir keluar dari sudut bibirnya.


Sebelum Chen Xiaotian jatuh ke lantai, pedang di tangan Zhang En terayun untuk ketiga kalinya, mengirimkan cahaya pedang yang tak terhitung jumlahnya yang berubah menjadi sepasang pusaran yang menggelora dan menakutkan mengejar Chen Xiaotian.


Seni Pedang Badai Neraka!


Ketakutan dan kepanikan muncul di hati Chen Xiaotian menyaksikan dua pusaran berhelombang menghampirinya.

__ADS_1


Penyatuan elemen Api dan Angin!


Tubuh Chen Xiaotian berputar dengan kecepatan tinggi, berubah menjadi awan api yang melayang di udara.


Namun, karena sudah terkena dari jurus pedang Zhang En, Qi Naga Sejati Zhang En telah menginvasi tubuhnya mengurangi kecepatan dan gerakan Chen Xiaotian. Pada akhirnya, pusaran badai neraka melilit kakinya dan menariknya turun ke bawah.


Energi cahaya berbentuk pisau kecil mengenai kaki Chen Xiaotian, dagingnya terkelupas dan darah berceceran saat energi itu bergerak mengelilingi tubuh Chen Xiaotian. Tulang putih terlihat dengan mata telanjang melalui luka Chen Xiaotian


Zhang En kemudian menghentikan serangannya dan berjalan ke tempat Chen Xiaotian berbaring.


Chen Xiaotian terluka parah dan kakinya lumpuh. Kekuatan elemen angin dan api melemah dan menghilang. Melihat keadaan Chen Xiaotian saat ini, setiap orang yang ada di aula itu dapat menghabisi nyawa Chen Xiaotian tanpa adanya perlawanan darinya.


Chen Xiaotian berjuang untuk menyeret tubuhnya yang terluka menjauh menghunakan kedua tangannya, saat Zhang En mendekat, dirinya sudah mencapai dinding di mana tidak ada lagi ruang untuk bergerak.


“Serahkan padaku! Aku bisa menyembuhkan lukamu.” Zhang En menurunkan pandangannya, suaranya yang sedingin es tidak ada keraguan "Atau kau akan mati!"


“Karena sudah terkena jurus pedangku, energi Qi Naga sejatiku sudah menyerang tubuhmu, saat-saat terakhir sebelum kau memgalami kematian adalah siksaan yang sangat mematikan. Kau mungkin tidak merasa begitu baik sekarang.”


Zhang En memperhatikannya dan menunggu jawaban.


Geng Ken, Du Xin, dan Deng Guangliang semuanya memandang Chen Xiaotian dalam keheningan.


Zhang En dengan mudah mengalahkan Chen Xiaotian setelah melihat kekuatan serta saat transformasi jiwa Naganya, pertarungan Zhang En sudah membekas didalam hati Geng Ken, Du Xin, Deng Guangliang, dan Tetua Sekte Penyihir Langit, dan itu terlihat jelas di wajah mereka.


Waktu berlalu dan keheningan yang berkepanjangan memenuhi seluruh Aula itu.


"Baik. Aku bersedia untuk menyerah dan tunduk kepadamu" Beberapa saat berlalu, Chen Xiaotian menghela nafas dan menyerah. Saat kata-kata ini keluar dari bibirnya, dia tampak seolah-olah menjadi terlihat sangat tua dalam sekejap.


Sebagai Penguasa Sekte Penyihir Langit, Chen Xiaotian dianggap sebagai salah satu dari tiga keberadaan yang diperhitungkan kekuatannya di Kota Kematian, sebuah eksistensi yang bahkan Patriark Sekte Sembilan Iblis menunjukkan rasa hormat dan kewaspadaan saat berhadapan dengannya. Tapi sekarang, dia malahan tunduk kepada orang lain, yang hanya seorang junior.


Perubahan keadaan ini sulit diterimanya.


Zhang En diam-diam merasa lega karena Chen Xiaotian bersedia untuk tunduk. Ini adalah hasil yang paling menguntungkan.

__ADS_1


Dengan cara ini, Chen Xiaotian bisa tetap menjadi Pemimpin Sekte Penyihir Langit, sementara Zhang En mengendalikan Sekte dari balik layar. Dengan cara ini akan mengurangi kemungkinan Sekte Penjilat Darah dan Sekre Sembilan Iblis curiga, jika tidak, hal-hal yang akan lebih merepotkan jika dia harus membunuh Chen Xiaotian.


"Baiklah. Sekarang kau buka lautan jiwamu," Zhang En menambahkan," Aku akan menandai jiwamu."


"Tanda jiwa!"


Reaksi Chen Xiaotian identik dengan Geng Ken, Du Xin, dan Tetua Sekte lainnya setelah mendengar kata-kata 'tanda jiwa'. Fakta bahwa Zhang En mengetahui seni menandai jiwa sangat mengejutkan Chen Xiaotian.


Matanya menyimpang ke arah Geng Ken, murid-muridnya, Du Xin dan Deng Guangliang, serta Tetua Sektenha. Dia akhirnya sadar, mereka semuanya telah dicap dengan tanda jiwa oleh Zhang En.


Chen Xiaotian hanya bisa mengalah, melepaskan lautan jiwanya, membiarkan Zhang En untuk menandai tanda jiwanya.


Menandai jiwa Chen Xiaotian denham Mandat Jiwa yang dikombinasikan dengan Seni Pemgendalian Boneka Kuno, Zhang En mencap lautan jiwa Chen Xiaotian dengan tanda jiwa. Ketika semua proses penandaan jiwa selesai dengan lancar, Zhang En memiliki kuasa atas Chen Xiaotian dan Sekte Penyihir Langit sepenuhnya di bawah kendalinya.


Di Kota Kematian, Zhang En sekarang memiliki kekuatannya sendiri.


Setelah menandai jiwa Chen Xiaotian, Zhang En menarik keluar Qi Naga Sejatinya dari dalam tubuh Chen Xiaotian dan memberinya pil roh dan pil penyembuhan, sehingga Chen Xiaotian bisa pulih dan menyembuhkan lukanya.


Dengan Chen Xiaotian ada dipihaknya, Zhang En melihat ke tiga Tetua Sekte Penyihir Langit yang tersisa dan memerintah mereka untuk menjalankan tugas masing-masing.


Namun, Zhang En meminta Chen Xiaotian dan mengumumkan semua murid sektenya untuk tidak mengungkapkan identitasnya. Sebelum dia berhadapan atau menaklukkan Sekte Penjilat Darah dan Sekte Sembilan Iblis, semakin sedikit orang yang tahu tentang dia semakin lebih baik dalam melakukan rencananya.


Zhang En memerintahkan Chen Xiaotian dan Geng Ken untuk meminta seseorang mengawasi gerakan Tetua Sekte Penjilat Darah dan Sekte Sembilan Iblis.


Rencananya adalah untuk menyerang mereka ketika orang-orang dari kedua Sekte ini keluar untuk menjalankan tugas, dengan begitu akan membunuh atau mengendalikan mereka.


Dia hanya akan bertindak ketika Patriak Sekolah Penjilat Darah, Jiang Tianhua memperhatikan ada sesuatu yang salah.


Sejak mengalahkan Chen Xiaotian, Zhang En tinggal di dalam Sekte Penyihir Langit dan menghabiskan hari-harinya berkultivasi di dalam Kuil Gunung Dewa. Saat kekuatan dan kekuatan spiritualnya terus meningkat, Zhang En mencoba mengendalikan boneka kelima di dalam Pagoda Gunung Dewa dan akhirnya berhasil mengendalikan boneka kelima sepuluh hari kemudian.


"Tuan Muda, aku menemukan bahwa dua Tetua Sekte Penjilat Darah, Li Yunhua dan Liu Liyang, menerima tugas ke Domain Kematian untuk mencari Manik Roh." Pemimpin Sekte Penyihir Langit, Chen Xiaotian, datang untuk melapor kepada Zhang En.


Jangan lupa Like & Vote. See you next chapter!

__ADS_1


__ADS_2