
Di aula istana Kota Harimau Suci, Patriak Hu Fan dan para Tetua Suku Harimau sudah menunggu Zhang En.
"Yang Mulia..!"
Melihat Zhang En kembali, Hu Fan dan semua Tetua melangkah maju dan memberi hormat.
“Mari kita pergi ke Kuil Dewa Binatang!” Zhang En tidak ingin berlama-lama dan memerintahkan semua orang untuk segera berangkat.
Saat di Lembah Naga Beracun, dia telah mengumpulkan total tiga puluh enam batang Rumput Dewa Naga, itu sudah cukup untuk memurnikan empat naga ilahi. Tapi sekarang bukan saat yang tepat baginya untuk memurnikan tubuh kristal naga ilahim
Tidak membuang waktu lama mereka langsung berangkat dengan Hu Fan sebagai pemimpin kelompok.
Setiap tahun ketika tiba waktunya untuk menuju ke Kuil Dewa Binatang, selain ahli para ahli tetua suku beastmen, beberapa murid akan dipilih untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam kompetisi pertemuan tahunan Suku Beastmen.
Tapi kali ini, Zhang En telah memerintahkan sebaliknya, jadi hanya para Tetua Suku Harimau dan Zhang En sendiri yang di ikutsertakan dalam perjalanan ini.
Sembilan hari berlalu dengan cepat.
Kegelapan menutupi langit saat matahari terbenam saat malam tiba.
Di area terbuka besar di hutan, Zhang En dan sekelompok Tetua Suku Harimau sedang duduk di sekitar api unggun dengan aroma daging panggang di atas api.
Untuk mencegah kelompok Sekte Gagak Hitam mengenalinya, Zhang En menggunakan energi sejati untuk mengubah fitur wajahnya. Saat ini, garis rahangnya terlihat tajam, alisnya tebal seperti pedang, terlihat mendekati usia tiga puluh tahun, memancarkan pesona dewasa dari seorang pria yang sedikit lebih tua serta fisiknya lebih kekar dan berotot.
Hu Fan dan Tetua Suku Harimau lainnya menatap dengan kagum dan keheranan saat wajah Zhang En berubah tepat di depan mata mereka.
Berkumpul di sekitar api unggun, menyaksikan daging berderak dipanggang di atas api dan mencium aroma yang meresap ke udara, para ahli Suku Harimau itu menelan ludah mereka dengan rakus.
Namun, mereka hanya bisa melihat daging panggang itu. Semasih Zhang En tidak bergerak, mereka tidak berani bergerak sebelum dia melakukannya.
Secara alami, ras beastmen sangat menyukai daging. Dalam beberapa hari perjalanan, setelah mencicipi daging panggang buatan Zhang En, mereka menyadari bahwa semua daging yang mereka makan selama ini sangat berbeda rasanya.
Akhirnya, Zhang En mengiris sepotong daging dan memasukkannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan santai. Lebih dari sepuluh pasang mata mengawasinya dengan air liur yang menetes.
"Mari kita makan." Melihat semua ekspresi wajah Tetua Suku Harimau, senyum kecil muncul di wajah Zhang En.
"Terima kasih banyak, Penguasa!"
Hu Fan dan para Tetua itu berseri-seri, mengucapkan terima kasih dan mulai berkelahi di antara mereka sendiri untuk mendapatkan daging.
__ADS_1
Meskipun demikian, tidak peduli bagaimana mereka bertarung di antara mereka sendiri untuk mendapatkan daging, tidak ada yang berani menyentuh potongan daging yang dipotong Zhang En di hadapan mereka.
Mereka semua melahap daging yang sudah di panggang dalam sekejap.
“Daging binatang apa ini? Sangat enak!"
“Baunya juga enak!”
Tiba-tiba, dari kejauhan, sebuah suara berseru, diikuti oleh desiran angin yang bertiup ke arah mereka. Dari suaranya, ada cukup banyak orang yang bersama dengannya.
Dalam sekejap mata, lebih dari tiga puluh orang muncul di depan kelompok Suku Harimau. Mereka saling berhadapan, baik para pendatang baru dan Suku Harimau sama-sama terkejut.
“Hehe, Ternyata Patriak Hu Fan!”
Seorang pria paruh baya keluar dari kelompok yang baru datang dan tersenyum kepada Hu Fan. Hanya saja senyuman orang ini menimbulkan perasaan seram. Belum lagi mata dinginnya yang diwarnai dengan tatapan mata kebencian yang selalu terlihat di wajahnya yang membuat orang waspada kepadanya.
“Oh.. Patriak She Nee!” Meskipun Hu Fan berbicara, dia tetap duduk dan tidak beranjak dari tempatnya untuk berdiri.
Pria paruh baya yang di panggil oleh Patriak Hu Fan adalah She Nee, Patriark Suku Ular.
Zhang En telah menebak asal kelompok ini ketika mereka tiba. Suku Ular mengeluarkan bau aneh yang membuat orang mual. Mereka juga memiliki tanda garis halus yang mudah dikenali di sudut mata dan dahi yang menyerupai kulit ular.
She Nee lalu membawa kelompoknya dan mendekati api unggun. Ketika dia sudah dekat, dia menyadari bahwa ada manusia yang duduk di samping Hu Fan dan tertegun sesaat.
Mendekati api unggun, dia melihat bahwa semua tempat duduk telah terisi, tanpa ada tempat untuk bisa duduk. Dengan tidak ada keraguan dalam langkahnya, dia berjalan menuju Zhang En, berkata, "Nak, enyahlah!" Kakinya terulur untuk menendang Zhang En.
Sebelum kaki She Nee mengenai Zhang En, semua ahli Tetua Suku Harimau melompat berdiri dalam kemarahan, termasuk Hu Fan, seolah-olah mereka akan mencabik-cabik She Nee dan menelannya utuh.
Reaksi dramatis itu membuat She Nee ketakutan.
Reaksi kelompok Suku Harimau juga mengagetkan anggota Suku Ular lainnya, hingga masing-masing dari mereka, termasuk She Nee menatap Hu Fan dan para Tetua Suku Harimau dengan mata kaget.
"Patriak Hu Fan, dia adalah ras manusia biasa." She Nee terkekeh seolah membuat lelucon, "Tidak perlu bereaksi berlebihan seperti ini, kan?" Tetap saja, dia dengan canggung menurunkan kakinya yang akan menendang Zhang En.
“She Nee, enyahlah sekarang juga atau jangan salahkan aku karena bersikap kasar kepada kalian semua!” Hu Fan membentaknya dengan suara dingin dan tegas.
Ekspresi She Nee berubah jelek dalam sekejap, dia adalah Patriak Suku Ular, salah satu dari sepuluh ahli terkuat dari suku beastmen, namun Hu Fan ini membentaknya di depan semua orang, bahkan mengancamnya.
“Hu Fan, apakah kau benar-benar mengira aku takut kepadamu?” Cahaya dingin berkilat di mata She Nee, "Baiklah, mari kita bermain sedikit!" She Nee berteriak karena kemarahan sudah meningkat di dalam hatinya.
__ADS_1
Hu Fan terkekeh dengan tantangan She Nee, dia lalu melompat dengan momentum yang kuat saat tinjunya mengarah ke arah She Nee.
She Nee tidak menyangka bahwa Hu Fan, sebagai Patriak Suku Harimau, akan menyerangnya tanpa ragu-ragu. Karena gugup, tangannya mencakar kedepan mengeluarkan cahaya hijau tua yang membentuk menjadi ular hijau raksasa.
Seekor nayangan harimau dan ular saling bertabrakan.
DUAAARRRR!
She Nee termpar ke belakang lebih dari beberap langkah sebelum dia menenangkan diri, sementara Hu Fan mendarat kembali di tempat yang sama sebelum dia menyerang.
Saat She Nee mendapatkan kembali keseimbangannya, dia menatap Hu Fan dengan murung. Meskipun dia adalah salah satu dari sepuluh ahli beastmen, dibandingkan dengan Hu Fan, dia masih sedikit lebih lemah.
"Baiklah!" She Nee mencibir, “Hu Fan, kuharap kau masih bisa sombong sekarang, tapi dua hari kemudian di pertemuan suku! Dendam kita hari ini, aku akan mengingatnya!"
"Nak, aku akan menghajarmu sampai mati saat itu tiba!" She Nee tiba-tiba pergi, matanya yang menyeramkan menatap Zhang En.
"Mari kita pergi!" She Nee melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada kelompoknya untuk pergi.
Hu Fan mendengus melalui hidungnya, tapi tepat ketika dia dan semua Tetua Suku Harimau ingin menghentikan She Nee pergi, Zhang En melambaikan tangannya, "Biarkan mereka pergi."
Mendengar ini, Hu Fan dan yang lainnya berhenti.
“Penguasa, ini…!” Hu Fan enggan untuk melanjutkan perkataannya.
“Masih banyak peluang jika kita bertemu dengannya. Aku sangat menantikan pertemuan suku beastmen dua hari lagi, aku ingin melihat bagaimana She Nee akan menghajar aku sampai mati." Ucap Zhang En, kilatan tajam bersinar di matanya.
Mereka semua hanya bisa mematuhi perkataan Zhang En.
Pesta makan mereka kembali berlanjut.
Beberapa ratus meter jauhnya dari tempat kelompok Zhang Eb berada, She Nee dan orang-orang Suku Ular berhenti.
She Nee tiba-tiba meninju bukit di depannya dan meratakan bukit itu untuk melampiaskan amarahnya.
Orang yang bersamanya menyaksikan dengan ketakutan.
"Patriak, Patriak Hu Fan itu benar-benar bertarung denganmu karena ras manusia rendahan." Tetua Agung Suku Ular She Di berbicara dengan hati-hati, "Ada yang aneh dengan hal ini."
She Nee tertawa dingin, “Aku tidak peduli siapa manusia itu, dua hari lagi, setelah berhadapan dengan Suku Harimau di pertemuan suku, aku akan membiarkan anak itu merasakan nikmatnya dimangsa oleh seribu ular!” Membayangkan adegan itu, She Nee mengeluarkan tawa jahat.
__ADS_1
"Patriak She, Patriak Lion Zi telah tiba di Kuil Dewa Binatang." Salah satu Tetua Suku Ular melangkah maju untuk melaporkan.
“Bagus, mari kita segera menemui Suku Singa, Suku Serigala, dan Suku Rubah!” She Nee terbang, menghilang dari tempat itu bersama kelompok ahli Suku Ular.