
Jubah mereka telah terkoyak dari atas sampai bawah, memperlihatkan tubuh telanjang mereka yang terkena sinar matahari. Tatapan Zhang En lalu turun ke arah bagian bawah mereka.
Tiba-tiba, Zhang En mengangkat sebelah kakinya, dan dalam dua gerakan cepat berturut-turut, kakinya mendaratkan tendangan di tubuh bagian bawah mereka.
Bukk... Bukkk....
"Akhhhhhhh.....!"
Jeritan melengking dari kedua pria itu terdengar dan suara gedebuk berderak yang mirip dengan kulit telur yang pecah. Pria gemuk dan pria kurus itu sama-sama mencengkeram pangkal paha mereka yang terluka, dan setelah mengeluarkan rintihan kwsakitan pertama, rasa sakit membuat suara mereka seakan tidak bisa keluar lagi.
Dong Fang dan semua laki-laki yang sedang melihat di sekitarnya mengencangkan kaki mereka masing-masing secara refleks dan merasakan rambut di permukaan kulit mereka merinding.
Tapi Zhang En masih belum selesai. Sebelum kedua pria dari Klan Mo itu bisa mengatur napas, Zhang En kembali mengirim tendangan lagi, ditujukan tepat ke perut mereka.
Gedebuk.. Gedebukk...!
Dua teriakan yang khas namun menyedihkan terdengar memenuhi udara. Tendangan ini membuat tubuh pria gemuk dan pria kurus itu jatuh seperti meteor yang jatuh dari langit mendarat dengan kepala terkubur di tanah.
BOOOMMMM!!!
Zhang En lalu mengerakkan sedikit tubuhnya dan tiba-tiba mendarat di tanah dalam sekejap dan kembali meluncurkan serangan tendangan cepat berturut-turut yang ditujukan ke pangkal paha mereka. Kali ini bukan lagi suara telur yang pecah, tetapi suara tulang bagian belakang mereka yang patah dan retak.
Semua orang tahu tanpa melihat bahwa senjata kedua orang ini telah benar-benar rusak. Namun, keduanya adalah pembudidaya Dewa Sejati, bahkan jika setiap tulang di tubuh mereka dipatahkan oleh Zhang En, mereka tidak akan mati, tetapi rasa sakit yang menyiksa sudah cukup untuk membuat mereka berada dalam keadaan antara hidup dan mati.
Dengan kedua tangan meraih tubuh mereka, Zhang En dengan mudah menarik keduanya keluar dari kondisi setengah terkubur dari permukaan tanah.
"Zhang-Zhang En, K-kami, kami tidak akan melupakan apa yang kau lakukan ini!" Pria gemuk itu melotot dengan tatapan kebencian dia mengucapkan kata-kata itu dengan gigi terkatup. Tapi, karena rasa sakitnya, kata-kata itu tidak keluar dan terdengar dengan jelas.
"Jika kau membunuh kami, Klan Mo pasti akan membalaskan dendam kami!" Mata merah pria kurus satunya lagi tertuju pada Zhang En seolah-olah dia tidak menginginkan apa pun selain melahap daging dan darah Zhang En.
Ekspresi wajah Zhang En tetap acuh tak acuh dan sia bertanya, "Ohhh. Benarkah??"
__ADS_1
Tanpa menunggu sepatah kata pun jawaban yang hendak keluar dari mulut mereka, kedua kepalan tangannya meninju, memukul dada mereka di mana pusat Qi mereka berada.
Qi Naga Dewa Iblis yang terkandung dalam serangan itu langsung menghancurkan Dantian kedua pria itu.
"Tidakkk..!"
"Akhhhh..!"
"Akhhh.. !"
Jeritan yang memekakkan telinga kembali bergema.
"Kalian jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan kalian berdua mati dengan mudah." Suara dingin Zhang En terdengar di telinga mereka.
Zhang En kemudian menyegel kedua meridian mereka dan melemparkan tubuh mereka ke dalam Gunung Dewa Emas. Dia perlahan akan menyiksa mereka nanti.
Bagi Zhang En, hal terpenting sekarang yang akan dia lakukan adalah menyembuhkan luka semua orangnya. Meskipun luka mereka disebabkan oleh serangan energi gelombang kejut kedua orang itu, dan sangat mempengaruhi kesadaran mereka, dengan bantuan Zhang En dan kedua kakak seperguruannya, segera luka semua orang menjadi pulih.
Kemudian Zhang En pergi untuk memeriksa cedera Tetua Shu dan Tetua Fu. Kedua pria tua itu terluka parah, napas mereka nyaris tidak ada lagi.
Untungnya, di dalam cincin soasial Zhang En, ada banyak ramuan berusia ratusan ribu tahun yang di berikan oleh gurunya dari hadiah dari patriark klan Pusat Dunia Bintang saat acara pengangkatan murid Sekte Roh Api.
Setelah serangkaian melakukan perawatan dan penyembuhan, Zhang En nyaris tidak berhasil membuat Tetua Shu dan Tetua Fu tetap hidup.
Tetua Shu dan Tetua Fu sangat penting bagi Zhang En, seperti keluarga sendiri. Bahkan jika hanya ada harapan paling tipis, dia akan melakukan segalanya untuk menyelamatkan mereka berdua.
Adapun 500 penjaga yang menjaga kediaman Klan Zhang selama ini, sejumlah besar dari mereka sudah mati, hanya menyisakan sekitar puluhan orang yang selamat.
Zhang En lalu memerintahkan penjaga yang sudah pulih sebagian untuk membersihkan tempat itu.
....
__ADS_1
Langit berangsur-angsur gelap.
Setelah seharian dalam keadaan ketakutan, Kediaman Klan Zhang mendapatkan kembali sebagian besar suasana biasanya pada malam hari. Aroma darah yang kental di udara telah menghilang, dan semua area yang hancur yang dapat diperbaiki telah diperbaiki.
Saat ini Zhang En berdiri diatas puncak gunung di belakang Kediaman Klan, memandang pemandangan laut dikejauhan. Cahaya bulan yang terang menyinari area sekitarnya, menampakkan bayangannya dipermukaan tanah.
Mengingat kejadian yang terjadi hari ini saat dia sampai di kediaman Klan Zhang, dia masih merasa bersalah. Jika dia kembali dengan selangkah lembih terlambat, semua anggota Klan Zhang pasti telah binasa.
Suatu hari akan datang ketika dia secara pribadi akan meratakan Klan Mo.
Pada saat ini, gemerisik tiupan angin yang lembut terdengar dari belakangnya. Zhang En lalu berbalik dan melihat wajah cantik Lie Hue.
Tiga tahun berada di Pusat Galaksi Bintang,, tetapi tidak banyak perubahan pada wajahnya.
Dua insan yang saling mencintai ini saling memandang dalam keheningan. Segala sesuatu di sekitar mereka tampak sunyi.
Tanpa peringatan, Lie Hue melompat ke dalam pelukan Zhang En, memeluknya erat-erat seolah-olah dia ingin melampiaskan kerinduan dalam pelukan pria yang dia cintai.
Lengan Zhang En lalu melingkari pinggulnya, lalu berkata dengan suara lemah lembut, "Apakah kau baik-baik saja dalam beberapa tahun ini?"
Lie Hue lalu mengangkat kepalanya mendongakke atas, matanya yang indah melebar karena bingung dan kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
Zhang En dibuat menjadi seorang pria yang terlihat bodoh dan linglung melihat gadis ini tertawa padanya.
Melihat reaksi Zhang En, Lie Hue tersenyum manis padanya. Ekspresi wajah bingung Zhang En sangat konyol, tapi itu jauh lebih baik daripada kemarahan yang dia tunjukkan pada siang hari ketika dia menghancurkan senjata kedua pria yang menangkapnya.
Zhang En tiba-tiba menundukkan kepalanya dan bibirnya menekan bibir mungil merah ceri Lie Hue, menyebabkan gadis itu menggigil dan pikirannya menjadi benar-benar kosong. Dengan lembut, Zhang En membuka mulutnya, lidahnya menangkap celah yang terbuka dan berliku-liku untuk menjarah bibir Lie Hue.
Ini membuat Lie Hue menegang selama beberapa saat sebelum beradaptasi dengan gerakan Zhang En, secara bertahap menanggapi ciuman Zhang En. Nafasnya semakin berat seiring waktu dan nafasnya terengah-engah semakin lama.
"Ummmhh. Ummmhhh...!"
__ADS_1
15 menit kemudian, bibir keduanya akhirnya berpisah.
Lie Hue sedikit terengah-engah, wajahnya sangat merah sehingga dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Zhang En. Ekspresi wajahnya yang seperti itu membuat Zhang En semakin ingin menciumnya dan dia lalu kembali melanjutkan ciumannya. Lie Hue mengeluarkan suara teredam karena bibirnya dijarah oleh Zhang En sekali lagi.