
Mereka berempat tidak berani melanggar perintah Zhang En, masing-masing menjawab dengan sangat hormat.
Dengan satu langkah, siluet Zhang En menghilang di depan mereka.
“Menurut kalian, apakah Tuan Muda adalah reinkarnasi dari Dewa Surga?” Melihat Zhang En telah pergi dari pandangannya, Lifei tiba-tiba berbicara.
Ada legenda lama di Dunia Roh Bela Diri bahwa setiap sepuluh ribu tahun, reinkarnasi manusia dari Dewa Surga akan muncul. Qin Yang dan tiga lainnya saling bertukar pandang dan tidak mengatakan apa-apa.
"Mari kita pergi." Qin Yang berkata setelah beberapa saat. Oleh karena itu, mereka terbang melesat ke arah Kota Terlarang.
Kota Hantu terletak di bagian utara Domain Tanah Kematian.
Berangkat dari Kota Suku Dewa ke Kota Hantu, jaraknya tidak terlalu jauh. Dua minggu kemudian, Zhang En tiba di perbatasan Kota Hantu.
Melihat daratan Kota Hantu setelah terbang beberapa hari lamanya, kabut kehijauan yang terlihat meresap ke udara dan kabut hijau itu bwrwarna energi abu-abu dan hitam.
Aura kematian yang musterius menyapu Zhang En.
Dengan cepat, dia mengeluarkan Qi pertempurannya, membentuk penghalang pelindung di sekitar tubuhnga. Menembus kabut yang memiliki aura kematian tebal di depannya, dia menembus ke dalam lapisan kabut hijau itu.
Di dalam Kota Hantu, tidak ada sinar matahari, sejauh mata memandang setiap arah tertutup oleh kegelapan senja.
Zhang En terus berjalan lebih jauh ke dalam Kota, dan kadang-kadang, dia mendengar jeritan dan suara aneh memasuki telinganya.
**Gwaa,
Gwaa,
Gwagagaa**....!
Di bawah pohon mati di depan, beberapa burung gagak hitam mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh.
Satu jam kemudian, Zhang En mendarat di tepi danau yang airnya berwarna hijau. Warna airnya sangat hijau sedemikian rupa hingga membuat perasaan ngeri merayapi punggung seseorang yang memihatnya. Di permukaan danau, gelembung-gelembung udara keluar dari dalam danau, saat gelembung itu bermunculan, danau itu melepaskan Qi iblis ke udara.
__ADS_1
Meskipun tidak ada matahari yang menyinari Kota Hantu, ada bulan berwarna merah darah tergantung di langit. Di bawah sinar bulan yang cerah, permukaan danau memantulkan cahaya merah darah. Di tepi danau, tumbuh tanaman yang tidak terlalu besar atau tidak terlalu keci. Tangkai tanaman itu hitam seperti tinta, namun buah yang dihasilkannya berwarna emas mewah, memancarkan keharuman yang eksotik.
Sambil mengeluarkan peta rinci yang dia beli ketika dia pertama kali tiba di Kota Suku Dewa, Zhang En kembali memeriksa peta itu untuk melihat lokasinya.
Setiap kali Kota Hantu muncul, itu akan berlokasi di dekat Gunung Roh Jahat, sehingga Zhang En berencana untuk mempercepat perjalanannya.
Dengan melihat di peta, Zhang En berhasil menunjukkan lokasinya dengan cepat. Menghitung secara kasar, untuk mencapai Gunung Roh Jahat dari tempatnya saat ini hanya akan membutuhkan tiga hingga empat hari dengan kecepatannya, sedangkan masih ada tujuh hingga delapan hari sampai Kota Hantu muncul. Masih banyak waktu dan dia tidak perlu terburu-buru, oleh karena itu dia memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah menyusuri seluruh daerah tersebut, Zhang En lalu menghilang dan muncul di tempat yang lebih tersembunyi di atas sebuah pohon kuno dan duduk disana untuk beristirahat sejenak.
Zhang En lalu memulihkan tenaganya sambil berkultivasi. Beberapa saat setelah dia membuka matanya, angin bertiup di udara. Mengedarkan pandangannya untuk melihat jalan yang ada di bawahnya, Zhang En melihat dua pria paruh baya berjubah biru sedang berjalan dan mendekat dari jauh.
“Kali ini, kita benar-benar mendapatkan panen yang melimpah dalam perjalanan kita ke Kota Hantu!”
“Haha, kau benar. Setelah kita berdua memperbaiki telur Naga Bumi ini, peluang kita untuk menerobos ke Pertapa Dewa akan meningkat menjadi sembilan persepuluh persen!"
Suara mereka yang terbawa angin mencapai telinga Zhang En yang sedang duduk diatas pohon.
Menilai dari percakapan kedua pria ini, sepertinya mereka mendapatkan telur Naga Bumi.
Telur naga mengandung esensi naga murni, dan esensi naga murni ini bukanlah sesuatu yang dapat dibandingkan dengan ikan energi spiritual yang di temukannya sebelumnya.
"Jika…!" Jantung Zhang En berpacu kencang, kemudian dia segera berdiri. Dengan sekali lompatan, dia sudah memblokir jalan kedua pria itu.
"Siapa?!" Kedua pria paruh baya itu dikejutkan oleh kemunculan tiba-tiba pemuda di depan mereka, dengan cepat mengumpulkan Qi pertempuran, bersiap untuk bertempur.
"Serahkan telur Naga Bumi!" Zhang En tidak membuang waktu mengoceh dan mengatakan banyakomong kosong, dia langsung menyatakan tujuannya.
Mata kedua pria itu menyipit sambil mengamati lebih lama pemuda yang ada di depan mereka, keduanya memperhatikan bahwa Zhang En hanyalah Pendekar Dewa Bintang empat, keduanya langsung rileks dan bernapas lega.
“Aku pikir siapa yang akan datang, tapi hanya seorang bocah kecil.” salah satu dari mereka menertawakan Zhang En, tetapi di saat berikutnya, ekspresinya berubah menjadi muram, "Nak, apa yang barusan kau katakan?"
Pria satunya lagi mencibir dengan sinis, "Baru saja bocah ini mengatakan dia menginginkan telur Naga Bumi kita." Suaranya terdengar kental penuh dengan ejekan.
__ADS_1
Kedua pria itu lalu tertawa terbahak-bahak.
“Kau benar, kami memang memiliki telur Naga Bumi.” Priia itu menatap Zhang En mencibir, dia berkata, "Bocah, apakah kau yakin cukup kuat untuk mengambilnya dari kami?"
"Mengapa berbicara begitu banyak omong kosong dengan bocah ini, bunuh dia dan selesaikan saja." Kata pria satunya lagi.
“Jangan terburu-buru, kita bisa menghabiskan waktu untuk bermain dengan bocah kecil ini.” pria itu berkata kepada Zhang En, "Bocah kecil, jika kau berlutut dengan patuh sekarang dan memakan tumpukan kotoran binatang itu, serta bersumpah untuk melayani kami, aku mungkin dalam suasana hati yang cukup baik untuk mengampuni hidupmu. Mungkin, aku bahkan mungkin cukup murah hati untuk memberimu beberapa cangkang telur Naga Bumi."
Sebuah jari menunjuk pada kotoran hitam besar tidak jauh dari sana, tidak tahu dari jenis binatang atau makhluk jahat apa itu berasal. Tumpukan kotoran itu sangat besar, mencapai pinggang orang dewasa.
Mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak, "Aku hanya takut cangkang telur Naga Bumi terlalu keras untukmu dan kau tidak bisa mencernanya." sambung pria lainnya.
Namun, saat dia sedang tertawa riang, Zhang En menghilang dari tempatnya dan muncul di depannya dalam sekejap. Pria itu terkejut, cahaya dingin terpantul di pupil matanya dan hal berikutnya yang dia tahu adalah rasa sakit sedingin es yang berasal dari lehernya.
Pria itu menyentuh lehernya, merasakan darah hangat merembes dari jari-jarinya.
"Kau!!" Dia menatap Zhang En dengan mata terbelalak tak percaya.
Tatapan di mata Zhang En sangat menakutkan, lalu setelah itu, telapak tangannya mendaratkan serangan di dada pria itu dengan kecepatan kilat, membuatnya jatuh ke tanah beberapa meter jauhnya, sampai akhirnya dia jatuh tepat di atas tumpukan kotoran hewan yang besar tadi. Kakinya bergerak-gerak di udara beberapa kali sebelum kehilangan nyawa.
Zhang En mengalihkan perhatiannya pada pria satunya lagi "Sekarang giliranmu."
Pada saat itu, pria itu kembali pulih dari keterkejutannya setelah menyaksikan temannya diserang, dia tidak dapat menyembunyikan keterkejutan dan kegelisahan di matanya.
“Adik, tidak! Senior!"Dia berseru dengan suara terbata-bata. Namun, dia hanya berhasil mengucapkan beberapa kata sebelum tinju Zhang En memukul kepalanya dan pecah, tubuhnya juga terlempar di tumpukan kotoran yang sama dengan temannya.
Zhang En menatap kedua tubuh itu dengan dingin.
Tidak butuh waktu lama bagi Huang Zhang En untuk menemukan cincin spasial kedua pria itu, dan di dalam cincin spasial salah satu dari mereka, ada telur raksasa setinggi dua tiga meter. Di permukaan telur naga, terlihat ada baris dan baris pola rahasia misterius yang padat. Zhang En merasakan dari dalam telur naga itu, ada pancaran energi mengerikan yang terkandung di dalamnya.
-
-
__ADS_1
-
Jangan lupa Like & Vote!