Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 249. Dua Bukit Yang Menggantung


__ADS_3

Murid yang mati terkena serangan Pedang Dewa Kematian Xie Dan langsung berubah menjadi mayat kering dan memancarkan aura kematian dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Tuan Muda Xie Dan...!"


Beberapa Tetua Sekte Dewa Bintaang bergegas menuju Xie Dan, mencoba untuk menahannya agar tidak menimbulkan lebih banyak kerusakan.


"Tuan Muda, bagaimana kondisi Anda?" Feng Chen bertanya ketika Xie Dan sudah tampak merasa lebih tenang.


Xie Dan memandang mereka semua, aura kematian di tubuhnya berangsur-angsur mereda.


"Hemmph.... Aku baik-baik saja." Xie Dan menarik napas dalam-dalam sambil menyingkirkan Pedang Dewa Kematian. 


Dalam sekejap, dia mendarat di atas tanah. Ketika melihat ribuan tubuh murid Sekte Dewa Bintang berserakan di sekelilingnya yang mati mengenaskan, tinju Xie Dan terkepal erat.


“Baj1ngan Zhang En, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri..! Saat itu, kau akan menyesali kenapa kau bisa di lahirkan di dunia ini” 


Xie Dan berteriak dalam kesedihan dan diliputi kemarahan, aura pembunuh yang kental meledak dari tubuhnya.


Semua para ahli dari seluruh Kekuatan Sekte dari Benua Awan Bintang hanya bisa saling bertukar pandang dalam diam.


Tidak ada yang membayangkan bahwa hari pernikahan dan pesta besar yang di buat oleh Pihak Sekte Dewa Bintang untuk tuan muda mereka berakhir seperti ini, tetapi banyak hal yang telah terjadi dan mengubah pandangan mereka, para tamu enggan untuk tinggal lebih lama.


Semua kekuatan itu secara bertahap mendekati Xie Dan untuk mengucapkan selamat tinggal.


Melihat mereka semua pergi tanpa berpikir dua kali, wajah Xie Dan dan para Tetua dari Sekte Dewa Bintang tidak terlihat terlalu baik.


“Tuan Muda Xie, berikan kami perintah, mari kita serang Sekte Gerbang Naga! Musnahkan semua murid Sekte milik Zhang En!" Suara Feng Chen dipenuhi dengan kebencian yang dalam, "Jika kita tidak memusnahkan Sekte Gerbang Naga, kita akan menjadi bahan tertawaan diseluruh Benua yang ada di dataran ini.!"


"Benar Tuan Muda, turunkan perintah kepada kami semua,!" Hu Shan juga berkata dengan nada amarah, "Kebencian dan dendam penghinaan hari ini tidak dapat dipadamkan kecuali si baj1nan Zhang En itu mati!"

__ADS_1


Semua Tetua Sekte Dewa Bintang lainnya, yang berada di tempat itu merasakan hal yang sama.


Xie Dan tampaknya malah menarik nafas dalam-dalam, dan berbicara dengan nada yang tedengar sungguh-sungguh, "Aku akan meminta seseorang untuk menemui Ayahku!" 


Meskipun dia ingin membunuh Zhang En pada saat ini juga, menyerang secara langsung ke Sekte Gerbang Naga bukanlah sesuatu hal baik dan malah akan menambah masalah.


Menurutnya, dengan adanya Zhang En yang memimpin Sekte Gerbang Naga sekarang ini, Zhang En adalah sosok yang memiliki eksistensi yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun, bahkan dirinya sendiri.


"Tetua Feng Chen, Kepala Domain Hu Shan." Xie Dan berbicara dengan dingin, "Sampaikan perintahku kepada semua murid Sekte Dewa Bintang yang ada di Doamain setiap Kota pemerintahan Sekte kita, murid-murid Sekte Gerbang Naga dan keluarga yang tunduk di bawah kekuasaan Sekte Gerbang Naga, selama mereka muncul di setiap wilayah Sekte Dewa Bintang, bunuh mereka semua tanpa ampun!"


"Baik Tuan Muda!" Jawab mereka semua dengan hormat.


•••


Pada saat ini, Zhang En dan ketiga wanita yang bersamanya muncul diatas bukit yang ada di perbatasan Doamin Hanguo bagian barat. 


"Adik Hong, kau telah merasakan penderitaaan dalam beberapa hari terakhir. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Zhang En berkata sambil menatap Hong Xiao.


Mata Hong Xiao tiba-tiba menjadi merah, dia menangis saat dia terjun ke dalam pelukan Zhang En.


Pada saat itu, Zhang En terkejut dan hanya bisa berdiri mematung di tempat.


"Deg... Deg... Deg !"


Jantung Zhang En berdetak lebih kencang saat merasakan dua buah bukit yang menggantung dan terasa besar menempel di dada bidangnya.


Sedangkan kedua pelayan Hong Xiao berdiri dengan tatapan kosong menyaksikan adegan yang roamtlantis yang ada di depan mereka.


Kedua gadis itu sadar jika selama ini Putri kerajaan mereka ini bersikap menyendiri terhadap setiap laki-laki yang dia temui. Meskipun mereka tahu bahwa tujuan utama Putri Hong datang jauh-jauh ke Benua Awan Bintang kali ini adalah karena Zhang En, setelah menyaksikan pemandangan di depan mereka, otak mereka sedikit lambat karena sedang terhanyut dengan adegan yang sedang terjadi di depan mata mereka berdua.

__ADS_1


Zhang En merasa semakin canggung melihat tatapan yang datang dari kedua pelayan itu, dia dengan ringan menepuk bahu Hong Xiao sambil berkata, "Baiklah, aku mengerti dengan apa yang kamu alami, tapi, lepaskan dulu pelukanmu karena ada orang yang sedang menonton kita."


Hong Xiao segera menyadari kesalahannya, mengingat bahwa kedua pelayan setianya berdiri di samping mereka. Dia dengan cepat melepaskan Zhang En dan mundur menjauh dengan perasaan bingung saat rona merah cerah merayap di wajahnya.


Suasana di tempat itu berubah menjadi aneh dan canggung.


“Tuan Muda Zhang, Xie Dan keparat itu memaksa Putri dan kami untuk menelan semacam pil obat berwarna abu-abu setelah menangkap kami, dan setelah itu, kami tidak dapat menggunakan Qi milik kami sama sekali. Dia juga mengatakan bahwa jika kamj tidak diberi obat penawar dalam waktu satu bulan, kita tidak akan pernah memulihkan diri dan menggunakan Qi seumur hidup..!" 


Pada saat itu, pelayan bernama Rou berbicara, memecah keheningan yang canggung itu.


“Itu benar Tuan Muda Zhang, jika tidak ada penawarnya, maka Putri…!”  Pelayan Yue berkata dengan ekspresi khawatir yang teihat membayangi wajah kecilnya.


"Pil berwarna abu-abu?" Alis Zhang En berkerut mendengar hal ini, lalu dia mengeluarkan tiga ramuan dari cincin soasialnya. 


“Ini adalah Ramuan penawar segala macam racun, Bunga Lotus Putih. Kalian makan lah ramuan ini dan mari kita lihat apakah ramuan ini bisa mengeluarkan racun di tubuh kalian masing-masing ." Ucap Zhang En menjelaskan.


"Bunga Lotus Putih..!" Mata Hong Xiaofei menjadi bulat karena merasa takjub dan senang.


Zhang En mengangguk dengan sedikit tersenyum menyemangati mereka, “Kalian telanlah ramuan ini terlebih dulu, lalu bermeditasi. Aku akan menjaga kalian." Sambil menyerahkan Bunga Lotus Putih itu kepada mereka bertiga


Lalu Zhang En pergi berjaga di samping, untuk meawasi sekitar bukit itu.


Ketiga wanita itu duduk dalam posisi meditasi sambil menelan Bunga Lotus Putih dan mulai menjalankan teknik kultivasi mereka untuk menghilangkan racun.


"Hemmm.. Dengan begini, aku sudah merasa lega! Setidaknya aku bisa menyelamatkan Putri kakak Senior raja Hong Bei, seandainya aku masih bertarung, bagaimana bisa aku melawan Xie Dan sedangkan keselamatan nyawa mereka bertiga adalah hal yang paling utama!"


Saat memandang Hong Xiao yang sedang menutup matanya, Zhang En teringat akan sesuatu hal saat dia mendengar Xie Dan mengatakan padanya bahwa Hong Xiao telah memiliki seseorang yang dia sukai, dan orang itu adalah dirinya sendiri, dia masih tidak mempercayai perkataan pria bernama Xie Dan. Namun, dari cara Putri Hing Xiao yang tiba-tiba memeluknya barusan dan juga menatapnya, perasaan terpikat yang dipancarkan wanita itu padanya sangat terlihat jelas.


"Sudahlah, lupakan saja!"

__ADS_1


__ADS_2