Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 138. Hanya Ada Satu Kesempatan


__ADS_3

Pisau putih raksasa yang terbentuk dari Phoenix putih muncul di atas kepala Zhang En. Saat pedang putih itu mendekat, Zhang En mengangkat Tombak Emas di tangannya, dan dengan memutar pergelangan tangannya, bayangan tombak emas menerobos ke atas membentuk pusaran seperti badai, badai itu bagaikan pusaran air lautan.


Tombak Mengguncang Alam Semesta..!


Bilah phoenix putih berada tepat di jalur pusaran badai tombak Zhang En, suara logam yang saling bentrokan terdengar tanpa henti dan potongan bilah pisau raksasa dan tombak emas menghilang seketika.


Di tengah badai tombak Zhang En, pilar cahaya yang cemerlang meladak menjulang tinggi ke atas langit. Badai tombak Zhang En mirip dengan Naga ilahi yang meledak dari dalam laut, menembus langsung ke dada Li Li.


Jeritan kesedihan membelah udara, disertai dengan tetesan darah berwarna merah berhamburan di atas Peng Feng dan tubuh yang lainnya. Li Li terlempar jauh dan terbanting pada pilar batu salah satu bangunan istana Raja Hantu.


Pilar batu yang sudah retak dan hancur menjadi kerikil lalu berguling ke lantai mengubur Li Li di bawahnya.


“Kakak Senior Kelima !!” Wajah Du Huagang menjadi pucat, dalam sekejap, dia muncul di atas bangunan istana yang sudah roboh. Dengan sapuan telapak tangannya dia meniup batu dan kerikil yang menutupi Li Li, kemudian mengambilnya.


Dua pria paruh baya berjubah biru juga bergegas ke sisi Li Li. Ketika mereka melihat dari dekat besarnya luka tombak di dadanya, ketiganya menarik napas dingin.


Itu adalah luka yang terus menerus mengalirkan darah keluar tanpa henti, yang lebih membuat mereka ngeri adalah di tepi luka Li Li, gumpalan api hitam merusak dagingnya dan bahkan nyala api phoenix putih suci tidak efektif melawan mereka, sehingga gagal menyembuhkan luka di tubuh Li Li.


"Ini...!" Du Huaguang dan kedua pria itu sulit mempercayai apa yang mereka lihat.


Tiba-tiba saja, sebuah siluet bergegas ke arah mereka, ketiga orang itu menoleh dan melihat Zhang En mendorong tombaknya ke arah mereka. Zhang En mengayunkan tombak panjangnya dan menciptakan badai bayangan tombak yang menakutkan mengarah ke arah mereka.


Baik Du Huagang maupun kedua pria itu tidak berani menghadapi tombak yang tampak berbahaya itu secara langsung, pada saat mereka masih terlihat ragu-ragu, tombak itu sudah menembus tenggorokan Li Li.


Mata Li Li menunduk menatap tombak panjang yang menempel di tenggorokannya. Mulutnya terbuka dengan susah payah, "K-kau, berani membunuhku?"

__ADS_1


Dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dia akan mati, Lebih menyakitkan lagi, dia tidak pernah membayangkan kematiannya. Karena keberadaan Gurunya Penguasa Naga Perak Ao Gu, tidak ada orang diseluruh Domain Tanah kematian yang berani membunuhnya dan akan berpikir seratus kali sebelum melakukan hal itu.


“Jadi bagaimana jika aku berani membunuhmu?” Zhang En membalas tanpa ada perubahan pada ekspresinya,"Sudah kubilang, hanya ada satu kesempatan." Tangannya lalu menarik Tombak Emas yang menempel di tenggorokan Li Li, dan melompat kembali ke tempatnya semula.


Li Li memuntahkan banyak darah dan merasa kesakitan, Api suci Phoenix Putih juga perlahan meredup.


Li Li dengan putus asa mencengkeram lengan Du Huagang di saat-saat terakhirnya, dia berjuang keras untuk mengeluarkan kata-kata terakhirnya, “Ka... Katakan kepa..da Guru, aku tidak bisa lagi berada di-didekat-nya, katakan padanya untuk membunuh, M-membunuh pemuda itu dengan memotong bagian tubuhnya dengan se...juta potongan."


Du Huagang mengangguk dengan sungguh-sungguh saat air matanya mengalir di wajahnya. Akhirnya, tubuh Li Li yang tak bernyawa terkulai lemas dan jatuh ke tanah.


“Kakak Senior Kelima, Kakak Senior Kelima!” Du Huagang berteriak.


Tapi, suara angin bersiul terdengar dari jauh. Du Huagang berbalik dan melihat tangan Zhang En tidak lagi memegang tombak, sebaliknya, dua bilah pedang berwarna hitam yang memancarkan hawa dingin menebasnya.


Wajah Du Huagang langsung pucat, panik dan ketakutan, tapi tangannya terangkat secara refleks, "Belenggu Naga!" Energi yang melimpah dari telapak tangannya berubah menjadi tali yang menyerupai urat naga, mengikat Zhang En.


Serangan Zhang En berlanjut tanpa henti, seperti hantu, dia muncul di dekat dua pria paruh baya berjubah biru.


Sekali lagi, cahaya pedang yang diselimuti hawa dingin bersinar menebas targetnya.


Pada saat kaki Zhang En menyentuh tanah di mana dia berdiri sebelumnya, Du Huaguang dan dua pria lainnya jatuh ke tanah tanpa kepala. Peng Feng dan Sun Haoran menatap tercengang saat tiga kepala berguling ke tanah yang sudah terpisah dari tubuh mereka.


Ekspresi kaget tampak jelas di wajah Peng Feng dan Sun Haoran saat tatapan mereka berpindah dari kepala yang telah bergulir di tanah, menatap Zhang En.


Melihat bahwa semuanya telah selesai, Zhang En berjalan mendekati empat mayat didepannya, dia lalu menambil empat cincin spasial dari masing-masing jari mereka. Kemudian, dengan putaran tangannya, percikan Energi api sejati membakar keempat mayat menjadi abu.

__ADS_1


Sun Haoran telah melihat Zhang En melakukan hal yang sama sebelumnya, dengan mayat Wu Zhang, oleh karena itu, dia tidak terlalu terkejut kali ini. Berbeda dengan Peng Feng, bagaimanapun, melihat tindakan Zhang En dalam berurusan dengan Li Li dan tiga tubuh lainnya, mengubahnya menjadi abu dalam sekejap, membuat dirinya merinding.


Setelah membakar keempat tubuh itu, Zhang En berjalan mendekati Peng Feng dan Sun Haoran. Melihat Zhang En mendekat, Peng Feng gugup dan sedikit khawatir, tidak tahu bagaimana harus bertindak.


"Kakak Ketiga, izinkan aku memperkenalkanmu, dia adalah saudara Zhang." Sun Haoran berbicara dan memperkenalkan Zhang En kepada Peng Feng, lalu, dia beralih melihat Zhang En, berkata, "Saudara Zhang, ini adalah Kakak Senior Ketiga seperguruanku, Peng Feng."


Peng Feng bergegas ke depan dan menjura, "Saudara Zhang, terima kasih banyak atas bantuanmu!"


Zhang En tersenyum, menjawab, "Jangan berterima kasih, aku hanya melakukan tugasku dan hanya sedikit membantu."


Peng Feng merasa sedikit tersanjung mendengar jawaban Zhang En yang tidak sombong.


"Kakak Senior Ketiga, apakah kau tahu di mana Guru dan Kakak Senior Tertua?" Sun Haoran bertanya pada Peng Feng, menunjukkan kecemasan, "Guru dan Kakak Tertua bisa dalam bahaya saat ini!"


Peng Feng juga tampak khawatir, “Setengah hari yang lalu, aku terpisah dari mereka, jadi aku juga tidak tahu di mana mereka sekarang. Tapi terakhir kali aku melihat Kakak Tertua, dia menuju ke area yang lebih dalam dari Istana Raja Hantu. "


“Area yang lebih dalam dari Istana Raja Hantu!” Sun Haoran berseru, "Mari kita pergi ke sana sekarang." Saat dia mengatakan ini, dia melihat ke arah Zhang En, bertanya, "Saudara Zhang, apa rencanamu?"


"Aku akan ikut dengan kalian." Jawab Zhang En.


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa Like & Vote!


__ADS_2