Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 103. Jurus Rantai Naga Dewa Kematian


__ADS_3

Wajah Lifei dan Zhou Cheng menegang saat merasakan atmosfer tirani dan aura pembantaian yang menakutkan dari Zhang En, terutama Zhou Cheng, raut wajahnya menjadi gelap. Mengabaikan Lifei, Zhang En perlahan berjalan mendekati Zhou Cheng.


Melihat Zhang En mendekat, Zhou Cheng terbangun dari keterkejutan, “Ternyata kau memang memiliki beberapa keahlian, tetapi aku rasa lebih baik seperti ini karena setelah ini akan menjadi lebih menarik. Jika kau mati hanya karena satu gerakan terkena jurusku, aku tidak akan merasa puas membunuhmu." Haus darah terlihat di mata Zhou Cheng, pedang besar berputar dengan cepat di atas kepalanya, melepaskan kekuatan misterius.


Kekuatannya diperkuat oleh kekuatan misterius ini dan energi Qi Zhou Cheng naik secara dramatis, meningkat menjadi sepertiga lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kemampuan bawaan jiwa bela diri Zhou Cheng yang dapat meningkatkan kekuatan Qi pertempuran pemiliknya.


Tubuh Zhou Cheng dipenuhi sinar cahaya pedang yang cemerlang, berubah menjadi pedang raksasa dan meluncurkan serangan lain ke arah Zhang En mengarah tepat di atas kepala Zhang En dan meluncur dengan kekuatan penuh. 


Zhang En melirik pedang raksasa yang meluncur ke arahnya, tetapi dia tidak menerima serangan pedang Zhou Cheng secara langsung. Dengan pedang yang ada ditangan, Zhang En menghilang dari tempatnya dan menghindari serangan itu dengan mudah.


Duaaarrrrr-!


Ledakan menggelegar datang dari tempat Zhang En berdiri dalam sepersekian detik setelah dia menghilang. Melihat ke belakang, pedang raksasa meninggalkan jejak seratus meter ke dalam tanah menghancurkan tebing yang ada di sekitar tempat itu. Seluruh bukit kecil yang ada di sana bergetar hebat menimbulkan tirai debu setinggi lima meter menjulang ke atas.


Melihat Zhang En dapat menghindari serangan keduanya, Zhou Cheng merasa kesal, "Kau jangan menghindar jika kau punya nyali!" Sebelum suara Zhou Cheng berakhir, sosok di depannya menghilang. 


Zhang En tiba-tiba muncul dalam jarak dekat beberapa meter darinya. Zhang En mengayunkan bilah energi berbentuk pedang tanpa keraguan sedikitpun.


Beberapa bilah energi pedang itu berubah menjadi banyak membentuk rantai dan menyelimuti seluruh area di sekitarnya yang memancarkan aura kematian yang sangat luar biasa.


Rantai Dewa Naga Kematian!


Zhou Cheng terkejut, tubuhnya melompat ke samping ingin menghindar, tetapi meskipun responnya cepat, dia melihat bahwa tidak peduli arah atau sudut mana yang dia tuju, tidak ada cara untuk melarikan diri dari rantai itu dan terus mengejarnya. 


Tiba-tiba gerakannya melambat, Zhou Cheng menunduk dan melihat rantai demi rantai melingkari tubuhnya seperti ular neraka. Energi dingin yang terasa seperti berasal dari neraka merembes ke dalam tubuhnya yang menyerang tubuhnya seperti terkena racun.


A-akhhh-!

__ADS_1


Jeritan nyaring Zhou Cheng membuat suasana malam semakin terasa.


Lifei masih berdiri di tempat yang sama. Semuanya terjadi terlalu cepat, Zhou Cheng yang percaya diri baru saja menghancurkan beberapa bukit kecil, namun dalam sekejap mata, situasinya terbalik. Lifei dengan cepat menenangkan dirinya dan hendak membantu Zhou Cheng ketika semua rantai terus melilitnya dari segal arah, menembus tubuh Zhou Cheng.


Lifei, yang hendak membantu menjadi kaku. Waktu di sekilingnya sepertinya berhenti juga.


Mata Zhou Cheng membulat dan melebar sambil menekuk kepalanya untuk melihat tubuhnya yang sudah berlubang penuh dengan darah. Setelah itu, dia kehilangan semua kekuatannya dan jatuh ke tanah.


"Kau!" Zhou Cheng menunjuk ke arah Zhang En dengan tatapan nanar.


“Adik Junior Keenam!” Lifei berteriak, langsung berlari ke samping Zhou Cheng. Jawaban Zhou Cheng memuntahkan seteguk darah dan berceceran mengenai seluruh pakaian Lifei, kepalanya terkulai tak bernyawa saat dia jatuh ke tanah.


Lifei menyeka darah dari wajahnya yang terasa lengket dan terasa sedikit hangat.


“Adik Junior Keenam, Adik Junior Keenam!” Lifei memanggil tanpa henti, tetapi Zhou Cheng tidak akan memberikan tanggapan lagi.


Suara langkah kaki Zhang En membuat Lifei tersentak. Dia berbalik menatap Zhang En, ketenangan di matanya sudah diganti dengan ketakutan dan kewaspadaan. Dia memahami kekuatan Zhou Cheng dengan baik, dan pemuda ini dengan mudah membunuhnya. Belum lagi dia, bahkan Gurunya, Patriak Sekte Hantu Bayangan tidak akan muudah melakukannya.


"Kau, apa yang kamu inginkan?" Lifei dengan berani membentak Zhang En bahkan saat dia melangkah mundur kebelakang.


"Apa kau tidak ingin tahu tentang hubunganku dengan Deng Guangliang dan Du Xin?" Zhang En mengejek.


"Sebenarnya, seluruh Sekte Penyihir Langit dan Sekte Penjilat Darah, saat ini berada di bawah kendaliku." Zhang En melanjutkan.


Tatapan mata Lifei terlihat kosong sejenak, matanya membelalak kaget saat pengertian sebenarnya muncul di benaknya: “Kau, maksudmu…!”


Penguasa baru Kota Kematian adalah Jiang Tianhua dari Sekte Penjilat Darah, pemuda ini mengatakan bahwa seluruh Sekte Penjilat Darah dan Sekte Penyihir Langit berada di bawah kendalinya, bukankah itu berarti bahwa penguasa Kota Kematian yang sebenarnya adalah pemuda yang berambut hitam ini? Lifei berpikir itu adalah hal yang mustahil.

__ADS_1


Ketika Sekte Sembilan Iblis, Patriak Hu Han dikabarkan telah mati, pergantian penguasa tiba-tiba dari Kota Kematian telah menyebabkan kekuatan di kota-kota sekitarnya untuk mengirim orang keluar untuk menyelidiki masalah ini. Gurunya, Patriak Sekte Hantu Bayangan juga merasa ada sesuatu yang salah. Sekarang, pemuda berambut hitam di depannya ini sepertinya mengatakan bahwa semuanya diatur olehnya.


Lifei tidak bisa mencerna fakta ini didalam pikirannya.


“Kota Kematian sepenuhnya di bawah kendaliku, selanjutnya adalah Kota Terlarang.” Zhang En menambahkan, “Itu sudah pasti. Sekarang, aku memberimu dua pilihan: satu, tunduk kepada kepadaku, atau dua, mati.” Ketika Zhou Cheng menyerang, Zhang En telah memutuskan, bagaimanapun, target berikutnya adalah menaklukkan Kota Terlarang.


Mata Lifei diam-diam menatap mayat Zhou Cheng yang sudah tergeletak tak bernyawa di tanah… tapi, jika dia tidak menyerah, maka…!


Lima belas menit kemudian, Lifei akhirnya pasrah dan lautan jiwanya dicap oleh Zhang En. Zhang En merasa lega ketika semua proses penandaan jiwa selesai, kehadiran Lifei akan bermanfaat untuk rencana selanjutnya dalam menaklukkan Sekte Hantu Bayangan.


Setelah itu, Lifei membagikan semua yang dia ketahui tentang situasi Sekte Hantu Bayangan dengan jujur serta tidak menyembunyikan informasi satu pun mengenai hal itu. Satu jam kemudian, Lifei mengakhiri kalimatnya.


Zhang En mengangguk setelah mendengar informasi dari Lifei dengan jelas.


"Apa yang kalian berdua lakukan di Gurun Kematian ini?" Zhang En bertanya.


“Kami ditugaskan oleh Guru untuk mencari seseorang bernama Fan Heng.” Lifei menjawab, "Orang ini memiliki bagian peta yang ditinggalkan oleh master Suku Dewa dari zaman kuno."


"Peta yang ditinggalkan oleh master Suku Dewa dari zaman kuno!" Zhang En terkejut.


-


-


-


Jangan lupa Like & Vote!

__ADS_1


__ADS_2