TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 92. Masalah Lainnya


__ADS_3

Kami sudah bicara ke Papa Tata dan sekarang mulai mengatur persiapan pernikahan. Seorang wanita yang merupakan istri Kevin Wijaya, bernama Renata, wanita yang terlihat ramah dan suka sekali bicara itu, menemui kami sendiri untuk memperkenalkan salah satu staff-nya yang akan membantu kami.


"Saya Renata, pemilik WO Pak Kevin meminta saya menemui Pak Derrick dan Bu Anita sendiri karena karena katanya kalian teman, kami juga menyediakan khusus catering pernikahan tapi saya beranggapan kalian akan lebih baik memakai restoran hotel untuk pernikahan seperti ini."


"Kami tidak punya bayangan apa saja yang harus kami kerjakan, bisakah kau mengatur dan mengingatkan kami, karena masing-masing dari kami juga punya jadwal yang ketat."


"Tentu saja... Kami ada untuk itu. Nah ini Lena dan Irvan dia yang akan langsung membantu kalian nanti."


Semuanya sudah diatur, Tata terlihat senang ketika kami mempersiapkan ini, nampaknya semuanya bagus belakangan.


Sebuah telepon masuk sekarang. Sandra? Ini hari pertamanya menemani klien boss, kenapa dia sudah meneleponku.


"Sandra, ada apa?"


"Aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini, bisakah kau mengirim orang mengantikanku, aku rela potong gaji, apapun yang kau inginkan." Apa lagi yang terjadi sekarang.


"Kenapa begitu?" Sebelum dia menjawabnya sebuah tanda telepon lain masuk. " Tunggu dulu..." Boss Philip.


"Apa yang dilakukan orangmu itu! Bilang padanya untuk kembali bertugas! Jika dia tidak kembali aku akan mencarinya sendiri karena dia membuat arsitekku kabur! Bilang padanya tetap di Hanoi!"


"Aku akan bilang padanya."


"Bagus! Aku tak mau tahu pokoknya kau urus dia tetap di sana bagaimanapun caranya! Menemani Oliver sampai selesai!"


Apa yang sebenarnya terjadi di sini?! Boss marah-marah, Sandra minta keluar? Dan Oliver siapa arsitek ini? Saluran dengan boss terputus aku kembali ke Sandra.


"Ada apa denganmu?! Kau tak bisa keluar seenaknya begini? Kau meninggalkan tamu?!"


"Ko Derrick bisakah aku meminta penganti?"


"Tidak bisa! Boss meneleponku marah-marah! Oliver itu mau kau kembali, atau dia tidak akan bekerja! Kau tak akan mau tahu jika Philip marah pekerjaannya kau kacaukan apa yang bisa dia lakukan padamu! Kembali ke sana dan lakukan pekerjaanmu? Apa dia bisa membunuhmu? Nyawamu terancam? Kenapa kau mau pergi?"


"Astaga! Sialan! Sial! Oliver brengsek itu sialan!" Aku mendengar Sandra mengumpat tak jelas. "Aku akan membuatnya menderita!"


"Sandra kuperingatkan kau, jangan main-main ke boss besarmu! Itu tamu Philip! Jika sesuatu terjadi padanya aku tak akan bisa menolongmu dari kemarahan Philip? Ada apa sebenarnya?"

__ADS_1


Dia tidak menjawabku sekarang.


"Sandra?! Kau dengar aku!?"


"Ergggh, sial! fine-fine, dia lihat bagaimana aku mengurusnya! Sialan itu!"


"Sandra, jika dia mengadu kau membuat masalah dengannya, kau akan menerima akibatnya. Kau lebih baik berpikir masak-masak sebelum bertindak. Jangan menyeretku ke dalam masalah. Sebenarnya ada apa dengan Oliver itu?"


"Tidak ada! Akan kuhadapi dia!" Dia memutuskan teleponku. Aku menghela napas, aku akan mengecek keadaannya nanti. Kalau dia bilang bisa menghadapinya dia akan menghadapinya.


Sebuah telepon masuk, kali ini dari Lisa kenapa dia meneleponku? Aku sudah bilang padanya aku tak bisa membantunya lagi di persoalan pribadi.


"Iya?"


"Ko sorry, aku nelepon bukan buat gangguin Koko, bisa minta bantuan kenalin pengacara?"


"Pengacara? Kamu bermasalah dengan siapa?"


"Mantan suami. Tapi aku hanya mau referensi, tidak usah libatin Koko. Setelah ini aku gak telepon lagi. Sorry sebelumnya,..."


"Iya oke. Thanks Ko." Dia menutup telepon singkat itu. Aku menelepon Erwin.


"Win, bisa tolong kirim seseorang pengacara perceraian keluarga bantu teman saya? Saya tidak ingin tahu masalahnya, bantu dia selesaikan saja. Tagihkan 70% biayanya ke saya, supaya dia tidak berat membayar biaya konsultasinya. Jika ada pengancaman fisik, telepon Jonny buat bantu. Nanti saya pesan ke Jonny. Tapi bilang saja itu service itu dari kalian. Intinya jangan bilang itu dari saya."


"Ohh begitu, oke, saya mengerti, akan diurus."


"Catat nomornya oke." Kuberikan nomor Lisa. Sudah ada orang membantunya, ya sudah. Kurasa aku memastikan ini cukup.


Yang aku khawatirkan adalah Sandra sekarang, aku tak tahu bagaimana dia akan menghadapi kliennya, entah siapa dan bagaimana nampaknya dia pernah terlibat masalah dengannya.


Tapi kemudian sampai tiga hari kemudian nampaknya tidak ada masalah terjadi, yang berarti ini adalah hari ke empat dari lima hari yang dijadwalkan untuk periode kunjungan Oliver sebelum dia kembali ke kantornya di Hongkong.


'Apa kau baik-baik saja? Kau masih hidup?' Memang cara bicaraku dengannya begini.


'Fine. Tentu saja aku masih hidup jika tidak aku tak membalasmu.'

__ADS_1


Dia masih seperti biasa. Mwnjawabku dengan ketus dan seenaknya. Tampaknya dia memang baik-baik saja.


'Good. Kau nampaknya bekerja dengan baik. Bersemangatlah.'


Dia hanya memberiku jempol sebagai jawabannya. Nanti saja aku menanyainya.


Aku kembali ke rumah. Ada seseorang di rumah Tata, entah mobil siapa yang ada disana.


"Tata mana Bi?"


"Ehh ada tamu Tuan diatas, Non Tata sama Non... Ceri,... kayanya namanya Ceri."


"Ohhh..." Maksudnya mungkin Cherrie, kenapa dia disini. "Maksudnya Cherrienya nginep Bi?"


"Iya kayanya Tuan, tadi saya disuruh siapin kamar tamu."


"Ohh baiklah, itu ada makanan, nanti kalau Non turun bilang saja, saya pulang ke rumah dulu."


"Iya Tuan." Aku kembali, nampaknya sesuatu sudah terjadi berminggu-minggu yang lalu gadis itu sedang tertekan, jangan-jangan sekarang dia bertengkar dengan Ayahnya dan kabur ke tempat Cherrie.


Aku tak tahu apa yang terjadi, Tata belum menelepon atau mengatakan apapun sampai malamnya tengah malam akhirnya dia meneleponku.


'Cherrie bertengkar dan di tampar Ayahnya. Dia pergi dari apartmentnya.' Ternyata benar, gadis itu kabur.


'Kupikir ya sudah tunggu dia tenang dulu saja, dia cuma perlu teman bicara.'


'Kenapa dia sampai bertengkar?'


'Perang mulut, karena Ayahnya tidak setuju tindakan Cherrie menandatangani sebuah persetujuan di perusahaan, lalu menyuruhnya melepas jabatan. Ya begitulah, Cherry merasa tindakannya benar dan melawan, lalu Papanya memarahinya habis-habisan, semua orang darah tinggi, Papanya bilang suruh dia menikah saja lalu Cherrie tambah marah kata-kata nya udah gak dikontrol and then ...ya ditamparlah Cherrie..." Cherrie tidak punya keluarga disini selain keluarga Papa Lamnya, dan Tata yang baik padanya.


"Hmm... ya sudah biar dia tenang dulu jika begitu. Besok pagi saya kesana, ngomong sama dia juga.'


'Kasian sih, ya mau gimana ya.... Disuruh harus merried ama orang yang dia gak suka kayanya.'


Aku tahu ini cepat lambat akan terjadi jika dia terus ditekan seperti itu. Dengan kepribadian Cherrie yang sama kerasnya dengan Wong Lee Man, satu saat mereka pasti clash.

__ADS_1


__ADS_2