TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 75. Jangan Macam-macam Denganku 2


__ADS_3

Tata datang menemaniku makan malam, kami bertemu di sebuah restoran tidak jauh dari kantornya. Aku masih telepon dengan beberapa kolega, ketika aku melihatnya dan melambai, dan membuatnya datang padaku di restoran Korea itu. Entah bagaimana dia menyenggol seseorang di lorong restoran.


“Hei, are you blind!” Sebuah bentakan membuatku langsung melihat ke arah datangnya Tata.


“I’m so sorry, it’s my fault, I’m so sorry...” Tata langsung meminta maaf berkali-kali, sambil sedikit membungkuk, mengeluarkan tissue untuk menyeka tangan wanita itu.


“This woman so stupid!” Semua mata memandang ke arah keributan, rupanya dia menyenggol seorang wanita teman pria itu, yang ketumpahan minuman di bajunya karena sedang membawa minuman dari stall minuman karena restoran ini juga menyediakan menu all you can eat. Aku berdiri menghampirinya, karena aku berada di sisi agak dalam dari restaurant. “Eat this!” Dan tiba-tiba sebagai balasannya dia ganti menyiramkan sisa minuman itu ke baju Tata. Orang gila! Tata benar-benar tak menyangka mendapatkan siraman itu, kaget tak bisa bicara.


“Hei, she already said sorry! Ba*stard!” Aku menghampiri Tata, memegang tangannya, membawanya kebelakangku. Padahal yang tersiram hanya sedikit bajunya yang berwarna gelap dan tangannya.


“Jala*ng bodoh ini merusak bajuku saja.” Wanita itu bicara Canton, dia pikir aku tak tahu apa yang dia bicarakan.


“Dia tak punya mata, wanita bodoh.” Dia membalas teman wanitanya. Arogansi orang ini benar-benar diatas rata-rata. Tapi kemudian aku sadar siapa yang didepanku, Simon Tam, kepala tukang pukul Wang Lee Man.


“Yang tersiram itu cuma sedikit wanita jala*ng, kalian yang arogan, kau pikir kau hebat, gaya melebihi tingginya langit!” Kubalas mereka dengan Canton juga, mereka terkejut melihatku sekarang.


“Kau orang Hongkong?”

__ADS_1


“Maaf Tuan-tuan, mohon tidak membuat keributan disini.” Seorang manager menghentikan kami dalam bahasa Inggris.


“Ko sudahlah.” Tata mengamit tanganku.


“Jal*angmu memanggilmu, pergilah sana.” Aku melihat kesempatan untuk membuat masalah dengannya sekarang, tanpa membawa-bawa nama boss secara langsung. Akan kumanfaatkan ini. Cecu*ngguk hijau ini memang perlu dih*ajar!


“Kau merasa dirimu paling hebat? Aku akan mencarimu nanti.”


“Jika kau bisa mencariku.” Dia tersenyum sinis.


“Ko, jangan berantem.”


“Ga, ngapain berantem sama orang gila.” Tata tak perlu tahu rincian urusan ini. Aku langsung menelepon Andy.


“Andy, saya ketemu Simon Tam itu, si arogan itu sengaja bikin masalah sama saya, saya ingin menghajarnya sendiri, kalau kamu lihat kesempatan, kasih saya kabar.” Aku menelepon Andy tapi bicara Canton, Tata tentu tak akan tahu apa yang kubicarakan.


“Saya tadi lihat boss, saya masih ngikut dia boss. Oke Boss. Kalau dia entah berhenti di bar malam ini boss mau cari masalah sekarang?”

__ADS_1


“Iya, bawa beberapa orang denganmu, langsung saja, saya memang mau cari masalah sama dia. Sekalian dijadiin.”


“Mengerti Boss.’


Aku menutup telepon. Tata memperhatikanku.


“Ko, Koko kenal sama orang tadi?” Entah bagaimana dia curiga. Padahal aku tidak menampakkan emosi berlebihan.


“Engga. Kamu mau kita disini atau pulang?”


“Sini saja, cuma disiram sama sprite kayanya, gak nampak bajuku hitam.”


“Hmm ya sudahlah pesan aja.”


Saat ini aku melepaskannya , lihat bagaimana aku menjadikannya samsak nanti dan mengirimnya pulang ke Hongkong ke bossnya dengan memalukan, arogan sekali jadi manusia. Dalam dua jam kemudian Andy memberi pesan di mana dia berada, bertepatan kami keluar restoran.


“Tata, Koko ada urusan. Kamu pulang dulu.”

__ADS_1


__ADS_2