Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 106. Mendapatkan Peta


__ADS_3

BOOOMMMM!


BOOOMMMM!


BOOOMMMM!


Dua lengan tambahan yang baru muncul dengan sepuluh paku tajam berputar untuk memblokir Jari Mutlak Naga Dewa Iblis Zhang En, ledakan menggelegar lainnya terdengar dan percikan ledakan terbang ke segala arah. 


Qin Yang hanya tahu bahwa sepuluh jari dan dua lengannya mati rasa akibat benturan itu. Dia dengan cepat memeriksa kondisinya dan menemukan darah menetes keluar dari kesepuluh jarinya. Ini sangat membuatnya marah dan tercengang pada saat bersamaan.


Sepasang lengan hantu ini tumbuh setelah dia menyatu dengan semangat bela dirinya, Lengan ini lebih keras dari baja bahkan jika dibandingkan dengan bilah dan pedang yang ditempa dari baja sekalipun. Pendekar dengan level yang sama hanya bisa meninggalkan sedikit tanda putih di lengannya ini, tetapi meskipun demikian, dia gagal memblokir serangan satu jari Zhang En.


Matanya dioenuhi oleh amarah, Qin Yang berteriak dan mengamuk ke depan bukannya mundur. Kukunya yang panjang menebas seperti sepuluh bilah tajam, mengeluarkan cahaya berwarna merah menebas Zhang En.


Pada saat ini, cahaya dingin berkilauan dan dua bilah hitam muncul di tangan Zhang En. Pedangnya muncul dan terayun kedepan ketika cahaya pedang yang tak terhitung jumlahnya terlihat berputar membentuk bola mata merah menakutkan di udara.  


Seni Pedang Tingkat ke 4, Amarah Naga Dewa Surgawi!


Bola mata merah berbentuk bilang pedang menakutkan terus berputar, menembakkan cahaya bilah tajam dan benar-benar memblokir serangan Qin Yang, tetapi tidak berhenti di situ, cahaya merah bersinar terang dengan sangat cepat menutupi area itu, Qin Yanng merasa terkejut dan pusing sesaat.


Membentuk kedua tangannya menjadi cakar, Zhang En menebas ke arah Qin Yang melintasi udara hampa.


Teknik Pedang Naga Dewa Iblis, Ratapan Ribuan Roh Iblis.


Jeritan hantu bergema di lembah, menakuti empat orang lainnya. Mereka semua menoleh untuk melihat dan melihat Qin Yang yang linglung, di bawah pengaruh Mata merah Zhang En. Karena gagal menghindar, cakar yang menebas secara vertikal mengenai tubuh Qin Yang.


Qin Yang terlempar ke belakang menabrak langsung ke dinding tebing gunung sejauh tiga ratus meter dari tempatnya dan jatuh ke tanah.

__ADS_1


Tiga orang yang sedang melakukan pertempuran di kejauhan, Jie Dong, Liu Chong, dan Fen Heng, tercengang saat perhatian mereka beralih melihat Zhang En dan kemudian melihat arah di mana Qin Yang tergeletak di tanah, nyaris tidak bisa bergerak lagi.


Pulih dari keterkejutan singkat mereka, Jie Dong dan Liu Chong meninggalkan Fan Heng dan bergegas kearah Guru mereka.


"Guru!" Jie Dong dan Liu Chong memanggil dengan cemas dan keduanya dengan hati-hati membantu Qin Yang berdiri.


Pada saat ini, Fan Heng akhirnya pulih dari kepanikan saat melihat situasinya, dia segera berlari dalam upaya untuk melarikan diri. Apa yang tidak dia ketahui adalah bahwa Zhang En telah memperhatikan setiap gerakannya, saat Fen Heng ingin melarikan diri, Zhang En sudah di depan Fan Heng.


Melihat Zhang En berada di depannya, rasa takut memenuhi mata Fan Heng, tapi dia berhasil memaksa dirinya untuk tetap tenang, dan terlihat senyum jelek di wajahnya, “Bolehkah aku tahu nama besar Adik kecil ini? Terima kasih banyak atas bantuan Adik."


"Serahkan bagian peta yang ada padamu" Zhang En tidak tertarik untuk berbicara dengan Fan Heng. Ekspresinya tetap acuh tak acuh saat dia mengulurkan tangannya, mempersingkat waktu.


Wajah Fan Heng menegang untuk waktu yang singkat, “Peta? Bagian peta apa? Apakah Adik mungkin salah paham? Aku tidak memiliki peta yang adik minta."


Zhang En tersenyum dingin, "Tidak punya?" dia melirik Lifei, "Menurutmu apakah dia berbohong padaku?"


Lifei bergegas maju, "Tuan Muda, bawahan ini benar-benar tidak berani menipu Tuan Muda!" Dia menoleh ke Fan Heng, “Fan Heng, Aku menyarankan kau untuk menyerahkan bagian peta itu, jangan berharap pada kesempatan kecil untuk ke beruntunganmu setelah ini. Jika Tuan Muda ingin merebut bagian peta dari tubuhmu, kau dapat membayangkan konsekuensinya."


Rintihan menyakitkan terdengar datang dari Qin Yang. Dibantu oleh Jie Dong dan Liu Chong, Qin Yang nyaris tidak bisa berdiri. Terlihat bekas cakar hitam yang mengerikan di dada Qin Yang yang sepertinya memancarkan aura kematian, disertai dengan ribuan jeritan hantu yang membuat jiwa menggigil. Daging di sekitar bekas cakar di dadanya mulai membusuk memperlihatkan bagian putih tulang di dalamnya.


Mata Qin Yang juga dipenuhi ketakutan yang belum pernah terjadi sebelumnya saat menatap Zhang En. Pada saat yang sama, wajahnya memelintir kesakitan, jelas dia tidak memiliki waktu yang mudah untuk mencoba menekan Qi dingin dari serangan jurus Zhang En yang mendatangkan malapetaka di dalam tubuhnya.


Zhang En tidak peduli dengan Qin Yang dan dua orang lainnya, dia menatap Fan Heng sambil berkata, “Aku memberimu kesempatan terakhir, serahkan bagian peta dan aku bisa mengampuni hidupmu, jika tidak, aku akan membunuhmu dan lalu mengambilnya sendiri!"


Melihat keadaan tragis Qin Yang, keraguan melintas di benak Fan Heng dan berpikir keras untuk membuat keputusan akhir.


Sejujurnya, bagian peta master Suku Dewa kuno ini adalah sesuatu yang dia dapatkan dengan membunuh orang lain, tetapi dia menyimpan dendam darah yang besar di dalam hatinya, dengan potongan peta master Suku Dewa kuno ini, dia memiliki harapan untuk membalas dendam, tetapi sekarang…!

__ADS_1


"Baik!" Beberapa saat kemudian, Fan Heng mengalah, meskipun dengan enggan dengan gigi terkatup. Dia mengeluarkan sesuatu dari cincin spasialnya yang sepertinya terbuat dari semacam kulit binatang. Ini adalah bagian peta master Suku Dewa kuno.


Melihat potongan peta di tangannya, Fan Heng menghela nafas dalam-dalam, kamudian potongan peta melayang ke arah Zhang En. 


Zhang En menerima bagian peta itu dan mempelajarinya sebentar, peta itu mungkin terbuat dari sejenis kulit binatang purba yang telah terkikis oleh waktu, ujung-ujungnya sudah rusak dan sebagian besar gambar di peta itu kabur dan hampir tidak terlihat. Tanpa sepatah kata pun, Zhang En menyimpan peta kedalam cincinnya, Fan Heng tidak akan berani menipunya dengan memberinya peta palsu.


Dari jauh, Qin Yang, Jie Dong, dan Liu Chong hanya bisa menatap dengan enggan saat Zhang En menyimpan peta itu. Mereka telah mengejar Fan Heng selama sepuluh hari dan sepuluh malam berturut-turut, namun peta itu masih jatuh ke tangan orang lain. Sejauh ini, mereka mungkin lebih baik melarikan diri, tidak ada dari mereka yang berani bergerak untuk merebutnya dari Zhang En.


Setelah menyimpan peta, Zhang En mengalihkan perhatiannya kembali ke Fan Heng, "Aku bisa membiarkanmu hidup,"


Wajah Fan Heng berbinar.  


“Tapi, dengan syarat kau bersumpah setia padaku seperti dia, denganku sebagai tuanmu.” Zhang En menunjuk Lifei. Tentu saja, Zhang En tidak bisa membiarkan Fan Heng pergi begitu saja, begitu rumor menyebar, dia akan menjadi Fan Heng berikutnya yang akan di incar.


Melihat Lifei, perlawanan Fan Heng terbukti dari ekspresinya. Tapi dia sudah tahu bahwa Zhang En tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Setengah jam kemudian, Zhang En mencap lautan jiwa Fan Heng dengan tanda jiwa. Menyaksikan semuanya tepat di depan mereka, Qin Yang, Jie Dong, dan Liu Chong masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.


Setelah menandai jiwa Fan Heng, Zhang En akhirnya beralih melihat kearah kelompok tiga orang Qin Yang. Dia terus mengawasi mereka tanpa mengatakan apapun, tekanan yang tak bisa dijelaskan menyebar menutupi empat penjuru langit dan bumi.


Di bawah tekanan yang sangat besar ini, Qin Yang yang sudah terluka parah menjadi lebih pucat apa lagi karena dia perlu menekan Qi naga iblis yang dingin di dalam tubuhnya pada saat yang sama, sedangkan Jie Dong dan Liu Chong berkeringat dingin dalam ketakutan.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like & Vote!


 


__ADS_2