
"Adik, serang bersama dan bunuh dia!" ucap pemuda itu kepada rekannya.
Dia menatap Zhang En yang berada di depannya dengan perasaan marah, Seolah-olah pikirannya telah benar-benar terbalik dan dia sekarang menemukan dirinya dalam situasi yang berbahaya. Dia tidak pernah bisa membayangkan bahwa Zhang En juga telah mencapai ranah pendekar suci tingkat akhir.
Saat membalikkan kepalanya, pemuda itu mengeluarkan teriakan dan kemarahan yang ganas keluar dari mulutnya. Jika mereka membiarkan Zhang En terus berkembang beberapa tahun lagi, mereka yakin tidak dapat melawan Zhang En di masa yang akan datang.
Rekannya yang agak tinggi yang berdiri di dekatnya, menganggukkan kepalanya, dengan ekspresi gelap di wajahnya. Dia mengepalkan kedua tinjunya saat aura yang kuat berdenyut di sekitar tubuhnya, mengeluarkan suara ledakan.
“Bang!”
Mereka berdua lalu bergerak bersamaan bergegas maju, satu di kiri, sementara yang lain di kanan, saat mereka mengelilingi Zhang En dengan sudut penjepit yang sempurna. Dihadapkan dengan dua pendekar yang berada satu tingkat dibawahnya, ekspresi Zhang En tidak berubah, saat ini hatinya hanya ingin melakukan pembalasan dendam dan pelampiasan amarahnya kepada Sekte Gagak Hitam.
Puluhan serangan dan gerakan kombinasi mereka lancarkan kepada Zhang En, serangan demi serangan serta jurus mematikan terus menyerang Zhang En dari dua arah yang berbeda.
“Bang bang bang!”
Zhang En Menyatukan kedua jarinya, energi Qi yang kuat dengan cepat berkumpul dan setiap kali dia menjulurkan jari-jarinya, kekuatan yang dihasilkan cukup untuk meledakkan kembali setiap serangan mereka.
Pertarungan antara mereka bertiga semakin intensif, pukulan mereka yang disertai gelombang Qi saling bertabrakan, serangkaian ledakan keras terus menerus terdengar dan menghancurkan apa saja yang ada di sekitar mereka.
Ekspresi wajah mereka menjadi semakin gelap. Tiba-tiba, salah satu dari mereka berteriak saat sebuah kilatan cahaya gelap berada di tangan kanannya. Seketika, cahaya itu menjadi bola petir.
Rekannya juga melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan. Di tangannya juga terlihat bola petir yang sangat gelap. Seketika, keduanya dengan kecepatan penuh mengarahkan serangan bola petir ke arah Zhang En.
"Bang Bang"
Zhang En tidak hanya diam saja, dengan gerakan secepat kilat dan sulit dilihat oleh mata sehingga berhasil memblokir serangan mereka.
Tidak mau di serang terus, Zhang En kemudian kembali menyatukan kedua jarinya, energi Qi yang kuat dengan cepat berkumpul dijarinya lalu melesat menusuk salah satu dari mereka.
SREETTT!
Serangan Zhang En yang datang secara tiba-tiba berhasil menusuk punggung lawannya, alhasil pemuda itu berteriak kesakitan terkena tusukan Zhang En.
__ADS_1
Swoosh
Zhang En lalu memutar posisi dan kembali menyarangkan satu pukulan keras yang sangat mematikan dengan kejam menghantam kepala pemuda itu.
DUARRR!
Kepala lawannya langsung pecah dengan tubuh yang langsung ambruk jatuh ke tanah serta darah yang terus merembes keluar dari tubuhnya dan akhirnya tewas mengenaskan.
“A-adik!”
Pemuda yang satu lagi berteriak histeris melihat rekannya tewas mengerikan dengan kepala yang sudah hancur, dengan amarah yang sudah menggebu-gebu, dengan kekuatan penuh menyerang Zhang En dengan jurus terkuat miliknya.
WUUSHHH!
Zhang En bergerak dengan cepat menghindari serangan ganas lawannya, dia kemudian mengeluarkan sebuah energi berbentuk pedang di salah satu jarinya lalu menembakannya ke depan mengarah pemuda yang sedang berhadapan dengannya.
Namun, Pemuda itu juga sudah waspada terhadap serangan Zhang En, pada saat dia melihat serangan Zhang En, kemudian dia bergerak dengan aura Qi yang sangat kuat meledak bergelombang merembes keluar di sekitar tubuhnya saat dia dengan cepat menggeser tubuhnya dan menghindari sebuah bayangan seperti pedang yang mengarah kepadanya.
Swoshhh!
"Sial!"
Dia tidak akan sempat menghindar, jadi satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah buru-buru mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya.
TAPPP!
Bayangan hitam itu menusuk lengannya, Meskipun dia telah melindungi kepalanya, serangan Zhang En setajam silet itu tertanam begitu dalam menghujam lengannya mengeluarkan banyak darah.
Dengan wajah yang pucat, kemarahan pemuda itu tidak terbendung lagi . Dia dengan cepat mengeluarkan seluruh sisa kekuatanya untuk menyerang Zhang En dengan telapak tangannya yang tinggal satu lagi.
Zhang En yang melihat serangan putus asa dari pemuda itu, Zhang En mempertahankan ketenangannya lalu telapak tangannya juga tiba-tiba di arahkan kedepan untuk menyambut serangan musuhnya.
Pada saat telapak tangan mereka bertemu, Zhang En menghentakkan tangannya yang sudah di aliri Qi yang sangat kuat keluar dari telapak tangannya.
__ADS_1
BAAAMMM!
Tubuh pemuda itu terlempar ke belakang dan mendapat luka dalam yang sangat dalam. Rasa sakit dari seluruh badannya menyebabkan dia tidak dapat bersuara karena darah terus mengalir dari mulutnya.
Zhang En menatapnya tanpa kasihan sedikitpun. Pada saat ini, dia tidak akan melepaskannya begitu saja. Jika dia membiarkan pemuda itu hidup-hidup dan kembali ke sektenya, sudah dipastikan dia pasti akan menjadi masalah buat dirinya sendiri.
Membunuh atau diburu? dengan situasi yang seperti ini, Zhang En mau tidak mau harus membunuh mereka.
Pemuda itu mungkin saja akan membawa setiap ahli yang kuat dari sekte Gagak Hitam dan memburunya. dia jelas mengetahui konsekuensi jika melepaskan harimau kembali ke sarangnya. Karena itu, cara yang terbaik adalah menghabisinya tanpa ampun.
Saat Zhang En terlihat berpikir sejenak, dia kemudian melepaskan sebuah pukulan yang sangat kuat dan melesat ke arah pemuda yang terluka itu. Tanpa ragu sedikit pun, Zhang En segera meluncurkan tinjunya menghantam sasarannya.
BAMMM!
Pemuda yang berlumuran darah itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghindar lagi. Tubuhnya terlempar ke udara dan kepalanya langsung hancur dan terbujur kaku tidak bernyawa lagi.
Zhang En membunuh mereka tanpa menyisakan satu orangpun. Kematian mereka juga sangat tragis tanpa kepala ada di tubuh mereka.
Zhang En kemudian mengambil nafas lega setelah membunuh mereka semua. Dia juga tidak lupa mengambil semua barang-barang yang ada pada mereka lalu memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan.
Setelah itu, Zhang En meninggalkan tempat itu dan kembali melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, Zhang En tidak lupa terus memulihkan kekuatannya sambil beristirahat.
Tiga hari kemudian, Zhang En melihat sebuah tanda yang menunjukkan lokasi kota Tianjin.
Ketika hari sudah mau gelap, mata Zhang En langsung cerah setelah melihat sebuah rumah, tanah pertanian, dan asap membumbung ke udara.
Bibir Zhang En yang sedikit kering dan sedikit merasa kecapean akhirnya tersenyum, "Akhirnya aku sampai juga".
Dari kejauhan, hanya ada dua sampai tiga rumah yang berdampingan, dan di luar ada ladang pertanian yang luas. Asap mengepul dari salah satu rumah yang berada di samping hutan bambu kecil menandakan tempat ini adalah pinggiran Kota Tianjin.
Melihat pemandangan yang familiar ini, Zhang En merasakan kehangatan di hatinya. Mungkin orang-orang ini tidak kaya, tetapi hidup mereka dipenuhi dengan kebahagiaan.
Segala sesuatu yang ada disini terlihat sangat tenang dan damai, mungkin karena dia sudah lama tidak melihat yang seperti ini sejak pergi berada di Ibu Kota Kekaisaran. Dia lalu mengganti kembali jubah kotor yang dia kenakan kemudian berjalan memasuki wilayah itu.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote jika berkenan karena dengan begitu kalian sudah mendukung saya untuk tetap menulis dan juga memberikan support kepada saya. Terimakasih!