
Reaksi mereka yang ada di aula itu terhenti sejenak. Tawa mereka membeku.
Seorang pemuda di hadapan mereka, menunggangi seekor Musang saat memasuki aula. Di sebelah pemuda itu ada seorang wanita cantik duduk di atas seekor binatang iblis lainnya.
Melihat wanita cantik di samping pemuda itu, mata Mo Lei berbinar, hasratnya menggebu-gebu. Dia telah mencicipi banyak wanita dan telah melakukan perjalanan ke banyak dunia yang berbeda, tetapi ini adalah pertama kalinya dia menemukan kecantikan seperti itu.
Pria dan wanita ini adalah Zhang En dan Lie Hue.
Sedangkan kompok Zhang En lainnya yang baru tiba beberapa orang tetap berada di luar untuk berurusan dengan pasukan Klan Mo.
Perhatian Mo Lei kemudian beralih ke dua binatang iblis yang di tunggangi sepasang pria dan wanita yang baru saja muncul.
Mo Lei bahkan tidak repot-repot untuk berdiri, menunjuk satu jarinya ke arah baaahannya yang terbaring di tengah aula, bertanya dengan sombong, "Apa artinya ini?"
Pada saat ini, salah satu tetua Klan Mo yang dekat dengan Mo Lei berbicara, "Kakak, pemuda ini sepertinya Zhang En?"
Orang yang berbicara adalah salah satu dari empat Tetua yang mengambil alih istana Klan Zhang yang di tinggalkan dulu, Mo Lu.
Di antara mereka berempat bersaudara, Mo Lei adalah yang tertua, dan Mo Lu adalah yang kedua.
"Zhang En?" Mo Lei terkejut, seolah-olah dia tidak pernah mengira penyusup ink adalah orang yang ingin ditangkap oleh mereka.
Dia memandang Zhang En sekali lagi. Ketika dia memperhatikan bahwa pemuda ini benar-benar Zhang En, dia tertawa bahagia. “Zhang En? Haha, kau adalah Zhang En! ” Matanya lalu tertuju pada Lie Hue, “Hmm. Cantik, benar-benar kecantikan yang luar biasa!”
Mengetahui pemuda ini adalah Zhang En, Mo Lei tidak lagi menyembunyikan keinginannya, matanya dengan terang-terangan menjelajahi seluruh tubuh ramping Lie Hue.
Seperti dengan Mo Chan sebelumnya, Mo Lei tidak menempatkan Zhang En di matanya.
Mo Lu bergabung dengan Mo Lei dalam tawa, “Kakak, gadis kecil ini sangat cantik dan mempesona. Setelah kita menyedot esensi kehidupan wanita ini, kultivasi kita pasti bisa meningkat pesat!”
__ADS_1
Semua orang di dalam aula itu lalu tertawa keras dan mrngangguk setuju.
Lie Hue memancarkan niat membunuh yang mengerikan. Dan Zhang En mencibir, "Sekelompok orang yang akan mati, masih ingin tertawa bahagia."
"Bajingan, apa yang kau katakan barusan ?!" Tawa Mo Lei berhenti tiba-tiba saat niat membunuh melonjak di matanya. Dia berbalik ke arah salah satu tetua lainnya, yang mengerti arti tatapan Mo Lei.
WUSHHH!!! Dalam sekejap mata, tetua itu menghilang, lalu muncul lagi sambil mengayunkan pukulan kuat ke arah Zhang En.
Kekuatan tinjunya seakan menghancurkan ruang hampa, menyebabkan aliran udara di aula itu berputar dalam pusaran yang bergejolak.
Tepat ketika tinju tetua itu tiba di depannya, Zhang En mengangkat tangan kanannya, mencengkeram tinju tetua itu. Kemudian, dengan tarikan, di depan wajah Mo Lei dan wajah terkejut lainnya, tangan tetua itu dicabut oleh Zhang En dari badannya.
Setelah itu, Zhang En mendaratkan pukulan tepat di Dantian tetua itu, kemudian langsung menghancurkannya.
DUARRR!!! Kekuatan pukulan Zhang En meledak menembus tetua itu dan tubuhnya menuju Mo Lei, yang duduk tidak jauh di belakang.
Melihat hal ini, Mo Lei lalu membanting telapak tangannya untuk melawan serangan Zhang En. Telapak tangan berwarna merah darah bertabrakan dengan kekuatan pukulan Zhang En.
BOOMMMM!!!
Namun, kekuatan pukulan Zhang En luar biasa, melebihi perkiraan Mo Lei. Jejak telapak tangannya yang berwarna merah darah menyebar seperti kabut di depannya saat kekuatan yang kuat membuat dia di buat terbang ke udara. Kursi tempat dia duduk juga terbang dari tempatnya, menghancurkan dinding di belakangnya.
Mo Lu dan tetua lainnya membeku di tempat, menatap Mo Lei dengan tidak percaya saat batuk darah di tumpukan puing-puing dinding aula.
Tidak peduli dengan keterkejutan semua orang ini, tangan Zhang En lalu membentuk cakar, meraih tetua yang menyerangnya pada awalnya dibagian kepala. Dengan putaran cakaranya, seperti Mo Chan, kepala tetua itu di terputus dari badannya.
Hujan darah tetua itu membuat Mo Lu dan yang lainnya tersadar. Wajah mereka menjadi pucat karena ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kau, siapa kau sebenarnya?!" Mo Lei berjuang bangkit dari lantai, tatapannya tertuju pada Zhang En, tidak bisa menyembunyikan ketakutan di matanya.
__ADS_1
Di antara para tetua yang ada di aula, hanya dia yang benar-benar memahami sejauh mana kekuatan menakutkan Zhang En.
Mo Lei menolak untuk percaya bahwa pemuda depannya ini adalah bukan Zhang En yang asli.
Zhang En menjawab acuh tak acuh, "Setelah kau mati, Mo Chan akan memberitahumu. Sebelum kesini, aku telah pergi ke kota kekaisaran."
"Mo Chan?" Mo Lei dan yang lainnya terkejut.
Mo Lei dan tetua lainnya segera mengerti arti kata-kata Zhang En. Wajah mereka menjadi pucat tanpa darah, jika Zhang En datang dari Kota Kekaisaran, maka, tanpa ragu, Mo Chan sudah mati.
Tiba-tiba, Mo Lei berteriak, seluruh tubuhnya meledak menjadi kabut darah yang melesat ke langit, ingin melarikan diri. Teriakannya membuat Mo Lu dan yang lainnya berhamburan dan melarikan diri ke arah yang berbeda.
Mereka tidak memiliki keberanian atau kepercayaan diri untuk melawan pemuda yang bisa membunuh Mo Chan.
Menyaksikan Mo Lei, Mo Lu, dan yang lainnya melarikan diri untuk hidup mereka, Zhang En hanya mencibir ketika bayangan telapak tangan Buddha yang tak terhitung banyaknya muncul dari punggungnya.
Zhang En lalu melemparkan serangannya ke dalam kekosongan ke arah tertentu, namun serangan satu telapak tangan ini mengirim Mo Lei dan yang lainnya yang melarikan diri ke segala arah jatuh kembali ke aula. Masing-masing dari mereka memiliki bekas telapak tangan yang tercetak di dada mereka, tepat di atas Dantian mereka.
Serangan itu telah benar-benar menghancurkan Dantian, meridian, serta organ dalam mereka.
"Aku tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah." Zhang En menatap wajah-wajah ketakutan dari delapan tetua Klan Mo termasuk Mo Lei dan Mo Lu.
Saat Mo Lei membuka mulutnya untuk memohon belas kasihan, telapak tangan Zhang En telah menamparnya, menghancurkan setiap tulang di tubuhnya.
"Argghhh..! TIDAK !" Mo Lei berteriak dengan suaranya yang sudah serak karena kesakitan.
Mo Lu dan tetua lainnya menyaksikan dengan ketakutan saat Zhang En menghancurkan setiap tulang di tubuh Mo Lei dengan satu tamparan. Wajah Mo Lei sekarang sudah pucat pasi, berteriak kesakitan. Permohonan belas kasihan yang tidak jelas terdengar dalam jeritannya, memohon agar Zhang En membebaskannya.
Mo Lu dan tetua lainnya juga dengan cepat memohon belas kasihan, namun Zhang En seakan tidak mengubris mereka. Dengan memberikan satu tamparan pada mereka masing-masing, Mo Lu dan tetua lainnya bernasib sama seperti Mo Lei, setiap inci tulang mereka di reduksi dam hancur berkeping-keping.
__ADS_1