Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 195. Kemarahan Luo Chen


__ADS_3

"House Buddha!" Kilatan tajam berkedip di mata Luo Chen, meminta izin kepada Pangeran Tai Gan, "Yang Mulia, kami permisi dulu."


Pangeran Tai Gan berbicara, "Sesuatu seperti ini benar-benar terjadi, Patriark Luo, Pangeran ini akan pergi bersamamu, aku juga ingin melihat siapa yang begitu berani melakukan pembunuhan di siang bolong di dalam Kota Kerajaan Bintang Selatan!" Dengan kuas di lengan bajunya, gelombang energi yang kuat mengubah udara di sekitarnya. Tidak diragukan lagi, Pangeran Tai Gan ini juga seorang kultivator.


"Aku sangat berhutang budi kepada Yang Mulia!" Luo Chen menangkupkan tinjunya dengan hormat sebelum berbalik melihat pengawal Keluarga Luo, "Pimpin jalan!"


Kemudian, dengan bersama Penatua Agung dan Pangeran Tai Gan, Luo Chen keluar dari Istana Pangeran Tai Gan ke restoran House Buddha dengan momentum yang ganas, menakuti para pejalan kaki di jalanan.


Karena Pangeran Tai Gan bersama mereka, lebih dari seratus penjaga istana pangeran mengikuti di belakang mereka, mengeluarkan tekanan aura yang luar biasa.


"Itu Pangeran Tai Gan!"


“Aku ingin tahu siapa yang membuat masalah!”


"Siapa bajingan picik itu? Ayo pergi dan lihat.”


Bisikan dan seruan keingintahuan yang tidak wajar terdengar di jalanan.


Pangeran Tai Gan adalah adik Kaisar Hong Bri, ia memegang kekuasaan dan memiliki otoritas status tinggi di Kerajaan Bintang Selatan.


Luo Chen dan semua orang tiba di House Buddha. Penjaga istana pangeran menyebar, mengelilingi area sekeliling dengan tindakan cepat dan terlatih saat Luo Chen dan yang lainnya memasuki lokasi.


Udara di tempat itu membawa aroma darah yang sangat kental, bertiup di wajah mereka saat memasuki restoran. Luo Chen mengamati sekeliling dan bola matanya langsung berubah berwarna merah, aura pembunuh yang bergulir keluar dari tubuh Luo Chen.


"Guang'er!" Luo Chen bergegas mendekati mayat Luo Guang, tetesan air mata membasahi lantai. Meskipun kepala Luo Guang meledak, Luo Chen masih bisa mengenali tubuh putranya dalam satu pandangan.


Melihat mayat putranya yang kehilangan kepalanya, Luo Chen merasa getir, marah, dan dipenuhi dengan kebencian yang kuat. Rasa sakit yang menyayat hati dan segudang emosi negatif membanjiri hatinya.


Kedua Penatua Agung Keluarga Luo tercengang dan marah melihat mayat tanpa kepala Luo Guang dengan tubuh setengah terkubur di tanah.


Bahkan Pangeran Tai Gan pun kaget melihat kejadian itu.


Luo Chen mengerahkan upaya yang luar biasa untuk menekan niat membunuh di dalam hatinya agar tidak meledak. Matanya dingin seperti pisau tajam, dia bertanya, "Berapa orang pelakunya?"


Pada saat ini seorang Penatua Keluarga Luo maju, “Aku sudah menanyai pemilik restoran, dia mengatakan jumlah mereka ada lima dalam satu kelompok, tetapi hanya dua penjaga daari orang itu yang menyerang. Tetap saja, Tuan Muda Tertua terbunuh dengan satu telapak tangan, menurut apa yang dikatakan pemilik restoran, para penjaga itu mungkin adalah Pendekar Dewa puncak, setengah ranah Pertapa Dewa."


“Pendekar Dewa puncak sete....?” Tatapan mata Luo Chen menjadi lebih dingin, setiap kata diucapkan dengan gigi terkatup, "Tidak peduli siapa mereka, aku ingin mereka mati! Bahkan jika mereka adalah ahli ranah pendekar Pertapa Dewa, mereka harus mati!" Urat hijau di bawah kulit tangannya muncul.

__ADS_1


Kedua Tetua Agung Keluarga Luo tidak mengatakan apa-apa, seperti apa yang dikatakan Patriark mereka, tidak peduli siapa pihak lain, mereka harus mati.


"Apa kau sudah tahu kemana mereka pergi?" Suara dingin Luo Chen terdengar.


Tetua Keluarga Luo itu menjawab, "Kami sudah menyelidiki, mereka pergi ke arah Kuil Buddha, hari ini adalah Ulang Tahun Kaisar pertama, Biksu Tien Du, dan disanalah orang-orang itu pergi."


"Menuju Kuil Buddha!" Niat membunuh melonjak di mata Luo Chen, melihat mayat putranya, dia dengan pelan mengucapkan sumpah, "Guang'er, jangan khawatir, sebentar lagi Ayah akan membawa kepala mereka sebagai persembahan di altar kematianmu." Dia berbalik melihat Tetua Keluarga Luo nya, "Perintahkan orang untuk membawa pergi mayat Tuan Muda."


"Baik, Patriark." Tetua itu menjawab dengan hormat.


Oleh karena itu, kelompok besar Luo Chen berangkat dari restoran House Buddha menuju Kuil Buddha.


•••


Di tempat lain, pemuda sebelumnya sedang memimpin perjalanan Zhang En ke Kuil Buddha.


Dalam perjalanan, Zhang En mengetahui nama keluarga pemuda itu adalah Wang, bernama Wang Dong, seorang murid dari Keluarga Wang dari Kerajaan Bintang Selatan ini. Tentu saja, Keluarga Wang tidak bisa dibandingkan dengan Keluarga Luo yang terkenal.


Wang Dong bertanya, "Saudara, kau dari keluarga mana?"


Zhang En menjawab, “Keluarga Zhang.”


Sambil tertawa, dia bertanya, “Saudara Zhang, di mana kau menemukan dua penjaga ini? Sejujurnya, mereka terlihat sangat keren.”


Zhang En tersenyum kecil mendengar pujian Wang Dong, sambil bercanda berkata, "Benarkah? Aku biasa mengajak mereka untuk merayu gadis-gadis yang aku temui."


Wang Dong terkekeh penuh pengertian, memberi Zhang En tanda jempol, “Terampil, siapa tahu, ketika kita tiba di Kuil Buddha, Putri Hong Xiaofei akan tertarik kepadamu karena kedua pengawalmu ini, mungkin dia juga akan memberikan pandangan ekstra ke arah kami."


Zhang En tertawa, "Siapa bilang tidak."


Mereka terus berjalan menuju Kuil Buddha. Zhao Shu dan Zhang Fu mengikuti di belakang Zhang En dan juga dua boneka raksasa kuno milik Zhang En.


Beberapa saat kemudian, rombongan mereka sampai di Kuil Buddha Kota Kerajaan Bintang Selatan.


Kuil Buddha dibangun di atas sebidang tanah yang luas. Melihat candi dari jauh, berbagai ukuran bangunan candi berkelok-kelok seperti gelombang. Di depan pintu masuk kuil ada sebuah alun-alun besar yang bisa menampung lima sampai enam ribu orang, namun meski begitu, alun-alun tersebut terasa kecil dan ramai karena banyaknya orang yang hadir.


Pria dan wanita, berbagai gaya dan warna baju yang mereka kenakan adalah pemandangan yang dapat memusingkan kepala pria.

__ADS_1


Ada total delapan pintu untuk masuk ke dalam kuil, masing-masing pintu cukup lebar untuk menampung sepuluh orang yang masuk dan keluar sekaligus.


Di atas tengah pintu masuk, ada tiga karakter yang tertulis dalam teks kuno; "Kuil Buddha Terberkati" Di permukaan dinding terdapat lukisan patung Buddha kuno dan pemandangan yang menggambarkan aktivitas yang berkaitan dengan agama Buddha. Bahkan sebelum Zhang En masuk ke dalam kuil, dia bisa merasakan asap dari dupa yang menggulung di udara.


"Saudara Zhang, cepat, kita masuk ke Aula Buddha Terberkati!" Wang Dong memimpin Zhang En, berjalan melewati alun-alun yang sangat ramai dan memasuki Kuil Buddha sambil menjelaskan, “Putri Hong Xiaofei, tiap datang ke sini yang dia lakukan pertama kali adalah untuk berdoa kepada patung Buddha yang ada di Aula Buddha. Jadi, kita harus cepat ke sana untuk mendapatkan tempat dengan pemandangan yang bagus.”


Zhang En tersenyum tak berdaya atas desakan Wang Dong.


Namun Zhang En memperhatikan bahwa orang-orang itu semua bergerak ke arah yang sama dengan Wang Dong dengah langkah tergesa-gesa yang sama menuju Aula Kuil Buddha. Mereka melewati koridor demi koridor yang dipimpin oleh Wang Dong, akhirnya mencapai Aula Buddha Terbekati.


Namun, pada saat kelompok Zhang En sampai, sudah ada lautan manusia, berdesak-desakan di alun-alun kecil di depan Aula Buddha Terberkati untuk mencoba masuk.


Kekecewaan membayangi wajah Wang Dong, "Kita terlambat, kita bahkan tidak bisa melihat pantant bagian belakang pelayan Hong Xiaofei."


Zhang En tertawa, "Jangan khawatir." Ketika dia mengatakan itu, dua boneka raksasa di belakangnya bergerak ke depan, membuka jalan melalui lautan manusia untuk Zhang En. Wang Dong langsung merasa senang melihat kerumunan yang tadi bergerak menjauh, membuka jalan saat kedua boneka itu bergerak maju.


Beberapa saat kemudian, kelompok Zhang En memasuki Aula Buddha langsung ke barisan depan. Sesuai alasan Wang Dong, mereka mengambil tempat yang bagus, pada saat itu mereka tidak hanya bisa melihat pantat Hong Xiaofei dan wajahnya, bahkan payudaranya juga bisa dilihat.


Jelas, tempat kelompok Zhang En berada bisa menikmati pemandangan tanpa halangan. Hati Wang Dong mekar sepenuhnya saat dia sudah berdiri di tempat yang dia mimpikan, senyum yang tergantung di wajahnya seperti bunga matahari yang sedang mekar dan bercahaya.


Namun, tiba-tiba pintu masuk Kuil Buddha ditutup rapat, menyebabkan kerutan di alis Zhang En. Sebenarnya di ingin datang di tempat ini untuk memberi penghormatan di depan patung Buddha dan membakar dupa kepada Biksu Tien Du untuk menghormatinya. Tentang untuk bisa melihat Putri Hong Xiaofei dan pelayannya, dia begitu tidak terlalu tertarik.


Melihat ekspresi Zhang En, Wang Dong tiba menjelaskan, “Karena Putri Hong Xiaofei akan datang untuk menyembah patung Buddha Terberkati setiap tahun, Biksu kuil Buddha mengizinkannya untuk masuk terlebih dahulu, ketika dia sudah selesai berdoa dan mempersembahkan dupa, barulah orang lain akan di izinkan masuk."


"Jadi, itulah alasannya!"


Kemudian, keributan orang banyak melanda kerumunan.


"Putri Hong Xiaofei ada di sini!"


Kedatangan Putri Hong Xiaofei memicu hormon kerumunan itu menjadi terlalu bersemangat. Apa lagi kaum pria, nafas mereka terengah-engah, suhu badan mereka naik turun seperti orang yang lagi sakit demam. Mereka berusaha untuk bisa melihat keindahan tubuh Putri Hong Xiaofei, walaupun hanya bisa melihat pantatnya saja.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like & Vote!


__ADS_2