
Berdiri di depan gerbang kota indah dan sangat besar, melihat keagungan agung di depannya, tembok kota yang mencapai setinggi awan, Lin Ming menghela nafas dan berkata, "Ini adalah kota tua yang telah berdiri ratusan ribu tahun." Sambil memandang Zhang En dan tiga murid lainnya, menjelaskan, “Kota ini adalah Kota Ashura.”
Lin Ming melanjutkan, "Kota Ashura ini diatur oleh Klan terkemuka nomor 1 paling kuat di Dunia Dewa ini, Klan Chu.”
Setelah masing-masing dari mereka membayar biaya masuk, mereka berlima memasuki kota bersamaan dengan kehadiran murid-murid serta tetua dari berbagai dunia lain yang juga datang.
Saat mereka melewati gerbang kota, tatapan Zhang En jatuh pada patung besar yang menjulang di kejauhan. Itu adalah patung Raja Ashura dengan bentuk dan aura menakutkan setinggi beberapa ratus meter.
Lin Ming juga menatap patung raksasa itu, berbicara, "Leluhur Klan Chu adalah Ashura dari ras Dewa Kuno."
...
Para murid-murid yang ada di sekitar yang kebetulan sedang menunggu untuk mendaftar berbalik untuk melihat seorang pemuda yang memotong antrian dan menuju ke arah Zhang En.
Zhang En memandang murid Klan Chu di kejauhan yang bertanggung jawab untuk menjaga agar barisan antrian tetap teratur, memperhatikan bahwa dia bertindak seolah-olah dia tidak memperhatikan situasinya.
Ada seseorang pemuda yang memilih untuk merebut tempat Zhang En dalam antrian.
Pemuda itu menatap Zhang En sambil keningnya berkerut, semakin tidak sabar, "Bocah, sebaiknya kau memberi tempatmu kepadaku sekarang juga, aku bukan orang yang sabar."
Zhang En mengangkat kepalanya, menyeringai lebar kepada pemuda itu dan malah bertanya balik, "Apakah kita diizinkan membunuh orang di dalam Kota Ashura ?"
Pemuda berjubah biru itu tertegun sejenak, tetapi dengan cepat pulih. Sebuah tawa mengancam terdengar dari mulutnya, “Itu benar, selama orang itu bukan dari Klan Chu, membunuh mereka tidak berdampak besar, Klan Chu tidak akan mempermasalahkan hal itu. Karena itu, bahkan jika aku membunuhmu, Klan Chu tidak akan memberimu keadilan!”
Zhang En tersemyum melebar, "Aku merasa tenang kalau begitu."
Sementara pemuda itu bingung dengan jawaban Zhang En, tinju Zhang En telah melayang dengan kecepatan tak terlihat.
__ADS_1
Ketika pemuda itu bereaksi dan melihat bahwa Zhang En menyerangnya, dia marah, "Sialan, karena kau mencari kematian, aku..-"
Sebelum pemuda biru itu menyelesaikan kata-katanya, wajahnya memucat karena ngeri. Dia ingin mundur untuk menghindar, tapi sudah terlambat.
Duaaarrr!!!
Swooosshhh!!!
Tinju Zhang En telah mendarat di dadanya, dan di detik berikutnya pemuda itu terlempar ke belakang seperti layang-layang yang rusak. Darah menyembur keluar dari mulutnya dan dadanya retak.
Murid-murid di sekitarnya yang menunggu untuk mendaftar tercengang dengan apa yang terjadi di depan mereka.
Zhang En lalu melirik ke arah beberapa murid yang berada tidak jauh darinya yang juga memendam niat buruk, berkata, "Ada orang lain yang menginginkan tempatku?"
Beberapa murid itu membuang muka, menghindari tatapan Zhang En.
Murid Klan Chu yang bertugas menjaga ketertiban melihat pemuda yang tergeletak di tanah dan berjalan dengan kerutan yang dalam di alisnya.Dia lalu menyuruh beberapa anggotanya untuk mengangkat pemuda itu
Murid Klan Chu kembali ke tempatnya semula, tampaknya seperti mengabaikan keberadaan Zhang En.
Beberapa baris dari tempat Zhang En, ada dua murid wanita juga sedang mengantri untuk mendaftar. Pada saat ini, keduanya menatap Zhang En, berdiskusi melalui transmisi suara.
"Kakak, bisakah orang itu mempelajari beberapa teknik penyembunyian kultivasi, dengan sengaja menyamarkan kultivasinya?" Wanita muda dengan gaun putih bertanya dengan nada tidak percaya.
Wanita muda lainnya yang mengenakan gaun biru, tampak sedikit dewasa, menggelengkan kepalanya, "Tidak, pemuda itu memang berada di tahap akhir di ranah Dewa Surgawi.!"
Ini karena pria yang dikalahkan Zhang En barusan berada di ranah Dewa Emas bintang satu.
__ADS_1
Mata wanita muda berbaju putih itu melebar karena terkejut, “Ranah Dewa Surgawi tahap akhir mengalahkan Dewa Emas bintang satu dengan begitu mudah? Bukankah itu berarti bakatnya bahkan lebih tinggi dari Kakak Senior kita?"
Wanita muda dewasa berpakaian biru itu berkata, "Di seluruh dunia yang sangat luas ini, yang tak terhitung jumlahnya, secara alami akan ada para jenius dengan bakat yang lebih besar daripada Kakak Senior kita."
Wanita muda bergaun putih itu langsung cemberut, 'Kakak, bakat Murid utama dari Klan Chu mungkin lebih tinggi dari Kakak Senior kita, tetapi yang lain belum tentu."
Wanita muda dewasa berbaju biru itu menggelengkan kepalanya, tidak ingin membahas topik itu lebih jauh.
Dia masih menatap Zhang En dan bergumam, 'Meskipun bakat orang ini sangat tinggi, sayang sekali kultivasinya terlalu rendah. Sekuat apa pun dia, dia tidak akan masuk peringkat dalam konpetisi."
...
Di tempat jauh, di dalam gedung salah satu paviliun, dua Tetua Klan Chu telah menyaksikan Zhang En mengalahkan pemuda tadi hingga terbang dengan hanya satu pukulan.
"Pemuda itu tidak buruk, bakatnya hampir setingkat dengan murid inti Klan Chu kita." Salah satu tetua berkata, salah satu tangannya membelai janggutnya saat dia menatap Zhang En dengan penuh minat.
Klan Chu memiliki banyak murid, dan murid-murid ini harus melalui beberapa penilaian sebelum mereka dapat memperoleh status murid inti. Masing-masing dari mereka adalah jenius.
Oleh karena itu, penilaian yang dia berikan kepada Zhang En adalah sebuah pengakuan.
Di sebelah Tetua yang barusan berbicara, pria tua di samping juga tersenyum saat menjawab, “Benar, itu tidak buruk, tetapi belum tentu sebanding dengan murid inti klan kita, kan? Dia kemungkinan besar berkultivasi tidak kurang dari seribu tahun,... "
Tetua yang membelai janghutnya menggelengkan kepalanya, "Menurutku, sekitar tiga sampai tujuh ratus tahun."
Tetua satunya lalu mengeluarkan suara "Hmmm", menambahkan, "Karena seperti itu, bagaimana kalau kita bertaruh?"
“Bertaruh bagaimana?” Tetua itu sedikit memiringkan kepalanya.
__ADS_1
“Kita berdua akan bertaruh 100 miliar. Jika tes membuktikan usia tulangnya tidak melebihi tiga ratus tahun, itu adalah kekalahanku, dan jika melebihi tiga ratus tahun, maka aku menang.” Ucap tetua itu lagi sambil tertawa.
Tetua yang sedang membelai janggutnya terligat ragu-ragu. Sejujurnya, ketika dia mengatakan bahwa Zhang En telah berkultivasi selama kurang dari tiga ratus tahun atau tujuh ratus tahun, itu hanya tebakan, bukan sesuatu yang diucapkan dengan sangat percaya diri. Lagi pula, taruhan 100 miliar bukanlah jumlah uang kecil.